Tag: komodo

  • Tinjauan Berkala Cagar Biosfer Komodo Diusulkan Diperluas

    Tinjauan Berkala Cagar Biosfer Komodo Diusulkan Diperluas

    7cloud.asia – Cagar Biosfer Komodo (CBK) diusulkan untuk diperluas. Usulan perluasan Cagar Biosfer Komodo itu akan menambah 25 kilometer persegi (km2) daratan dan 479 km2 perairan laut.

    Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Manggarai Barat Theresia Yunita memaparkan, luas kawasan inti Cagar Biosfer Komodo saat ini adalah 1.817 km2, termasuk 603 km2 daratan (33persen) dan 1.214 km2 (67persen) perairan laut.

    Dilansir di laman resmi brin.go.id, Cagar Biosfer Komodo terletak di kawasan Sunda Kecil yang terdiri dari gugusan pulau dan perairan di sekitarnya. Letaknya di sisi timur garis Wallacea dan memiliki bentang alam yang sangat unik.

    Kawasan inti mempunyai nilai yang sangat tinggi, mengandung kekayaan sumber daya hayati dan budaya.

    Kawasan inti Cagar Biosfer Komodo terdiri dari sabana, hutan dataran, sebagian hutan hujan tropis di puncak gunung, hutan pantai, hutan bakau, perairan laut, serta deretan pegunungan dan perbukitan.

    Daerah tersebut dipengaruhi oleh angin muson, dan iklim secara umum kering. Di bentang alam tertentu, seperti perbukitan dan pegunungan, iklimnya lebih lembab.

    Kawasan inti Cagar Biosfer Komodo meliputi Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Pulau Gilimotang, pulau-pulau kecil di sekitar keempat pulau tersebut, dan perairan laut.

    Cagar Biosfer Komodo merupakan seluruh kawasan konservasi Taman Nasional Komodo (TNK). CBK berperan sebagai sistem penyangga kehidupan kawasan lindung, khususnya fungsi perlindungan flora dan fauna.

    Baca: Komitmen RI serahkan tinjauan berkala 7 Cagar Biosfer sesuai jadwal

    Fungsi keseimbangan ekologi, perubahan iklim, dan fungsi hidrologi yang telah dirasakan oleh masyarakat di wilayah ini.

    Hal tersebut disampakannya pada gelaran Finalisasi Dokumen Tinjauan Berkala (Periodic Review) Tahun 2024 Tujuh Cagar Biosfer Indonesia di Gedung BJ. Habibie Jakarta, September 2024.

    Menurutnya, sebagai lingkungan yang gersang, CBK mempunyai sedikit atau tidak ada curah hujan sama sekali selama kurang lebih 8 bulan dalam setahun, dan sangat dipengaruhi oleh hujan muson.

    Tingkat kelembapan yang tinggi sepanjang tahun hanya ditemukan di hutan kuasi-awan di puncak gunung dan punggung bukit.

    Selain itu kawasan inti juga mempunyai peranan sebagai sumber plasma nutfah bagi kehidupan manusia, yaitu manfaat iptek, pendidikan dan pelatihan, dukungan budidaya perikanan, ekowisata, dan jasa ekosistem lainnya.

    Sistem zonasi TNK sebagai kawasan inti Cagar Biosfer Komodo, meliputi zona inti yang terdiri dari hutan belantara, kamuse zona, zona tradisional, zona rehabilitasi, dan konservasi Komodo.

    TNK juga sebagai zona penyangga, biasanya mengelilingi atau berbatasan langsung dengan kawasan inti.

    “Selain zona inti ada juga zona penyangga, biasanya mengelilingi atau berbatasan langsung dengan kawasan inti. Dalam menentukan zona penyangga disarankan hanya untuk kepentingan ekologis kegiatan yang sehat seperti pendidikan lingkungan, stasiun penelitian, rekreasi, budidaya agroforestri, ekowisata dan pembangunan alam berkelanjutan,” urainya.

    Baca: Raja Ampat diusulkan menjadi Cagar Biosfer di Bawah MAB UNESCO

    Hasil identifikasi dan pemetaan Cagar Biosfer Komodo, wilayah buffer zone meliputi lahan seluas 259.680,14 hektar terletak di Kabupaten Manggarai Barat.

    Di samping itu ada daerah transisi sebagai daerah peralihan CBK di selatan dan utara berupa laut dan dalam timur dan barat berupa desa dan kota.

    Daerah peralihan adalah bagian timur bentuk perkotaan (Labuan Bajo), kawasan pertanian, kawasan pemukiman, dan kawasan kegunaan lainnya.

