Tag: Masjid Tjia Kang Ho

  • Masjid Tjia Kang Ho, Potret Toleransi dalam Beragama

    Masjid Tjia Kang Ho, Potret Toleransi dalam Beragama

    7cloud.asia – Masjid Tjia Kang Ho demikian masjid di Pasar Rebo, Jakarta Timur ini dinamai. Mungkin Anda agak heran dengan nama masjid yang tidak biasa ini.

    Jika Anda penasaran, simak artikel masjid Tjia Kang Ho yang terletak di Jalan Soleh,Pasar Rebo ini sampai habis.

    Nama Tjia Kang Ho diambil dari nama pemilik lahan di mana masjid ini dibangun. Berbeda dengan lazimnya masjid, masjid Tjia Kang Ho memadukan arsitektur China dan Betawi. 

    Ornamen khas China mendominasi tampilan Masjid Tjia Kang Ho. Pun demikian dengan warna dindingnya yang dicat merah layaknya bangunan China. 

    Baca: Masjid Agung Al Azhar, salah satu masjid tertua di Jakarta

    Tjia Kang Ho adalah seorang kakek asli Tionghoa yang kemudian memeluk agama Islam atau mualaf. Masjid yang menggabungkan nuansa Tionghoa dan Betawi di Jalan H Soleh RT 002/RW 07 Pekayon itu dibangun sebagai penghormatan untuk kakek tersebut.

    “Dulu ini lahan rumah kakek saya. Setelah wafat, orangtua ingin ada tapak tilasnya,” ungkap Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Tjia Kong Hoo, Muhamad Wildan Hakiki, kepada Kompas.com.

    Tjia Kang Hoo adalah seorang keturunan asli Tionghoa yang sudah lama menetap di Pekayon. Ia menjalin hubungan erat dengan warga setempat yang mayoritas orang Betawi, bahkan menikahi perempuan Betawi.

    Wildan tidak menuturkan kapan kakeknya menjadi mualaf. Namun, sejak saat itu, Tjia Kang Hoo mengubah namanya menjadi Abdul Soleh.

    Baca: 100 tahun Stasiun Tanjung Priuk

    Tjia Kang Hoo pun berkesempatan untuk naik haji. Semasa hidupnya, ia aktif dalam lingkup keagamaan dan kegiatan sosial kemasyarakatan. 

    Tjia Kang Hoo cukup berkontribusi perihal keagamaan maupun kemasyarakatan di sana, sehingga kehidupannya membekas di kalangan warga setempat meski telah wafat.

    Bahkan, Tjia Kang Hoo yang sempat menjabat sebagai Ketua RW setempat juga dituakan oleh warga setempat.

    “Kalau dari cerita yang saya dengar, kakek juga bikin jalanan depan masjid ini, makanya nama jalannya pakai nama beliau, Jalan Haji Abdul Soleh,” ungkap Wildan.

    Baca: Mengenal budaya Betawi pesisir di Museum Si Pitung

    “Pembangunan masjid juga untuk menjadi amal jariah nanti di akhirat bagi kakek saya. Jadi, keluarga besar rembukan dan rumah diubah total menjadi masjid daripada dibiarin jadi rumah tua,” imbuh dia.

    Saat ini, masyarakat sudah bisa berkunjung ke masjid yang bisa menampung hingga 300 jemaah itu, baik untuk shalat lima waktu atau tarawih. 

    Kendati demikian, anak kecil diimbau untuk tidak dibawa masuk demi keamanan dan keselamatan bersama. Sebab, pembangunan masjid masih belum rampung sejak peletakan batu pertama pada 8 Oktober 2022.