7cloud.asia – Sepinya pembeli di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat membuat sejumlah pedagang menunggak pembayaran sewa kios. Jumlah tunggakan mencapai puluhan juta rupiah.
Di Blok B Pasar Tanah Abang misalnya, sejumlah kios tampak tutup dan ditempel surat peringatan dari Unit Pasar Besar (UPB).
Dilansir dari CNN Indonesia, jumlah kios di Pasar Tanah Abang yang ditutup serta mendapat peringatan seperti ini mencapai puluhan.
Sementara nilai tunggakan paling kecil Rp8 juta dan yang paling tinggi mencapai Rp43,3 juta.
“Sampai dengan surat ini saudara belum membayar/melunasi tunggakan kewajiban biaya pengelolaan pasar (BPP)/service charge. Adapun kewajiban yang belum dibayar sampai dengan bulan Juni 2023 sebesar Rp43,3 juta,” demikian bunyi surat yang dimaksud kepada salah satu kios.
Baca: Penjual Pasar Tanah Abang keluhkan sepi pembeli
Dalam surat tersebut, pemilik kios di Pasar Tanah Abang juga diwajibkan segera membayar tagihan pada hari kerja paling lambat 7 hari kalender sejak surat dikeluarkan.
Apabila sampai batas waktu tersebut pemilik kios belum membayar, pengelola akan memberikan surat penutupan sementara.
Selanjutnya, sesuai Surat Keputusan (SK) Direksi Perusahaan Daerah Pasar Jaya Nomor 117 Tahun 2023 Bab VIII sanksi terkait penggunaan tempat usaha Pasal 29 Ayat (3) tahapan pemberian sanksi.
Selain itu, pengelola dapat menggunakan Pasal 20 Peraturan Direksi PD Pasar Jaya Nomor 360 Tahun 2014, akan diberikan sanksi pembatalan hak pemakaian usaha.
Baca: Lindungi produk lokal, Tiktok dilarang buka ProjectS
Kondisi sepi pembeli di Pasar Tanah Abang ini membuat banyak pedagang mengalami penurunan omset. Setidaknya itulah yang dirasakan Lia, salah satu pedagang busana muslim.
“Sekarang turun drastis, lebih dari 50 persen turunnya. Anjlok parah. Mendingan pas Covid kemarin, masih banyak yang beli,” ungkap Lia kepada ruangkota saat ditanya omset yang didapatnya.
Malah lanjut Lia, beberapa kali ia mengalami nol pembeli. Sama sekali tak ada barang yang berhasil ia jual dalam satu hari. Bahkan orang yang lewat aja menurutnya juga jarang.
Padahal biasanya banyak pembeli dari luar kota Jakarta yang membeli dalam jumlah besar. Barang tersebut biasanya dijual kembali di kota asalnya.
Baca: Ancaman perdagangan daring pada pedagang kecil
Keluhan senada juga diungkapkan oleh Soleh, pedagang lainnya. “Sekarang sudah kaya gini, sudah sepi banget. Pemasukan tak menentu. Kadang ada, kadang tak ada sama sekali,” keluhnya.
Menurutnya, masalah yang dialami pedagang Pasar Tanah Abang tak lepas dari kemunculan e-comerce seperti Shopee, TikTok Shop, Lazada dan sebagainya.
TikTok Shop misalnya, platform social e-commerce yang memungkinkan penjual untuk menawarkan produknya ke pengguna secara langsung. Penjual maupun kreator dapat menjual produknya melalui in-feed videos, LIVEs, dan tab katalog produk.
“Dulu sebelum TikTok ada, tokonya masih ada, Lazada, Shopee itu tidak pengaruh ke pasaran. Sekarang sudah ada TikTok hadir (jadi sepi),” jelas Soleh.
Reporter: Nurakhmayani
