Tag: masjid

  • Menag: Jangan Gunakan Masjid untuk Kepentingan Elektoral Pemilu 2024

    Menag: Jangan Gunakan Masjid untuk Kepentingan Elektoral Pemilu 2024

    7cloud.asia – Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengingatkan agar para takmir memastikan tidak ada masjid yang digunakan untuk kepentingan politik elektoral menjelang Pemilu 2024.

    “Jangan sampai masjid digunakan untuk kepentingan politik elektoral di Pemilu 2024. Jangan digunakan untuk kepentingan memecah belah bangsa,” kata Menag usai Pembukaan Rakernas Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Tahun 2023 di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/11/2023).

    Menag menambahkan, tidak tepat jika masjid digunakan untuk kontestasi politik menjelang Pemilu 2024.

    Masjid, ujarnya lebih baik dimanfaatkan sebagai tempat untuk mempersatukan bangsa, bukan kegiatan yang berisiko mencerai-beraikan.

    “Ini yang mau kita jaga, jadi masjid itu, fungsi politik itu tidak di masjid kecuali politik kebangsaan, politik kekuatan, politik elektoral silakan tapi di luar masjid,” ujar Menag.

    Baca: DPR Ingatkan jangan ada penggunaan aparat negara untuk memenangkan calon tertentu

    Tujuan menjaga peran penting masjid itu, kata Menag, menjadi salah satu alasan BKM menggelar rakernas pada Rabu ini.

    Masjid, ujarnya, bukan hanya dijadikan sebagai tempat ibadah, tapi juga kegiatan yang berkaitan dengan kesejahteraan umat, seperti aktivitas ekonomi dan sosial.

    Yaqut menambahkan, sebenarnya BKM bergerak secara aktif memfasilitasi masjid-masjid yang ada di Indonesia, supaya diketahui BKM ini sudah berdiri sejak 1964, tapi kemudian vakum sekian lama.

    “Baru 2022 kemarin kami hidupkan kembali supaya pemerintah bisa ikut membantu membuat masjid ini benar benar berfungsi sebagai masjid yang sesungguhnya yang diinginkan oleh kita semua,” kata Menag Yaqut.

    Baca: Mulai muncul intimidasi aparat negara kepada kelompok oposisi

    Rakernas BKM resmi dibuka oleh Presiden Jokowi pada Rabu ini. Presiden Jokowi mengapresiasi Kementerian Agama (Kemenag) yang mengaktifkan kembali BKM yang sudah didirikan sejak tahun 1964.

    Baca juga: BKM pusat siapkan program pemberdayaan masjid di Indonesia

    Dengan jumlah keanggotaan yang besar di seluruh Tanah Air, Presiden Jokowi meyakini manfaat BKM sangat besar bagi umat dan masyarakat.

    “Dengan jumlah anggota yang sangat besar lebih dari 17.600 masjid, di catatan saya, yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air dan potensi manfaat BKM ini sangat besar bagi umat, bagi bangsa,” ujar Presiden Jokowi.

    Baca: Cara membatasi dan mengakhiri dinasti politik

    Melalui peran BKM, Presiden Jokowi berharap rumah ibadah dapat dikelola secara profesional, moderat, dan berdaya maslahat bagi umat.

    Hal tersebut juga diharapkan dapat menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat dan kemajuan bangsa, serta tempat ibadah yang ramah bagi semua.

     

  • Gempa 7,4 M Guncang Jepang, WNI Mengungsi ke Masjid

    Gempa 7,4 M Guncang Jepang, WNI Mengungsi ke Masjid

    7cloud.asia – Seorang WNI di Jepang, Dian Novitasari, melalui pesan singkat kepada Antara di Tokyo pada Senin mengatakan bahwa dia dan keluarganya memutuskan untuk mengungsi karena alarm peringatan terus menyala.

    “(Peralatan) dapur tumpah semua, kaca rias pecah,” katanya.

    Dian mengatakan dia dan keluarganya tidak berada di rumah saat gempa yang berpotensi tsunami itu melanda. Ketika tiba di tempat tinggal mereka di lantai 3, dia melihat barang-barang sudah berjatuhan ke lantai.

    “Tadi saya pulang, mixer menyala berputar-putar, kaca-kaca terbuka sebagian, televisi semua jatuh ke lantai,” tambah dia.

