Tag: kota lama

  • Mengintip Pengembangan Kota Lama Semarang yang Berkelanjutan dan Humanis

    Mengintip Pengembangan Kota Lama Semarang yang Berkelanjutan dan Humanis

    7cloud.asia – Di berbagai kota, kawasan kota lama selalu memiliki daya tariknya tersendiri bagi wisatawan maupun warga setempat.

    Jika menilik sejarahnya, banyak kota lama ini dibangun sebelum abad 20, yang berarti sebelum kendaraan bermotor menyesaki ruang jalan perkotaan.

    Terlihat dari tata ruang kota lama yang umumnya memiliki skala humanis; ruang jalannya tidak lebar, terdiri dari blok-blok kecil, serta muka bangunannya aktif dan memiliki akses langsung ke ruang berjalan kaki dan bersepeda.

    Kawasan yang kini kita sebut sebagai ‘kota lama’, nyatanya lebih selaras dengan konsep kota berkelanjutan.

    Artikel yang ditulis Annisa Dyah Lazuardini, Urban and Visual Design Associate II Intitute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia ini mengupas revitalisasi Kota Lama Semarang yang oleh banyak kalangan dinilai sukses. 

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    Kota lama Semarang mulai dibangun akhir abad 17, saat tercapai kesepakatan antara kerajaan Mataram di bawah Amangkurat II dengan VOC pada tahun 1678. 

    Kota lama Semarang pernah menjadi pusat perdagangan di kawasan Jawa bagian tengah pada abad ke 17-18. Sebagai pusat pemerintahan, industri, dan perdagangan di masa kolonial kota lama Semarang memiliki daya tarik tersendiri.

    Kota Lama Semarang saat ini telah ditetapkan menjadi cagar budaya yang menjadi kawasan strategis sosial dan budaya bagi Kota Semarang.

    Demi mewujudkan kawasan ini menjadi kota pusaka warisan dunia yang diakui UNESCO, sejak tahun 2017 revitalisasi di Kota Lama Semarang telah gencar dilakukan.

    Termasuk menetapkan kawasan ini menjadi kawasan ramah pejalan kaki serta mewujudkan konsep transportasi hijau untuk mengurangi polusi udara, melalui Perda Kota Semarang No. 6 Tahun 2021.

    Baca: Slow city, konsep pengelolaan kota yang lebih humanis

    Di kawasan cagar budaya, dampak dari tingginya volume lalu lintas kendaraan bermotor bukan hanya membahayakan pejalan kaki dan pesepeda.

    Kendaraan juga membahayakan bangunan-bangunan tua yang sensitif terhadap getaran akibat kendaraan bermotor yang melintas.

    Kondisi ini mempertegas urgensi pembatasan penggunaan kendaraan bermotor di kawasan kota lama Semarang. 

    Karena itu, pemerintah kota mendorong warga maupun pendatang untuk menggunakan transportasi publik menuju kawasan, dan berjalan kaki atau bersepeda di dalam kawasan Kota Lama.

    Upaya berkelanjutan untuk menuju masa depan kota lama Semarang yang berkelanjutan terus dilakukan Pemkot Semarang dengan menggandeng sejumlah pihak

    Sejak tahun 2017, ITDP Indonesia telah memberikan asistensi teknis transportasi berkelanjutan kepada Kota Semarang, termasuk peningkatan layanan Trans Semarang, layanan bus milik pemerintah kota.

    Baca: Prinsip alon-alon waton kelakon warga Yogyakarta

    Sebagai kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia, Semarang merupakan kota pertama selain Jakarta yang mengimplementasikan sistem bus milik pemerintah kota.

    Bus ini beroperasi dengan komitmen anggaran yang konsisten dibandingkan dengan kota-kota lain yang memulai sekitar tahun yang sama.

    Namun demikian, pada tahun 2017, pangsa moda angkutan umum masih sekitar 20% di Semarang (Survei ITDP & IGES, 2017).

    Meskipun 60% penumpang Trans Semarang berjalan kaki untuk mengakses halte (Rakhmatulloh et al., 2020), aksesibilitas dan konektivitas first-last mile ke Trans Semarang masih menjadi masalah.

    Maka dari itu, pada tahun 2021-2022, bersama dengan komunitas lokal Semarang, ITDP  menyusun rekomendasi Mobilitas Inklusif Semarang

    Rekomendasi ini disusun berdasarkan konsensus dari perwakilan kelompok rentan termasuk penyandang disabilitas dan perempuan.

    Baca: Empat kota di dunia yang sangat mengutamakan pejalan kaki

    Konsensus ini menjadi prinsip dasar dalam rekomendasi teknis kami, termasuk aksesibilitas Trans Semarang dan infrastruktur transportasi tidak bermotor.