    Di daerah transisi ini dilakukan kegiatan pengembangan lingkungan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola lahan dan kegiatan produksi. Daerah transisi menjadi wadah kerja sama antar pihak.

    Khususnya masyarakat lokal yang terkait seperti lembaga pemerintah, LSM, kelompok budaya, ilmuwan, ekonomi publik, dan lainnya.

    Daerah transisi juga digunakan untuk praktik pembangunan ekonomi dan sosial budaya, kegiatan penelitian dan pengembangan, dalam bentuk eksperimen yang dapat dilakukan untuk menentukan pola dan proses ekosistem di wilayah tersebut.

    “Selama 10 tahun sejak review pertama, Cagar Biosfer Komodo mengalami kemajuan pesat dalam pembangunan, antara lain bidang pertanian sebagai kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan untuk menghasilkan bahan pangan. Bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya,” imbuh Yunita.

    Di bidang kehutanan, sumber daya hutan merupakan salah satu penyangga kehidupan yang harus dikelola dengan bijaksana agar mampu memberikan kontribusi dan manfaat secara optimal dan lestari, dan pariwisata.

    Baca: Pengelolaan 7 Cagar Biosfer di Indonesia sedang ditinjau

    Hutan rakyat dapat memberikan manfaat sebagai salah satu penyangga ekonomi masyarakat.

    Pada bidang pariwisata, tambah Yunita, perkembangan pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat, menciptakan peluang bagi pemasaran produk lokal.

    Kebutuhan pangan untuk menyuplai pariwisata semakin besar seiring dengan ekspansi dan diversifikasi pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat.

    Di samping potensi ekonomi kelautan yang besar, Manggarai Barat dihadapkan pada ancaman perubahan iklim yang semakin meningkatkan kerentanan ekosistem pesisir terhadap kerusakan.

    Pengelolaan CBK bertujuan untuk mencapai keberhasilan fungsi cagar biosfer yaitu fungsi konservasi keanekaragaman hayati dan budaya. Untuk berkontribusi pada konservasi lanskap, ekosistem, spesies, dan variasi genetik.

    Fungsi pembangunan ekonomi berkelanjutan untuk mendorong pembangunan ekonomi dan manusia yang berkelanjutan secara sosial budaya dan ekologis.

    Fungsi dukungan logistik untuk memberikan dukungan penelitian, pemantauan, pendidikan dan pertukaran informasi berkaitan dengan isu-isu lokal nasional dan global konservasi dan pembangunan.

    Dirinya menerangkan, dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut, pengelolaan CBK diharapkan dapat berkontribusi dalam beberapa hal, yaitu meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan mengatasi perubahan iklim.

    Meningkatkan kontribusi sumber daya perairan beserta ekosistemnya untuk perekonomian daerah dan nasional.

    “Mengoptimalkan pengelolaan dan distribusi manfaat pengelolaan pariwisata yang berkeadilan dan berkelanjutan. Untuk kesejahteraan masyarakat, meningkatkan tata kelola pembangunan pariwisata, dan lingkungan hidup yang baik,” pungkasnya.

    Sumber:brin.go.id

  • Populasi Komodo di Taman Nasional Komodo Relatif Stabil

    Populasi Komodo di Taman Nasional Komodo Relatif Stabil

    7cloud.asia – Balai Taman Nasional Komodo (TNK) menyatakan populasi satwa Komodo yang berada di kawasan konservasi Taman Nasional Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) relatif stabil.

    Populasi biawak Komodo secara alami mengalami fluktuasi sesuai dengan ketersediaan populasi satwa mangsa di alam, dan secara umum populasi biawak Komodo meningkat dalam tujuh tahun terakhir.

    “Pada tahun 2024 tren populasi biawak Komodo masih dalam rentang stabil,” kata Kepala Balai TNK Hendrikus Rani Siga di Labuan Bajo, Jumat (7/3/2025)

    Berdasarkan laporan dari Balai TNK, populasi biawak Komodo mengalami penurunan pada tahun 2024 lalu setelah naik dalam lima tahun terakhir.

    Pada 2018, populasi komodo tercatat sebanyak 2.897 ekor, tahun 2019 sebanyak 3.022 ekor, tahun 2020 sebanyak 3.163 ekor, tahun 2021 sebanyak 3.303 ekor, tahun 2022 sebanyak 3.156 ekor, tahun 2023 sebanyak 3.396 ekor, dan tahun 2024 sebanyak 3.270 ekor.

