Tag: kumbang ambrosia

  • Perkebunan Indonesia Waspadai Serangan Kumbang Ambrosia

    Perkebunan Indonesia Waspadai Serangan Kumbang Ambrosia

    7cloud.asia – Serangan serangga seperti kumbang ambrosia (Ambrosia beetle) bukan hanya berdampak ekologis, tetapi juga berisiko menimbulkan kerugian ekonomi signifikan.

    Peneliti dari University of Florida mencatat, serangan serangga ini telah menurunkan produksi alpukat di Amerika menjadi hanya 90 ton.

    Di Indonesia, yang memiliki produksi hampir 1 juta ton, potensi kerugiannya jauh lebih besar jika terjadi serangan serupa.

    Peneliti Ahli Utama BRIN, Rosichon Ubaidillah, di Focus Discussion Group bertajuk “Indonesia–USA Forest Entomology Network: Biodiversity and Biosecurity” pada Kamis (10/4/2025) menjelaskan, bahwa kumbang ambrosia berasal dari subfamili Scolytinae dan Platypodinae, dan memiliki sekitar 4.800 spesies di seluruh dunia.

    Sekitar 316 spesies kumbang ambrosia ditemukan di Asia Tenggara, namun data spesifik dari Indonesia masih minim.

    Baca: Spesies baru kumbang kura-kura dari Sulawesi

    “Sebagai negara tropis, Indonesia sangat mungkin menjadi pusat keanekaragaman spesies ini, namun masih banyak yang belum teridentifikasi,” ungkap Rosichon.

    Dia menegaskan pentingnya identifikasi akurat serta pemetaan persebaran kumbang sebagai dasar untuk pengendalian hayati menggunakan tawon parasit dan jamur entomopatogen.

    Hal senada disampaikan Jiri Hulcr dari University of Florida. Ia memperingatkan bahwa Indonesia memiliki 900.000 hektare hutan pinus monokultur di Sumatera yang rentan terhadap serangan kumbang.

    Oleh karena itu, peningkatan kapasitas diagnostik, pelatihan teknis, serta kerja sama riset untuk mengantisipasi serangan kumbang Ambrosia dianggap mendesak.

    Sementara itu Hagus Tarno dari Universitas Brawijaya menerangkan penyebaran kumbang ambrosia Euplatypus parallelus yang kini telah menyerang berbagai tanaman kayu keras dan perkebunan di Indonesia.

    Baca: BRIN temukan 98 taksa baru sepanjang 2024

    “Kumbang betina mengebor pohon hidup untuk menanam jamur simbiotik yang menyumbat sistem xilem dan mematikan pohon,” terangnya.

    Menurut Hagus, pengelolaan terpadu diperlukan melalui pelarangan pergerakan kayu tak diolah, karantina ketat, pemantauan rutin, serta pendekatan biologis yang ramah lingkungan.

    Ia menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor untuk melindungi keanekaragaman hayati sebagai penyangga ekosistem dan kesejahteraan masyarakat.

    Hagus mengungkapkan bahwa lebih dari 10 persen spesies serangga terancam punah dan menyerukan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat riset, pengendalian spesies invasif, dan penerapan praktik agroekosistem berkelanjutan.

    Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Andes Hamuraby Rozak, membuka FGD tersebut dan menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam riset serangga hutan.

    Baca: Penanganan hama belalang kembara

    “Kegiatan ini menjadi langkah awal perancangan kerja sama riset antara BRIN, Universitas Brawijaya, dan University of Florida untuk menghadapi ancaman serangga invasif yang berpotensi merusak hutan dan sektor pertanian Indonesia,” jelasnya.

    Sementara, perwakilan Kementerian PPN/Bappenas, Priyanto Rohmatullah, menandaskan pentingnya pengelolaan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.

    “Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang lebih dari 11% PDB nasional, namun potensi keanekaragaman hayati kita masih belum dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.

    FGD ini diharapkan menghasilkan pemetaan kondisi terkini terkait persebaran kumbang ambrosia, identifikasi kebutuhan riset untuk kolaborasi internasional, serta rekomendasi pembentukan jaringan riset entomologi kehutanan Indonesia–AS.

    Selain itu, perumusan draf rencana kerja sama jangka panjang antara BRIN, Universitas Brawijaya, dan University of Florida menjadi salah satu target utama dari kegiatan ini.

  • Kolaborasi Peneliti BRIN dan Universitas Brawijaya Temukan Spesies Baru Kumbang Ambrosia

    Kolaborasi Peneliti BRIN dan Universitas Brawijaya Temukan Spesies Baru Kumbang Ambrosia

    7cloud.asia – Tim peneliti Universitas Brawijaya (UB) berkolaborasi dengan University of Florida, Michigan State University, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan empat spesies baru kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu dari kawasan UB Forest.

    Tim berhasil mengidentifikasi empat spesies baru kumbang ambrosia, yakni Crossotarsus gunungapi Hulcr, Tarno and Levia, Cosmoderes arjuno Johnson, Cosmoderes opacus Johnson, dan Amasa brawijaya Smith.

