Tag: lahan bekas tambang

  • Sistem Agroforestri Efektif Pulihkan Lahan Bekas Tambang di Kabupaten Malang

    Sistem Agroforestri Efektif Pulihkan Lahan Bekas Tambang di Kabupaten Malang

    7cloud.asia – Hasil kajian Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRE BRIN) mengungkap sistem agroforestri sukses diterapkan lahan bekas tambang, di Gunung Gede, Desa Sumbersejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang.

    Hasil kajian BRIN ini dipaparkan dalam kegiatan Diseminasi Kajian Rehabilitasi Lahan Berbasis Agroforestri untuk Perbaikan Lingkungan dan Ketahuan Pangan, yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Kabupaten Malang, Kamis (30/10/2025) lalu.

    Peneliti Ahli Madya PRE BRIN, Titut Yulistyarini, menyampaikan bahwa sistem agroforestri terbukti efektif memulihkan lahan yang terdegradasi karena aktivitas pertambangan.

    “Kami melihat perubahan nyata setelah sistem agroforestri diterapkan selama satu tahun di kawasan tersebut. Tanah yang semula tandus telah mulai menunjukkan peningkatan kesuburan dan keanekaragaman vegetasi,” kata Titut.

    Ditambahkannya, penggunaan kombinasi tanaman buah, seperti nangka, kelengkeng, jambu air, mangga, dan kelapa genjah dalam sistem agroforestri di kawasan tersebut tidak hanya memperkuat ekosistem, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

    Baca: Upaya memulihkan fungsi ekologis kawasan karst yang di Malang

    Sementara itu, Peneliti Ahli Madya PRE BRIN lainnya, Sugeng Budiharta,menjelaskan protokol rehabilitasi lahan bekas tambang batu kapur sebagai panduan ilmiah pemulihan lahan di wilayah tersebut.

    Protokol ini menekankan tahapan pemetaan biofisik, pemilihan jenis tanaman pionir dan adaptif, serta pemulihan tanah dengan bahan organik dan tanaman penutup.

    “Keberhasilan rehabilitasi tidak hanya diukur dari tumbuhnya vegetasi, tetapi juga keterlibatan masyarakat dan perbaikan fungsi ekologis lahan pascatambang, “ jelas Sugeng.

    Perwakilan PT Eka Mas Fortuna, menyampaikan usulannya agar nilai serapan karbon dari lahan rehabilitasi dapat dimasukkan ke dalam mekanisme pajak karbon perusahaan.

    Beberapa peserta lainnya juga menyinggung kemungkinan penggunaan pupuk organik dari limbah peternakan. Usulan-usulan tersebut direspons positif oleh tim peneliti PRE BRIN sebagai peluang kolaborasi penelitian lanjutan.

    Baca: Hutan yang rusak puluhan juta hektare, tapi rehabilitasi hanya 3000 hektare setahun

    Mustafa dari DLH Provinsi Jawa Timur mengusulkan perlunya pengukuran laju erosi tanah sebelum dan sesudah rehabilitasi, sebagai indikator keberhasilan pemulihan lahan pascatambang.

    Menanggapi hal tersebut, Titut menjelaskan erosi tanah memang salah satu indikator penting keberhasilan rehabilitasi.

    “Karena restorasi lahan ini baru berjalan satu tahun, maka pengukuran erosi tanah belum kami lakukan. Tetapi hal tersebut akan menjadi bagian dari kajian lanjutan yang dilakukan bersamaan dengan pertumbuhan vegetasi,” tegasnya.

    Namun, Titut menambahkan hasil uji awal menunjukkan tanah di kawasan Gunung Gede memiliki kemantapan agregat yang tinggi sehingga potensi erosinya rendah. Pemantauan jangka panjang tetap diperlukan untuk memastikan efektivitas pemulihan ekosistem.

    Dari sisi pendidikan lingkungan, Camat Gedangan, Teguh Susetyo, mendorong kegiatan rehabilitasi melibatkan siswa sekolah dan pramuka sebagai bentuk pembelajaran langsung di lapangan.

    “Itu ide bagus. Kami ingin menjadikan lokasi rehabilitasi sebagai laboratorium hidup untuk edukasi lingkungan. Ke depannya, kami berencana merancang aplikasi sederhana agar anak-anak bisa belajar mengenal tanaman dan perannya dalam menjaga alam,” ungkap Sugeng.

    Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, DLH Kabupaten Malang, Nuning Nur Laila, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pemulihan lahan kritis di wilayah Selatan, terutama di Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan.

    “Kegiatan ini bukan hanya forum diskusi, tetapi bentuk nyata sinergi antara pemerintah daerah, perusahaan peserta PROPER, masyarakat, dan lembaga riset seperti BRIN dalam menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujar Nur.

  • Dosen IPB University Manfaatkan Jasad Renik untuk Hijaukan Lahan Bekas Tambang Kapur

    Dosen IPB University Manfaatkan Jasad Renik untuk Hijaukan Lahan Bekas Tambang Kapur

    7cloud.asia – Inovasi yang dikembangkan dosen IPB University Dr Nisa Rachmania bersama tim terbukti efektif menghijaukan lahan bekas tambang kapur di Bogor, Jawa Barat.

    Inovasi berjudul Kolaborasi Jasad Renik Hijaukan Lahan Tambang Kapur ini terpilih sebagai salah satu inovasi paling prospektif dalam ajang 117 Inovasi Indonesia 2025 yang diselenggarakan Business Innovation Center (BIC).

    Riset ini berfokus pada pemanfaatan mikroorganisme lokal untuk mendukung proses pengomposan dan revegetasi (penanaman kembali) lahan bekas tambang batuan kapur.

    Produk formulasi ini terdiri atas isolat bakteri Bacillus paramycoides A.1.4 dan kapang Penicillium singorense 1.1.a yang berasal dari tanah area revegetasi bekas tambang batuan kapur PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Citeureup.

    “Area revegetasi di lingkungan quarry bekas tambang batuan kapur Citeureup menyimpan potensi karbon organik dari limbah tumbuhan mati yang mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Dari tanah dan sisa tumbuhan tersebut, kami mengisolasi bakteri dan cendawan penghasil enzim pengurai,” terangnya.

    Baca: Sistem agroforestri efektif pulihkan lahan bekas tambang di Malang

    Kedua mikroorganisme potensial penghasil enzim pengurai selulosa dan lignin tersebut kemudian dikumpulkan menjadi konsorsium sebagai formula bioaktivator pembuatan kompos dari sisa tanaman di area revegetasi tersebut.

    Menurut Nisa, pengujian menunjukkan hasil pengomposan dan pemberian pupuk hayati dari formulasi kedua mikroorganisme tersebut lebih baik dibandingkan produk komersial.

    “Hal ini menunjukkan kedua isolat telah adaptif pada lingkungan bekas tambang batuan kapur. Kedua spesies ini belum pernah dilaporkan sebagai komponen pupuk hayati seperti yang telah diperjualbelikan secara komersial,” jelasnya.

    Ia menambahkan, kedua isolat tidak bersifat patogen bagi manusia dan hewan. Berdasarkan kajian literatur, Penicillium singorense juga bukan patogen tanaman.

    Dalam uji tambahan, formula bioaktivator terbukti mampu menurunkan 86 persen bobot limbah tanaman, jauh lebih tinggi dibandingkan produk komersial lain yang hanya 15 persen.

    Baca: Lindungi kawasan karst berarti menjaga keseimbangan lingkungan

    Pada uji lapangan terbatas seluas sekitar 50 meter persegi, pertambahan tinggi tanaman kaliandra mencapai 9,8 persen pada perlakuan formula, dibandingkan 9,1 persen pada produk komersial.

    “Dari hasil penelitian ini, kedua isolat berpotensi digunakan sebagai pupuk hayati dan starter untuk proses pengomposan di area tambang batuan kapur atau lahan dengan komposisi tanah serupa,” ujarnya.

    Nisa menekankan, inovasi ini masih perlu diuji pada skala penanaman yang lebih luas. Ia juga mendorong agar isolat mikroorganisme potensial disimpan di culture collection, seperti IPB Culture Collection.

    Hal ini agar keberadaannya terjaga dan dapat digunakan sebagai isolat standar pupuk hayati asli Indonesia.

    Untuk proses hilirisasi perlu dukungan institusi dan pemerintah, sehingga manfaat pupuk hayati dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetik dan meningkatkan kualitas pupuk organik.

    “Bagi petani dan praktisi pertanian, pupuk hayati dapat meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman setelah diaplikasikan berulang kali,” tutupnya.