    Baca: KLHK tutup sementara Taman Nasional Komodo pada Juli 2024

    Hendrikus menjelaskan, walaupun pada tahun 2024 populasi mengalami penurunan, hal tersebut masih dalam kategori relatif stabil.

    “Pertumbuhan populasi Komodo akan menyesuaikan dengan daya dukung habitat atau daya dukung alam,” katanya.

    Ia menambahkan, naik dan turunnya populasi satwa Komodo dalam kawasan konservasi merupakan hal yang wajar terjadi di alam liar.

    “Secara alamiah dia (Komodo) akan beradaptasi dengan daya dukung, kalau daya dukung cukup maka populasi dia akan naik, tapi kalau tidak terlalu mendukung maka akan menurun,” ujarnya.

    Salah satu pendukung naiknya populasi satwa Komodo adalah ketersediaan pakan yang memadai, tingginya keberhasilan anak atau bayi Komodo serta ketersediaan mangsa Komodo.

    Baca: Tinjauan berkala cagar biosfer komodo akan diperluas

    “Biasanya secara alami Komodo pasti akan beradaptasi dengan daya dukung habitat, dia akan menyesuaikan sehingga seperti grafik populasi yang naik turun,” katanya.

    Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) akan menutup sementara Taman Nasional Komodo, di Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur (NTT) pada pertengahan tahun 2025.

    Pentupan Taman Nasional Komodo dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Balai Taman Nasional Komodo (BTNK)

    Penutupan Taman Nasional Komodo itu dengan mempertimbangkan jumlah wisatawan yang berkunjung, manajemen destinasi serta daya tampung destinasi itu.

  • Populasi Komodo Tinggal 3000an Ekor, Konservasi Tidak Bisa Ditawar Lagi

    Populasi Komodo Tinggal 3000an Ekor, Konservasi Tidak Bisa Ditawar Lagi

    7cloud.asia – Komodo (Varanus komodoensis) adalah reptil purba terbesar yang masih hidup hingga saat ini. Sayangnya, satwa endemik Indonesia ini telah berstatus endangered menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) sejak 2021.

    Komodo juga masuk pada Appendix I CITES, yakni hewan dilindungi yang populasinya terancam punah dengan populasi diperkirakan jumlahnya hanya sekitar 3.300 ekor di dunia.

    Karena itu keberadaan komodo perlu perhatian serius, baik dari peneliti, pemerintah, masyarakat, juga generasi muda yang akan mewarisi tanggung jawab menjaga eksistensi satwa liar ini.

    Drh. Aji Winarso, M.Si., mahasiswa jenjang doktoral Fakultas Kedokteran Hewan UGM, yang tengah meneliti hewan ini mengatakan ancaman terhadap komodo datang dari berbagai faktor.

    Selain aktivitas manusia, beberapa faktor ancaman lain juga meliputi kerusakan habitat, fragmentasi, inbreeding atau kawin sedarah, kompetisi pakan dengan manusia, perubahan iklim, perdagangan ilegal, hingga penyakit zoonotik menjadi masalah yang saling berkaitan.

    “Konservasi yang baik justru sebisa mungkin meminimalisir kontak antara satwa liar dengan manusia. Kenapa disebut satwa liar? Karena harus dilepasliarkan,” ujarnya dikutip ugm.ac.id, Jumat (19/9/2025).

    Baca: Populasi komodo di Taman Nasional Komodo relatif stabil

    Aji menyampaikan bahwa konservasi tidak bisa dipisahkan dari masyarakat lokal. Ia menyebutkan tentang etno-konservasi di Pulau Komodo, yang memandang komodo sebagai “saudara sepupu” manusia, sehingga tidak ada pilihan selain ikut menjaganya meski seringkali komodo memburu ternak masyarakat.

    Etno-konservasi bisa menjadi prinsip untuk mencegah perilaku ekstraktif manusia yang memanfaatkan alam sebagai mata pencaharian.

    “Selain itu, edukasi dan pemberdayaan pun menjadi strategi penting agar konservasi bisa selaras dengan kesejahteraan manusia,” ujarnya.

    Meski demikian, tantangan terbesar juga ada pada perhatian generasi muda. Wisnu mengingatkan bahwa komodo adalah simbol kebanggaan Indonesia yang otentik, seperti harimau, gajah, orang utan, serta berbagai satwa endemik lainnya.

    Apabila populasinya dibiarkan terus berkurang, tidak menutup kemungkinan komodo berakhir sama seperti dinosaurus, sebatas terekam pada buku sejarah yang tidak terurus.

