Tag: konsumtif

  • Seperti Ini Dampak Gaya Hidup Konsumtif pada Lingkungan

    Seperti Ini Dampak Gaya Hidup Konsumtif pada Lingkungan

    7cloud.asia – Pernahkan kamu mengkaji bagaimana kamu menjalani gaya hidup mu selama ini? Konsumtif kah atau mengonsumsi secukupnya. 

    Ya, tanpa sadar makin banyak orang yang terjebak dalam gaya hidup konsumtif baik karena pengaruh lingkungan sekitar ataupun media massa. Padahal, dalam jangka panjang gaya hidup konsumtif bisa membuat sengsara hidup kamu. 

    Menurut KBBI, konsumtif adalah kata sifat yang berarti sesuatu yang bersifat konsumsi semata, hanya memakai dan tidak menghasilkan sendiri. Gaya hidup konsumtif adalah perilaku yang berlebihan dalam mengonsumsi dan membeli barang, meski barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan.

     

    Dengan kata lain, gaya hidup konsumtif adalah perilaku atau gaya hidup individu yang senang membelanjakan uangnya tanpa pertimbangan yang matang dengan mengabaikan kegunaannya.

     

    Selain itu, gaya hidup konsumtif juga bisa diartikan sebagai sebuah tindakan menggunakan suatu produk secara tidak tuntas. Hal ini berarti bahwa belum habis sebuah produk digunakan, seseorang telah membeli produk lain dengan fungsi yang sama.

    Beberapa produk yang masuk ke dalam gaya hidup konsumtif ini adalah kebutuhan skunder seperti pakaian, sepatu, aksesoris dan lain-lain.

    Sedangkan, pola hidup konsumtif adalah gambaran pola hidup seseorang yang hanya dikendalikan dan didorong oleh keinginan untuk memenuhi kesenangan semata.
     
     
    Ada banyak contoh gaya hidup konsumtif yang terkadang tidak kamu sadari, seperti membeli baju, tas, jam tangan atau sepatu secara berlebihan meski sudah memiliki barang tersebut. Sehingga, baju, tas, jam tangan atau sepatu hanya akan menumpuk dan tidak terpakai sama sekali.
     
    Contoh lain gaya hidup konsumtif yang paling sering terjadi adalah membeli barang branded hanya untuk meningkatkan status sosial. Lantas apa dampak gaya hidup konsumtif dan mengapa gaya hidup ini disorot? 
     
    Gaya hidup konsumtif tak hanya berdampak pada kondisi keuangan dan kesehatan mental seseorang, tapi juga berdampak pada kelestarian lingkungan. 
     
    Ini bisa dijelaskan sebagai berikut, dengan semakin banyak barang yang dibeli maka akan semakin banyak sumber daya alam yang diambil. Pembelian lebih banyak barang juga mengakibatkan lebih banyak sampah atau limbah yang harus dibuang. 
     
    Untuk urusan pakaian misalnya, pengikut gaya hidup konsumtif akan terus-menerus membeli pakaian baru dengan alasan malu untuk mengenakan pakaian yang sama dalam beberapa kali kesempatan.
     
     

    Sadar atau tidak, gaya hidup konsumtif akan mengakibatkan dampak yang besar bagi lingkungan. Limbah fashion nyatanya adalah penyumbang polusi terbesar kedua di dunia.

    Setiap tahun, setidaknya 92 juta ton sampah tekstil diproduksi dan dibuang ke alam. Sebagian dari limbah fashion itu dibuang begitu saja ke lautan sehingga mengakibatkan pencemaran air.
     
    Pencemaran air itu menyebabkan banyak ikan dan biota laut lainnya terkena mikroplastik. Mikroplastik tersebut bisa termakan oleh manusia secara tidak sengaja karena kita turut mengkonsumsi biota laut yang sudah tercemar itu.
     
    Produksi tekstil secara besar-besaran  juga mengakibatkan pencemaran di daratan. Studi yang dilakukan oleh Pusat Riset Oseanografi Institut Pertanian Bogor (IPB) pada bulan Februari 2023, menemukan sebanyak 70 persen bagian tengah Sungai Citarum tercemar mikroplastik, berupa serat benang polyester. 
     

    Kandungan mikroplastik mengancam kehidupan biota di Daerah Aliran Sungai Citarum. Kerusakan yang terjadi berupa kecacatan hingga kematian ikan dan kerang di Sungai Citarum. Selain itu, penggunaan air Sungai Citarum untuk mandi dan mencuci baju oleh warga sekitar juga berpotensi memunculkan berbagai penyakit.

