Tag: megathrust

  • Mengenal Apa Itu Megathrust yang Bisa Picu Gempa dan Tsunami di Indonesia

    Mengenal Apa Itu Megathrust yang Bisa Picu Gempa dan Tsunami di Indonesia

    7cloud.asia – Potensi gempa megathrust menjadi perbincangan publik setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan potensi gempa megathrust yang bisa terjadi di Indonesia.

    Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, gempa megathrust bisa terjadi karena seismic gap Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.

    Megathrust Selat Sunda berpotensi memicu terjadinya gempa dahsyat dengan magnitudo mencapai 8,7. Sedangkan Megathrust Mentawai-Siberut bisa menyebabkan gempa berkekuatan magnitudo 8,9.

    “Kedua segmen megathrust ini boleh dikata tinggal menunggu waktu karena kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar,” kata Daryono, dilansir dari Kompas.com, Senin (13/8/2024).

    Selain gempa berkekuatan tinggi, gempa megathrust juga disebut dapat memicu terjadinya tsunami jika sumber gempa terjadi di laut.

    Baca Juga: Tujuh Segmen Sesar Semangko Berada di Sumatra Barat, Ini Daftarnya

    Sebenarnya apa itu gempa megathrust? Secara etimologi, gempa megathrust adalah gempa bumi yang berasal dari zona megathrust.

    Kata “Mega” itu artinya besar, sedangkan kata “Thrust” berarti sesar sungkup. Letaknya berada di perbatasan pertemuan continental crust (kerak benua) dan oceanic crust (kerak samudra).

    Dilansir dalam buku “Peta Sumber dan Bahaya Gempabumi Indonesia tahun 2017” berdasarkan hasil kajian para pakar gempa bumi, zona tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, yang menunjam masuk ke bawah Pulau Jawa disebut sebagai zona megathrust.

    Zona megathrust menyebutkan sumber gempa tumbukan lempeng di kedalaman dangkal. Menurut Daryono, gempa megathrust berpusat di bidang kontak antarlempeng dengan kedalaman kurang dari 45-50 kilometer.

    Dalam hal ini, lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua membentuk medan tegangan (stress) pada bidang kontak antar lempeng yang kemudian dapat bergeser secara tiba-tiba memicu gempa.

    Baca Juga: BMKG Ingatkan Warga Garut untuk Mewaspadai Dua Sesar Gempa di Wilayah Itu

    Jika terjadi gempa, maka bagian lempeng benua yang berada di atas lempeng samudra bergerak terdorong naik (thrusting). Gempa dalam skala besar di laut kemudian memicu tsunami.

    Kapan gempa megathrust terjadi? Kepala Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan Universitas Brawijaya Adi Susilo mengatakan, gempa megathrust memang berpotensi terjadi di Indonesia.

    Kendati demikian, beberapa gempa yang terjadi di Indonesia belakangan diharapkan tidak membuat masyarakat panik dan mengaitkannya dengan gempa megathrust.

    “Gempa megathrust memang potensi ada, tetapi bukan diprediksi pasti terjadi,” kata dia, dilansir dari Kompas.id.

    Ia juga mengatakan, gempa megathrust terjadi ribuan tahun sekali. Menurut penelitian yang diterbitkan di berbagai jurnal, gempa megathrust baru terjadi ketika gempa berbarengan di sepanjang zona subduksi selatan Jawa.

    Baca Juga: BRIN Lakukan Pemetaan Sesar di Pulau Jawa: Sejumlah Kota Ini Rawan Terdampak Gempa

    “Inilah yang berpotensi menyebabkan gempa besar sekitar 8 MMI dengan potensi tsunami 20 meter. Kapan itu terjadi? Kemungkinan bisa 2000 tahun sekali,” ujar Adi.

    Dikutip dari Kontan, gempa megathrust berbesar dalam 20 tahun terakhir adalah gempa Tohoku berkekuatan 9,0–9,1 skala Richter pada 2011 silam.

    Gempa megathrust bisa picu tsunami Kepala Bidang (Kabid) PK BPBD Provinsi Sumbar, Syahrazad Jamil mengatakan, gempa megathrust M 8,9 dapat memicu terjadinya tsunami setinggi 6-10 meter.

