Tag: macan tutul

  • Terjebak di Jebakan Babi Hutan, Bukti Macan Tutul Jawa Masih Ada

    Terjebak di Jebakan Babi Hutan, Bukti Macan Tutul Jawa Masih Ada

    7cloud.asia – Seekor macan tutul (Panthera Pardus melas), Rabu (26/12/2023) ditemukan masuk jebakan babi yang dipasang oleh petani Kampung Cikalaces, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Jabar).

    “Diduga macan tutul itu tidak sengaja masuk jebakan babi yang dipasang petani di Desa Sekarsari, Kecamatan Kalibunder, saat hendak mencari makan,” kata Kapolsek Kalibunder Iptu Taufik Hadian di Sukabumi.

    Pihaknya mendapatkan laporan dari warga adanya seekor macan tutul yang masuk jebakan babi dan langsung berkoordinasi dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jabar.

    Tim BKSDA pun tiba di lokasi untuk menyelamatkan macan tutul yang masuk hewan langka dan dilindungi tersebut.

    Macan tutul itu kemudian dievakuasi ke Pusat Perlindungan Satwa (PPS) Cikananga, Kabupaten Sukabumi, untuk menjalani pemulihan dan rehabilitasi, serta akan dilepasliarkan kembali setelah kondisinya benar-benar pulih.

    “Alhamdulillah dari hasil pemeriksaan dokter hewan, macan tutul ini dalam kondisi sehat dan sudah mendapatkan penanganan dari petugas BKSDA dan PPS Cikanga,” tambahnya.

    Baca: Lestarikan binatang langka nggak harus memiliki

    Taufik mengatakan macan tutul itu masuk ke jebakan babi saat sedang berburu babi hutan yang banyak berkeliaran di areal pertanian.

    Petani di Kampung Cikalaces ini sengaja memasang jebakan babi itu karena banyaknya babi hutan yang masuk ke lahan pertanian dan merusak tanaman.

    Babi Hutan di kampung itu sudah banyak merugikan petani. Tidak sedikit tanaman yang siap panen dirusak oleh kawanan babi hutan.

    Meski tergolong langka, keberadaan macan tutul jawa hingga ini masih sering ditemukan.

    Pada Juni lalu, macan tutul jawa terekam kamera jebak yang dipasang oleh Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) di hutan Gunung Sanggabuana di wilayah Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat.

    Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) muda dengan tinggi sekitar 40 cm terekam kamera jebak SCF di hutan Sanggabuana pada 11Juni 2023 pukul 12.53 WIB.

    Direktur Eksekutif SCF Solihin Fu’adi di Karawang, menyampaikan bahwa macan tutul jawa itu terekam kamera berada tidak jauh dari air terjun, yang jaraknya sekira 1,1 kilometer dari perkampungan penduduk.

    Baca: Hari Spesies Terancam Punah Internasional

    Menurut dia, SCF memasang kamera jebak di area hutan Gunung Sanggabuana sejak Maret 2023 dan mengambilnya pada 13 Juni 2023.

    “Lokasi pemasangan camera trap (kamera jebak) berada di kawasan hutan Gunung Sanggabuana yang dikelola oleh Perum Perhutani KPH Purwakarta. Pada periode kali ini, kami hanya memasang empat camera trap di lapangan, tepat berada di atas sebuah air terjun,” katanya.

    Menurut Bernard T Wahyu Wiryanta, fotografer dan peneliti satwa liar yang juga anggota Dewan Pembina SCF, macan tutul jawa yang terekam kamera di hutan Sanggabuana berbeda dengan macan tutul jawa yang sebelumnya terekam kamera di wilayah Karawang.

    Setelah dianalisa, dari pola totol, jenis kelamin, ciri-ciri morfologi, dan dimensi dasar tubuhnya, ternyata ada perbedaan dengan beberapa macan tutul jawa lain yang terekam camera trap sebelumnya.

    Macan tutul yang terekam ini kemungkinan besar berjenis kelamin betina, berusia muda,” kata dia dilansir Antaranews.com.

    “Dari beberapa rekaman video dan foto yang kami analisa, juga mulai terpetakan sebaran masing-masing daerah teritorial tiap individu,” ia menambahkan.

    Baca: Prokontra konservasi Ex Situ untuk pelestarian satwa liar

    Bernard belum tahu pasti banyaknya anggota populasi macan tutul jawa di hutan Sanggabuana, baik macan tutul dengan pola totol maupun macan dengan warna melanistik atau macan kumbang.

