Tag: konflik

  • Dubes Palestina: Gencatan Senjata Tak Cukup Hentikan Konflik

    Dubes Palestina: Gencatan Senjata Tak Cukup Hentikan Konflik

    7cloud.asia – Gencatan senjata antara Hamas dan Israel selama empat hari ianggap tak cukup untuk menghentikan konflik Palestina dan Israel.

    Ikhwal gencatan senjata ini diungkapkan oleh Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al-Shun.

    “Jadi mereka (Israel-Hamas) telah mencapai gencatan senjata sementara selama empat hari, sesuai kesepakatan untuk bertukar tahanan, namun ini tidak cukup,” ujarnya seperti yang dikutip Antaranews.

    Karena itu, ia berharap ada solusi nyata untuk menyelesaikan masalah dengan Israel. Menurutnya konflik akan selalu terjadi jika tidak ada solusi nyata diantara keduanya.

    Baca: Gencatan senjata israel hamas berlaku israel bebaskan 150 perempuan dan anak palestina yang ditahan

    Selanjutnya Zuhair menjelaskan salah satu hal yang penting adalah membantu mendirikan negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.

    Ia juga tidak kaget rencana Israel akan terus melanjutkan serangan ke Gaza setelah gencatan sementara berakhir.

    “Kami (Palestina) tidak terkejut dengan hal (serangan lanjutan) itu,” kata Dubes.

    Menurutnya agresi adalah mentalitas Israel. Jika tidak ada tekanan untuk mengendalikan situasi dan mengakui negara Palestina, maka Israel bebas melakukan apa pun yang mereka mau.

    Baca: Lebih 14.000 warga Palestina meninggal dalam 46 hari perang Israel-Hamas

    Kedubes Palestina mengadakan acara solidaritas Palestina yang dihadiri oleh para pelajar dan komunitas Palestina dan melakukan satu menit mengheningkan cipta untuk mengenang mereka yang telah meninggal dunia di Gaza.

    Seperti yang diberitakan sebelumnya sebanyak 22 pelajar Palestina yang baru tiba di Jakarta dua minggu lalu.

    Mereka akan menerima beasiswa dari Kementerian Pertahanan Indonesia yang juga hadir dalam acara tersebut.

    Gencatan senjata selama empat hari antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada Jumat (24/11/2023 ) pukul 07.00 waktu setempat (pukul 12.00 WIB).

    Baca: UE sebut pengakuan terhadap negara palestina kunci keamanan israel

    Gencatan senjata tersebut diperkirakan akan diikuti pembebasan puluhan sandera yang ditawan Hamas dan 150 warga Palestina yang ditahan Israel.

    Gencatan itu mencakup gencatan senjata komprehensif di bagian utara dan selatan Gaza, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al-Ansari kepada wartawan di Doha sebelumnya.

    Menurut kesepakatan, 50 perempuan dan anak-anak yang diculik dari Israel oleh Hamas pada 7 Oktober lalu akan dibebaskan sebagai pertukaran bagi 150 perempuan dan anak-anak Palestina yang dipenjarakan di Israel.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Bahayakan Anak di Daerah Konflik, Israel Masuk Dalam Daftar Hitam PBB

    Bahayakan Anak di Daerah Konflik, Israel Masuk Dalam Daftar Hitam PBB

    7cloud.asia – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyatakan telah memasukkan Israel ke dalam daftar hitam negara dan organisasi yang membahayakan anak-anak di daerah konflik.

    Guterres mengatakan bahwa dirinya telah memberitahukan keputusan tersebut kepada atase pertahanan Israel di Amerika Serikat, Mayor Jenderal Hidai Zilberman.

    Menurut laporan surat kabar Israel Yedioth Ahronoth, upaya sekuat tenaga Israel untuk membujuk Guterres supaya tidak memasukkan Israel ke daftar hitam tersebut gagal. Televisi Israel Channel 13 juga melaporkan hal ini.

    Baca: Sebanyak 15 ribu anak tewas akibat serangan Israel

    Karena itu, Israel akan disebut dalam daftar hitam yang akan dirilis pekan depan sebagai laporan kepada anggota Dewan Keamanan PBB, yang akan membahas laporan tersebut pada 26 Juni.

    Bulan lalu, Yedioth Ahronoth dan platform daringnya, Ynet, melaporkan adanya kekhawatiran besar Israel terhadap keputusan tersebut, menyusul sejumlah pernyataan keras Guterres atas Israel.

    Sumber yang dikutip warta tersebut menyebut Sekjen PBB tidak menyukai Israel dan tidak dapat dipengaruhi.

    Israel khawatir daftar hitam yang mencantumkan negaranya tersebut akan berimbas pada embargo senjata.

    Harian Israel tersebut juga mencatat salah satu konsekuensi dari daftar hitam tersebut adalah rusaknya reputasi Israel ketika laporan tersebut direspons komunitas internasional dan dikutip badan PBB.

    Baca: Ratusan ribu anak Palestina tak punya tempat aman

    Sebelumnya, entitas yang tercantum dalam daftar hitam tersebut adalah negara-negara seperti Afghanistan, Mali, Myanmar, Somalia, Sudan, Yaman, dan Suriah, serta organisasi teroris seperti Al Qaida, ISIS, Al Shabaab, dan Boko Haram.

