Tag: kuliner

  • Tren Kuliner Halal di Amerika Serikat

    Tren Kuliner Halal di Amerika Serikat

    7cloud.asia – Flavor Hive adalah salah satu truk yang menjual makanan halal yang mampu menarik perhatian publik Amerika Serikat

    Flavor Hive didirikan oleh Shihan Chowdhury dan Amgd Gende. Mereka meracik menu yang memadukan berbagai budaya dan tradisi kuliner, termasuk cita rasa otentik dari negara asal mereka, yaitu Bangladesh dan Mesir.

    Dari berbagai varian menunya, Flavor Hive sukses menarik perhatian dengan konsep “Bring Your Own Bag” (BYOB) atau “Bawa Bungkus Snack Sendiri”. Kepada VOA, Shihan mengatakan konsep BYOB terinspirasi dari “walking tacos”.

    “Konsepnya sudah ada sejak lama, tapi biasanya ada di restoran-restoran Meksiko, atau Amerika Latin. Mereka membuat tortilla (bahan dasar tacos) mereka sendiri, dan saat ada sisa tortilla, mereka memasukkannya ke dalam bungkusan dan menaruh daging di atasnya,” jelasnya.

    Di sana, pelanggan cukup membawa bungkus snack pilihan mereka dan koki akan mengisinya dengan berbagai pilihan taburan daging halal seperti seperti ayam, daging sapi cincang, atau lamb gyro (daging domba panggang ala Yunani).

    Sebagai pelengkap, tersedia pula opsi sayuran serta pilihan saus, termasuk saus putih khas truk makanan halal dan saus hijau pedas. Untuk porsi reguler, pelanggan membayar sekitar 10 dolar (sekitar Rp160 ribu).

    Baca: Ubud Food Festival jadi cara merayakan kekayaan tradisi kuliner Nusantara

    Selain memberi pengalaman kuliner yang berbeda, konsep bawa bungkus sendiri juga mengatasi tantangan keterbatasan tempat penyimpanan bungkus snack, serta memberikan kebebasan kepada pembeli untuk memilih camilan favorit sendiri.

    Konten-konten di akun media sosial Flavor Hive memperlihatkan pembeli yang membawa sushi, pizza, dan daun selada.

    Shihan bahkan mengingat salah satu pembeli yang datang membawa sebungkus kacang kapri mentah, yang menunjukkan bahwa konsep tersebut juga memicu kreativitas pembeli.

    Bermodal Media Sosial
    Shihan adalah kreator konten kuliner yang populer dengan nama akun @chilipeppercooks.

    Dengan lebih dari 1,9 juta pengikut di platform TikTok dan hampir 500 ribu pengikut di Instagram, popularitas dan keterampilannya membuat konten kreatif membawa dampak nyata bagi bisnisnya.

    “Di dunia di mana segala sesuatunya dipengaruhi media sosial, bisnis-bisnis kini harus mengubah cara mereka melakukan pemasaran. Namun, karena saya kreator konten, saya bisa memanfaatkan keterampilan kreasi konten saya untuk memasarkan bisnis ini,” kata Shihan.

    Baca: Tujuan wisata kuliner legendaris di Jakarta

    Misbah, pelanggan baru dari kota Manassas, Virginia, mengetahui Flavor Hive dari media sosial dan rekomendasi teman. Sebagai muslimah, ia antusias melihat bisnis makanan halal semakin ramai dengan kehadiran Flavor Hive.

    “Luar biasa melihat banyak Muslim yang maju dengan bisnis halal mereka, dan komunitas yang mendukung mereka,” ujar Misbah.

    JB, salah satu pelanggan keturunan Mesir yang datang ke Flavor Hive bersama teman-temannya, mengaku sudah empat kali mengunjungi truk makanan itu.

    Bukan hanya tertarik dengan kepopuleran bisnis itu di media sosial, JB menyukai cita rasa makanannya yang cukup pedas dan berbumbu, serta keramahan para kokinya.

    “Saya suka makanannya, saya suka komunitasnya. Mereka sangat baik dan lucu,” tutur JB.

    Keunikan konsep BYOB Flavor Hive tak hanya menarik perhatian pencinta kuliner, tapi juga kreator konten dan pemilik usaha dari berbagai negara.

    Di Indonesia sendiri, telah bermunculan video-video bisnis kuliner lokal dan kreator konten yang mengadaptasi konsep serupa.