    Saat ini, dia bersama keluarga dan 12 orang lainnya mengungsi ke masjid tersebut yang lokasinya lebih tinggi daripada kawasan lainnya.

    Baca: Lebih dari 1000 orang tewas akibat gempa di Afganistan

    Ada juga WNI yang mengungsi di aula-aula publik milik pemerintah setempat, katanya.

    Menurut Dian, karena tidak banyak barang di masjid tersebut, hanya buku-buku dan Al Quran yang jatuh ke lantai.

    Guncangan dahsyat juga sempat dirasakan WNI di prefektur lain seperti Tottori. Sejumlah WNI di Prefektur Toyama juga tengah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

    Pemerintah setempat mengimbau agar pengungsi tetap di area pengungsian dan tidak boleh pergi ke tempat yang lebih rendah. Kapal-kapal terpantau sudah meninggalkan pelabuhan.

    Saat ini masih terjadi gempa susulan dan berpotensi tsunami. Badan Meteorologi Jepang memperingatkan bahwa tinggi tsunami bisa mencapai lima meter.

    Baca: Gempa 7,2 SR guncang Maroko

    Gelombang tsunami akibat gempa tersebut kemungkinan bisa menjangkau 300 kilometer dari pusat gempa.

    Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui KBRI Tokyo dan KJRI Osaka telah mengeluarkan imbauan agar WNI di Jepang tetap waspada atas gempa susulan dan tsunami.

    “Kami mengimbau WNI agar selalu memantau informasi dan arahan otoritas setempat,” kata Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri RI Judha Nugraha melalui pesan singkat, Senin.

    “Peringatan tsunami di sepanjang pesisir barat Jepang masih belum dicabut hingga malam hari ini waktu Jepang,” katanya, menekankan.

    Kemlu, ujarnya, saat ini sedang berkoordinasi dengan KBRI Tokyo dan KJRI Osaka untuk mengetahui dampak gempa dan tsunami.

    Baca: Gempa guncang Sumedang

    KBRI dan KJRI juga tengah berkoordinasi dengan otoritas setempat dan simpul masyarakat Indonesia.

    “Sistem lapor diri KBRI Tokyo mencatat terdapat 1.315 WNI yang menetap di Prefektur Ishikawa,” kata Judha.

    Bagi WNI yang menghadapi situasi darurat, KBRI Tokyo dan KJRI Osaka telah mengaktifkan nomor hotline yaitu KBRI Tokyo +818035068612 dan KJRI Osaka +818031131003.

    Gempa bumi yang terjadi pada pukul 16.10 waktu Jepang atau 14.10 WIB itu juga dirasakan di wilayah Prefektur Niigata, Toyama, dan Fukui, Nagano, Gifu, Tokyo, Yamagata, Fukushima.

    Selain itu, gempa juga dirasakan di wilayah Ibaraki, Tochigi, Gunma, Saitama, Shizuoka, Aichi, Mie, Shiga, Kyoto, Osaka, Hyogo, Nara, Tottori, Iwate, Miyagi, dan Akita.

    Gempa tersebut telah menyebabkan gelombang tsunami di beberapa wilayah.

    Sumber: Antaranews

  • Serangan Israel di Jalur Gaza Hancurkan 1000 Masjid

    Serangan Israel di Jalur Gaza Hancurkan 1000 Masjid

    7cloud.asia – Serangan membabi buta yang dilancarkan oleh Israel di Jalur Gaza telah mengakibatkan kehancuran sekitar 1.000 masjid sejak 7 Oktober lalu, demikian menurut keterangan otoritas setempat.

    “Rekonstruksi masjid tersebut akan menghabiskan biaya sekitar 500 juta dolar AS (sekitar Rp7,8, triliun)” kata Kementerian Wakaf dan Agama Gaza, melalui sebuah pernyataan.resmi.

    Terdapat sekitar 1.200 masjid di seluruh Jalur Gaza.

    Selain menghancurkan sebagian besar masjid, lebih dari 100 orang imam masjid juga terbunuh akibat serangan mematikan di kawasan kantong tersebut.

    “Pendudukan Israel terus menghancurkan lusinan pemakaman dan menggali kuburan, melanggar kesuciannya dan mencuri mayat di dalamnya, yang jelas merupakan pelanggaran terhadap piagam internasional dan hak asasi manusia,” kata pernyataan itu.

