7cloud.asia – Pemerintah getol mendorong industri pengolahan limbah makanan dengan menggunakan lalat hitam (BSF) sebagai bagian solusi pengurangan emisi karbon dari sampah.
Salah satu industri pengolahan limbah makanan dan sampah organik dengan menggunakan lalat hitam itu adalah Magalarva yang berdiri pada 2017.
Magalarva adalah satu dari banyak perusahaan bioteknologi di Indonesia yang menggeluti bisnis pengolahan limbah makanan dan sampah organik menjadi makanan ternak dan pupuk organik dengan teknologi BSF.
Founder dan CEO Magalarva, Rendria Labde (31 tahun), dalam perbincangan dengan VOA baru-baru ini di kantornya, mengatakan jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik dan limbah makanan menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca.
Baca: Aplikasi ini ubah sampah makanan jadi produk bernilai tinggi
Padahal, 40 persen dari timbulan sampah di Indonesia adalah sampah organik dan limbah makanan.
“BSF ini yang sangat ganas makan limbah makanan atau sampah organik, sampai habis dan cepat banget,” ujar founder dan CEO Magalarva, Rendria Labde (31 tahun), dalam perbincangan dengan VOA baru-baru ini di kantornya.
Bau busuk menyengat dari gunungan-gunungan sampah makanan di lokasi pabrik masih menyelinap ke ruang kantor Magalarva dan tak mampu diredam dengan masker.
Di sudut lain pabrik Magalarva, tampak mesin-mesin pengering larva bersuara menderu-deru. Begitu lah sekelumit hiruk pikuk kegiatan keseharian Magalarva.
“This is A Real Problem”
Baca: Dampak sampah makanan pada lingkungan
Rendria dan rekan-rekannya mendirikan Magalarva karena prihatin dengan masalah penanganan sampah organik, terutama sampah makanan, di Indonesia.
Selama ini, katanya, gerakan kesadaran sampah hanya berkutat pada pengelolaan sampah non-organik, seperti plastik.
Ia pernah melihat tumpukan sampah yang menggunung hingga bisa mencapai belasan lantai bangunan di sebuah tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa ada solusi.
Kalau TPA udah jenuh, ujarnya, maka pindah, jenuh (lagi), pindah (lagi). Nah, dari situ lah kita lihat…. wah, this is a real problem.
“Yang organik malah nggak ada [solusi] sama sekali. Di situ lah kita mengambil keputusan, oke, let’s find a solution untuk ini,” tukas Rendria, lulusan Teknik Mesin Universitas Indonesia
Baca: Yuk kenali jenis sampah dan manfaat ekonominya
Menurut data KLHK, pada 2022, sebanyak 65,83 persen sampah di Indonesia masih diangkut dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.
Selain Magalarva, juga ada FoodCycle yang mengolah limbah makanan dengan teknologi BSF sejalan dengan komitmen pengurangan emisi karbon pemerintah.
Herman mengatakan FoodCycle sedang mengembangkan teknologi BSF menjadi bagian dari program integrated urban farming atau konsep pertanian perkotaan terintegrasi bersama salah satu mitranya yang mengelola panti asuhan di Jati Asih, Bekasi.
Idenya, teknologi BSF digunakan untuk mengolah limbah organik di panti asuhan itu.
Kita belajar bareng sih sebenarnya ya. Selama ini dari awal tahun untuk mengolah limbah organik di lokasi yang hasilnya nanti langsung diberikan ke lele dan pupuknya langsung ke tanaman ubi.
“Itu integrated urban farm,” papar Herman, jebolan teknik komputer di RMIT University di Australia.
Baca: Teknologi pengolahan sampah Masaro
Dia menambahkan FoodCycle berencana menduplikasi konsep pertanian perkotaan dengan teknologi BSF ini ke beberapa lokasi.
Harapannya, kata Herman, konsep itu akan menghasilkan gaya hidup nir-sampah, sebagaimana slogan FoodCycle: Zero Hunger & Zero Waste for A Better Indonesia.
Sementara itu, Magalarva memiliki obsesi untuk meningkatkan kapasitas pengolahannya yang artinya akan lebih banyak lagi volume sisa makanan yang diharapkan dapat diolah.
Namun, Rendria menekankan perlunya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah organik dan non-organik.
“Karena buat saya juga, sebenarnya kalau memang kita melihat suatu solusi yang masif untuk kita berangkat dari kesadaran individu, secara realistis itu rada-rada sulit memang sebenarnya,” tukas Rendria.
Sumber: VOA Indonesia
