Tag: kuliah

  • Jelang Debat, Pasangan Ganjar-Mahfud Kenalkan Program Kuliah Gratis untuk Anak TNI/Polri

    Jelang Debat, Pasangan Ganjar-Mahfud Kenalkan Program Kuliah Gratis untuk Anak TNI/Polri

    7cloud.asia – Pasangan capres cawapres nomor urut 3, Ganjar-Mahfud berjanji akan memberikan beasiswa kuliah gratis bagi putra-putri anggota TNI/Polri.

    Kebijakan ini diambil karena pasangan Ganjar-Mahfud menilai  unsur kesejahteraan TNI/Polri penting untuk mendukung dan menciptakan sistem pertahanan dan keamanan yang solid.

    Pasangan Ganjar-Mahud menilai, kebutuhan dasar anggota TNI/Polri seperti pendidikan, kesehatan dan perumahan mesti terjamin. 

    “Mengingat karakteristik pengabdian personil TNI dan Polri berbeda dengan ASN, maka butuh ide yang spesifik,” kata Wakil Ketua Tim Pemenangan Nasional atau TPN Pasangan Ganjar-Mahfud,  Ammarsjah Purba, Sabtu (6/1/2024).

    Peta jalan peningkatan kualitas kesejahteraan anggota TNI dan Polri akan disampaikan Pasangan Ganjar-Mahfud dalam debat capres, Minggu (7/1/2024) malam ini.

    Baca: Debat Capres soal pertahanan

    Ammar memastikan Ganjar-Mahfud menempatkan perbaikan kesejahteraan prajurit TNI dan Polri sebagai hal yang sangat krusial dalam mewujudkan profesionalisme.

    Hal ini mesti terwujud agar anggota TNI bisa tenang menjaga kedaulatan NKRI dan anggota Polri senantiasa menjaga rasa aman masyarakat setiap waktu.

    “Ganjar-Mahfud mempertimbangkan program kuliah gratis bagi anak prajurit TNI dan anggota Polri di perguruan tinggi negeri. Program itu masuk dalam 21 program prioritas Ganjar-Mahfud,” ungkap Ammar.

    Salah satu permasalahan yang kerap dialami oleh para anggota TNI dan Polri yang sudah berkeluarga adalah pembiayaan pendidikan anak-anaknya.

    Baca: Catatan dari debat capres kedua

    Bagi pasangan Ganjar-Mahfud, program tersebut adalah penghargaan atas pengabdian para prajurit TNI dan Polri.

    Program ini diyakini akan berdampak positif pada kinerja dan merupajan motivasi untuk dapat bekerja profesional.

    Program ini dirumuskan dari pengalaman Ganjar sebagai anak polisi dengan pangkat rendahan.

    Ganjar sempat merasakan hidup seadanya sebagai anak seorang polisi yang tak berpangkat tinggi.

    Baca: Ada lima kali debat capres, ini yang perlu diketahui

    Maka dari itu, pasangan Ganjar-Mahfud menilai kesejahteraan para personel TNI/Polri sangat penting untuk diperbaiki.

    Ayah Ganjar adalah anggota polisi Brimob, pangkatnya tidak tinggi, tentu saja bisa merasakan betul bagaimana prajurit itu hidup dalam kondisi seperti itu.

    “Ganjar tinggal di barak atau asrama, fasilitas penting itu diprioritas untuk kita perbaiki kelak,” jelas Ammar.

    Ammar menambahkan, saat masih menjadi Gubernur Jateng, Ganjar  sering turun langsung melihat kondisi lapangan, salah satunya meninjau kondisi kantor Polsek atau markas Koramil.

    Dari kunjungan inilah Ganjar paham betul kondisi lapangan dan apa yang dibutuhkan oleh prajurit TNI/Polri dan keluarganya.

    Baca: Beda cara Ganjar dan Prabowo tangani kemiskinan

     

  • Biaya Kuliah Tinggi, Apakah Pinjol Akan Berikan Solusi?

    Biaya Kuliah Tinggi, Apakah Pinjol Akan Berikan Solusi?

    7cloud.asia – Inklusivitas pendidikan tinggi masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Dari total 273 juta penduduk, hanya 10% yang berhasil mengecap bangku kuliah.

    Pada 2021, lebih dari separuh pelajar SMA memilih untuk tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Bahkan 7 dari 100 pelajar yang melanjutkan kuliah pada akhirnya harus berhenti, terutama karena alasan biaya.

    Dari sisi penyedia jasa, Indonesia hanya memiliki 3.107 perguruan tinggi, dengan 50% di antaranya terpusat di Pulau Jawa.

    Perguruan tinggi ini hanya mampu menampung 9.3 juta mahasiswa, angka yang rendah jika dibandingkan dengan jumlah penduduk berusia 15-19 tahun yang mencapai 22 juta orang.