    “Kami perkiraan populasi di kawasan Sanggabuana ada di kisaran 10 sampai 15 ekor. Ini termasuk dua ekorbaru yang belajar berburu dengan memangsa domba warga pada tahun 2022,” katanya.

    Selain merekam macan tutul jawa, kamera jebak yang dipasang di Gunung Sanggabuana juga merekam spesies satwa lain seperti kancil, trenggiling, ayam hutan, musang, dan burung paok pancawarna.

    Bernard mengatakan, hampir semua satwa yang terekam kamera jebak merupakan jenis satwa yang dilindungi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 106 tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

    Kamera jebak yang dipasang SCF juga merekam dua pemburu yang menenteng senapan di kawasan hutan Sanggabuana.

    Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indra Exploitasia Semiawan menyampaikan bahwa populasi macan tutul jawa diperkirakan mencapai 200 sampai 400 ekor.

    “Kita sedang memperbaharui data dari populasi macan jawa yang sekarang ini. Jadi, kita menghitungnya bukan dari sisi sensusnya, bukan satu per satu macan jawa dihitung, tapi dilihat dari kerapatan populasi,” kata Indra.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Survei Temukan Keberadaan Macan Tutul Jawa di Enam Bentang Alam yang Diteliti

    Survei Temukan Keberadaan Macan Tutul Jawa di Enam Bentang Alam yang Diteliti

    7cloud.asia – Keberadaan macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) ditemukan di enam dari total tujuh bentang alam yang sudah dianalisis tim survei dari Kementerian Kehutanan.

    Survei populasi macan tutul Jawa ini dilakukan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berkolaborasi dengan Yayasan SINTAS Indonesia.

    Dalam acara “Catatan Separuh Langkah Java-wide Leopard Survey” di Jakarta, Selasa (18/2/2025) Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut Satyawan Pudyatmoko menyampaikan pihaknya menargetkan melakukan survei di 21 bentang alam di seluruh Pulau Jawa.

    Namun, baru tujuh di antaranya telah selesai disurvei untuk memantau keberadaan macan tutul Jawa yang tergolong satwa dilindungi ini.

    Baca: Konservasi macan tutul Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon

    Dilansir Antaranews.com, survei telah dimulai sejak Februari tahun lalu demi mengetahui jumlah pasti satwa terancam punah tersebut yang tersisa di Pulau Jawa untuk menyusun strategi konservasi.

    Penyusunan strategi konservasi, ujarnya, dapat dilakukan dasarnya kalau ada data populasi, data kondisi habitat, serta data potensi ancaman yang dihadapi.

    “Lalu kita bisa memproyeksikan kira-kira ke depan kalau business as usual seperti apa, kalau diintervensi dengan strategi seperti apa, dan strategi yang tepat itu strategi apa,” kata Satyawan dikutip Antaranews.com.

    Sejauh ini pemasangan kamera jebak (camera trap) sudah dilakukan di 10 bentang alam, dengan tujuh di antaranya sudah dianalisis.

    Baca: Macan tutul Jawa masuk jebakan yang dipasang warga di Sukabumi

    Dari hasil analisa tersebut berhasil dideteksi populasi macan tutul Jawa sejauh ini di enam bentang alam yaitu Rawa Danau, Gunung Burangrang, Gunung Ciremai, Sindoro-Dieng, Panusupan dan Bromo Tengger-Semeru bagian selatan.

    Sementara itu, kamera jebak di bentang alam Merapi-Merbabu tidak mendeteksi keberadaan macan tutul Jawa dari keseluruhan petak survei di masing-masing bentang alam.

    Direktur Yayasan SINTAS Indonesia sekaligus ahli biologi Hariyo Wibisono dalam kesempatan yang sama mengatakan, dari survei yang dilakukan sejauh ini belum dapat memberikan gambaran populasi yang utuh dari macan tutul jawa.

    “Jadi sekarang ini baru sampai pada di mana ada, di mana tidak. Karena nanti kita mesti identifikasi dari setiap individu, dari totolnya. Ini banyak yang hitam juga ya, yang quite challenging karena hitam itu totolnya tidak terlihat,” kata Hariyo.

    Baca: Macan tutul Jawa terekam CCTV Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

    Dalam tulisannya yang pernah diterbitkan di 7cloud.asia, Dr. Dolly Priatna, Pengajar, Program Studi Manajemen Lingkungan, Sekolah Pascasarjana, Universitas Pakuan mengatakan, macan tutul Jawa merupakan satwa karnivora terbesar yang hidup di belantara Pulau Jawa, yang terancam akan kepunahan.