    “20 sampai 30 menit kemudian disusul gelombang tsunami di Kota Padang setinggi enam hingga 10 meter dengan jarak dua hingga lima kilometer,” ungkapnya dilansir dari Antara.

    Melihat potensi bencana tersebut, pihaknya mempersiapkan mitigasi dengan menjadikan kawasan Gunung Padang sebagai tujuan evakuasi warga binaan apabila tsunami terjadi.

    Baca Juga: BMKG: Aktivitas Sesar Cugenang Terus Berlanjut Timbulkan Gempa di Cianjur dan Sekitarnya

    Sementara itu, pada segmen zona megathrust Selat Sunda, gempa megathrust dengan M 8,7 yang terjadi bersamaan dengan segmentasi di atas dan timur kawasan tersebut dapat memicu terjadinya tsunami.

    Segmentasi di atas megathrust Selat Sunda adalah megathrust Enggano. Sedangkan segmentasi di timur Selat Sunda adalah megathrust Jawa Barat-Tengah.

    Doktor yang pernah meneliti potensi gempa bumi megathrust dan tsunami di Selatan Jawa, Widjo Kongko mengatakan, ketika gempa terjadi secara bersamaan di zona tersebut, kekuatannya bisa mencapai M 9,0.

    “Energi yang dihasilkan dari potensi gempa itu mirip dengan gempa bumi dan tsunami Aceh 2004,” ucapnya, dikutip dari Antara.

    Menurut permodelan, Widjo mengatakan bahwa secara saintifik tsunami yang mungkin terjadi akibat megathrust Selat Sunda ini bisa lebih tinggi dari Aceh.

    “Namun, karena secara umum kedalaman laut di daerah sumber gempa lebih dalam dibandingkan dengan yang kejadian 2004, maka berdasar perhitungan model, secara saintifik tsunami yang terjadi bisa lebih tinggi dari Aceh,” tandasnya.

    Sumber:Kompas.com

  • Mengenal 16 Titik Megathrust di Indonesia

    Mengenal 16 Titik Megathrust di Indonesia

    7cloud.asia – Di Indonesia, zona megathrust bukanlah hal baru. Zona sumber gempa ini sudah ada sejak jutaan tahun lalu saat terbentuknya rangkaian busur kepulauan Indonesia.

    Zona megathrust berada di 6 zona subduksi aktif dengan potensi gempa besar terjadi di zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.

    Selain dua zona megathrust itu, Indonesia juga dikelilingi oleh 16 titik megathrust lainnya, yaitu:

    1.Aceh-Andaman
    2.Nias-Simeulue
    3.Kepulauan Batu
    4.Mentawai-Siberut
    5.Mentawai–Pagai
    6.Enggano
    7.Selat Sunda Banten
    8.Selatan Jawa Barat
    9.Selatan Jawa Tengah-Jawa Timur
    10.Selatan Bali
    11.Selatan NTB
    12.Selatan NTT
    13.Laut Banda Selatan
    14.Laut Banda Utara
    15.Utara Sulawesi
    16.Subduksi Lempeng Laut Pilipina.

    Baca Juga: Mengenal Apa Itu Megathrust yang Bisa Picu Gempa dan Tsunami di Indonesia

    Segmen zona megathrust di Indonesia sudah dapat dikenali potensinya. Dilansir dari laman BPBD Provinsi Jogja, aktivitas gempa yang bersumber di zona megathrust disebut sebagai gempa megathrust dan tidak selalu berkekuatan besar.

    Sebagai sumber gempa, zona megathrust dapat membangkitkan gempa berbagai magnitudo dan kedalaman.

    Data hasil monitoring BMKG menunjukkan, justru “gempa kecil” yang lebih banyak terjadi di zona megathrust, meskipun zona megathrust dapat memicu gempa besar.

    Kapan gempa megathrust terjadi? Kepala Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan Universitas Brawijaya Adi Susilo mengatakan, gempa megathrust memang berpotensi terjadi di Indonesia.

    Kendati demikian, beberapa gempa yang terjadi di Indonesia belakangan diharapkan tidak membuat masyarakat panik dan mengaitkannya dengan gempa megathrust.