    Laporan yang ditulis oleh Perwakilan Khusus PBB untuk Anak dan Konflik Bersenjata Virginia Gamba tersebut akan merangkum peristiwa tahun 2023, termasuk meningkatnya insiden korban jiwa anak akibat agresi Israel ke Jalur Gaza sejak Oktober 2023.

    Data laporan tersebut berasal dari informasi dari organisasi PBB dan sumber lokal. Pencantuman suatu entitas dalam laporan tersebut akan berimbas pada munculnya laporan rinci terhadap entitas itu.

    Dengan demikian, perwakilan khusus PBB tersebut akan membuat laporan spesifik terkait Israel yang akan mereka sampaikan kepada DK PBB.

    Baca: Sebanyak 80 ribu warga Palestina tinggalkan Rafah akibat invasi Israel

    Walau begitu, laporan tersebut tidak eksplisit menyebut Israel atau militer Israel, namun hanya menyebut “pasukan keamanan Israel”.

    Rancangan laporan daftar hitam yang diterima pihak Israel beberapa bulan lalu mencantumkan sejumlah pelanggaran yang telah dilakukannya di Jalur Gaza.

    Diantaranya penggunaan bom di daerah berpenduduk, upaya merekrut anak-anak sebagai informan perang, dan memanfaatkan anak-anak sebagai tameng manusia.

    Agresi Israel ke Jalur Gaza yang tak kunjung berhenti sejak 7 Oktober 2023 telah menyebabkan 36.654 warga Palestina, termasuk 15.500 anak-anak dan 10.300 wanita, terbunuh dan 83.309 lainnya cedera.

    Meski demikian, jumlah tersebut kemungkinan besar bertambah karena ribuan korban lainnya masih terjebak reruntuhan bangunan dan belum dapat dievakuasi akibat ancaman serangan Israel.

    Sumber: WAFA

  • Ketidakpastian dan Situasi Konflik Bisa Memicu Stres

    Ketidakpastian dan Situasi Konflik Bisa Memicu Stres

    7cloud.asia – Demonstrasi yang berlangsung di banyak kota sejak 25 Agustus 2025 menyulut kesedihan dan kemarahan masyarakat.

    Di media sosial, analisis Drone Emprit mengungkapkan bahwa kemarahan masyarakat memuncak setelah tewasnya pengemudi ojek online Affan Kurniawan akibat ditabrak mobil Rantis Brimob.

    Demonstrasi yang awalnya berlangsung damai berubah memanas. Ditambah adanya pihak-pihak tidak bertanggung-jawab, muncullah aksi perusakan dan kekerasan. 

    Hingga Senin (2/9/2025), diperkirakan ada 11 korban meninggal dan lebih dari 400 orang luka-luka.

    Di tengah situasi ini, kerusuhan dan penjarahan terjadi di sejumlah titik. Selain itu informasi simpang siur bertebaran di media sosial dan grup chat.

    Sementara itu, sekolah membatasi kegiatan belajar dan kantor-kantor menerapkan work from home (WFH). Banyak toko, terutama di sekitar pusat-pusat demonstrasi (seperti Kwitang ataupun Malioboro) tutup sementara.

    Baca: Kebebasan menyampaikan pendapat dijamin konstitusi

    Aditya Prasanda dalam tulisannya di The Conversation, menyebut situasi ini bisa membuat masyarakat dilanda rasa cemas, stres, bahkan putus asa.

    Untuk mengetahui cara menjaga kewarasan di tengah situasi saat ini, The Conversation Indonesia (TCID) berbincang dengan pakar psikologi sosial dan psikiatri dari Universitas Indonesia dan Universitas Airlangga.

    Ketidakpastian memicu stres
    Stres akibat situasi konflik dan ketidakstabilan negara merupakan bentuk respons bertahan hidup alami manusia (fight or flight).

    Menurut dosen psikologi Universitas Indonesia Dicky Pelupessy, stres terjadi karena kita menghubungkan situasi krisis dengan hal-hal tidak menyenangkan.

    Misalnya, kita mengkhawatirkan konflik akan mengganggu rutinitas harian, memicu kenaikan harga, kelangkaan barang, hingga kehilangan mata pencaharian ataupun orang terdekat.

    “Persepsi dan antisipasi kita terhadap kesulitan (yang mungkin terjadi) menyebabkan munculnya emosi-emosi negatif (seperti cemas, takut, kecewa, dan marah) serta pikiran negatif soal ketidakpastian di masa mendatang. Ini membuat kita merasa tertekan dan mengalami stres,” ujar Dicky.

    Baca: PBB mendesak dilakukan investigasi terhadap dugaan pelanggaran HAM dalam penanganan demonstrasi 

    Stres, kata dia, bisa menguat ketika kita menganggap bahwa kestidakstabilan negara merupakan kondisi yang tidak biasa.

    Di sisi lain, dosen ilmu kedokteran jiwa Universitas Airlangga (Unair) Damba Bestari, mengatakan bahwa stres yang kita rasakan tidak selalu menandakan hal buruk.

    Dalam kondisi yang proporsional, stres justru bisa menandakan bahwa tubuh dan mental kita hidup.

    “Kalau tidak stres sama sekali, mungkin artinya kita tidak peduli dengan masa depan negara kita. Hal yang terpenting adalah kita memahami cara mengelola stres agar tidak menjadi berlebihan,” ujar Damba yang juga menjadi psikiater di Rumah Sakit Unair.

    Bagaimana mengatasi kecemasan dan situasi yang berkembang ini akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Baca: Di tengah sorotan mata dunia, aparat menangkapi kelompok kritis