Tag: manusia silver

  • Kisah Para Manusia Silver, Antara Kreativitas dan Risiko Kesehatan

    Kisah Para Manusia Silver, Antara Kreativitas dan Risiko Kesehatan

    7cloud.asia – Manusia silver, demikian sebutan untuk orang-orang yang mengecat tubuhnya dengan warna silver. 

    Sosok manusia silver ini sering ditemukan di berbagai sudut di banyak kota di Indonesia, seperti di Jakarta maupun Yogyakarta. 

    Awalnya manusia silver hadir sebagai bagian dari sebuah happening art atau seni pertunjukan. 

    Penampilan manusia silver yang mencolok menarik perhatian orang dijadikan cara untuk menyuarakan atau mempromosikan isu tertentu

    Manusia silver kemudian juga dijadikan cara untuk menggalang dana bagi korban bencana. 

    Baca: Mengenal pramusapa di TransJakarta

    Seiring perkembangan zaman, manusia silver keluar jalur dari tujuan. Banyak orang menjadikan manusia silver sebagai cara untuk mengais rejeki. Meanusia silver kini tak ubahnya para pengamen jalanan.

    Pertanyaannya, berbahayakah manusia silver ini? Dilansir ugm.ac.id,Jajaran Fakultas MIPA UGM melakukan sosialisasi bahaya cairan yang digunakan oleh manusia silver.

    Kegiatan tersebut dilakukan mengingat semakin meningkatnya jumlah manusia silver yang berada di persimpangan-persimpangan jalan di Yogyakarta.

    Sementara bahan silver yang digunakan untuk melumuri secara langsung bagian tubuh mengandung beberapa bahan kimia yang berbahaya.

    ”Dari data analisis menggunakan instrumentasi XRF (X-Ray Fluorescence), ditemukan bahwa penyusun utama bahan kimia dari cairan silver tersebut adalah unsur Al, Cl dan K,” ungkap Ketua pelaksana program pengabdian FMIPA UGM, Prof. Endang Tri Wahyuni.

    Baca: Cerita tuli, mengenal keseharian disabilitas tuli di Solo

    Endang menyebutkan dalam skala ppm (part per million) juga ditemukan unsur logam berat berbahaya yaitu Hg (merkuri) dan Cr (kromium).

    Sementara kandungan unsur perak (Ag) sendiri dalam cairan silver tidak terlalu besar.

    ”Justru kandungan perak di cairan silver hanya di kisaran 0,18%,” tuturnya.

    Endang menyebutkan dalam skala ppm (part per million) juga ditemukan unsur logam berat berbahaya yaitu Hg (merkuri) dan Cr (kromium).

    Sementara kandungan unsur perak (Ag) sendiri dalam cairan silver tidak terlalu besar.

    ”Justru kandungan perak di cairan silver hanya di kisaran 0,18%,” tuturnya.

    Baca: Perempuan downsyndrome rentan alami kekerasan

    Anggota pelaksana program pengabdian, Dr. Suherman menyampaikan bahwa bahan kimia penyusun warna silver tersebut tidak hanya berbahaya bagi pemakainya.

    Namun, bahaya juga terjadi saat pembilasan karena bahan kimia cairan silver berpotensi masuk ke badan air dan sumber air konsumsi masyarakat.

    Karenanya tim pengabdian FMIPA UGM yang juga melibatkan mahasiswa yaitu Arif Arkan dan Ayuning Dewi mencoba melakukan sosialisasi dan pendekatan ke pelaku manusia silver di beberapa perempatan di Yogyakarta.

    Upaya tersebut dilakukan agar ada perhatian dan kewaspadaan sehingga mengurangi risiko pemakaian larutan silver ke manusia dan lingkungan sekitar.