    Baca: Tips mudik ramah lingkungan

     

    Gambaran di atas hanya ditimbulkan oleh gaya hidup konsumtif untuk urusan pakaian. Jika gaya hidup ini diterapkan di banyak bidang, bisa dibayangkan bagaimana dampak yang ditimbulkan jika gaya hidup konsumtif ini juga dilakukan untuk urusan makanan, asesorie, alat komunikasi, transportasi yang bendanya jauh lebih besar dan terbuat dari bahan yang tak mudah diurai. 

    Jadi mulai sekarang kaji gaya hidupmu, dan mulai tinggalkan gaya hidup konsumtif sebelum kamu terjebak lebih jauh di dalamnya. 

  • Fenomena Psikologis FOMO Sudah Terjadi Sejak Dulu, Tetapi Mengapa Sekarang Dikritisi?

    Fenomena Psikologis FOMO Sudah Terjadi Sejak Dulu, Tetapi Mengapa Sekarang Dikritisi?

    7cloud.asia – Mari kita kembali menyoroti fenomena Fear of Missing Out FOMO yang mendorong orang berperilaku konsumtif. Banyak orang rela mengantre lama di gerai pusat perbelanjaan hanya untuk membeli boneka seharga jutaan bernama Labubu.

    Publik juga menyayangkan aksi blokir produk terbaru Iphone 16 oleh pemerintah karena permasalahan investasi. Bahkan, beberapa sudah melakukan importasi mandiri dan jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari 12 ribu unit.

    Ini menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk berbelanja barang konsumsi non-primer.

    Padahal, situasi ekonomi di tanah air sedang tidak baik-baik saja. Buktinya, populasi kelas menengah di Indonesia mengalami penyusutan.

    Data BPS mencatat pada 2019, kelompok kategori ini masih 21,45 persen dari total penduduk Indonesia. Sementara tahun ini, jumlahnya tinggal 17,44 persen atau sekitar 47,85 juta jiwa.

    Ini tak lepas dari maraknya ajang pamer di media sosial (medsos) yang tanpa disadari telah menjadi standar hidup di masyarakat.

    Meski apa yang dipertontonkan di media sosial kerap tidak aktual dan sarat rekayasa, fenomena Fear of Missing Out (FOMO)—kondisi takut ketinggalan tren—telah mendorong perilaku belanja berlebihan.

    Akibatnya, masyarakat kelas menengah di Indonesia rawan jatuh ke kategori rentan miskin akibat perilaku belanja karena FOMO tersebut.

    Baca: Cara sederhana agar tidak terjebak dalam sindrom FOMO

    FOMO dalam konsumsi
    Hasil riset Pusat Riset Kependudukan BRIN pada tahun 2024 menunjukkan bahwa FOMO adalah satu dari banyak faktor yang menyebabkan anjloknya jumlah kelas menengah Tanah Air.

    Mereka turun kelas ke kelompok calon kelas menengah atau aspiring middle class. Kelompok ini berada di antara kelas menengah dan kelas rentan miskin.

    Tak seperti kelas menengah dan menuju kelas menengah yang cenderung menurun, kelompok rentan miskin justru terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

    Pada 2019, persentase kelompok calon kelas menengah masih 128,85 juta dan pada tahun ini naik jadi 137,5 juta.

    Pada saat yang bersamaan, kelompok rentan miskin juga terus bertambah, dari 54,97 juta pada 2019 menjadi 67,69 juta pada 2024.

    Karena FOMO, pengeluaran masyarakat kelas menengah lebih diprioritaskan pada konsumsi pemenuhan gaya hidup ketimbang kebutuhan primer seperti pendidikan dan perumahan.

    Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya peningkatan belanja kelompok kelas menengah untuk kebutuhan hiburan dan pesta dalam 10 tahun terakhir.

    Pengeluaran untuk hiburan, contohnya, meningkat dari 0,22 persen pada 2014 menjadi 0,38 persen pada 2024. Kemudian, pengeluaran untuk pakaian juga meningkat.

    Baca: Mengapa banyak orang terjebak dalam sindrom FOMO

    Tercatat pada 2014 pengeluaran kelas menengah untuk pakaian hanya mencapai 2,16 persen, sementara pada 2024 mencapai 2,44 persen.

    Ini berbanding terbalik dengan pengeluaran untuk makanan, minuman, dan kebutuhan perumahan. Bahkan, pengeluaran pendidikan dan kesehatan di kalangan kelas menengah juga turun—menunjukkan pergeseran prioritas pada alokasi pengeluaran mereka.