    Baca: Tradisi Lebaran hanya ditemukan di Indonesia

    “Banyak penggemar yang memberitahu kami soal video-video bisnis serupa di Indonesia. Masalahnya, mereka memasukkan apa saja ke dalam bungkusan. Anda tidak bisa memasukkan sembarang bahan ke dalam kantong. Ada jenis-jenis bahan tertentu yang memang cocok untuk dimasukkan,” ungkapnya sambil tersenyum.

    Siap Ekspansi
    Seiring meningkatnya popularitas Flavor Hive, Shihan pun tidak menutup mata terhadap tantangan operasional bisnisnya.

    Ia menyebut perlunya mencari cara efisien untuk memasak dalam jumlah besar, sambil memastikan antrean tetap bergerak dan permintaan pelanggan terpenuhi.

    Selama akhir pekan atau saat momen-momen khusus selama Ramadan, mereka mengerahkan lebih banyak truk makanan—tiga truk untuk operasional harian, sedangkan dua truk tambahan disiapkan untuk menghadapi lonjakan pengunjung.

    Alih-alih terus menambah jumlah truk, Shihan mengungkapkan rencana besar mereka untuk membuka restoran yang akan rencananya akan diumumkan dalam waktu dekat.

    Selain itu, Flavor Hive juga terus berinovasi lewat varian menu baru. Menyambut Ramadan tahun ini, misalnya, mereka tengah mengembangkan menu dessert (makanan penutup) baru.

    Terlepas dari strategi-strategi tersebut, Flavor Hive tetap aktif di media sosial dengan konten-konten viralnya untuk menarik pelanggan setia sekaligus pengunjung baru, yang membantu bisnis mereka tetap relevan di tengah ketatnya persaingan dunia kuliner.

  • Pemprov DKI Dorong UMKM Kuliner Terapkan Praktik Usaha yang Ramah Lingkungan

    Pemprov DKI Dorong UMKM Kuliner Terapkan Praktik Usaha yang Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mendorong pelaku usaha kuliner di seluruh wilayah Jakarta untuk menerapkan praktik usaha ramah lingkungan dan berkelanjutan guna menjaga kualitas lingkungan.

    Upaya ini diperkuat melalui program pembinaan ECO ACT (Education, Collaboration, Action) yang ditekankan pada penguatan pemahaman dan kemampuan teknis pelaku usaha; peningkatan kolaborasi dengan akademisi, dunia usaha, mitra CSR dan komunitas; serta aksi nyata dan pilot project yang dapat direplikasi.

    Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin mengatakan, sektor kuliner yang jumlahnya masif merupakan salah satu kontributor terbesar dalam menghasilkan limbah di Jakarta. Karena itu, penerapan standar lingkungan tidak lagi bersifat opsional.

    Menurutnya, pengelolaan limbah cair, sampah makanan, dan emisi harus menjadi bagian integral dari operasional usaha.

    “Melalui ECO ACT, kami memastikan pelaku usaha memahami dan menjalankan standar lingkungan agar operasionalnya tidak menambah beban pencemaran Jakarta,” ujarnya, Selasa (2/12/2025).

    Baca Juga: Mengenal Gang Gloria, Tujuan Wisata Kuliner Legendaris di Jakarta

    Dari sisi pengelolaan sampah, Kapokja Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Ditjen Pengurangan Sampah dan Ekonomi Sirkular KLH, Wisti Noviani Adnin, mengungkapkan bahwa UMKM kuliner di Jakarta menghasilkan lebih dari 500 ton sampah per hari. 

    Ia menekankan perlunya pemilahan dan pengolahan sampah langsung dari sumbernya.

    “Pelaku usaha harus memilah sampah sejak di dapur. Kolaborasi dengan penyedia layanan pengelolaan sampah seperti peternakan, asosiasi maggot, atau komposter sangat penting agar sampah organik tidak lagi berakhir di TPA,” katanya.

    Dukungan juga datang dari Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Kapasitas Usaha Mikro Kementerian Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM), Riesta Karentina, yang menilai pelaku usaha perlu menguasai green skills untuk dapat beradaptasi dengan tuntutan usaha berkelanjutan.

    Ia menyampaikan, keterampilan tersebut meliputi manajemen limbah, desain produk berkelanjutan, hingga strategi pengurangan dan daur ulang sampah.

