Tag: kunang-kunang

  • Kunang-kunang Makin Sulit Ditemukan: Bukti Nyata Menurunnya Kualitas Lingkungan

    Kunang-kunang Makin Sulit Ditemukan: Bukti Nyata Menurunnya Kualitas Lingkungan

    7cloud.asia – Beberapa tahun belakangan, banyak warga yang mengeluhkan semakin sulitnya menemukan kunang-kunang di alam. Fenomena ini ternyata bukan sekadar nostalgia, melainkan memiliki dasar ilmiah yang kuat.

    Kunang-kunang merupakan jenis kumbang yang masuk dalam famili Lampyridae, ordo Coleoptera, kelas Insecta atau serangga.

    Terdapat lebih dari 2000 spesies kunang-kunang yang dapat ditemukan di daerah empat musim dan tropis di seluruh dunia.

    Banyak spesies kunang-kunang ditemukan di rawa atau hutan yang basah di mana tersedia banyak persediaan makanan untuk larvanya.

    Dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof. Upik Kesumawati Hadi mengatakan kelangkaan kunang-kunang menjadi salah satu indikator menurunnya kualitas lingkungan.

    Baca: Penemuan Spesies Baru Kumbang Ambrosia

    “Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang,” jelasnya seperti dilansir ipb.ac.id.

    Ia mengungkapkan, penurunan populasi kunang-kunang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global.

    Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan sekitar 11–20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi berada dalam kondisi terancam.

    Bahkan beberapa spesies khas Asia Tenggara yang hidup di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah masuk kategori rentan.

    “Di Indonesia sendiri, berbagai kajian entomologi menunjukkan populasi kunang-kunang mengalami penurunan drastis, terutama di wilayah perkotaan. Serangga bercahaya ini sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mulai dari perubahan kelembapan tanah hingga pencemaran,” ujar Upik.

    Baca: Peneliti BRIN Temukan Dua Spesies Baru Kumbang Kura-Kura dari Sulawesi

    Menurut dia, kerusakan habitat menjadi faktor utama penyebab menurunnya populasi kunang-kunang.

    Alih fungsi lahan hijau, rawa, dan persawahan menjadi kawasan permukiman maupun industri menghilangkan tempat hidup larva yang membutuhkan tanah lembap untuk berkembang.

    Selain itu, polusi cahaya akibat lampu LED yang terlalu terang juga mengganggu proses perkawinan kunang-kunang. Cahaya buatan membuat kunang-kunang jantan kesulitan mendeteksi sinyal cahaya dari betina sehingga gagal bereproduksi.

    Faktor lain yang turut berperan adalah penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim yang memicu kekeringan, semenisasi saluran irigasi, serta urbanisasi yang semakin masif.

    Meski demikian, kunang-kunang masih dapat ditemukan di habitat yang lembap, minim polusi cahaya, dan bebas pencemaran.

    Baca: Populasi Serangga yang Turun Signifikan Berdampak Buruk bagi Lingkungan

    Beberapa di antaranya adalah kawasan mangrove, tepi sungai yang masih alami, rawa, persawahan tradisional, perkebunan organik, hingga lantai hutan tropis yang lembap.

    Upik mengingatkan, jika kerusakan habitat dan polusi cahaya terus berlanjut, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya mengenal kunang-kunang melalui buku, museum, atau tayangan digital. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga habitat kunang-kunang.

    Langkah sederhana seperti tidak menutup seluruh halaman dengan semen, mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, memanfaatkan pupuk organik.

    Selain itu dia juga mengajak warga menjaga kebersihan sungai dan saluran air dapat membantu mempertahankan populasi serangga unik tersebut.

    “Kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya. Menjaga lingkungan berarti juga menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” pungkasnya.

    Baca: Serangga Punya Peran Penting dalam Menjaga Ekosistem