    Sebenarnya, FOMO dalam hal konsumsi bukanlah fenomena baru di Indonesia. Pada tahun 2011, saat Blackberry melansir gawai terjangkaunya Blackberry Bold 9790, antrean pembeli produk ini mengular hingga perlu dikawal polisi.

    Namun, setidaknya FOMO yang terjadi pada kala itu masih boleh dimaklumi. Sebab pada saat itu, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang moncer dengan realisasi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2011 mencapai 6,5 persen yang disokong berkah comodity boom dan pertumbuhan ekonomi Cina yang masih stabil tumbuh 2 digit berturut-turut.

    Perbedaan FOMO di era sebelumnya dengan zaman sekarang ini juga ada pada media yang dipakai sebagai pemicu munculnya FOMO.

    Zaman dahulu orang-orang yang dapat terpicu mengalami kondisi FOMO adalah orang-orang yang gemar membaca koran artikel di majalah, iklan di radio, bahkan kebaruan dari apa yang dimiliki oleh tetangga sebelah rumah.

    Saat ini, masyarakat yang mengalami kehadiran FOMO kemungkinan besar karena kecanduan bermain sosial media.

    Lantas adakah cara yang dilakukan untuk tidak terjebak dalam fenomena FOMO? Jawabannya akan kami ulas di tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Sonyaruri Satiti (Peneliti Bidang Kependudukan di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada , Universitas Gadjah Mada)

  • Ini Sebabnya Mengapa Kelompok Zilenial Lebih Konsumtif Ketimbang Generasi Sebelumnya

    Ini Sebabnya Mengapa Kelompok Zilenial Lebih Konsumtif Ketimbang Generasi Sebelumnya

    7cloud.asia – Generasi Z dan milenial –atau yang kerap disebut Zilenial– dianggap lebih boros dibandingkan generasi sebelumnya seperti generasi X dan baby boomers.

    Meski tak bisa digeneralisasi secara umum, anggapan soal Zilenial ini ternyata banyak benarnya. Bahkan, gaya hidup konsumtif di kalangan Zilenial ini bukan hanya ditemukan di kota-kota besar.

    Riset yang dilakukan oleh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura pada 2025 menemukan bahwa fenomena ini sudah menyebar hingga ke daerah seperti Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

    Menariknya, perilaku konsumtif Zilenial ini sering kali bukan karena kebutuhan mendesak, melainkan pengaruh dorongan sosial—khususnya media sosial.

    “Karakteristik pengambilan keputusan pembelian dari para Zilenial lebih cepat dan impulsif terpengaruh pesatnya digitalisasi seperti platform media sosial,” kata Psikolog dan Konsultan Laboratorium Psikologi Terapan Universitas Ahmad Dahlan Daerah Istimewa Yogyakarta, M. Nur Syuhada, kepada The Conversation Indonesia.

    Nafsu belanja dipicu tren, FOMO, dan promo
    Lahir di era kemajuan teknologi dan digitalisasi, Zilenial tumbuh dengan akses terhadap informasi dan ilmu pengetahuan yang luas.

    Hal ini tak hanya membuat mereka piawai teknologi, tapi juga memiliki kualitas kecerdasan dan kemampuan berpikir logis lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya.

    Pikiran mereka juga lebih terbuka akan banyak hal termasuk berani memiliki jiwa wirausaha yang tinggi.

    Baca: Frugal living di kalangan Zilenial

    Namun di lain sisi, perkembangan teknologi yang pesat juga mendorong Zilenial menjadi konsumtif.

    Salah satu pemicunya adalah kehadiran media sosial dan influencer—sebutan bagi individu populer di media sosial dengan basis pengikut besar yang bisa memengaruhi persepsi bahkan keputusan membeli pengikutnya.

    Teknologi membuat semua orang bisa punya akun media sosial. Dan dengan interaksi dua arah, influencer dengan mudah memicu tren baru yang membuat orang merasa tertinggal jika tidak ikutan—alias FOMO fear of missing out.

    Pada saat yang bersamaan, kemajuan platform belanja daring e-commerce juga kian memanjakan pengguna untuk berbelanja—tinggal klik, bayar secara digital, barang meluncur ke rumah.

    Apalagi, algoritma canggih e-commerce kini bisa membaca minat pengguna sehingga terus menampilkan berbagai produk yang diminati dengan promo menggiurkan.