    Tahun ini, ITDP melanjutkan bantuan kami dalam mengurangi emisi di Semarang melalui studi Rekomendasi Rute Pilot Bus Listrik untuk Trans Semarang, Peningkatan Konektivitas dan Aksesibilitas Kawasan Kota Lama Semarang, dan Panduan Teknis Perencanaan Pengembangan Layanan Sepeda Sewa di Kota Semarang yang akan diadopsi ke dalam Roadmap NMT kota.

    Secara umum, pedoman pelaksanaan pengembangan kawasan Kota Lama telah diatur melalui Peraturan Walikota (PERWALI) Kota Semarang Nomor 29 Tahun 2023.

    Namun, untuk pengembangan jangka panjang sebagai kawasan rendah emisi yang ramah pejalan kaki, ITDP mengidentifikasi adanya kebutuhan penyesuaian sirkulasi lalu lintas.

    Selain itu jugapeningkatan fasilitas penyeberangan, penambahan peneduhan dan aktivasi muka bangunan, integrasi antarmoda transportasi publik, hingga penyediaan layanan sepeda sewa.

    Bagaimana langkah ini dilakukan? Ikuti di tulisan selanjutnya.  

    Baca: Cara Pemkot Bogota menghidupkan kota lamanya

     

  • Riset ITDP: Menata Kota Lama Semarang Menjadi Kawasan Ramah Pejalan Kaki dan Pesepeda

    Riset ITDP: Menata Kota Lama Semarang Menjadi Kawasan Ramah Pejalan Kaki dan Pesepeda

    7cloud.asia – Salah satu tantangan yang kerap dihadapi dalam proses pengembangan kawasan termasuk penataan kota lama Semarang adalah banyaknya pihak yang harus urun terlibat.

    Di luar keterlibatan masyarakat yang beraktivitas di kawasan kota lama Semarang, yang sejak awal harus dipastikan adalah visi yang sama antara pihak perencana, pengelola, dan regulator dalam mewujudkan tata ruang yang berkelanjutan.

    Untuk itu, pada 13 Juli 2023 Institute for Transportation and Development Policy atau ITDP  Indonesia berkolaborasi dengan Katadata Green menyelenggarakan FGD yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan penataan kota lama Semarang.

    FGD yang diselenggarakan ITDP ini antara lain melibatkan Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah.

    Dishub Kota dan Provinsi, Dinas PU, Dinas Tata Ruang, hingga operator transportasi publik seperti BLU UPTD Trans Semarang dan PT. Kereta Api Indonesia juga dilibatkan dalam kegiatan ini.

    Baca: Penataan kota lama di Semarang

    Melalui FGD, setiap pemangku kepentingan dapat berbagi keprihatinan dan saran untuk desain, dan kami berhasil menentukan lokasi halte, rencana manajemen lalu lintas, dan desain ulang persimpangan.

    Kunci untuk memahami isu-isu aksesibilitas pejalan kaki adalah dengan memiliki pengalaman langsung berjalan kaki di area tersebut.

    ITDP telah menggunakan pendekatan ini untuk menilai aksesibilitas Trans Semarang bersama kelompok rentan pada tahun 2022.

    Pada tahun 2023 kami mengundang peserta FGD untuk berjalan kaki menyusuri rute pejalan kaki usulan, untuk membantu pemangku kepentingan memahami isu di lapangan, untuk didiskusikan bersama.

    Selain itu, untuk memahami perspektif yang lebih luas dari penduduk lokal dan wisatawan Semarang, ITDP melakukan survei interaktif.

    Baca: Kawasan Kota Tua Jakarta jadi kawasan rendah emisi

    Survei ini untuk menangkap persepsi tentang keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pejalan kaki di kawasan Kota Lama Semarang.

    Wisatawan, penduduk lokal, pemilik bisnis, pekerja, pengguna Trans Semarang, dan anak-anak diundang untuk memetakan tujuan favorit mereka, hambatan berjalan kaki, dan keinginan mereka untuk menggunakan layanan sepeda sewa.

    Melalui survei ITDP di kawasan Kota Tua, isu yang paling banyak disoroti adalah ketersediaan fasilitas penyeberangan dan aktivasi ruang jalan di malam hari untuk meningkatkan keamanan pejalan kaki.

    Masih banyak persimpangan yang dirasa belum memprioritaskan pejalan kaki, seperti di Jalan Cendrawasih, simpang Museum Kota Lama, dan di sepanjang Jalan Letjen Suprapto.

    Ruang jalan dan persimpangan ini merupakan akses utama menuju titik transportasi publik terdekat, menunjukkan urgensi perbaikan fasilitas pejalan kaki untuk mendorong penggunaan transportasi publik dalam mengakses kawasan Kota Lama.