    Oleh karena itu, perlu riset, kebijakan, hingga kampanye yang lebih intensif untuk menyorot eksistensi komodo sebagai satwa endemik Indonesia, terlepas dari keuntungan yang bisa didapatkan.

    Baca: Tinjauan berkala cagar biosfer komodo bakal diperluas

    “Konservasi komodo bukan sekadar penyelamatan satu spesies langka, tetapi juga upaya menjaga keseimbangan ekosistem, kesehatan manusia, dan identitas bangsa. Di tangan generasi sekarang dan yang akan datang, masa depan “naga purba” Indonesia ini dipertaruhkan,” pungkasnya.

    Hal senada diungkapkan oleh Guru Besar Parasitologi sekaligus pengamat satwa liar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Raden Wisnu Nurcahyo, yang pernah meneliti soal penyakit parasit pada komodo.

    Menurutnya penyakit parasit, cacingan, hingga infeksi dari manusia bisa mempengaruhi populasi komodo.

    “Publikasi tentang satwa langka sangat diminati di jurnal internasional, tetapi di Indonesia riset seperti ini masih sedikit mendapat perhatian, terutama karena minimnya pendanaan,” ungkapnya.

    Lebih lanjut, Prof. Wisnu menyinggung konsep ‘one health one welfare’ yang seharusnya menjadi kunci dalam upaya menjaga pelestarian komodo. Menurunnya memperkuat kesehatan manusia, satwa, dan lingkungan menjadi kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

    Namun eksploitasi alam untuk pariwisata berlebihan, jejak sampah plastik, hingga potensi penularan penyakit dari manusia ke hewan bisa mengganggu keseimbangan ekosistem.

    Sebab, jika lingkungan tercemar, mangsa komodo seperti rusa atau kerbau pun terancam, dan berdampak pada rantai hidup komodo yang terganggu.

    “Kalau manusia mau sehat, komodo juga harus sehat, lingkungannya pun harus sehat,” tegas Prof. Wisnu.

    Baca: Pemerintah diminta kaji ulang pembangunan resort di Taman Nasional Komodo

  • RI Bakal ‘Pinjamkan’ Komodo ke Jepang: Menakar Risiko Satwa Endemik Jadi ‘Alat Diplomasi’

    RI Bakal ‘Pinjamkan’ Komodo ke Jepang: Menakar Risiko Satwa Endemik Jadi ‘Alat Diplomasi’

     

    ruang kota.com – Tahun ini, Indonesia akan meminjamkan sepasang komodo (Varanus komodoensis) untuk dikembangbiakan (breeding loan) kepada iZoo Kawazu, kebun binatang reptil dan amfibi terbesar di Shizuoka, Jepang.

    Program breeding loan ini disepakati lewat Memorandum of Understanding (MoU) tentang kerja sama perlindungan dan konservasi satwa liar antara Kementerian Kehutanan Republik Indonesia bersama Pemerintah Prefektur Shizuoka, Jepang pada akhir Maret 2026 lalu.

    Sebagai timbal balik, Jepang akan mengirim beberapa satwa eksotis ke Indonesia, seperti panda merah dan jerapah.

    Pemerintah menyebut peminjaman komodo ini sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan satwa liar dan konservasi keanekaragaman hayati, sekaligus mempererat hubungan bilateral dengan Jepang.

    Ini menunjukkan bahwa hubungan manusia dan hewan kini semakin berkembang jauh hingga masuk ke ruang-ruang diplomasi dan hubungan internasional.

    Namun, publik justru menyorot dampak program ini karena berisiko pada kelestarian dan kesejahteraan komodo dalam jangka panjang. 

    Aset diplomasi

    Praktik pertukaran hewan sebagai alat diplomasi ini sesungguhnya sudah sangat tua. Di masa lalu, ratu Mesir Cleopatra diriwayatkan pernah menghadiahkan jerapah kepada pimpinan Romawi Julius Caesar sebagai simbol kedekatan politik.

    Praktik lama itu hanya berubah bentuk. Jika dulu hewan dipertukarkan antarpenguasa, kini ia masuk ke ranah soft power dan citra negara.

    Cina adalah contoh paling terkenal dalam diplomasi hewan dengan menggunakan panda sebagai ‘aset’ mereka.

    Negara lain mulai membaca peluang yang sama. Malaysia, misalnya, menggulirkan gagasan orangutan diplomacy untuk memperkuat citra negara dan menjangkau mitra internasional mereka, terutama dalam konteks sawit dan sorotan global terhadap lingkungan.