    Terbatasnya jumlah perguruan tinggi dan besarnya jumlah mahasiswa potensial membuat lonjakan biaya kuliah di Indonesia sulit dihindari.

    Harian Kompas, misalnya, memproyeksi bahwa biaya kuliah untuk delapan semester di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) pada 2040 akan mencapai Rp430 juta.

    Baca: Satu keluarga satu sarjana, program Ganjar-Mahfud untuk entaskan kemiskinan 

    Berdasarkan perhitungan Kompas, orang tua lulusan SMA/SMK hanya akan mampu membiayai tiga semester kuliah anaknya meski sudah menabung selama 18 tahun.

    Permasalahan inklusivitas pendidikan tinggi ini memunculkan peluang untuk menyalurkan pinjaman pendidikan. Logikanya, jika calon mahasiswa memiliki kesulitan keuangan, mereka bisa berutang untuk membayar kuliah.

    Sebagai seorang pengajar keuangan, saya ingin menjelaskan apa itu pinjaman pendidikan dengan segala problematikanya, dan kaitannya dengan komodifikasi pendidikan.

    Pertama-tama kita akan bahas terlebih dahulu soal munculnya pinjaman pendidikan. Pinjaman pendidikan dapat dibagi menjadi dua skema: pinjaman pemerintah dan pinjaman swasta.

    Pinjaman pemerintah disalurkan oleh agensi pemerintah. Misalnya saja Perbadanan Tabung Pendidikan Tinggi Nasional (PTPTN) di Malaysia atau Student Loans Company (SLC) di Inggris. Skema ini tidak ada di Indonesia.

    Baca: Pro kontra penghentian anggaran LPDP

    Sementara itu, pinjaman swasta disalurkan oleh institusi perbankan. Beberapa bank di Indonesia menyediakan pinjaman pendidikan melalui skema kredit serbaguna atau kredit pendidikan.

    Namun, perlu diingat bahwa skema pinjaman muncul karena tren kebijakan neoliberal.

    Kebijakan berorientasi pasar ini mengecilkan peran pemerintah karena memperlakukan pendidikan sebagai barang dagangan yang tunduk pada hubungan pembeli dan penjual.

    Akibatnya, pendidikan tinggi dianggap sebagai komoditas dan masyarakat harus mengikuti skema pasar. Tentunya, ini mempersulit mahasiswa tidak mampu dalam mengakses pendidikan tinggi.

    Meski demikian, sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bagaimana para mahasiswa ini terpaksa melanjutkan pendidikan mereka dengan cara berhutang karena tekanan persaingan di pasar kerja.

    Baca: Perubahan iklim sebabkan puluhan juta anak putus sekolah

    Lingkaran setan pinjaman pendidikan
    Pinjaman pendidikan, yang seharusnya menjadi solusi bagi inklusivitas pendidikan tinggi, nyatanya justru menjadi masalah baru.

    Riset yang dilakukan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) tahun 2008 menunjukan adanya korelasi positif antara pinjaman pendidikan dengan iuran kuliah.

    Temuan ini mendukung gagasan bahwa pinjaman pendidikan sebenarnya turut mengkomodifikasi pendidikan tinggi. Naiknya iuran kuliah juga memicu penurunan minat siswa untuk mendaftar ke perguruan tinggi.

    Sementara itu, mahasiswa dari keluarga berpenghasilan rendah terpaksa memilih jurusan kuliah yang lebih terjangkau, kurang berisiko, dan memastikan lulus tepat waktu karena keterbatasan finansial.

    Imbasnya, mereka sulit menemukan pekerjaan yang sesuai sehingga kesulitan dalam membayar pinjaman pendidikan.

    Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat (AS) pada tahun 2019 juga menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa yang mengalami kesulitan membayar pinjaman pendidikan berasal dari keluarga berpendapatan rendah.

    Baca: Mengapa skor PISA Indonesia turun?

    Pinjol: alternatif atau masalah baru?
    Pinjaman pendidikan swasta memiliki proses kredit yang kompleks, tidak jauh beda dari proses permintaan kredit bank lainnya.

    Apalagi, sektor keuangan di Indonesia belum cukup merangkul masyarakat dengan hanya 40,3% penduduk Indonesia yang memiliki rekening di bank pada 2021. Akibatnya, pinjaman pendidikan swasta tidak begitu populer di Indonesia.

    Penyedia jasa pinjaman online (pinjol) dengan konsep paylater menangkap peluang ini dan menyederhanakan proses kredit yang kompleks tersebut. Mereka menawarkan akses tanpa jaminan aset.

    Salah satu pinjol pinjaman pendidikan di Indonesia, misalnya, mengklaim telah memberikan total pinjaman sebesar Rp365 miliar kepada hampir 27 ribu pengguna sejak 2021. Hal ini mencerminkan adopsi yang signifikan oleh masyarakat.

