7cloud.asia – Ratusan benda cagar budaya milik Kerajaan Lombok Karangasem yang berhasil direpatriasi (dikembalikan) dari Belanda ke Indonesia. Benda-benda ini merupakan saksi sejarah kelam kolonialisme di Lombok.
Anggota Komisi X DPR, Bonnie Triyana mengatakan benda bersejarah milik Kerajaan Lombok Karangasem berpotensi besar untuk diubah menjadi kekuatan ekonomi melalui wisata sejarah.
Dia membandingkan potensi sejarah perlawanan Kerajaan Lombok Karangasem dengan situs pertempuran Waterloo di Belgia.
Karena itu, Sejarawan yang juga menjabat sebagai Sekretaris Tim Repatriasi Objek Milik Indonesia di Belanda sejak 2021 ini menekankan pentingnya produksi pengetahuan terkait benda-benda bersejarah ini.
Bonie mengungkapkan data historis terkait ekspedisi kolonial Belanda tahun 1894. Dari arsip yang dia temukan, saat itu ada sekitar 16 peti yang diangkut ke Belanda.
Baca: Taman Ujung Karangasem jadi tujuan wisata budaya unggulan di Bali
Jika dihitung, ujarnya, ada sekitar 230 kilogram emas, belum lagi perak, dalam bentuk perhiasan, tombak, dan keris.
“Sebanyak 335 di antaranya yang merupakan warisan Puri Cakranegara kini telah kembali,” ujar Bonie di sela Kunjungan Kerja Panja Pelestarian Cagar Budaya, Rabu, (11/2/2026)) seperti dilansir Parlementaria.
Namun, politisi PDI Perjuangan ini memberikan catatan pahit bahwa tidak semua harta rampasan bisa kembali.
Sebagian benda bersejarah tersebut telah dilebur atau dijual oleh Belanda di masa lalu untuk menyantuni janda perang veteran Belanda yang menyerang Puri Cakranegara.
Dia menegaskan bahwa mekanisme pengembalian ini bersifat Government to Government (G to G). Setelah benda tersebut sampai di Indonesia, kewenangan berada di tangan Kementerian Kebudayaan.
“Tantangannya sekarang adalah mencari jalur tengah. Karena benda ini sudah berstatus Cagar Budaya Nasional, maka harus ada upaya agar masyarakat yang merasa memiliki bisa menikmatinya, bukan hanya melihat nilai emas atau berliannya yang fantastis, tapi nilai sejarah dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya,” tegasnya.
Baca: Eksploitasi pariwisata mengancam kawasan adat Bali Aga
Bonie lantas memaparkan potensi wisata serupa yang ada di Waterloo, Belgia. Di tempat ini Napoleon kalah perang.
“Itu hanya lapangan dengan plang kecil, tapi pengunjungnya mencapai 300 ribu orang per tahun. Bayangkan Perang Lombok atau Lombok Oorlog yang sangat terkenal di Belanda, potensinya jauh lebih besar,” ungkapnya
Menurut Bonnie, narasi yang dibangun bukan untuk mengagung-agungkan kekalahan atau membuka luka lama, melainkan mempelajari kekejaman kolonialisme sebagai edukasi bagi generasi penerus.
Ia memproyeksikan dampak ekonomi yang masif jika narasi ini dikelola dengan baik. Mengacu pada data 2,6 juta wisatawan Belanda ke Indonesia, Bonnie membuat kalkulasi sederhana mengenai dampaknya bagi Mataram.
“Jika 500 ribu saja dari mereka datang ke Lombok untuk wisata sejarah, dan satu orang menghabiskan Rp 20 juta, bayangkan perputaran ekonominya. Mari kita manfaatkan nilai sejarah itu,” pungkasnya.