    Langkah ini menunjukkan bahwa satwa endemik kini makin sering dipandang sebagai aset diplomasi. Ia bisa menjembatani percakapan yang rumit, memperhalus citra negara, sekaligus mengangkat isu konservasi ke panggung internasional.

    Mungkin karena orangutan sudah dipakai Malaysia, Indonesia memilih komodo sebagai kandidat paling kuat sebagai “alat diplomasi”. Komodo memiliki hampir semua unsur yang diperlukan untuk memainkan peran itu. Ia endemik, ikonik, sarat nilai ekologis, dan identik dengan Indonesia.

    Ahli kriminologi lingkungan Belanda, Daan P van Uhm dalam artikelnya yang berjudul Konstruksi sosial atas nilai alam liar (2018) memperkenalkan konsep “the value of things” yang menjelaskan bahwa nilai hewan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan dibentuk secara sosial oleh manusia yang memberikan makna padanya.

    Dalam artikel itu, van Uhm menyebut kelangkaan dan eksklusivitas sering menjadi dasar kuat dalam pembentukan nilai. Semakin langka suatu hewan, semakin tinggi pula nilai yang dilekatkan manusia kepadanya, baik secara ekonomi, simbolik, maupun sosial.

    Komodo bukan hanya spesies langka, dunia menempatkannya sebagai lambang keunikan hayati dan menjadi kebanggaan nasional. Nilai komodo bergerak dari nilai ekologis menuju nilai simbolik dan politik. 

    Risiko animal diplomacy

    Menempatkan hewan sebagai alat diplomasi sebenarnya sah-sah saja, tapi ada berbagai risiko yang harus ditimbang.

    Riset tinjauan literatur (literature review) pada 2024 menunjukkan bahwa diplomasi memakai satwa langka tidak selalu memberi hasil positif seperti yang diharapkan, dan kesejahteraan hewan sering terabaikan.

    Riset tersebut menganalisis data 140 negara yang terlibat dalam panda diplomacy pada periode 2004 hingga 2019.

    Hasilnya, negara yang ikut program panda diplomacy justru rata-rata mengalami penurunan sekitar 39,9 persen kunjungan ke Cina, dibanding negara yang tidak ikut program tersebut.

    Penjelasannya sederhana, ketika satwa langka yang sebelumnya hanya dapat dilihat di negara asal, sudah hadir di negara lain, maka dorongan publik untuk datang ke negara asal jadi berkurang. 

    Lalu, fokus utama tentu dari sisi kelestarian dan kesejahteraan satwa endemik. Apalagi, komodo adalah reptil endemik terbesar di dunia yang populasi alaminya hanya tersisa di Indonesia.

    Setidaknya dalam hal ini kita perlu memperhatikan dua hal.

    Pertama, kemampuan hewan dalam beradaptasi. Hewan liar jika ditempatkan di luar habitat/habitat buatan bisa menghadapi banyak sumber stres, mulai dari pencahayaan, suara, bau, suhu, dan tanah/lantai yang berbeda dari habitat aslinya, hingga ruang gerak yang terbatas.

    Karena itu, pemindahan satwa ke lingkungan baru tidak bisa dinilai dari keberhasilan administratif atau simboliknya saja.

    Kualitas tempat pemeliharaan, pola pemeliharaan, dan kemampuan satwa beradaptasi harus menjadi perhatian utama. Program konservasi di luar habitat asal harus disertai pemantauan yang sangat ketat.

    Kedua, risiko kesehatan bagi hewan dan manusia. Untuk hewan, ketika dipindahkan ke lingkungan baru, risikonya bisa rentan terkena penyakit. Stres dan kondisi lingkungan yang berbeda juga bisa membuat daya tahan tubuh mereka melemah sehingga lebih mudah sakit.

    Sementara untuk manusia, hewan bisa membawa penyakit yang dapat menular ke manusia (agen penyakit zoonotik).

    Risiko kesehatan dari pertukaran hewan antarnegara ini bisa diatasi dengan pendekatan one health. Pendekatan ini memandang kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling terkait. Jadi, penanganannya tidak bisa dipisah-pisah.

    Karena itu, kerja sama peminjaman atau penangkaran hewan—seperti breeding loan komodo dari Indonesia ke Jepang, maupun panda merah dan jerapah dari Jepang ke Indonesia—perlu mengantisipasi hal tersebut.

    Caranya dengan pengawasan ketat dalam banyak aspek, serta pendekatan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam satu kesatuan.

    Tantangan berikutnya adalah memastikan semua aturan itu benar-benar dijalankan dengan baik di lapangan.


    M. Ikhsan Shiddieqy, Peneliti Ahli Madya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.