Tag: Kupu-Kupu

  • Ilmuwan Gandeng Warga untuk Memetakan Sebaran Kupu-kupu di Jakarta

    Ilmuwan Gandeng Warga untuk Memetakan Sebaran Kupu-kupu di Jakarta

    Siswa SD sedang mengamati kupu kupu dan hasil pengamatannya. Foto: The Conversation

    7cloud.asia – Keberadaan kupu-kupu yang beragam dapat menunjukkan kesehatan ekosistem perkotaan. Sebab, kupu-kupu rentan terhadap perubahan lingkungan, polusi udara, dan hilangnya habitat.

    Untuk memetakan keberadaan kupu-kupu di Jakarta, tim peneliti Research Center for Climate Change-Universitas Indonesia (RCCC-UI) serta komunitas pegiat konservasi Tambora Muda Indonesia melakukan kegiatan bersama. 

    Berikut catatannya sebagaimana dituliskan Nurul Laksmi Winarni, Research Scientist, Universitas Indonesia yang telah diterbitkan di The Conversation dengan tajuk “Masyarakat dan Ilmuwan Sukses Memetakan Sebaran Kupu-kupi di Jabotabek”  

     

    Keberadaan kupu-kupu sangat erat dengan kebutuhannya yaitu tanaman berbunga. Kupu-kupu membutuhkan tumbuhan untuk meletakkan telurnya, membesarkan larva, dan melekatkan kepompongnya. Kupu-kupu juga membutuhkan tanaman berbunga untuk sumber nektar makanannya saat dewasa.

    Baca: Agar pendidikan turut jadi solusi bagi lingkungan

    Selain sebagai polinator (serangga penyerbuk) dan bagian dari rantai makanan, kehadiran populasi kupu-kupu yang beragam dapat menunjukkan kesehatan ekosistem perkotaan.

    Sebab, kupu-kupu rentan terhadap perubahan lingkungan, polusi udara, dan hilangnya habitat.

    Studi terakhir yang saya buat bersama tim di Jurnal Biodiversitas berhasil mencatat 50 jenis kupu-kupu penghuni habitat-habitat yang tersisa (ruang hijau) di Jabodetabek.

    Komposisi ragam jenisnya berbeda antarkota. Depok dan Bogor tercatat mempunyai keragaman kupu-kupu terbanyak, sementara Jakarta tercatat paling sedikit.

    Selain pemetaan populasi kupu-kupu, studi ini juga merupakan wujud kesuksesan kolaborasi warga bersama ilmuwan melalui platform KupuKita.

    Kolaborasi seperti ini penting dalam memberikan sumbangsih berharga terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.

    Baca: Mengenal mitos kehidupan bernama Pohon Hayat

    KupuKita dan sains warga

    Kupu-kupu adalah salah satu satwa yang hadir di perkotaan. Mereka dapat ditemui di taman-taman, tepi jalan, hingga pekarangan rumah. Bahkan, kadang mereka dapat terbang melintasi jalan yang ramai.

    Sayangnya, kehadiran kupu-kupu di Indonesia jarang tercatat. Sejauh ini, kebanyakan platform pengamatan kupu-kupu cenderung berbahasa Inggris atau terbatas dilakukan oleh ahli maupun pengamat kupu-kupu yang telah andal.

    Inilah mengapa platform KupuKita hadir. KupuKita adalah platform pemantauan kupu-kupu berbasis warga yang digagas oleh tim peneliti Research Center for Climate Change-Universitas Indonesia (RCCC-UI) serta komunitas pegiat konservasi Tambora Muda Indonesia.

    Lembaga penelitian biologi Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO-BIOTROP) juga turut mendukung inisiatif kami.

    KupuKita dibangun pada masa pandemi (tahun 2021) yang saat itu membuat galau para peneliti akibat pembatasan sosial.

    Baca: 21 Film tantang lingkungan yang wajib ditonton

    Kegalauan inilah yang menjadi dasar dibangunnya platform pemantauan yang dapat dilakukan semua orang dan dapat menjangkau lokasi-lokasi yang tidak tersentuh ilmuwan (seperti halaman rumah pribadi) dengan hanya berbekal smartphone.

    Platform KupuKita dapat diakses melalui situs Kupukita.org. Platform ini berbentuk kuesioner daring yang dilengkapi foto sebagai panduan.

    KupuKita tidak perlu diunduh secara khusus. Kuesionernya dapat diunggah saat jaringan tersedia. Situs webnya turut memuat panduan mengamati kupu-kupu, daftar jenis kupu-kupu, daftar pengamat hingga peta sebaran kupu-kupu yang diperbarui secara berkala.