    Namun, pinjol turut menambah keruwetan isu inklusivitas pendidikan tinggi. Selain isu aksesibilitas pinjaman pendidikan meningkatkan iuran kuliah.

    Penelitian di AS juga menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengandalkan pinjol cenderung terjebak dalam lingkaran utang yang sulit diatasi. Biaya dan suku bunga yang relatif tinggi membuat mereka susah melunasinya.

    Baca: DPR minta pemerintah seriusi turunnya skor literasi Indonesia

    Ini akan berpengaruh ke masa depan para pelajar ini. Keterlambatan atau gagal bayar menorehkan catatan negatif dalam riwayat skor kredit mereka.

    Catatan negatif ini dapat menjadi hambatan besar dalam mendapatkan kredit atau pembiayaan di masa depan.

    Sebut saja kesempatan untuk membeli rumah atau kendaraan, atau bahkan mendapatkan pekerjaan karena beberapa perusahaan mungkin saja memeriksa skor kredit pelamar.

    Keinginan besar untuk kuliah bisa saja membuat mereka enggan membedakan antara pinjol legal dan ilegal. Hal ini bisa membuat mahasiswa terpapar pinjol ilegal dan ikut andil dalam meningkatkan peredaran pinjol tersebut.

    Selain itu, moral hazard–yakni seseorang melakukan tindakan merugikan karena tidak menanggung sendiri konsekuensi langsungnya–setelah mendapatkan pinjaman, juga menjadi permasalahan.

    Studi yang dilakukan di AS tahun 2020 menunjukan kecenderungan mahasiswa yang menerima pinjaman pendidikan justru menggunakannya untuk hal konsumtif lainnya.

    Jika bukan pinjaman pendidikan, lalu apa? Ikuti di arikel selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation. Penulis: Rayenda Khresna Brahmana, Lecturer in School of Economics, Finance, and Accounting, Coventry University, Coventry University

  • UKT Naik Hingga Lima Kali Lipat, Ratusan Mahasiswa Unsoed Duduki Rektorat

    UKT Naik Hingga Lima Kali Lipat, Ratusan Mahasiswa Unsoed Duduki Rektorat

    7cloud.asia – Ratusan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman atau Usoed Purwokerto, Senin (29/4/2024) menggelar unjukrasa menolak kenaikan uang kuliah tunggal atau UKT.

    Kericuhan terjadi saat massa memaksa masuk gedung rektorat untuk bertemu Rektor dihadang petugas keamanan kampus.

    Ratusan mahasiswa akhirnya berhasil masuk gedung rektorat, sementara dorongan massa membuat sejumlah kaca gedung pecah.

    Mahasiswa menilai kenaikan UKT yang mencapai 5 kali lipat dari UKT tahun 2023, terlalu tinggi sehingga akan memberatkan mahasiswa.

    Menteri Aksi dan Propaganda Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsoed, Muhammad Hafidz Baihaqi, mengatakan, unjukrasa dilakukan karena UKT mahasiswa baru 2024 mengalami kenaikan berkali-kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

    Baca Juga: Biaya Kuliah Tinggi, Apakah Pinjol Akan Berikan Solusi?

    Hafidz mencontohkan, Program Studi Keparawatan Kelas Internasional menetapkan nominal UKT tertinggi sebesar Rp52 juta di 2024. Jumlah ini mengalami kenaikan hampir 5 kali lipat dibanding 2023 yang hanya sebesar Rp9 juta.

    “Contoh lain program studi di Fakultas Hukum nominal paling besar Rp3 Juta. Dengan peraturan baru ini naik menjadi Rp14, 5 Juta,” ujar Hafidz dikutip Tempo.co, Senin (29/4/2024).

    Menurut Hafidz, kenaikan juga berlaku di program studi lainnya. Kenaikan ini terjadi karena Rektor menerbitkan peraturan baru soal UKT.

    Peraturan itu yakni Peraturan Rektor Nomor Nomor 6 Tahun 2024 yang telah ditetapkan pada 4 April 2024.

    Karena itu, pada 26 April 2024, mahasiswa Unsoed melakukan unjukrasa di depan Gedung Rektorat. Ada 4 tuntutan yang disuarakan oleh mahasiswa.

    Baca Juga: Mencari Alternatif Selain Pinjaman Pendidikan untuk Biaya Kuliah

    Di antaranya mencabut Peraturan Rektor Nomor 6/2024 dan menetapkan kembali Peraturan Rektor Nomor 15/2023 tentang mengatur biaya pendidikan Unsoed dan membatalkan kebijakan nominal keringanan 50 persen yang diturunkan bila mahasiswa akhir mengajukan lebih dari satu kali.