    Namun, tidak ada komentar dari otoritas Israel atas tuduhan tersebut.

    Menurut pernyataan tersebut, gereja, gedung perkantoran, sekolah mengaji dan sebuah bank juga hancur akibat serangan Israel tersebut.

    Baca: Pemukim Israel paksa masuk ke Masjid Al Aqsa

    “Kami mengimbau warga dan negara-negara Arab serta masyarakat yang memiliki hati nurani untuk ikut memenuhi tanggung jawab atas nasib warga Palestina di Jalur Gaza,” tambah pernyataan itu.

    Israel terus menggempur Jalur Gaza sejak serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober, yang menurut Tel Aviv menewaskan hampir 1.200 orang warga mereka.

    Sementara 25.105 warga Palestina telah terbunuh, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan 62.681 orang terluka, menurut otoritas kesehatan Palestina.

    Serangan Israel menyebabkan sekitar 85 persen penduduk Gaza menjadi pengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih dan obat-obatan, sementara 60 persen infrastruktur di wilayah kantong itu rusak atau hancur, menurut data dari PBB.

    Sumber: Anadolu

  • 6 Masjid Agung di Indonesia yang Kerap Jadi Tujuan Wisata Religi Saat Bulan Ramadhan

    6 Masjid Agung di Indonesia yang Kerap Jadi Tujuan Wisata Religi Saat Bulan Ramadhan

    7cloud.asia – Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi tujuan baru bagi wisatawan Muslim untuk melakukan wisata religi.

    Hal ini karena Indonesia memiliki banyak masjid yang tersebar di seluruh nusantara. Tak ketinggalan ritual uniknya di masing-masing daerah selama bulan Ramadhan ini.

    Masjid-masjid tersebut sangat menarik baik karena sejarah maupun arsitekturnya. Berikut 8 masjid di Indonesia yang layak masuk dalam daftar wisata reliji Anda di bulan Ramadhan ini: 

    1 | Masjid Raya Baiturrahman, Aceh

    Jika Anda mencari tempat untuk dikunjungi di Banda Aceh, maka Masjid Raya Baiturrahman adalah tempat yang harus dikunjungi. Situs bersejarah ini dibangun pada masa Kesultanan Aceh.

    Masjid ini telah melalui berbagai hal – mulai dari pembakaran oleh penjajah Belanda sekitar tahun 1873 hingga bencana tsunami. pada akhir tahun 2004.

    Selain berdoa, mereka kebanyakan ingin melihat jejak tsunami.Saat gelombang tsunami setinggi 21 meter menghantam pantai Banda Aceh pada 26 Desember 2004, masjid termasuk bangunan yang tetap berdiri tegak meski ada kerusakan di beberapa bagian. dari masjid.

    Baca:  Mengenal uniknya Masjid Tjia Kang Ho di Pasar Rebo

    2|Masjid Agung Palembang

    Masjid Agung Palembang memiliki keunikan perpaduan tiga budaya yaitu budaya Indonesia, Eropa, dan Tiongkok pada setiap lekukan bangunannya.

    Pintu utamanya misalnya menunjukkan pengaruh budaya Eropa, sedangkan atapnya mencerminkan pengaruh Tiongkok dengan candinya. -seperti atasan.

    Kebudayaan Indonesia tergambar pada menara-menaranya yang berbentuk kerucut dan tampak seperti nasi tumpeng atau nasi tumpeng (makanan khas Indonesia yang biasa dihidangkan sebagai wujud rasa syukur dalam suatu perayaan).

    Masjid Agung Palembang mempunyai berbagai macam kegiatan yang dilakukan secara harian, bulanan, maupun tahunan. 

    Misalnya rutinitas sehari-hari yang meliputi shalat rawatib lima hari dan dakwah yang sejalan dengan tujuan utama dibangunnya masjid. : mengingat Allah dan mengenalkan Islam.

    Ironisnya, setiap bulan suci Ramadhan, pihak masjid kerap mengadakan pengajian Al-Qur’an yang dilaksanakan setelah salat tarawih selama sebulan penuh.