    Baca Juga: Tren Kuliner Halal di Amerika Serikat

    Riesta turut mendorong penguatan komunikasi digital melalui komunitas daring dan kerja sama dengan micro-influencer untuk menyebarkan pesan keberlanjutan, terutama kepada generasi muda.

    “Pelaku usaha bisa menjadi circular entrepreneur dengan mengubah model bisnis linear menjadi sirkular: buat, pakai, pulihkan. Pelajari juga eco-design dan upcycling untuk menciptakan nilai tambah,” katanya.

    Di sisi lain, Founder Bahasa Bisnis, Edhy Surbakty, menyoroti pentingnya pengurangan food waste sebagai kunci bisnis kuliner berkelanjutan.

    Dia menyarankan pelaku usaha melakukan pencatatan sisa makanan di tiga titik kritis yakni, persiapan dapur (preparation), sisa makanan di piring (plate waste), dan bahan kedaluwarsa di penyimpanan (storage).

    “Sediakan pilihan porsi small, regular, dan large, serta evaluasi menu yang jarang dipesan. Bekerja samalah dengan bank sampah, maggoters, atau komposter untuk mengolah sisa makanan,” jelasnya.

    Baca Juga: Pemprov Daerah Khusus Jakarta Maksimalkan Jakarta Recycle Centre untuk Olah Sampah Makanan

    Menurutnya, praktik keberlanjutan dapat sekaligus memperkuat citra usaha melalui brand storytelling, misalnya menceritakan capaian pengurangan sampah dapur hingga 20 persen dalam tiga bulan. 

    Ia menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa keberlanjutan justru membuka peluang pasar.

    “Sebanyak 62 persen konsumen memilih produk berkelanjutan meski harganya lebih tinggi. Ini peluang besar bagi pelaku usaha kuliner,” tandasnya.


     

     

  • Tayangan Kuliner di Netflix Mendorong Eksplorasi Budaya dan Wisata

    Tayangan Kuliner di Netflix Mendorong Eksplorasi Budaya dan Wisata

    7cloud.asia – Berbagai tayangan kuliner semakin memengaruhi cara penonton mengenal makanan dan hidangan baru, mengeksplorasi budaya yang berbeda, hingga memilih destinasi wisata yang ingin mereka kunjungi.

    Netflix’s Senior Director of Content, Southeast Asia, Malobika Banerji mengatakan bahwa tayangan kuliner menawarkan perpaduan menarik antara hiburan, koneksi emosional, dan eksplorasi budaya, sehingga tidak mengherankan jika genre ini terus menarik perhatian semakin banyak penonton.

    Dalam keterangannya kepada media, Kamis (4/6/2026) Banerji mengatakan, cerita yang baik selalu mampu membangkitkan rasa ingin tahu, dan saat ini penonton mencari tayangan yang dapat melibatkan seluruh indra mereka.

    “Ketertarikan terhadap apa yang terjadi di balik sebuah hidangan pun semakin besar,” ujar Malobika Banerji sambil menambahkan kekuatan cerita kuliner terletak pada setiap hidangan menyimpan kisah tentang tradisi, komunitas, dan pengalaman di dapur.

    Tayangan kuliner kini tak hanya membuat penonton ingin mencicipi hidangan yang ditampilkan. Dari drama dan dokumenter hingga kompetisi memasak, seperti Culinary Class Wars dan Street Food Asia, hingga serial lokal terbaru Netflix Luka Makan Cinta, makanan kini tidak hanya hadir sebagai elemen visual.

    Makanan telah menjadi medium bercerita yang merepresentasikan identitas budaya, memperkuat karakter, dan membangun koneksi emosional dengan penonton.

    Cerita yang ditampilkan di layar, termasuk cerita yang berpusat pada makanan kerap menjadi pintu bagi penonton untuk mengenal lebih jauh kuliner, budaya, dan gaya hidup suatu negara.

    Seperti halnya tayangan acara kompetisi memasak “Culinary Class Wars” disebut turut menghidupkan kembali dunia kuliner Korea di setiap seasonnya, mendorong peningkatan jumlah booking restoran, dan memberikan perhatian baru bagi para chef yang terlibat.

    Menurut platform reservasi restoran Korea, Catchtable, restoran milik para chef peserta mencatat peningkatan booking rata-rata sebesar 148 persen selama musim pertama ditayangkan.