    “Gempa megathrust memang potensi ada, tetapi bukan diprediksi pasti terjadi,” kata dia, dilansir dari Kompas.id.

    Baca Juga: Tujuh Segmen Sesar Semangko Berada di Sumatra Barat, Ini Daftarnya

    Ia juga mengatakan, gempa megathrust terjadi ribuan tahun sekali. Menurut penelitian yang diterbitkan di berbagai jurnal, gempa megathrust baru terjadi ketika gempa berbarengan di sepanjang zona subduksi selatan Jawa.

    “Inilah yang berpotensi menyebabkan gempa besar sekitar 8 MMI dengan potensi tsunami 20 meter. Kapan itu terjadi? Kemungkinan bisa 2000 tahun sekali,” ujar Adi.

    Dikutip dari Kontan, gempa megathrust berbesar dalam 20 tahun terakhir adalah gempa Tohoku berkekuatan 9,0–9,1 skala Richter pada 2011 silam.

    Gempa megathrust bisa picu tsunami Kepala Bidang (Kabid) PK BPBD Provinsi Sumbar, Syahrazad Jamil mengatakan, gempa megathrust M 8,9 dapat memicu terjadinya tsunami setinggi 6-10 meter.

    “20 sampai 30 menit kemudian disusul gelombang tsunami di Kota Padang setinggi enam hingga 10 meter dengan jarak dua hingga lima kilometer,” ungkapnya dilansir dari Antara.

    Melihat potensi bencana tersebut, pihaknya mempersiapkan mitigasi dengan menjadikan kawasan Gunung Padang sebagai tujuan evakuasi warga binaan apabila tsunami terjadi.

    Baca Juga: BRIN Lakukan Pemetaan Sesar di Pulau Jawa: Sejumlah Kota Ini Rawan Terdampak Gempa

    Sementara itu, pada segmen zona megathrust Selat Sunda, gempa megathrust dengan M 8,7 yang terjadi bersamaan dengan segmentasi di atas dan timur kawasan tersebut dapat memicu terjadinya tsunami.

    Segmentasi di atas megathrust Selat Sunda adalah megathrust Enggano. Sedangkan segmentasi di timur Selat Sunda adalah megathrust Jawa Barat-Tengah.

    Doktor yang pernah meneliti potensi gempa bumi megathrust dan tsunami di Selatan Jawa, Widjo Kongko mengatakan, ketika gempa terjadi secara bersamaan di zona tersebut, kekuatannya bisa mencapai M 9,0.

    “Energi yang dihasilkan dari potensi gempa itu mirip dengan gempa bumi dan tsunami Aceh 2004,” ucapnya, dikutip dari Antara.

    Menurut permodelan, Widjo mengatakan bahwa secara saintifik tsunami yang mungkin terjadi akibat megathrust Selat Sunda ini bisa lebih tinggi dari Aceh.

    “Namun, karena secara umum kedalaman laut di daerah sumber gempa lebih dalam dibandingkan dengan yang kejadian 2004, maka berdasar perhitungan model, secara saintifik tsunami yang terjadi bisa lebih tinggi dari Aceh,” tandasnya.

    Sumber: Kompas.com

  • DPR Dorong BMKG untuk Menyiapkan Mitigasi Gempa Megathrust

    DPR Dorong BMKG untuk Menyiapkan Mitigasi Gempa Megathrust

    7cloud.asia – Beberapa waktu lalu, dalam keterangan tertulisnya, BMKG mengingatkan potensi gempa megathrust yang tinggal menunggu waktu.

    Menanggapi hal ini, Anggota Komisi V DPR Syahrul Aidi Maazat mendorong BMKG mempersiapkan data yang akurat terkait gempa akibat pertemuan lempeng tektonik tersebut, serta berkoordinasi dalam menyiapkan mitigasi bencana.

    Syahrul meminta BMKG lebih berhati-hati dalam menyampaikan prediksi kebencanaan, termasuk soal megathrust ini.

    Pasalnya, hal ini akan menimbulkan kepanikan masyarakat jika informasi bencana tidak disertai data yang akurat dan upaya mitigasi bencana.

    Baca: Mengenal 16 titik megathrust di Indonesia

    Karenanya, Politisi PKS tersebut meminta BMKG berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mempersiapkan mitigasi terhadap potensi megathrust yang menghantui Sumatera dan Jawa tersebut.

    Ia meminta sosialisasi gempa megathrust ini melibatkan seluruh komponen pemerintahan yang ada sehingga tidak menjadi kepanikan.

    ”Oleh karena itu, kalau ini memang akan terjadi tentu harus ada mitigasi, harus ada persiapan kita menghadapi ini dalam segala hal tentunya,” ujar Syahrul kepada TV Parlemen beberapa waktu lalu yang dikutip Parlementaria.

    Kita berharap, ujarnya, pemerintah harus bijak dalam memberikan informasi dan kita masyarakat juga harus bijak dalam menerima informasi ini.

    ”Semua ini tentu, karena informasi ini berdasarkan data-data yang dimiliki oleh BMKG, secara kesiapan usaha manusiawi perlu kita lakukan” sambungnya.

    Baca: Mengenal apa itu megathrust dan ancamannya pada Indonesia

    Sebelumnya, BMKG mengingatkan potensi gempa megathrust di zona Selat Sunda dan Mentawai-Siberut mencapai magnitudo 8,9 dan berpotensi tsunami.

    Dua zona ini sudah lebih dari dua abad tidak mengalami gempa atau yang disebut dengan seismic gap.

    Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, gempa megathrust bisa terjadi karena seismic gap Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.

    Megathrust Selat Sunda berpotensi memicu terjadinya gempa dahsyat dengan magnitudo mencapai 8,7.

    Sedangkan Megathrust Mentawai-Siberut bisa menyebabkan gempa berkekuatan magnitudo 8,9.

  • Peneliti BRIN: Tidak Bisa Dipastikan Kapan Gempa Megathrust akan Terjadi

    Peneliti BRIN: Tidak Bisa Dipastikan Kapan Gempa Megathrust akan Terjadi

    7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nuraini Rahma Hanifa menyatakan tidak ada waktu pasti soal kapan gempa Megathrust terjadi di Indonesia.

    Hanifa membenarkan bahwa peristiwa Megathrust memang benar ada. Tapi, jika ada informasi tentang tanggal, bulan, dan tahun kapan gempa akan terjadi maka bisa dipastikan itu hoaks.

    “Bisa terjadi, kapan? mau lima menit lagi, 100 tahun lagi, itu bisa terjadi,” kata Nuraini dalam gelar wicara tentang Megathrust yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat (30/8/2024) seperti dilansir Antaranews.com.

    Meskipun belum dapat diprediksi secara spesifik, Nuraini memaparkan bencana gempa besar seperti Megathrust bisa terjadi lagi di waktu yang akan datang, karena bencana tersebut pernah ada di wilayah Indonesia sejak zaman dahulu.

    Adapun lokasi bencana ini, jelas dia, diprakirakan bisa terjadi di sebelah barat Pulau Sumatera hingga selatan Pulau Jawa.

    Baca: BMKG diminta siapkan langkah mitigasi atasi megathrust

    Pasalnya, daerah tersebut merupakan daerah pertemuan antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia yang rawan akan guncangan.

    Lebih lanjut, Nuraini memaparkan adanya siklus tertentu pada gempa-gempa besar, seperti gempa Megathrust. Ia menyebut semakin besar gempanya, maka akan semakin lama juga siklusnya.

    Menurut dia, gempa besar yang melanda Aceh yang terjadi pada 2004 yang lalu memiliki siklus hingga 600 tahun sekali.

    Meski demikian, siklus tersebut hanya berlaku di titik gempa yang sama, sehingga masing masing titik memiliki siklus gempanya masing-masing.

    “Pergerakan lempeng itu bisa kita ukur, besar energi juga, tapi bagaimana caranya dilepaskan kita gak tahu. Jadi bisa saja dilepaskan seperti gempa Pangandaran yang (kekuatannya) kecil-kecil, bisa juga besar seperti gempa Aceh,” ujarnya.

