Tag: kopi sachet

  • Mak Oyoh, Merajut Asa di Usia Senja dari Sampah Bungkus Kopi Sachet

    Mak Oyoh, Merajut Asa di Usia Senja dari Sampah Bungkus Kopi Sachet

    7cloud.asia – Tangan keriput Mak Oyoh dengan cekatan melipat-lipat bungkus kopi sachet kosong yang sudah dicuci bersih.

    Matanya lekat menatap gambar serta tulisan yang tertera di bungkus kopi sachet tersebut. Karena gambar ini akan menentukan pola yang dibuatnya.

    Dari bekas bungkus kopi sachet inilah pundi-pundinya mengalir untuk perempuan berumur 70 tahun itu.

    Usia yang tak lagi muda tidak menghalangi Mak Oyoh untuk membuat kerajinan karpet, taplak, dll dari sampah bungkus kopi sachet.

    Baca: Robries, memberi nilai lebih pada sampah plastik

    Kepada 7cloud.asia sore itu, Mak Oyoh mnegatakan ia mulai menekuni kerajinan dari bungkus kopi sachet ini sejak tiga  tahun lalu.

    Dengan bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa Sunda, mak Oyoh menceritakan kegiatan ini berawal saat dirinya menunggu salah seorang saudaranya di rumah sakit beberapa tahun yang lalu.

    Untuk membunuh rasa bosannya, ia bersama keponakannya iseng belajar menganyam tas dari bungkus kopi sachet yang banyak dijumpai di rumah sakit.

    Kebiasaan menganyam bungkus kopi sachet ini terus dilakukannya saat ia kembali ke rumah. Hingga beberapa hari kemudian, tak sampai satu minggu ia berhasil membuat tikar kecil untuk digunakan sendiri.

     

    Baca: Mengintip rumah plastik milik aktivis lingkungan asal Prancis

    “Awalnya pusing juga, beberapa kali sudah jadi, bongkar lagi. Gitu terus, tapi penasaran pengen bisa,” katanya.

    Dengan prinsip belajar try and error, Mak Oyoh terus mengasah kemampuannya hingga bisa menghasilkan produk yang bagus dan layak dijual. Penjualannya di sekitar Ciamis, Tasikmalaya, Bandung hingga Jakarta.

    Bahkan beberapa waktu lalu ia mengikuti pameran UMKM yang diadakan Pemkab  Ciamis. 

    Mak Oyoh menjelaskan semua pekerjaan ini ia lakukan sendiri. Waktu yang dibutuhkan tergantung ukuran dan detil pesanannya.

    Baca: Klub pantai di Bali ini olah sampah plastiknya jadi aneka perkakas

    “Sebuah tikar berukuran 2 meter lebih biasanya selesai selama satu bulan,” terangnya.

    Dengan bekerja semampu yang ia kerjakan, hingga kini ia telah menyelasaikan ratusan karpet, tikar, taplak serta alas kursi.

    Sehelai karpet berukuran kira-kira 2 meter, biasa ia jual dengan harga Rp 500 ribu. Sementara yang paling murah adalah taplak meja berukuran setengah meter ia jual dengan harga Rp 70 ribu.

    Ibu empat orang anak ini terbiasa mencari sendiri sampah bungkus kopi sachet. Sampah itu juga ia dapat dengan membeli dari pemulung. Biasanya ia beli dengan harga 10 ribu per kilogram.

    Baca: Menyoal dampak lingkungan yang dipicu galon sekali pakai

    Setelah bungkus kopi tersebut terkumpul banyak, lalu mencucinya dengan bersih. Kemudian mulailah ia memotong, melipatnya kecil-kecil dan menganyamnya menjadi sebuah karpet.

    Di sebuah rumah sederhana, Desa Kawasen, Ciamis, Jawa Barat ini, ia melakukan semua proses pembuatan tersebut sendiri, tanpa bantuan siapapun.

    Bukannya ia menolak bantuan, tetapi orang-orang yang membantunya tersebut kerap tidak sesuai harapan hasil pekerjaannya.

    “Yang lama itu kan lipet jadi kecil-kecil. Tapi (dibantu) banyak yang salah. Jadi sama aja kerja dua kali, ya mending sendiri wae lah..,” jelasnya sambil tertawa.

    Baca: Ekosistem guna ulang mulai dibangun antisipasi larangan plastik sekali pakai

    Mak Oyoh mengaku tidak ngoyo dalam mengerjakan pekerjaan ini. Ia sadar usianya tak lagi muda. Disaat badannya sudah lelah, ia akan beristirahat. Ia akan terus bekerja semampunya hingga tangannya tak mampu lagi bergerak.

    Mak Oyoh berharap, apa yang dikerjakannya ini dapat mengurangi sampah bungkus kopi kemasan sachet yang kerap dijumpai.

    Dia juga berharap ada perhatian dari perusahaan kopi untuk membantu atau memberikan penghargaan bagi pelaku UMKM seperti dirinya.

    “Biar tulisannya dibaca dan fotonya dilihat sama perusahaan kopi, ya Neng. Biar dibantu nanti atau dapat mobil,” katanya sambil tertawa memamerkan giginya yang tak utuh lagi.

    Penulis: Nurakhmayani