    Baca: Malioboro menjadi kawasan rendah emisi

    Selain itu juga dilakukan perbaikan fasilitas pejalan kaki, berdasarkan survei evaluasi ITDP (2023) terhadap sistem sepeda sewa yang sudah ada, lebih dari 95% responden menginginkan agar layanan sepeda sewa tetap dilanjutkan.

    Namun, mereka menyebutkan perlunya perbaikan; akses yang lebih mudah untuk layanan dan informasinya, serta tarif yang lebih terjangkau.

    Pergeseran yang menarik dari penggunaan sepeda sewa untuk tujuan mobilitas juga terlihat dari survei tersebut, dari 6,7% menjadi 43% jika layanan ditingkatkan.

    Mengingat 58% penggunaan moda transportasi di Semarang adalah sepeda motor, layanan sepeda sewa di seluruh kota dapat menciptakan potensi peralihan dari pengguna sepeda motor.

    Semua ini mengawali langkah menuju kota masa depan yang berkelanjutan. Kota Semarang telah memulai perjalanannya untuk mengembangkan transportasi berkelanjutan dengan perencanaan jalur khusus BRT revitalisasi Kota Lama. 

    Namun, dibutuhkan langkah yang lebih berani untuk memastikan peralihan ke moda transportasi berkelanjutan.

    Baca: Perjuangan London menjadi kota rendah emisi

    Memastikan aksesibilitas kilometer awal dan akhir transportasi publik untuk diintegrasikan ke dalam Peta Jalan Transportasi Tidak Bermotor (NMT Roadmap) yang disusun oleh pemerintah kota menjadi sangat krusial.

    Apalagi mempertimbangkan mayoritas pengguna Trans Semarang merupakan kelompok rentan, termasuk perempuan dengan anak, penumpang membawa barang, lansia, dan penyandang disabilitas (Survei ITDP, 2022).

    Meningkatkan aksesibilitas dan konektivitas juga berarti memperbaiki pengaturan lalu lintas dan pembatasan kendaraan bermotor, redistribusi ruang jalan yang memprioritaskan mobilitas aktif.

    Selain itu juga harus dilakukan peningkatan akses halte bus, penyediaan layanan mobilitas mikro, dan desain simpang yang lebih aman.

    Upaya peningkatan Kota Lama Semarang sebagai kawasan strategis kota merupakan batu loncatan terwujudnya perbaikan di tingkat kota; menjadikan Kota Semarang lebih inklusif, aksesibel, dan berkelanjutan.

    Baca: Daftar kota ramah pesepeda di dunia

    Oleh Annisa Dyah Lazuardini, Urban and Visual Design Associate II ITDP Indonesia

     

  • Selesai Direvitalisasi, Kawasan Kota Lama Surabaya Siap Sambut Wisatawan

    Selesai Direvitalisasi, Kawasan Kota Lama Surabaya Siap Sambut Wisatawan

    7cloud.asia – Pesona dan romantisme tempo dulu Kota Lama Surabaya coba kembali dihidupkan Pemkot Surabaya guna mengembangkan kawasan wisata heritage atau warisan sejarah tersebut.

    Kawasan Kota Lama Surabaya telah selesai direvitalisasi oleh pemerintah kota setempat beberapa waktu lalu.

    Dalam revitalisasi Kawasan Kota Lama Surabaya yang dahulu menjadi pusat perekonomian dibedakan menjadi empat zona, yaitu zona Eropa, Pecinan, Arab, dan Melayu

    Masing-masing zona di Kawasan Kota Lama Surabaya ini menawarkan pesonanya yang unik.

    Buat kamu yang ingin jalan-jalan ke Kawasan Kota Lama Surabaya, berikut rekomendasi spot wisata menarik yang dapat dikunjungi:

    Baca Juga: Kawasan Kota Tua Akan Diitegrasikan dengan Kawasan Pecinan di Pancoran/Glodok

    1. Wisata Toerwagen Kota Lama Surabaya
    Sebelum mengunjungi zona Eropa di kawasan Kota Lama Surabaya, ada baiknya pengunjung menyewa wisata tur Toerwagen atau wisata mengelilingi Kota Lama dengan mobil listrik khusus yang telah disediakan pemerintah setempat.

    Tarif Toerwagen dipatok sebesar Rp20 ribu per orang. Toerwagen akan mengantar pengunjung mengelilingi luasnya kawasan Kota Lama Surabaya dalam waktu singkat, mulai dari Jembatan Merah, Gedung Internatio, dan spot wisata menarik lainnya.

    Nantinya, akan ada seorang pemandu wisata yang membantu pengunjung saat menjelajahi kawasan Kota Lama.