    Baca: Masjid Al Azhar salah satu masjid tertua di Jakarta

    3. Masjid Agung Sumatera Barat, Padang Utara

    Liburan ke Padang Sumatera Barat Mampirlah ke Masjid Raya Sumatera Barat yang memiliki arsitektur unik, rumah ibadah ini didesain tahan gempa namun tetap megah.

    Uniknya masjid ini tidak dibangun dengan kubah di atasnya melainkan atap rumah khas Minangkabau.Minangkabau merupakan penduduk asli Sumatera Barat.

    Orang-orang ini akrab dengan ungkapan lokal basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang artinya adat istiadat harus berdasarkan agama, agama harus berdasarkan Kitabullah (Al-Quran).

    Hal ini tercermin pada Masjid Agung Sumatera Barat yang dirancang tidak hanya dengan pengaruh budaya tetapi juga Islam itu sendiri.

    4. Masjid Agung An-Nur, Pekanbaru

    Masjid Agung An-Nur merupakan masjid terbesar di Pekanbaru, Provinsi Riau, dibangun pada tahun 1963 dan selesai dibangun pada tahun 1968.

    Bangunan masjid ini dipengaruhi oleh gaya arsitektur campuran Melayu, Turki, Arab, dan India. Taj Mahal di Riau karena beberapa kemiripan.

    Memiliki tulisan kaligrafi indah yang dibuat oleh kaligrafer terkenal Indonesia Azhari Nur pada tahun 1970.

    Selain musala, Masjid Raya An-Nur juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti taman bermain anak, perpustakaan, dan aula.Menarik perhatian, pemandangan yang jarang ditemui masyarakat Pekanbaru.

    Baca: Warga Palestina dihalangi beribadah di masjid Al Aqsa

    5. Masjid Agung Istiqlal, Jakarta

     

    Terletak di jantung kota Jakarta, Masjid Istiqlal sangat mudah ditemukan. Masjid yang memiliki arti ‘kemenangan’ ini dibangun pada masa pemerintahan mantan presiden Sukarno pada tahun 1955.

    Kini menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara karena mampu menampung banyak orang. kepada 200.000 jamaah.

    Masjid Istiqlal beserta Katedral Katolik di depannya merupakan simbol kerukunan di Indonesia.

    Hal ini terlihat pada hari raya keagamaan masing-masing, pada saat Idul Fitri, Gereja Katedral akan menampung mobil umat Islam di halamannya, sedangkan menjelang Natal tiba, Masjid Istiqlal siap menampung mobil jemaah gereja.

    6. Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang

    Berbeda dengan kebanyakan Masjid Agung di Indonesia, Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang dibangun dengan desain futuristik.

    Gaya arsitektur masjid ini diyakini merupakan perpaduan gaya Jawa dan Yunani. Selain itu, masjid ini juga memiliki payung hidrolik raksasa unik yang dapat dibuka dan dibuka. tutup secara otomatis.

    Bagi mereka yang menyukai bangunan unik, mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah adalah hal yang menyenangkan

  • Mengenal Konsep Masjid Ramah Lingkungan yang Dikembangkan PP Muhammadiyah

    7cloud.asia – Konsep ramah lingkungan yang diterapkan di Masjid At Tanwir yang berada di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta mampu menghemat 30 persen pengeluaran air melalui.

    “Ada penghematan dalam hal penggunaan air. Besarannya berkisar 20-30 persen dari total,” kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, dikutip Antaranews.com, Senin (29/4/2024).

    Abdul Mu’ti menjelaskan penghematan air pada konsep masjid ramah lingkungan dilakukan dengan cara menampung air bekas wudu jamaah ke dalam bak penampungan.

    Air ini kemudian dipompa ke dalam sistem water recycle, untuk kemudian dipompa ke dalam tangki khusus air daur ulang.

    Baca Juga: Green Building atau Bangunan Ramah Lingkungan, Langkah Strategis untuk Antisipasi Pemanasan Global

    Kemudian, sambungnya, air tersebut didistribusikan untuk mengisi kolam ikan, menyiram tanaman, serta mencuci kendaraan operasional.

    “Air tersebut tidak digunakan untuk berwudu lagi, karena perlu kajian lebih lanjut terkait hukum-hukumnya,” ujarnya.