    Adapun daftar jenis kupu-kupu berdasarkan urutan temuan terbanyak, daftar pengamat, dan peta sebarannya terhubung langsung dengan data yang diunggah pengamat. Jadi kalau kamu ikut mengunggah hasil pengamatan kupu-kupu, namamu akan muncul di daftar pengamat!

    Menurut peneliti biodiversitas Erik J. van Nieukerken, kupu-kupu yang merupakan ordo Lepidoptera, superfamili Papilionoidea, seharusnya terdiri dari 7 famili. Namun, untuk kemudahan pengamatan dan identifikasi, platform ini hanya berfokus mengamati 3 famili saja: Papilionidae, Nymphalidae, dan Pieridae yang masih mudah dilihat dengan mata telanjang.

    Baca: Riset menunjukkan emeisi karbon sedang tinggi-tingginya

    Ada juga empat pilihan lokasi pengamatan yaitu ruang terbuka hijau (RTH), taman di luar RTH (seperti taman kelurahan, taman di areal mal atau perkantoran, dan kuburan), pekarangan rumah, serta tepi jalan.

    Untuk membangun kerja sama ilmuwan-masyarakat, KupuKita mengadakan serangkaian pelatihan secara daring. Pelatihan dimulai dari training of trainers untuk mencari kandidat pemimpin nodus (wilayah) yang mewakili nodus Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

    Selanjutnya adalah pelatihan-pelatihan bagi murid sekolah SD-SMP, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

    Pemimpin nodus selanjutnya bertanggung jawab dalam pengumpulan data sekaligus menjadi pelatih. Pelatihan selalu diikuti dengan praktik pribadi yang hasilnya dikomunikasikan melalui grup Whatsapp untuk memastikan identifikasi jenis kupu-kupu yang tepat.

    Untuk itu, para peserta sangat dianjurkan mengabadikan kupu-kupu yang diamati melalui foto atau atau video. Bahkan peserta dapat langsung menggunakan kamera ponselnya!

    Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan indeks keanekaragaman sederhana untuk membandingkan keanekaragaman kupu-kupu di Jabodetabek. Telaah juga menggunakan analisis kluster untuk memastikan pengelompokan kupu-kupu di lima kota ini berdasarkan kemiripannya.

    Baca: Bumi butuh aksi nyatamu, ayo segera bergabung dengan gerakan iklim

    Bagaimana kupu-kupu di Jabodetabek?

    Berdasarkan hasil pengamatan KupuKita, Jabodetabek (terutama Depok dan Bogor) ternyata menjadi habitat bagi setidaknya 50 jenis kupu-kupu.

    Separuhnya merupakan jenis adaptor perkotaan (urban adapter)–jenis yang mampu beradaptasi dengan kondisi perkotaan. Kawasan perkotaan menggambarkan ekosistem campuran yang terdiri dari elemen buatan dan sebagian elemen alami.

    Ada empat jenis adaptor yang paling umum di Jabodetabek, yaitu Appias olfernaLeptosia ninaEurema sp., dan Hypolimnas bolina. Mereka acap ditemukan di pekarangan rumah dan ruang terbuka hijau.

    Jenis kupu-kupu Leptosia nina_ dan Eurema sp. adalah yang terkecil dan banyak ditemukan di rerumputan dan tanaman herba. Jenis A. olferna dan H. bolina banyak ditemukan di tanaman setinggi semak.

    Sementara itu, Hypolimnas bolina kerap mengunjungi bunga kenikir (Cosmos caudatus) atau melati Jepang (Pseuderanthemum Reticulatum) yang kerap tumbuh di taman-taman dan halaman rumah.

    Kupu-kupu Hypolimnas bolina di bunga kenikir.

    Baca: Indonesia merupakan salah satu negara dengan hutan terluas di dunia

    Di antara 5 kota di Jabodetabek, Depok dan Bogor memiliki keanekaragaman dan kekayaan jenis kupu-kupu tertinggi yaitu 49 dan 48 jenis. Hanya di Bogor, RTH tercatat sebagai penyumbang keanekaragaman jenis tertinggi.

    Sementara itu, tepi jalan cenderung menjadi penyumbang jenis kupu-kupu paling sedikit hampir di semua kota. Ini bisa terjadi akibat kurangnya tanaman inang dan tanaman penghasil nektar, termasuk rerumputan.

    Penyumbang jenis kupu-kupu terbanyak pertama atau kedua di kelima kota ini ternyata adalah pekarangan rumah. Variasi tanaman pada pekarangan rumah tampaknya menjadi daya tarik bagi kupu-kupu.

    Ini juga menunjukkan bahwa pekarangan rumah sangat mendukung penambahan ruang terbuka hijau secara mandiri di perkotaan.

    Gambaran ekosistem perkotaan sesungguhnya dapat dipantau langsung oleh warganya, salah satunya melalui pengamatan kupu-kupu.

    Di sinilah inti dari sains warga. Warga tidak sekedar menjadi penyumbang data, tapi turut serta belajar dan memahami apa yang diamati.

    Semakin banyak data, semakin dalam pula pemahaman kita tentang pemakaian habitat perkotaan oleh kupu-kupu. Tentunya hal tersebut tidak harus berakhir di pemahaman saja. Yuk penuhi pekaranganmu dengan tanaman dan bantu lestarikan kupu-kupu!

  • Seperti Ini Peran Kupu-kupu dan Burung bagi Kelestarian Lingkungan

    Seperti Ini Peran Kupu-kupu dan Burung bagi Kelestarian Lingkungan

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna mengatakan, keberadaan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan dapat dijadikan sebagai laboratorium alam, tempat menimba ilmu bagi pelajar khususnya bidang biologi.

    Ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan tak hanya menyerap karbon, tapi juga bisa menciptakan ruang atau tempat hidup satwa liar seperti burung dan kupu-kupu. 

    Selanjutnya, satwa liar seperti kupu-kupu dan burung memiliki peran yang sangat penting bagi kelangsungan ekosistem.

    Misalnya, kupu-kupu berperan penting sebagai pollinator, yaitu agen penyerbuk alami bagi bunga shingga terjadi pembuahan.

    Sedangan, burung dapat membantu dalam penyebaran biji (seeds dispersal) dan pengendali hama (biokontrol).

    Selain itu, kupu-kupu dan burung dapat menjadi indikator baik atau tidaknya kualitas lingkungan (bioindikator).

    Baca: Kelas Biodiversitas Belantara Foundation

    Seiring pesatnya pembangunan, kupu-kupu dan burung menghadapi ancaman seperti kehilangan habitat, perburuan dan perdagangan secara ilegal

    “Pencemaran lingkungan, perubahan iklim global, serta kerusakan ekosistem yang berdampak pada produktivitas dan kesehatan habitat mereka,“ ujar Dolly saat membuka Kelas Biodiversitas yang diselenggarakan Belantara Foundation pada Sabtu (18/5/2024) lalu.

    Dalam kesempatan sama, Pendiri komunitas KupuKita, Nurul L. Winarni mengatakan pihaknya terus mengajak dan mendorong masyarakat terutama generasi muda untuk terlibat dalam pendataan kupu-kupu yang ada di sekitar mereka.

    “Kami terus mendorong gerakan citizen science kupu-kupu, Sebuah kegiatan kerja ilmiah yang dilakukan masyarakat secara menyenangkan dengan dampingan ilmuwan profesional atau lembaga ilmiah” kata Nurul yang juga sebagai Head of Service and Development/Research Scientist Research Center for Climate Change Universitas Indonesia.

    Kelas Biodiversitas ini diselenggarakan di Taman Heulang Bogor, Jawa Barat dan diikuti siswa dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi.

    Baca: Upaya memetakan populasi kupu-kupu di Jakarta

    Dolly yang juga​ anggota Commission on Ecosystem Management IUCN mengatakan,  Taman Heulang dipilih menjadi lokasi kegiatan karena merupakan taman terluas yang ada di Kota Bogor.

    Taman Heulang memiliki luas lebih kurang 2,8 hektare yang awalnya hanya dijadikan sebagai lapangan bola dan tidak terurus.

    Pemerintah Kota Bogor merevitalisasi lapangan tersebut menjadi sebuah taman pada 2015 sehingga menjadi salah satu ruang terbuka hijau di kota Bogor.

    ”Sangat penting dilakukan pendataan potensi biodiversitas seperti jenis-jenis tumbuhan, burung dan kupu-kupu sebagai bahan monitoring dan evaluasi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di taman tersebut” ujar Dolly, yang juga pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan.

    Baca: Sensus burung di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat

    Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni, dkk. pada 2018,  terdapat setidaknya 17 jenis burung yang berhasil dijumpai di Taman Heulang.

    Data tersebut perlu dilakukan pemutakhiran setiap waktu untuk mengetahui apakah terjadi perubahan terhadap keberadaan jumlah jenis burung tersebut.

    Sementara berdasarkan hasil pengamatan pada Sabtu lalu, didapatkan 15 jenis burung dan 16 jenis kupu-kupu.

    Dari 15 jenis burung yang berhasil diidentifikasi, terdapat satu jenis burung, yaitu burung kipasan belang (Rhipidura javanica) yang masuk ke dalam kategori burung yang dilindungi oleh Permen LHK No.106 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

    Berdasarkan status keterancaman, terdapat satu jenis burung, yaitu burung kacamata biasa (Zosterops melanurus) masuk ke dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) yang berstatus rentan terhadap kepunahan atau Vulnerable (VU).

