7cloud.asia – Sebuah webtoon yang menyorot lookism atau previlese yang diberikan kepada seseorang karena penampilan dia ramai dibicarakan.
Sejumlah pertanyaan pun mengemuka, betulkah penampilan memengaruhi pekerjaan dan kesejahteraan finansial seseorang. Apakah lookism juga berlaku di tempat kerja?
Penelitian yang ada menunjukkan bahwa lookism atau diskriminasi karena penampilan memang ditemukan di dunia kerja.
Sebuah penelitian di Amerika Utara yang menunjukkan bagaimana orang-orang dengan penampilan menarik menghasilkan 12-14% lebih banyak daripada warga lainnya.
Penampilan fisik sering kali menjadi faktor yang sangat dipertimbangkan dalam penilaian kualifikasi seseorang dalam dunia kerja. Ini artinya lookism memang banyak ditemukan di dunia kerja
Dan, mereka yang memenuhi standar kecantikan atau penampilan lebih baik, lebih mungkin untuk mendapatkan peluang kerja yang lebih baik atau promosi.
Baca: Menyoal lookism bagaimana orang diperlakukan berbeda karena penampilan
Misalkan saja, sebuah penelitian mengenai bagaimana bias finansial dan sosial yang telah lama ada menguntungkan individu yang memiliki penampilan yang lebih menarik dari yang lain.
Keuntungan yang diperoleh biasanya mencakup aktivitas transaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Bias finansial dan sosial ini adalah hasil dari preferensi atau prasangka yang mirip dengan yang ditunjukkan terhadap anggota kelompok kelamin, ras, etnis, atau agama tertentu.
Dalam banyak kasus, penampilan fisik dapat menjadi faktor dominan yang menentukan apakah seseorang layak diberikan kesempatan atau tidak dalam sebuah sistem kerja modern.
Lookism atau diskriminasi berdasar penampilan ini terutama ditemukan di industri yang bergerak dalam jasa dan pelayanan publik.
Studi pun menunjukkan bahwa konsumen merasa lebih puas jika berhadapan dengan karyawan yang dengan penampilan menarik.
Baca: Dear perempuan, ini yang harus kamu perhatikan ketika menginjak usia 35 tahun
Memiliki penampilan fisik yang menarik juga dapat membuka pintu ke berbagai sektor dan industri yang mungkin sulit diakses oleh individu yang dianggap kurang menarik.
Ini berarti seseorang dengan penampilan yang baik dapat memiliki lebih banyak pilihan karier, yang dapat meningkatkan potensi pendapatan mereka.
Selain itu, individu yang dianggap menarik secara fisik seringkali memberikan kesan positif kepada perekrut dan atasan.
Kondisi ini dapat mengarah pada peluang pekerjaan yang lebih baik, kenaikan pangkat yang lebih cepat, dan penghasilan yang lebih tinggi.
Hal ini berasal dari efek halo, yakni bias kognitif ketika penampilan menjadi tolak ukur karakter seseorang.
Sudah cukup banyak studi yang menunjukkan bahwa penampilan menarik memberikan kesan bahwa individu tersebut memiliki karakter dan kompetensi yang baik pula.
Baca: Dampak negatif gaya hidup konsumtif pada lingkungan
Adanya gap ini membuat diskriminasi dalam pekerjaan semakin tak terjembatani. Misalkan saja, ketika seorang yang berpenampilan menarik dan yang tidak menarik sama sama membuat kesalahan, orang akan lebih memaklumi orang yang berpenampilan menarik.
Inilah yang dinamakan beauty privilege–ketika mereka yang berpenampilan menarik mendapat berbagai keuntungan dalam interaksi sosialnya.
Tentu saja kita tak bisa serta merta menyimpulkan bahwa mereka yang cantik dan tampan pasti penuh keberuntungan–utamanya bagi perempuan.
Penelitian, misalnya, menunjukkan bagaimana penampilan fisik yang menarik lebih menguntungkan laki-laki dibanding perempuan di tempat kerja.
Ini terutama menyangkut rekrutmen dan promosi untuk posisi manajerial dan pekerjaan yang dianggap lebih cocok untuk laki-laki.
Sebab, masih ada stereotip gender yang menghubungkan feminimitas dan inkompetensi–kerap disebut sebagai efek “beauty is beastly” (kecantikan itu mengerikan).
Baca: Menjalani masa menopause dengan bahagia
Tak hanya itu, sebuah riset menunjukkan 82% perempuan Indonesia pernah mengalami pelecehan seksual di ruang publik.
Namun bagaimanapun juga, diskriminasi berdasarkan penampilan fisik sudah sepatutnya kita atasi.
Sebab, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang dapat memilih untuk dilahirkan di mana–yang membuatnya memiliki gen tertentu dari lingkungan tersebut.
Kualitas diri seseorang tidak dapat dinilai hanya berdasarkan standar subjektif sepeti penampilan fisik semata.
Apalagi, sudah banyak penelitian yang menunjukkan tak ada hubungan antara penampilan fisik dengan kompetensi dan kinerja seseorang.
Tak gampang untuk mengatasi bias yang telah lama mengakar, tetapi perlu perubahan pola pikir masing-masing individu untuk bisa mengatasi ini.
Penting untuk lebih menghargai dan menilai seseorang berdasarkan kompetensi, pengetahuan, dan keterampilan yang mereka bawa ke meja kerja.
Baca: Di tengah hedonisme, gaya hidup minimalis makin dilirik
Ini memerlukan perubahan budaya dalam dunia kerja dengan membuat sistem penilaian berdasarkan merit dan pada apa yang dapat seseorang berikan serta membatasi kemungkinan penampilan fisik memengaruhi penilaian.
Selain itu, perusahaan dan organisasi perlu menerapkan kebijakan yang mencegah diskriminasi berdasarkan penampilan fisik.
Dalam hal ini, termasuk dalam membuat iklan lowongan kerja yang mensyaratkan penampilan menarik–dan mengedukasi personel mereka tentang pentingnya keragaman dan inklusi dalam tempat kerja.
Oleh karena itu, perlu kewaspadaan penuh bagi kita semua untuk tetap sadar dan menjunjung tinggi rasionalitas.
Jangan sampai terjerumus pada pemahaman sempit atas hidup yang lebih mementingkan penampilan semata ketimbang kualitas hidup secara mendalam.
Artikel ini telah terbit di The Conversation. Penulis: Novia Utami, Lecturer in Finance, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