    Selain penghematan air, Abdul Mu’ti juga menjelaskan konsep masjid ramah lingkungan juga disertai dengan penggunaan enam panel surya yang diletakkan di masjid ini.

    Panel surya tersebut, kata dia, berkontribusi terhadap 3-5 persen kebutuhan listrik masjid, serta 10-15 persen kebutuhan listrik secara keseluruhan, yang juga berdampak pada pengeluaran organisasi sekitar 6-10 juta rupiah.

    Baca Juga: Mengenal Infrastruktur Ramah Lingkungan dan Manfaatnya Untuk Kehidupan Kota

    Ditemui langsung, Humas PP Muhammadiyah Zainal Abidin mengatakan konsep masjid ramah lingkungan merupakan upaya PP mehammadiyah dalam berbuat bijak terhadap lingkungan, termasuk di antaranya adalah air.

    “Kita lihat di mana-mana masjid itu, jamaah berwudu dengan air, tapi dibuang dengan sia-sia. Sehingga, PP Muhammadiyah punya ide untuk menggunakan sisa air wudu ini untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujarnya.

    Zainal berharap banyak masjid di Indonesia dapat menerapkan teknologi serupa, untuk dapat merawat bumi ini, salah satunya dengan cara menghemat air.

    Hal tersebut senada dengan misi yang dibawa pada World Water Forum ke-10 yang fokus membahas empat hal.

    Baca Juga: Tantangan Menerapkan Infrastruktur Ramah Lingkungan dalam Perencanaan Kota

    Yakni konservasi air (water conservation), air bersih dan sanitasi (clean water and sanitation), ketahanan pangan dan energi (food and energy security), serta mitigasi bencana alam (mitigation of natural disasters).

    Sebanyak 244 sesi dalam forum tersebut diharapkan dapat memberikan hasil konkret mengenai pengarusutamaan pengelolaan air terpadu untuk pulau-pulau kecil atau integrated water resources management (IWRM) on small islands,

    pembentukan pusat keunggulan atau praktik terbaik untuk ketahanan air dan iklim atau Centre of Excellence on Water and Climate Resilience (COE), serta penetapan Hari Danau Sedunia.

    Sumber:Antaranews.com

  • Gerakan Green Mosque: Masjid sebagai Agen Aksi Mitigasi Perubahan Iklim

    Gerakan Green Mosque: Masjid sebagai Agen Aksi Mitigasi Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Indonesia menghadapi tantangan besar dalam upaya meredam laju perubahan iklim. Meskipun telah menandatangani Perjanjian Paris, komitmen pemerintah dalam mengatasi perubahan iklim tampaknya masih jauh dari harapan.

    Dalam Indeks Kinerja Perubahan Iklim 2025, Indonesia berada di peringkat 42 dari 67 negara. Skor Indonesia tergolong rendah dalam hal pengurangan emisi gas rumah kaca, penggunaan energi, dan kebijakan iklim.

    Padahal, dampak perubahan iklim sudah meluas dan memengaruhi berbagai sektor, termasuk ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan keanekaragaman hayati.

    Indonesia bahkan teridentifikasi sebagai salah satu negara Asia yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

    Di tengah lambannya aksi pemerintah, berbagai gerakan sosial lingkungan bermunculan, tak terkecuali kelompok-kelompok Islam.

    Baca: Konsep mencintai lingkungan yang diterapkan enam agama di Indonesia

    Studi kualitatif yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta (2024) menunjukkan, dalam lima dekade terakhir, gerakan Islam hijau (green Islam) muncul sebagai salah satu respons terhadap masalah ekologi dan perubahan iklim di Indonesia.

    ‘Masjid hijau’ (green mosque) atau eco-masjid merupakan salah satu elemen penting dalam gerakan tersebut.

    Inisiatif ini memiliki potensi besar dalam menggerakkan aksi iklim. Sebab, masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat komunitas muslim. Perubahan yang dimulai dari masjid bisa dengan cepat menyebar ke masyarakat, bahkan memengaruhi kebijakan.

    Sayangnya, perkembangan inisiatif ‘masjid hijau’ masih sangat terbatas karena terganjal sejumlah tantangan seperti minimnya kesadaran umat, keterbatasan infrastruktur dan biaya serta kurangnya dukungan kebijakan.