    Baca: Sensus burung di Ancol, Jakarta Utara

     

  • Mengenal Binatang Penyerbuk: Lebah Punya Peran yang Paling Signifikan

    Mengenal Binatang Penyerbuk: Lebah Punya Peran yang Paling Signifikan

    7cloud.asia – Upaya manusia untuk mengejar kehidupan yang lebih baik, membuat banyak makhluk hidup lain, termasuk lebah kehilangan habitat penting yang mereka andalkan untuk makanan dan bersarang.

    Para ilmuwan telah lama membunyikan alarm tentang ancaman hilang atau punahnya lebah yang berperan menjadi penyerbuk alami selama beberapa dekade terakhir.

    Mereka menyoroti pentingnya peran lebah dalam ekosistem dan kebutuhan mendesak bagi masyarakat dunia untuk mengambil langkah dan membalikkan penurunan populasi lebah di dunia.

    Lebah memang bukan satu-satunya penyerbuk. Kupu-kupu dan kumbang juga bertanggung jawab membantu tanaman bereproduksi, tetapi kontribusi mereka tidak sebesar lebah.

    Jika lebah punah, ini akan memberi tekanan signifikan pada kupu-kupu untuk mengisi peran mereka. Jika spesies ini tidak dapat beradaptasi dan mengimbanginya, seluruh ekosistem akan runtuh.

    Di dunia dengan lebih sedikit lebah, kita harus bergantung pada penyerbuk lainnya – tetapi apakah skenario ini realistis?

    Baca: Turunnya populasi lebah mengancam keanekaragaman hayati

    Lebah adalah penyerbuk yang bertujuan, karena kesehatan sarang dan keturunannya bergantung sepenuhnya pada serbuk sari yang dikumpulkan untuk makanan. Ini berarti mereka memindahkan lebih banyak serbuk sari setiap hari daripada penyerbuk lainnya.

    Penelitian telah menunjukkan bahwa serangga non-lebah hanya menyumbang 38 persen dari penyerbukan tanaman, menunjukkan seberapa besar kontribusi lebah sendiri.

    Mari kita ambil contoh kupu-kupu. Mereka adalah pengunjung umum bunga liar dan merupakan bagian dari komunitas penyerbuk. Tidak seperti rambut pengumpul serbuk sari pada kaki lebah, kaki mereka yang panjang dan tipis berarti mereka kurang efisien untuk peran tersebut.

    Oleh karena itu, kupu-kupu berkontribusi kurang dari 5 persen dalam penyerbukan tanaman. Ngengat adalah penyerbuk serangga lain yang cukup umum. Meskipun memiliki kaki bertekstur halus seperti kupu-kupu, mereka juga sebagian besar aktif di malam hari, artinya mereka tidak menyerbuki tanaman yang sering kali memerlukan layanan penyerbukan di siang hari.

    Jika spesies serangga lain tidak cocok, bagaimana dengan burung atau kelelawar? Spesies seperti burung kolibri menyerbuki bunga berbentuk tabung menggunakan lidahnya yang panjang untuk mengambil serbuk sari.

    Sayangnya, spesies ini sebagian besar terbatas di daerah tropis dan tidak mendatangi banyak tanaman komersial. Ini berarti bahwa penyerbukan burung berkontribusi kurang dari 5 persen pada spesies berbunga di seluruh dunia.

    Baca: Peran kupu-kupu dan burung bagi kelestarian lingkungan

    Kelelawar juga merupakan spesialis, karena mereka hanya menyerbuki sebagian kecil tanaman dan, seperti ngengat, aktif di malam hari. Mereka bahkan kurang cocok untuk mengisi peran lebah, karena hanya bertanggung jawab atas kurang dari 1 persen penyerbukan makanan global.

    Jadi punahnya lebah adalah krisis yang harus dicegah. Sederhananya, hilangnya lebah akan sangat menghancurkan – dari sudut pandang biologis, sosial, dan ekonomi.

    Jika kita kehilangan lebah, kita tidak hanya kehilangan madu; tanaman, ekosistem, dan sistem pangan kita semuanya bergantung pada penyerbukannya.

    Tidak ada spesies di bumi, termasuk kita, yang dapat melakukan tugasnya. Kita tidak dapat mengabaikan kepunahan mereka, dan melindungi mereka sangatlah penting.

    Ini adalah tanggung jawab yang membutuhkan tindakan segera, demi kesehatan planet kita dan generasi mendatang.