    Alhasil, tak heran jika pasar e-commerce di Indonesia diprediksi akan naik dari 65 miliar dolar atau sekitar Rp1.094,32 triliun pada 2024 menjadi Rp1.291,3 triliun pada 2029 nanti.

    Dan yang belanja? Mayoritas atau tepatnya 70 persen di antaranya berasal dari kawula muda Zilenial. Bahkan, data Statista mengungkap, 70 persen dari mereka melakukan transaksi di e-commerce setelah melihat rekomendasi influencer atau iklan di media sosial.

    Bukan enggak mau beli aset, tapi…
    Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pola belanja masyarakat Indonesia bergeser dalam 10 tahun terakhir. Sekarang, orang lebih banyak menghabiskan yang untuk bersenang-senang.

    Baca: Tren ‘Thrifting’ di kalangan Zilenial

    Pengeluaran untuk kebutuhan hiburan meningkat dari 0,22 persen pada 2014 menjadi 0,38 persen pada 2024.

    Belanja untuk pakaian juga naik. Sebaliknya, pengeluaran untuk makanan, minuman, dan kebutuhan tempat tinggal justru turun. Bahkan, pengeluaran di sektor pendidikan dan kesehatan di kalangan kelas menengah juga turun.

    “Hal ini menandakan adanya perbedaan prioritas. Generasi sebelumnya lebih fokus pada kepemilikan barang fisik, seperti rumah atau mobil. Sementara Zilenial lebih mengutamakan pengalaman seperti travelling, nonton konser, atau belanja barang-barang yang sedang viral,” kata Nur Syuhada.

    Zilenial sebenarnya bukannya tidak mau memiliki aset fisik. Tapi, harga barang-barang fisik berharga seperti rumah sudah melonjak tinggi dengan kenaikan rata-rata 10% per tahun.

    Mobil murah macam low cost green car (LCGC) yang 2013 lalu harganya cuma Rp76,5 juta, kini sudah melambung menjadi Rp100 juta per unit.

    Sedangkan kenaikan gaji Zilenial tidak secepat dan tidak sebanding dengan kenaikan harga properti itu.

    Jadi, meskipun angka rata-rata gaji karyawan di Indonesia meningkat dari Rp1,9 juta pada 2015 menjadi Rp3,04 juta per bulan di 2024, jumlah tersebut tidak bisa mengejar laju kenaikan properti yang harganya mulai dari ratusan juta hingga miliaran rupiah.

    Baca: Kredit macet pinjol banyak disumbang Zilenial

    Fintek: jalan pintas memenuhi hasrat belanja Zilenial saat bokek
    Inovasi digital juga telah melahirkan Fintek alias layanan keuangan digital. Kehadiran Fintek ini ibarat angin surga untuk memenuhi sifat konsumerisme Zilenial. Sebab, proses pengajuannya jauh lebih gampang dibanding bank konvensional.

    Selain itu, strategi pemasarannya juga luwes dilakukan secara digital dan multichannel, menyentuh berbagai aplikasi sampai gim yang banyak digandrungi anak muda.

    “Akibatnya, paparan iklan pinjol dalam mobile games terbukti memicu ketergantungan dan dapat menimbulkan masalah keuangan jangka panjang bagi konsumen seperti perilaku ‘gali lubang, tutup lubang’ untuk melunasi utang lama,” kata Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Imam Salehudin.

    Masifnya pemasaran yang dilakukan pinjol cukup sukses menyasar Zilenial yang butuh dana cepat.

    Data Otoritas Jasa Keuangan menyebut bahwa Zilenial (19-34 tahun) merupakan kategori umur peminjam terbesar layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi (LPBBTI)/peer-to-peer lending/ atau pinjaman online (pinjol)

    Data OJK mencatat, total outstanding pinjaman hingga Rp39,2 triliun dari total seluruh kategori umur di angka Rp72,4 triliun per Desember 2024.

    Data juga menunjukkan bahwa tren belanja para Zilenial lebih mengarah untuk kebutuhan konsumtif ketimbang produktif dengan porsi 70 persen banding 30 persen.

    Karena itu, perlu upaya ekstra dari seluruh pihak untuk meningkatkan literasi dan inklusi media sosial dan keuangan.

    “Sebab, selain membuat depresi, FOMO juga bisa menyeret kamu ke dalam lubang kemiskinan,” kata Peneliti Bidang Kependudukan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, Sonyaruri Satiti.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Andi Ibnu Masri Rusli (Economy Editor, The Conversation Indonesia)