    Baca: Konsep masjid ramah lingkungan yang dikembangkan PP Muhammadiyah

    Apa itu konsep Islam hijau dan masjid hijau?
    Islam hijau adalah gerakan berbasis nilai-nilai Islam yang menekankan konservasi lingkungan dan keberlanjutan.

    Gerakan ini menggunakan prinsip Islam seperti khalifah fil ard (manusia sebagai khalifah di muka bumi) dan islah (perbaikan lingkungan) untuk mendorong kesadaran ekologi.

    Masjid sebagai tempat beribadah umat Islam berperan penting dalam menyebarkan nilai-nilai keberlanjutan lingkungan tersebut.

    Perwujudannya bisa lewat aspek fisik melalui desain arsitektur dan infrastruktur yang ramah lingkungan, maupun aspek sosial melalui kegiatan sosial-keagamaan.

    Baca: Isu lingkungan juga disinggung dalam Ngaji Ramadan bersama KUPI

    Ajaran ini sudah ada sejak era Nabi Muhammad SAW saat masjid menjadi pusat informasi dan pengembangan masyarakat tak hanya seputar ritual ibadah, tetapi juga isu politik, sosial, dan budaya.

    Di Indonesia, inisiatif ‘masjid hijau’ sempat disambut pemerintah dengan rencana menyiapkan panduan pembentukan komunitas eco-masjid untuk membangun masjid berwawasan lingkungan.

    Panduan ini di antaranya akan mengatur soal penanaman pohon di sekeliling masjid, pengaturan ulang penggunaan air wudu, pengelolaan sampah organik di lingkungan masjid, dan penggunaan energi terbarukan seperti tenaga surya.

    Kendati masih sebatas menyentuh aspek fisik, rencana ini merupakan langkah yang sangat baik. Sayangnya, sejak digagas pada 2022, inisiatif ini masih sebatas wacana.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Khalid Walid Djamaludin (Antropolog, University of Latvia)

  • Tantangan Implementasi Green Mosque di Indonesia

    Tantangan Implementasi Green Mosque di Indonesia

    7cloud.asia – Di tengah lambannya aksi pemerintah, berbagai gerakan sosial lingkungan bermunculan, tak terkecuali kelompok-kelompok Islam.

    Studi kualitatif yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta (2024) menunjukkan, dalam lima dekade terakhir, gerakan Islam hijau (green Islam) muncul sebagai salah satu respons terhadap masalah ekologi dan perubahan iklim di Indonesia.

    ‘Masjid hijau’ (green mosque) atau eco-masjid merupakan salah satu elemen penting dalam gerakan tersebut.

    Inisiatif ini memiliki potensi besar dalam menggerakkan aksi iklim. Sebab, masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat komunitas muslim.

    Perubahan yang dimulai dari masjid bisa dengan cepat menyebar ke masyarakat, bahkan memengaruhi kebijakan.

    Sayangnya, perkembangan inisiatif ‘masjid hijau’ masih sangat terbatas karena terganjal sejumlah tantangan seperti minimnya kesadaran umat, keterbatasan infrastruktur dan biaya serta kurangnya dukungan kebijakan.

     

    Tantangan implementasi masjid hijau
    Sejumlah riset menunjukkan ada beberapa tantangan besar dalam inisiasi masjid ramah lingkungan berbasis komunitas di Indonesia, di antaranya:

    1. Kurangnya kesadaran dan penerimaan sosial
    Survei PPIM Universitas Islam Negeri Jakarta (2024) menunjukkan mayoritas dari total 3.045 responden muslim belum mengenal gerakan Islam hijau.

    Lebih dari 50 persen responden menolak konsep seperti pembatasan air wudu, penggunaan air wudu daur ulang, atau penggunaan zakat untuk mitigasi iklim.

    Selain itu, mayoritas juga tidak sepakat dengan fatwa haram kegiatan penebangan pohon di hutan atau penambangan atau membuang sampah plastik sembarangan.

    Bahkan, lebih dari setengah responden masih mendukung praktik yang berpotensi merusak lingkungan, seperti kepemilikan pesantren atas tambang dan perkebunan sawit dengan alasan ekonomi.

    2. Keterbatasan infrastruktur dan biaya
    Tantangan kedua adalah keterbatasan infrastruktur dan biaya. Penggunaan infrastruktur energi terbarukan memerlukan biaya awal yang tinggi, sehingga implementasi ‘masjid hijau’ membutuhkan investasi besar dan perencanaan keuangan matang.