    Macan Tutul Jawa, atau dikenal dengan nama ilmiah Panthera pardus melas, adalah subspesies macan tutul yang secara khusus dapat ditemukan di Pulau Jawa. Memiliki ciri-ciri fisik khas, termasuk bulu dengan pola tutul yang berbeda-beda.

    Pola ini dapat bervariasi dari tutul besar hingga kecil dan kadang-kadang membentuk garis-garis. Selain dengan ciri tersebut, terkadang ada macan tutul Jawa yang melanistik, yaitu individu macan tutul dengan ciri warna gelap atau hitam yang dominan pada bulu-bulunya.

    Warna bulu ini disebabkan oleh kondisi genetik yang menghasilkan melanin lebih banyak dari biasanya. Individu macan tutul seperti inilah yang kita kenal dengan julukan “macan kumbang”.

  • JWLS Berhasil Mengidentifikasi 8 Individu Macan Tutul Jawa

    JWLS Berhasil Mengidentifikasi 8 Individu Macan Tutul Jawa

    7cloud.asia – Java Wide Leopard Survey (JWLS) berhasil mengidentifikasi delapan individu macan tutul Jawa di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

    Java Wide Leopard Survey dilakukan karena keberadaan macan tutul Jawa sebagai spesies endemik Pulau Jawa dinilai semakin berkurang dan berpotensi mempengaruhi stabilitas rantai kehidupan di ekosistem hutan.

    Program survei tersebut dilaksanakan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebagai bentuk dukungan terhadap penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) macan tutul Jawa (Panthera pardus melas).

    Survei konservasi Java Wide Leopard Survey ini dilakukan BCA dan Kemenhut, berkolaborasi dengan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), dan Yayasan SINTAS Indonesia.

    Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono mengungkapkan habitat macan tutul Jawa telah mengalami perubahan bentang alam akibat ekspansi aktivitas manusia dalam beberapa dekade terakhir.

    Dalam keterangan di Jakarta, Selasa (5/5/2026) Hariyo menjelaskan, dalam kondisi itu, macan tutul Jawa kerap terdorong keluar dari habitat alaminya, bahkan mendekati pemukiman warga.

     

    Baca: Survei Temukan Keberadaan Macan Tutul Jawa di Enam Bentang Alam yang Diteliti

    Menurut Hariyo, kebutuhan dasar macan tutul Jawa sesungguhnya sederhana, antara lain habitat yang aman, cukup luas untuk wilayah jelajahnya, serta tetap terhubung antar kawasan.

    “Hutan adalah rumah mereka, dan kehadiran manusia di sekitarnya pasti membawa dampak. Selama kita tidak mengganggu atau memprovokasi, satwa seperti macan tutul Jawa juga tidak akan menyerang,” kata Hariyo.

    Ia menambahkan keterbatasan data menjadi tantangan lain yang tak kalah penting. Tanpa informasi yang akurat mengenai jumlah individu, struktur populasi, dan konektivitas habitat, upaya konservasi berisiko tidak tepat sasaran.

    Petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Tuangkat, mengatakan dalam kearifan lokal, macan tutul bukanlah ancaman semata, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang harus dihormati.

    “Macan tutul itu bukan untuk dilawan, tapi dijaga keberadaannya. Kami percaya, kalau hutan tetap lestari, mereka tidak akan turun ke pemukiman,” kata Tuangkat.

    “Kuncinya sederhana jaga hutannya, hormati alamnya. Dengan begitu, manusia dan macan tutul bisa hidup berdampingan, seperti yang sudah diajarkan oleh leluhur kami sejak dulu,” tambah Tuangkat.

    Baca: Upaya Pelestarian Macan Tutul Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon

    Sementara EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, sejak 2024, kontribusi ini memperkuat upaya pengelolaan konservasi berbasis data.

    Pihaknya terus mendukung pemerintah dalam usaha pelestarian macan tutul Jawa di Indonesia.

    Hera merinci, hingga pertengahan 2025, survei tahap pertama di TNBTS berhasil mengidentifikasi sedikitnya delapan individu macan tutul Jawa yang terdiri dari satu jantan, enam betina, dan satu anakan.

    Sedangkan, survei tahap kedua masih berlangsung pada 2026 untuk melengkapi gambaran populasi secara menyeluruh.

    Program tersebut juga telah melatih 84 peserta dalam teknik survei menggunakan kamera pengintai guna memperkuat kapasitas pemantauan populasi macan tutul Jawa di habitat alaminya.

    Selain itu, sebanyak 16 peserta dilatih dalam teknik manajemen dan analisis data kamera pengintai yang melibatkan berbagai lembaga.

    Lembaga itu termasuk Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) Kementerian Kehutanan dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur.