Tag: Mbaru Niang

  • Menggali Keunikan Desa Adat Wae Rebo: Hanya Memiliki 7 Rumah Adat Mbaru Niang

    Menggali Keunikan Desa Adat Wae Rebo: Hanya Memiliki 7 Rumah Adat Mbaru Niang

    7cloud.asia – Beberapa waktu lalu, majalah wisata, TimeOut yang berbasis di Inggris memasukkan Desa Adat Wae Rebo menjadi kota kecil terindah kedua di dunia.

    Terletak di Kabupaten Manggarai di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, desa adat Wae Rebo juga pernah menerima Top Award of Excellence dari UNESCO dalam UNESCO Asia Pacific Heritage Awards 2012, yang diumumkan di Bangkok pada Agustus 2012. 

    Lepas dari sederet penghargaan ini, desa adat Wae Rebo memang menyimpan daya tarik karena sederet keunikan yang dimilikinya.

    Wae Rebo adalah desa adat kecil yang berlokasi jauh dari kawasan perkotaan. Bahkan di desa ini listrik dibatasi pun tidak ada jaringan seluler. 

    Dilansir wikipedia, pendiri Desa Wae Rebo adalah seorang pria bernama Empu Maro yang berdarah Minangkabau.

    Dia membangun desa adat Wae Rebo tersebut sekitar 1200 tahun yang lalu dan kemudian dilestarikan oleh penduduk lokalnya hingga sekarang mencapai keturunan generasi ke-20.

    Baca Juga: Wae Rebo, Kota Kecil Terindah Kedua di Dunia

    Desa Adat Wae Rebo memiliki populasi kecil yaitu sekitar 1,200 jiwa, desa ini terdiri dari 7 rumah adat yang disebut Mbaru Niang

    Rumah adat Mbaru Niang yang tinggi dan berbentuk kerucut serta tertutup ilalang lontar dari atap hingga ke tanah menjadi salah satu keunikan dan menjadi ciri khas dari Wae Rebo 

    Rumah adat Mbaru Niang ini tersusun mengitari batu melingkar yang dinamakan compang sebagai titik pusatnya. Compang merupakan pusat aktivitas warga untuk mendekatkan diri dengan alam, leluhur, dan Tuhan.

    Arsitektur Mbaru Niang mengandung filosofi dan mencerminkan kehidupan sosial masyarakat Wae Rebo tapi juga masih memiliki unsur Minangkabau.

    Unsur Minangkabau terlihat dari Niang Dangka atau atap Mbaru Niang, yakni bertanduk rangkap dua yang dijadikan satu.

    Rumah tradisional ini merupakan wujud keselarasan manusia dengan alam serta merupakan cerminan fisik dari kehidupan sosial Suku Manggarai.

    Baca Juga: Jalan-jalan ke Desa Adat, Berwisata sambil Belajar Kehidupan dari Masyarakat Adat

    Suku Manggarai meyakini lingkaran sebagai simbol keseimbangan, sehingga pola lingkaran ini diterapkan hampir di seluruh wujud fisik desa, dari bentuk kampung sampai rumah-rumahnya.

    Mbaru Niang terdiri dari 5 lantai dengan atap daun lontar dan ditutupi oleh ijuk. Setiap lantai memiliki fungsinya masing-masing, seperti tempat berkumpul, menyimpan bahan makanan, beribadah, dan fungsi lainnya.

    Rumah ini juga mengikuti prinsip leluhur yang sangat kuat dan tidak boleh menyentuh tanah.

    Dari tujuh mbaru Niang yang ada, ada satu rumah yang dikhususkan untuk keperluan ritual bagi masyarakat di Desa Adat Wae Rebo.

    Penduduk lokal di desa ini mayoritas beragama Katolik tetapi masih menganut kepercayaan lama. Di rumah ini tersimpan pusaka suci berupa gendang dan gong.

    Rumah Mbaru Niang ini memiliki lima lantai, di mana setiap tingkat dirancang untuk tujuan tertentu dan punya makna tertentu dalam keseharian warga Wae Rebo. Lantai pertama, yang disebut lutur atau tenda, adalah tempat tinggal keluarga besar.

    Baca Juga: Mengenal Tradisi Naik Dango di Kalangan Masyarakat Adat Dayak Kanayatn

    Lantai kedua, yang disebut lobo atau loteng, dikhususkan untuk menyimpan makanan dan barang-barang.

    Lantai ketiga yang disebut lentar adalah tempat penyimpanan benih untuk musim tanam berikutnya.

    Lantai keempat yang disebut lempa rae adalah untuk menyimpan persediaan makanan jika terjadi kekeringan.

    Terakhir, atau lantai kelima dan teratas yang disebut hekang kode, juga yang dianggap paling suci, adalah tempat persembahan untuk leluhur.

    Desa adat Wae Rebo terletak sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut dan untuk mengunjunginya, dibutuhkan sekitar 3-4 jam perjalanan dengan berjalan kaki dari Desa Denge, desa modern terdekat.

    Meski telah berusia ratusan tahun, desa adat Wae Rebo masih terjaga keasliannya. Termasukjumlah Mbaru Niang yang dipertahankan tetap tujuh buah.

    Baca Juga: Mengenal Uniknya Tradisi Seba Masyarakat Badui, Tahun Ini Singgung Hak Politik

     

    Desa adat Wae Rebo dikelilingi oleh pegunungan yang indah serta Hutan Todo yang rindang serta kaya akan vegetasi.

    Di hutan ini, pengunjung dapat menemukan anggrek, berbagai jenis pakis, serta mendengar kicauan merdu dari beragam burung yang membuat suasana menjadi semakin ceria.

     

    Makanan pokok penduduk desa adalah singkong dan jagung. Namun, di sekitar desa mereka juga menanam kopi, vanili, dan kayu manis yang mereka jual di pasar yang terletak sekitar 15 km dari desa.

    Belakangan ini, Desa Adat Wae Rebo semakin populer sebagai tujuan wisata bagi para pencinta ekowisata domestik dan mancanegara. Hal ini tentunya juga menambah kesejahteraan ekonomi desa tersebut.

    Harus diingat nih, tidak ada jangkauan seluler di desa ini, dan listrik hanya tersedia dari pukul 6 hingga 10 malam.