Tag: layangan koang

  • Layangan Koang: Nyanyian Angin dari Langit Betawi

    Layangan Koang: Nyanyian Angin dari Langit Betawi

    7cloud.asia – Saat sore menua di atas Waduk Kampung Rambutan, Jakarta Timur puluhan layang-layang hias maupun layang-layang aduan menari di udara Jakarta.

    Layang-layang ini menjadi pemandangan seru saat sore hari tiba sambil menyaksikan pengerukan sedimentasi waduk yang hingga Oktober 2025 masih berlanjut.

    Cerita layang-layang ini ternyata sudah ada sejak lama. Sekitar abad ke-18, masyarakat Nusantara sudah mengenal beragam jenis layang-layang hias sebagai permainan rakyat dan ekspresi budaya dari berbagai daerah.

    Pun demikian dengan warga Jakarta. Di masa itu, lahir sebuah bentuk layang-layang khas yang tak hanya indah, tetapi juga bersuara yang hingga kini dikenal dengan layangan koang, pusaka angin dari Betawi Tengah.

    Budayawan dan sastrawan Betawi, Yahya Andi Saputra menjelaskan bahwa jejak layangan koang terekam dalam manuskrip Shohibul Hikayat Syahrodjat, yang menyebut kemunculannya di kawasan Tanah Abang hingga Gambir.

    Baca: Festival layang-layang Jogja kembali digelar

    “Ya sekitar tahun 1800 semua sudah mengenal layangan, masyarakat Betawi lama, khususnya di wilayah tengah gemar membuat layangan dengan bentuk busur melengkung. Dari situ muncul bunyi khas saat diterbangkan, koang… koaang…yang kemudian menjadi namanya,” ujar Yahya saat dihubungi 7cloud.asia, Minggu (26/10/2025).

    Ciri utama layangan koang terletak pada bagian atasnya yang disebut gebang. Dahulu, gebang dibuat dari daun gebang, sejenis palma yang banyak tumbuh di Jakarta.

    Namun karena kini daun gebang semakin sulit didapatkan, para pembuat layangan koang menggantinya dengan daun kelapa atau lembaran kaca film.

    Meski bahan berubah, bentuk busurnya tetap sama: melengkung seperti bulan sabit bertumpuk, dengan senderingan di tengah untuk menghasilkan dengung khas.

    Nama “koang” sendiri berasal dari onomatope kata yang meniru bunyi alami. Seperti kata “kukuruyuk” meniru suara ayam, maka “koang” meniru dengungan layangan yang menembus angin.

    Baca: Pembentukan lembaga adat Betawi

    “Koang… koaang…begitulah suara itu terdengar di langit Betawi, dan dari sanalah lahir namanya,” terang Yahya Andi Saputra.

    Seiring waktu, layangan koang berkembang menjadi beberapa jenis dengan fungsi dan ciri khas masing-masing:

    Koang Hias, dirancang agar tampak indah dan menarik, sering kali memakai warna-warna cerah dan pola khas Betawi. Jenis ini biasa ditampilkan dalam festival layang-layang dan pertunjukan budaya.

    Koang Aduan (Laga), dikenal juga sebagai “koang j-bros”, layangan ini dibuat khusus untuk diadu di udara. Bentuknya lebih ramping dan ringan, umum dimainkan oleh anak-anak di Jakarta dan sekitarnya.

    Koang Variasi Ekor Pendek yakni ada beberapa koang aduan memiliki ekor pendek di bagian bawah untuk menambah kestabilan dan kecepatan saat bermanuver.

    Baca: Karya Budaya Betawi diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda

    Warisan Angin Betawi
    Bentuk layangan koang klasik, dengan struktur busur melengkung menyerupai bulan sabit ganda dan senderingan yang menimbulkan dengungan khas. Jenis ini diyakini sebagai cikal bakal layangan koang Betawi yang disebut dalam manuskrip kuno.

    Menurut Yahya, layangan koang sudah termasuk dalam kategori Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Betawi, meski belum resmi didaftarkan.

    “Masih perlu kajian dan penetapan maestro, tapi jelas layangan ini sudah diwariskan secara turun-temurun,di tempat saya Cilandak juga banyak yang bisa bikin,” ujarnya.

    Kini, meski layangan hias modern banyak dijual di sepanjang Jalan Raya Bogor hingga Cisalak, layangan koang tetap hidup di tangan para pengrajin tradisional di Pal Merah, Rawabelong, yang dikenal dengan nama toko Koang Kelabang Rawabelong.

    Mereka masih setia membuatnya dari bambu tipis, tali kapas, dan lembaran alami — menjaga nyanyian angin agar tak hilang dari langit Jakarta.

    Reporter:KemalMaulana