    Lalu meminta kampus menyampaikan informasi lebih cepat, dan memperpanjang registrasi online bagi calon mahasiswa baru jalur SNPB 2024.

    Dari aksi itu, BEM bertemu dengan pimpinan kampus. Menurut Hafidz, pimpinan kampus berjanji akan meninjau ulang Peraturan Rektor Nomor 6/2024. BEM Unsoed memberikan batas waktu sampai Senin 29 April 2024.

    Karena tak kunjung mendapatkan kabar, BEM Unsoed melakukan unjuk rasa kembali hari ini. Unjukrasa dilakukan untuk menagih janji pihak rektorat.

    Adapun dalam keterangan resminya, Wakil Rektor I Unsoed, Noor Farid, mengatakan, rektor telah mencabut Peraturan Rektor Nomor 6 Tahun 2024 tentang Biaya Pendidikan Mahasiswa pada Senin 29 April 2024.

    Baca Juga: Jelang Debat, Pasangan Ganjar-Mahfud Kenalkan Program Kuliah Gratis untuk Anak TNI/Polri

    Keputusan itu diambil setelah rapat dengan pimpinan fakultas se-Unsoed, Ketua Lembaga dan unit-unit lain, Sabtu lalu. Selanjutnya, Unsoed akan menerbitkan peraturan baru.

    “Setelah rapat dengan pimpinan fakultas se-Unsoed, Ketua Lembaga dan unit-unit lainnya, Sabtu (27/4/2024) lalu, Rektor menyatakan ketentuan tentang besaran UKT Unsoed tahun 2024 tersebut akan dicabut.

    Selanjutnya, Unsoed akan menerbitkan peraturan baru,” demikian pernyataan Unsoed yang diunggah di laman Unsoed, Senin (29/4/2024).

  • Ingin Kuliah Sambil Bekerja? Universitas Terbuka Bisa Jadi Pilihan Tepat

    Ingin Kuliah Sambil Bekerja? Universitas Terbuka Bisa Jadi Pilihan Tepat

    7cloud.asia – Bagi Anda yang sedang mencari tempat untuk melanjutkan pendidikan tinggi, Universitas Terbuka atau UT bisa menjadi alternatif pilihan.

    Dengan biaya kuliah yang terjangkau dan sistem belajar yang fleksibel, Universitas Terbuka  menjadi pilihan yang cocok untuk kalian yang ingin menimba ilmu serta gelar dalam perguruan tinggi namun memiliki kesibukan lain.

    Kuliah di Universitas Terbuka sesuai bagi mereka yang ingin kuliah sambil bekerja.
    Universitas Terbuka atau UT menawarkan beragam program pendidikan mulai dari diploma D3 & D4, sarjana S1, magister S2 hingga doktoral S3.

    Universitas Terbuka juga memiliki program khusus untuk mahasiswa luar negeri seperti Arab Saudi, Malaysia, Singapura dan negara-negara lainnya.

    Jurusan serta program studi pun beragam mulai dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Sains dan Teknologi (FST), hingga Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP).

    Baca: Serangan siber ke PDNS, mengganggu penyaluran KIP

    Untuk biaya kuliah di Universitas Terbuka memiliki beberapa sistem seperti Sistem Paket Semester (SIPAS) dan Non-SIPAS yang biayanya dihitung berdasarkan jumlah SKS.

    Layanan SIPAS dibagi lagi menjadi 5 yaitu; SIPAS Non TTM, SIPAS Semi, SIPAS Penuh, SIPAS Plus dan SIPAS Online.

    Biayanya juga beragam per semesternya, berada di kisaran Rp450 ribu hingga Rp3 juta tergantung program studi dan sistem paket per semester yang dipilih.

    Sementara untuk Non-SIPAS berada di kisaran Rp35 ribu hingga Rp75 ribu per SKS.

    Universitas Terbuka atau biasa disingkat UT diresmikan pada tanggal 4 September 1984 dengan tujuan untuk mengatasi ledakan lulusan SLTA yang tidak dapat terserap baik dalam dunia kerja maupun perguruan tinggi.

    Baca: Kuliah gratis di negara Eropa

    Presiden Soeharto pada saat itu mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1984 sebagai landasan berdirinya UT.

    Nama Universitas Terbuka terinspirasi dari tata nama The Open University di Inggris yang mencerminkan semangat dalam mengusung penyelenggaraan sistem pendidikannya.

    Universitas Terbuka memiliki akreditasi B oleh BAN-PT dan kampusnya tersebar di banyak daerah Indonesia.

    Biasanya kampus-kampus daerah ini digunakan sebagai pusat administratif serta akademik. Sementara, kegiatan belajar mengajar dilakukan fleksibel dari jarak jauh.

    Sumber: Antaranews.com