7cloud.asia – Pembatasan kegiatan masyarakat atau lockdown secara global saat pandemi Covid-19 yang melanda dunia awal 2020 membawa banyak pengaruh pada lingkungan dan kehidupan manusia.
Lockdown global saat pandemi Covid-19 ternyata mampu memperbaiki kualitas udara dan berdampak positif bagi lingkungan.
Ternyata dampak positif lockdown global saat pandemi Covid-19 tak hanya dirasakan penghuni planet Bumi, tetapi juga berimbas pada kondisi Bulan.
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society pada 2024, mengungkap lockdown global membawa perubahan signifikan pada suhu malam hari di Bulan.
Hal ini diakibatkan berkurangnya radiasi yang dipancarkan dari Bumi. Mungkin pembaca bertanya, kenapa bisa demikian?
Baca: WFH menjadi salah satu opsi atasi polusi udara
Simak penjelasan berikut ini. Lockdown global telah mengakibatkan pengurangan aktivitas manusia secara besar-besaran, sehingga emisi gas buang sehingga polusi udara menurun.
Akibatnya, radiasi yang biasanya dipancarkan Bumi ke Bulan, terutama pada malam hari, berkurang drastis. Ini menyebabkan Bulan yang menerima sebagian radiasi dari Bumi juga mengalami penurunan suhu.
Penurunan suhu di Bulan
Studi yang diterbitkan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society pada 2024 ini dilakukan tim peneliti yang menganalisis suhu malam di enam lokasi di sisi dekat Bulan antara tahun 2017 hingga 2023.
Penelitian itu menemukan adanya penurunan signifikan suhu permukaan malam hari di Bulan selama periode lockdown global pada April–Mei 2020.
Tim peneliti menemukan adanya “anomali” dalam bentuk penurunan suhu yang tidak biasa selama lockdown, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Baca: Lubang ozon mencapai 10 juta kilometer persegi
Para peneliti menegaskan bahwa penurunan ini terkait langsung dengan pengurangan radiasi yang dipancarkan dari Bumi atau terrestrial radiation (TR). Tapi, bagaimana lockdown di Bumi mempengaruhi suhu Bulan?
Untuk memahami bagaimana radiasi dari Bumi memengaruhi Bulan, penting untuk memahami hubungan antara keduanya.
Karena Bulan tidak memiliki atmosfer, ia menerima panas secara langsung dari Matahari di siang hari dan sebagian radiasi dari Bumi pada malam hari.
Radiasi dari Bumi, yang disebut Earthshine, adalah pancaran sinar yang memantulkan kembali energi ke luar angkasa. Nah, radiasi dari Bumi ini sebagian dipengaruhi oleh aktivitas manusia seperti industri dan transportasi.
Selama pandemi, dengan berkurangnya aktivitas manusia, terjadi pengurangan polusi dan emisi gas rumah kaca. Hal ini berkontribusi pada penurunan radiasi Bumi.
Baca: Lubang ozon dan dampaknya pada lingkungan
Dilansir Kompas.com, data studi menunjukkan bahwa pengurangan radiasi bisa mencapai 32 persen untuk aerosol dan 7 persen untuk refleksi sinar dari atmosfer Bumi. Dampaknya, Bulan yang biasa mendapatkan radiasi dari Bumi di malam hari merasakan penurunan suhu.
Suhu malam hari di Bulan bisa turun menjadi sekitar 0,37 derajat Kelvin atau sekitar minus 273 derajat Celcius sebagai respons terhadap perubahan TR.
Penemuan ini menunjukkan betapa besarnya dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan, bahkan hingga ke luar angkasa.
Selain itu, penelitian ini juga membuka peluang baru untuk mempelajari perubahan iklim Bumi melalui pengamatan suhu di Bulan. Seperti yang dikatakan para peneliti dalam artikel mereka,
“Studi kami menunjukkan bahwa Bulan mungkin telah mengalami efek dari lockdown Covid-19, yang divisualisasikan sebagai penurunan anomali dalam suhu permukaan malam hari di Bulan selama periode itu.” demikian laporan tersebut.