    Momentum ini terus berlanjut, dengan rata-rata pemesanan dan waiting list per restoran yang berpartisipasi meningkat sekitar 303 persen dalam lima minggu setelah penayangan perdana Musim 2 dibandingkan dengan lima minggu sebelumnya.

    Culinary Class Wars Season 1 mencatat sejarah sebagai serial tanpa naskah (unscripted) Korea pertama yang memuncaki daftar Global Top 10 Netflix Non-English selama tiga minggu berturut-turut.

    Kompetisi memasak ini juga mendapat sambutan luar biasa di Indonesia dengan menduduki peringkat #1 di Netflix dan bertahan di jajaran Top 10 selama delapan minggu berturut-turut.

    Selain itu, dengan kekayaan cita rasa tradisional, keragaman budaya kuliner, hingga perkembangan gastronomi modern yang terus tumbuh, Indonesia memiliki seluruh unsur yang dibutuhkan untuk menghadirkan cerita kuliner yang menarik.

    Serial dokumenter “Netflix Street Food: Asia” yang dirilis pada 2019 mengeksplorasi budaya makanan kaki lima di berbagai negara Asia dan memperkenalkan sejumlah destinasi kuliner lokal kepada penonton global.

    Di Indonesia, dalam serial dokumenter tersebut episode Yogyakarta menampilkan berbagai hidangan ikonis serta sosok-sosok di balik kuliner legendaris seperti Lupis Mbah Satinem, Gudeg Mbah Lindu, dan Mie Lethek Cap Garuda.

    Tayangan tersebut memicu rasa penasaran penonton untuk merasakan langsung suasana, budaya, dan kuliner yang mereka lihat di layar. Episode tersebut juga membantu meningkatkan perhatian media dan wisatawan terhadap kuliner tradisional Indonesia, sekaligus semakin memperkuat citra Yogyakarta sebagai destinasi wisata kuliner.

    Cerita kuliner juga semakin banyak diangkat dalam cerita-cerita Indonesia. Terbaru, serial “Luka, Makan, Cinta” (2026) menghadirkan perpaduan pencarian jati diri, romansa, dan dinamika dunia kuliner Indonesia dengan Bali sebagai latar utamanya.

    Melalui sajian seperti lontong balap, lobster sambal matah, hingga pisang ijo yang dikemas dalam pengalaman fine dining yang artistik, serial “Luka Makan Cinta” memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia kepada penonton.

    Serial tersebut juga menyoroti realitas dunia dapur profesional, mulai dari tekanan kerja yang tinggi hingga disiplin yang diperlukan untuk berhasil di industri tersebut.

    “Luka, Makan, Cinta” masuk ke daftar Global Top 10 Netflix untuk serial Non-English dengan sekitar 2,4 juta penayangan dan berhasil masuk Top 10 di 30 negara. Di Indonesia, serial ini juga bertahan di jajaran Top 10 Netflix selama lima minggu berturut-turut.

    Selain itu, film kuliner populer “Aruna & Lidahnya dan Rahasia Rasa”, yang juga tersedia di Netflix, memperlihatkan bagaimana makanan dapat menjadi medium untuk mengeksplorasi tema identitas, budaya, dan hubungan antar manusia.

    Pemenang “MasterChef Indonesia Season 8”, pengusaha kuliner dan kreator konten, Chef Jesselyn Lauwreen menyampaikan bahwa tayangan kuliner saat ini telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih personal dan emosional.

    Menurut dia, tayangan kuliner turut mengubah cara orang menikmati dunia makanan. Kini banyak orang bisa mengenal dan jatuh cinta pada sebuah cuisine, restoran, atau chef bahkan sebelum mencobanya langsung, sekaligus mendorong semakin banyak generasi muda untuk mengeksplorasi dunia kuliner.

    “Tentang cerita, passion, dan perjuangan di baliknya yang membuat penonton merasa lebih terhubung dengan sebuah hidangan dan chef di baliknya, sekaligus membantu mereka menghargai proses yang terjadi di balik setiap sajian, mulai dari tekanan di dapur, kerja sama tim, menjaga konsistensi, hingga kerja keras yang sering kali tidak terlihat oleh pelanggan,” ujar Chef Jesselyn, yang juga menikmati tayangan di Netflix seperti “Culinary Class Wars” dan “Street Food Asia”.