Tag: King of Borneo

  • Tuan Tigabelas dan King of Borneo Amplifikasi Perjuangan Masyarakat Adat Lewat Lagu “SUAR”

    Tuan Tigabelas dan King of Borneo Amplifikasi Perjuangan Masyarakat Adat Lewat Lagu “SUAR”

    7cloud.asia – Perjuangan Masyarakat Adat dalam mempertahankan tanah dan hutan leluhur mereka kini bergema dalam sebuah karya musik yang menggugah hati.

    Kolaborasi Tuan Tigabelas dan King of Borneo dalam lagu terbaru berjudul SUAR, mengamplifikasi perjuangan Masyarakat Adat dalam mempertahankan hak ulayat dan melawan perampasan hak dan ruang hidup mereka.

    SUAR menggambarkan realitas perjuangan Masyarakat Adat yang terus menghadapi ancaman dari ekspansi industri ekstraktif, deforestasi, dan kebijakan yang mengabaikan hak-hak Masyarakat Adat.

    Dengan lirik yang penuh semangat dan ritme yang kuat, SUAR menjadi simbol perlawanan dan harapan bagi komunitas masyarakat adat di seluruh Nusantara.

    Tuan Tigabelas, salah satu rapper terbaik yang dimiliki Indonesia sekaligus pelantun Last Roar menyatakan bahwa “SUAR” adalah bentuk solidaritas kepada Masyarakat Adat yang berjuang mempertahankan tanah mereka.

    “Lagu ini bukan sekadar hiburan, tetapi sebuah seruan bagi semua orang untuk sadar bahwa hak Masyarakat Adat sedang terancam. Kita harus berdiri bersama mereka, menjaga hutan, menjaga kehidupan,” ujar Tuan Tigabelas dalam keterangan tertulis yang diterima beberapa waktu lalu.

    Baca: King of Borneo dan Tuan Tigabelas suarakan isu lingkungan

    King of Borneo, grup band asal Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, menegaskan bahwa SUAR merepresentasikan suara yang selama ini terpinggirkan.

    “Masyarakat Adat berada di garis terdepan dalam menjaga hutan dan ekosistem. Tanpa mereka, keseimbangan alam akan terganggu. Lagu ini kami persembahkan sebagai bentuk penghormatan sekaligus dukungan agar perjuangan Masyarakat Adat tetap berlanjut,” katanya.

    Lagu SUAR sudah bisa didengarkan di kanal YouTube King of Borneo di https://youtu.be/6zA-gVxjRDM?si=yhmsGVUVjAd-zN3L

    Herkulanus Sutomo, Ketua Pelaksana Harian Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kapuas Hulu, yang turut terlibat dalam peluncuran lagu ini, menegaskan bahwa suara Masyarakat Adat perlu didengar lebih luas.

    Mereka menekankan bahwa tanah, hutan, dan sungai bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga bagian dari identitas dan keberlangsungan budaya masyarakat adat.

    “Hutan bagi kami bukan sekadar sumber daya, tetapi juga rumah dan warisan dari leluhur. Kehilangan hutan berarti kehilangan segalanya—tradisi, kehidupan, dan masa depan anak cucu kami,” ujar Herkulanus Sutomo.

    Baca: Coldplay olah sampah platik Kali Cisadane untuk vynil album terbarunya

    Dia mengajak seluruh komponen, termasuk pemerintah daerah agar bersama-sama dengan Masyarakat Adat berjuang untuk kepentingan Masyarakat Adat dalam mengamankan dan mengelola wilayah adatnya.

    Herkulanus juga menyoroti pentingnya pengesahan RUU Masyarakat Adat yang telah lama tertunda.

    “RUU Masyarakat Adat harus segera disahkan agar hak-hak kami tidak lagi terpinggirkan. Tanpa payung hukum yang jelas, Masyarakat Adat akan terus menjadi korban perampasan tanah, kriminalisasi, dan pengabaian hak-hak dasar mereka,” tegasnya.

    MADANI Berkelanjutan mendukung penuh peluncuran lagu SUAR sebagai bagian dari kampanye untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat adat dan menjaga kelestarian alam.

    “Lagu ini adalah cermin krisis yang nyata. Masyarakat Adat adalah penjaga hutan terakhir. Jika mereka tumbang, kita semua akan tenggelam dalam bencana iklim,” ujar Nadia Hadad, Direktur Eksekutif MADANI Berkelanjutan.

    Lagu SUAR bukan hanya sebuah karya seni, tetapi juga panggilan untuk bertindak mendukung pelestarian lingkungan.

    Baca: Coldplay sumbang kapal pembersih sampah untuk Indonesia