    Selain Toerwagen, pengunjung juga dapat memilih sejumlah kendaraan wisata alternatif yang telah disediakan untuk menjelajahi Kota Lama Surabaya, mulai dari sepeda kuno, becak, hingga mobil Jeep.

    Baca Juga: Mengintip Pengembangan Kota Lama Semarang yang Berkelanjutan dan Humanis

    2. Pabrik Limun dan Sirup Telasih “Siropen” Surabaya
    Salah satu spot yang tidak boleh dilewatkan saat mengunjungi Kota Lama Surabaya adalah Pabrik Limun dan Sirup Telasih “Siropen”.

    Telah berdiri sejak tahun 1923, pabrik ini menempatkan diri sebagai pabrik sirup pertama di Indonesia.

    Awalnya, pabrik ini dibangun oleh seorang pengusaha Belanda bernama JC van Dronggelen. Sirup di pabrik Siropen hanya menggunakan gula pasir murni tanpa pemanis buatan, sehingga sirup di sana menghasilkan rasa manis alami yang khas.

    Pengunjung dapat mencicipi aneka rasa sirup yang diproduksi pabrik Siropen di Kota Lama Surabaya itu –mawar, frambosen, leci, melon, arbein, dan lainnya–
    baik dalam bentuk sirup botolan maupun minuman sirup yang telah diracik dalam bentuk gelas.

    Sebotol sirup Siropen, dibanderol sebesar Rp35 ribu, sedangkan minuman sirup dalam gelas dijual mulai dari Rp7 ribu.

    Sayangnya, pengunjung belum diperbolehkan untuk melihat proses pembuatan sirup di dalam pabrik dan hanya boleh berkunjung di bagian depan Toko Siropen.

    Baca Juga: Mengenal Kota Salatiga, Salah Satu Kota Terindah dan Tertua di Indonesia

    3. Pos Bloc Surabaya
    Pos Bloc Surabaya merupakan satu di antara beberapa gedung Pos Bloc yang dimiliki oleh Pos Indonesia, seperti Pos Bloc Jakarta. Gedung Pos Bloc juga dikenal dengan sejarahnya sebagai tempat Presiden Pertama RI Ir Soekarno bersekolah di Hogere Burgerschool (HBS).

    Terletak di Jalan Kebon Rojo, Kecamatan Krembangan, Pos Bloc Surabaya adalah ruang kreatif yang akan datang di jantung Kota Surabaya, yang menghubungkan seni dan budaya dengan masyarakat melalui pendidikan, partisipasi, dan pengembangan ekonomi untuk masyarakat sekitar.

    Pos Bloc berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para pelaku kreatif lokal untuk berkolaborasi dan menawarkan beragam aktivitas artistik.

    Di sini, masyarakat dapat berkunjung secara gratis untuk menikmati sejumlah pameran yang dihadirkan oleh pengelola setempat, salah satunya pameran memorial mantan presiden pertama RI Soekarno.

    Baca Juga: Kawasan Malioboro Ditataulang Sesuai Maknanya dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta

    4. Jembatan Merah
    Jembatan Merah merupakan salah satu spot ikonik sekaligus tempat bersejarah di Kota Surabaya.

    Jembatan Merah telah dibangun sejak tahun 1809 saat era Gubernur Jenderal Daendels dan menjadi saksi perjuangan warga Surabaya dalam melawan penjajah di era kolonialisme.

    Jembatan Merah menghubungkan wilayah timur Sungai Kalimas (kawasan Pecinan dan Arab) dengan wilayah barat sungai (wilayah Eropa) dan menjadi salah satu pusat area bisnis di Surabaya.

    Kini, Jembatan Merah menjadi salah satu spot wisata menarik yang sering dikunjungi oleh wisatawan.

    Di Jembatan Merah, pengunjung bisa memotret keindahan gedung-gedung yang ada di sekitarnya sekaligus menikmati matahari terbenam saat sore hari.

    Baca Juga: Sejarah Panjang Palembang sebagai Kota Tertua di Indonesia

    5. Gedung Internatio
    Tidak jauh dari Jembatan Merah, terdapat salah satu gedung bersejarah bernama Gedung Internatio atau dahulu digunakan sebagai kantor Internationale Crediet-en Handels-Vereeniging “Rotterdam”.

    Bahkan, gedung tersebut merupakan saksi bisu dari peristiwa 10 November 1945 saat warga Indonesia melawan tentara penjajah dan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby.

    Kini, Gedung Internacio dapat dikunjungi oleh pengunjung secara gratis. Menariknya, bangunan bertingkat tiga tersebut memiliki kesan unik sekaligus mewah yang kerap dijadikan sebagai gedung pertemuan maupun acara lainnya oleh masyarakat.

    Sumber:Antaranews.com