    Temuan dalam bidang biodiversitas hutan tropis ini telah dipublikasikan pada 21 Juni 2026 dalam Journal of the Coleopterists Bulletin melalui artikel berjudul “Checklist of the Bark and Ambrosia Beetle Species (Coleoptera: Curculionidae: Platypodinae and Scolytinae) Collected at the Universitas Brawijaya Forest Properties, East Java, Indonesia with Descriptions of New Species”.

    Ketua tim peneliti Prof. Hagus Tarno mengemukakan proses pengambilan sampel dilakukan pada ranting dan kayu kering yang jatuh di tanah.

    “Kumbang ambrosia ditemukan pada berbagai jenis kayu, seperti pinus, kopi, sonokembang, Ficus, dan jenis kayu lainnya yang menjadi tempat tumbuh jamur sumber makanannya,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (26/6/2026).

    Kumbang ambrosia, katanya, memiliki keunikan karena hidup bersimbiosis dengan jamur. Mereka membuat terowongan di dalam kayu dan menumbuhkan jamur sebagai sumber makanan.

    “Karena itu, kami banyak mengambil sampel dari berbagai jenis ranting dan kayu di UB Forest,” kata Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan UB tersebut.

    Dalam penelitian tersebut, ia didampingi Yogo Setiawan, SP., MP., yang juga sedang menempuh studi doktoral di Kagoshima University, Jepang.

    Pengambilan data di kawasan UB Forest sejak Oktober 2024, penelitian ini berlangsung bersamaan dengan kegiatan Bark and Ambrosia Beetles Academy diselenggarakan University of Florida, dengan UB sebagai tuan rumah.

    Kegiatan tersebut mempertemukan peneliti, akademisi dan pakar taksonomi untuk mempelajari lebih jauh keragaman kumbang hutan tropis di Indonesia.

    Salah satu spesies baru diberi nama khusus, yakni Amasa brawijaya, yang bermakna khusus karena merujuk pada Universitas Brawijaya dan warisan sejarah Kerajaan Majapahit.

    Penamaan ini bentuk penghormatan terhadap identitas lokal sekaligus menegaskan bahwa kawasan hutan di Indonesia masih menyimpan kekayaan hayati bernilai tinggi bagi ilmu pengetahuan dunia.

    Hagus mengatakan nama brawijaya dipilih sebagai bentuk penghargaan terhadap Universitas Brawijaya, tempat berkembang berbagai penelitian biodiversitas. Penamaan tersebut diharapkan dapat meningkatkan citra UB dalam komunitas ilmiah internasional.

    “Kami ingin nama Brawijaya tidak hanya dikenal sebagai perguruan tinggi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah sains dunia. Ketika orang mencari atau mempelajari spesies ini, mereka tau bahwa spesies tersebut ditemukan melalui penelitian yang dilakukan di Universitas Brawijaya,” ujarnya.

    Dalam proses identifikasi, tim menggunakan dua pendekatan utama, yaitu analisis morfologi dan analisis molekuler berbasis DNA.

    Melalui pendekatan morfologi, para peneliti membandingkan karakteristik fisik spesimen dengan koleksi yang tersimpan di berbagai museum serangga dunia, sedangkan analisis molekuler dengan mengekstraksi DNA untuk membandingkan sekuens genetik spesimen dengan basis data internasional.

    “Kami membandingkan karakter morfologinya dengan spesies yang telah tersimpan di berbagai museum serangga dunia. Selain itu, kami juga melakukan analisis DNA untuk memastikan perbedaannya secara genetik, jika hasilnya menunjukkan adanya perbedaan signifikan dengan spesies yang telah diketahui sebelumnya, spesimen tersebut dapat ditetapkan sebagai spesies baru,” ujarnya.

    Spesimen Amasa brawijaya kini tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang dikelola BRIN sebagai koleksi ilmiah dan referensi penelitian biodiversitas Indonesia.

    Temuan empat spesies baru ini menunjukkan hutan tropis Indonesia, termasuk di kawasan UB Forest, memiliki potensi besar sebagai laboratorium alam untuk penelitian biodiversitas.

    Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap konservasi keanekaragaman hayati, riset semacam ini menjadi penting untuk memperkuat basis data ilmiah tentang spesies serangga, terutama kelompok yang belum banyak dikenal masyarakat luas.

    Bagi UB, ujarnya, penelitian ini tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah internasional, tetapi juga memperkuat posisi universitas sebagai pusat penelitian kumbang ambrosia di Indonesia.

    Hagus menilai kajian mengenai kumbang ambrosia masih terbatas sehingga membuka peluang besar UB menjadi pionir bidang tersebut.

    “Ke depan kami ingin membangun jejaring penelitian yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Harapannya, siapa pun yang ingin mempelajari kumbang ambrosia akan datang dan bekerja sama dengan Universitas Brawijaya,” ucapnya.