    Baca: Upaya pesantren menjadi lokomotif transisi ke ekonomi hijau

    Biaya instalasi pembangkit listrik tenaga surya atap atau PLTS tipe off-grid saja misalnya, memakan biaya sekitar Rp12 juta. Alhasil, jumlah masjid yang memanfaatkan teknologi ramah lingkungan ini masih sangat terbatas.

    3. Kurangnya dukungan regulasi dan pemantauan program
    Sampai saat ini, belum ada regulasi resmi dari Kementerian Agama soal kewajiban penerapan prinsip eco-masjid.

    Kementerian Agama menyebut perencanaan regulasi sudah dimulai sejak 2022, tapi sampai sekarang belum terlihat hilal-nya.

    Sementara itu, studi lapangan yang dilakukan PPIM UIN Jakarta (belum dipublikasi) menunjukkan program eco-pesantren yang pernah diluncurkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama beberapa yayasan pada 2011, gagal berlanjut akibat lemahnya pemantauan dan evaluasi.

    Pesantren di Aceh yang dulu menjadi pelopor pelaksanaan eco-pesantren, kini juga sudah terhenti sepenuhnya.

    Mengapa aksi lingkungan harus dimulai dari masjid? 

    Masjid di Indonesia berjumlah hampir 300.000 dengan populasi muslim sebanyak 242 juta orang dari total 281 juta penduduk Indonesia.

    Baca: Isu lingkungan juga menjadi bahasan dalam Ngaji Ramadan KUPI

    Bayangkan jika muslim memiliki kesadaran akan isu perubahan iklim dan prinsip ‘masjid hijau’ diterapkan secara luas—misalnya melalui energi terbarukan, efisiensi air, dan edukasi lingkungan. Dampak kolektifnya akan sangat besar.

    Masjid dan umat Islam atau muslim di Indonesia bisa menjadi motor agen perubahan dalam gerakan lingkungan.

    Untuk itu, program ‘masjid hijau’ ini perlu digarap dan didukung melalui pendekatan pentahelix, yang melibatkan pemerintah (sebagai regulator), sektor swasta (sebagai penyedia), akademisi (sebagai perancang).

    Sementara masyarakat (sebagai akselerator), dan media (sebagai penyebarluas) dalam mendukung suksesnya masjid berwawasan lingkungan.

    Tidak hanya itu, lembaga-lembaga filantropi Islam yang mengelola instrumen zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf) juga perlu digandeng dalam inisiatif ini.

    Sebab, salah satu hambatan terbesar dalam program ‘masjid hijau’ ini adalah masalah pendanaan.

    Baca: Gerakan Green Mosque menjadikan masjid sebagai agen mitigasi perubahan iklim

    Penelitian PPIM UIN Jakarta mengenai Gerakan green Islam pada 2024 mengidentifikasi beberapa praktik baik eco-masjid di Indonesia yang bisa dicontoh, seperti program hibah 3.000 pohon untuk masjid oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI).

    Juga edukasi ulama perempuan dan kampanye praktik Islam hijau melalui ceramah-ceramah di masjid oleh Yayasan Hutan, Alam danLingkungan Aceh (HAkA) pada 2022, hingga penerapan panel surya dan sistem pengelolaan air ramah lingkungan di Masjid Istiqlal sejak 2019.

    Salah satu tantangan aksi iklim adalah asumsi bahwa perubahan iklim merupakan isu elitis. Jika dibingkai dalam narasi agama yang dekat dengan kehidupan umat, isu ini mungkin akan lebih mudah dimengerti dan diterima.

    Dengan demikian, akan terwujud pemahaman dan kesadaran untuk mengubah gaya hidup secara alami.

    Sejatinya, menjaga lingkungan bukan sekadar kepentingan ekologis, melainkan bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral seluruh masyarakat, apa pun keyakinannya.

    Artikel ini merupakan hasil kerja sama TCID bersama para penulis dan IDEAS, lembaga think-tank di bawah naungan Yayasan Dompet Dhuafa yang telah terbit di The Conversation, Penulis: Khalid Walid Djamaludin (Antropolog, University of Latvia)