7cloud.asia – Mengantisipasi dampak perubahan iklim, Yayasan Warga Berdaya untuk Kemanusiaan (Warga Berdaya) yang pernah melahirkan LaporCovid, melakukan langkah terobosan dengan merilis platform LaporIklim.
Platform LaporIklim ini resmi diluncurkan Selasa (20/8/202) dengan tujuan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam melaporkan permasalahan lingkungan yang berkaitan dengan perubahan iklim di Indonesia.
Platform LaporIklim yang memanfaatkan fitur Chatbot dari aplikasi WhatsApps sekaligus membuka pintu bagi masyarakat untuk mengakses informasi maupun solusi megatasi dampak perubahan iklim.
LaporIklim memungkinkan masyarakat, khususnya mereka yang berada di daerah terdampak, untuk melaporkan secara langsung berbagai fenomena terkait perubahan iklim yang mereka alami.
“Berbagai dampak perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, kenaikan permukaan air laut, dan berbagai dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari bisa dilaporkan via LaporIklim,” ujar Yosep dari Warga Berdaya di sela peluncuran platform LaporIklim, Selasa (20/8/2024) di Jakarta.
Baca Juga: ARUKI: Kebijakan Iklim di Era Jokowi Jauh dari Perspektif Keadilan Iklim
Ia menambahkan, laporan yang masuk akan diolah dan dianalisis untuk menghasilkan informasi yang berharga bagi upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Indonesia.
Untuk selanjutnya data yang dihimpun dari masyarakat lewat LaporIklim ini diharapkan dapat mendorong pengambil kebijakan agar lebih resonsif terhadap perubahan iklim.
Ketua Tim Pengelolaan Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto menyambut baik inisiatif ini.
Dia berharap, platform LaporIklim dapat membantu Indonesia menuju masa depan yang lebih aman dari risiko perubahan iklim yang semakin meningkat.
“LaporIklim juga dapat membantu meningkatkan literasi masyarakat tentang adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, bahkan berkontribusi dalam upaya menahan laju krisis iklim,” ujarnya.
Baca Juga: Perubahan Iklim Memicu Panas Perkotaan, Ini Dampaknya Bagi Kehidupan Kota dan Warganya
Ia menambahkan, kegagalan dalam memitigasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim akan berdampak serius di masa depan, sehingga aksi nyata sangat diperlukan.
Kepala Tani dan Nelayan Center (TNC) IPB University Hermanu Triwidodo mengatakan penggabungan pengetahuan global dengan kearifan lokal untuk melakukan adaptasi dan mitigasi sangat penting bagi penanggulangan perubahan iklim.
Sayangnya, dari pengamatan yang dia lakukan, mitigasi yang dilakukan pemerintah justru kurang memperhatikan situasi di lapangan sehingga tidak efektif menguatkan adaptasi yang dilakukan masyarakat yang paling terdampak perubahan iklim.
Hermanu juga menyoroti ketidakadilan peran antara kelompok rentan dengan aktor penyebab perubahan iklim.
Petani dan nelayan diminta untuk melakukan mitigasi dengan mengurangi aktivitasnya, sementara pelaku utama penyebab perubahan iklim cukup memberikan carbon tip sebagai ganti rugi.
“Dalam hal perubahan iklim ini, ada praktik privatization profit socialitation cost,“ ujarnya
Saat ini petani telah berinisiatif melakukan langkah-langkah strategis dalam menghadapi perubahan iklim, salah satunya pendataan fenologi tumbuhan atau siklus hidup hewan dan tumbuhan yang terkait dengan periodisasi iklim.
Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan Nadia Hadad menyoroti kebijakan iklim yang belum berperspektif keadilan iklim. Di mana pihak yang paling terdampak justru tidak direcognisi apa yang dialami dan apa yang dibutuhkan.
“Kita mendorong supaya ada lebih banyak lagi pertukaran informasi untuk bisa saling membantu, bisa saling tahu, saling belajar dan saling berbagi,” ujar Nadia.
Karenanya, dia menegaskan pentingnya kerja sama dan kolaborasi antar berbagai pihak.
Harapannya, LaporIklim bisa menjembatani berbagai elemen masyarakat untuk saling belajar dan menggunakan platform ini untuk tanggap cepat, kemudian menghubungkan ke pihak yang bisa membantu mengatasi solusi di lapangan.