    Nuraini melanjutkan, masing-masing daerah atau tempat juga memiliki pergeseran.

    Baca: Mengenal 16 titik megathrust di Indonesia

    Sebagaimana pulau jawa yang memiliki potensi pergeseran lempeng bumi rata-rata sebesar 6centimeter per tahun, dengan siklus gempa yang diprakirakan terjadi setiap 400-600 tahun sekali, serta potensi pergeseran lempeng yang bisa dikeluarkan secara bertahap, maupun secara sporadis.

    Kalau 400 tahun dikali 6centimeter maka 24meter ya, kalau 24m itu dia mau gerak sekaligus, kita sudah menghitung kita mendapatkan angka (potensi gempa) pada skala 8,8 Magnitudo, itu kalau satu segmen Selat Sunda.

    “Tapi kalau satu segmen Pulau Jawa, maka dia berada pada 9 Magnitudo, mirip seperti gempa Aceh dan Jepang,” ungkapnya.

    Namun demikian, dengan kekuatan gempa yang sama seperti di Aceh, Nuraini menyoroti Jepang memiliki korban jiwa yang lebih sedikit, yaitu sekitar 1/10 dari korban jiwa yang ada di Aceh.

    Oleh karenanya, ia menekankan seluruh pihak untuk bekerja sama dalam upaya mitigasi bencana yang tepat, sehingga dapat mengurangi risiko kebencanaan untuk dapat menyelamatkan nyawa lebih banyak lagi jika terjadi gempa.

    Sumber:Antaranews.com

  • Waspada, Ini 15 Segmen yang Berpotensi Diguncang Gempa Megathrust

    Waspada, Ini 15 Segmen yang Berpotensi Diguncang Gempa Megathrust

    7cloud.asia – Gempa megathrust akan mengguncang Indonesia. Ada 15 segmen megathrust yang ada di Indonesia, diantaranya wilayah pesisir Sumatera.

    Hal ini diungkapkan oleh peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nuraini Rahma Hanifa beberapa waktu lalu.

    “Ada 15 segmen megathrust yang membentang dari sepanjang pesisir barat Sumatera Selatan, Jawa, sampai selatan Bali, NTT, NTB, di Utara Sulawesi, dan Utara Papua. Memang kalau secara potensinya itu bisa magnitudo-nya sampai 9 ya,” jelas Nuraini.

    Melansir Antaranews, Nuraini menerangkan berbagai potensi tersebut terdapat di segmen Aceh-Andaman dengan potensi 9,2 Magnitudo maksimum (Mmax), Nias-Simeulue 8,9 Mmax, Kepulauan Batu 8,2 Mmax.

    Baca: Gempa megathrust masih belum dapat dipastikan waktunya

    Selain itu segmen Mentawai-Siberut 8,7 Mmax, Mentawai-Pagai 8,9 Mmax, Enggano 8,8 Mmax, serta Selat Sunda-Banten 8,8 Mmax, Jawa Barat 8,8 Mmax, Jawa Tengah-Timur 8,9 Mmax, Bali 9,0 Mmax.

    Kemudian Nusa Tenggara Barat (NTB) 8,9 Mmax, Nusa Tenggara Timur 8,7 Mmax, Sulawesi Utara 8,5 Mmax, Filipina-Maluku 8,2 Mmax, Laut Banda Utara 7,9 Mmax, serta Laut Banda Selatan 7,4 Mmax.

    Meski perkiraan kekuatannya tinggi, tetapi gempa megathrust memiliki ciri khusus yang siklusnya berulang.

    “Dari 15 segmen megathrust ini, kita punya sejarah 20 tahun yang lalu persis tahun 2004, kita mengalami gempa megathrust di Aceh,” katanya.

    Baca: DPR dorong BMKG siapkan mitigasi gempa megathrust

    Tak hanya wilayah Aceh, gempa megathrust terjadi pula di Pangandaran, Jawa Barat dan Pulau Nias, Sumatera Utara pada 2006 dan Pacitan, Jawa Timur pada 1994 silam.

    Megathrust ini gempa yang siklusnya berulang, jadi memang potensi ke depan itu untuk megathrust ya dia akan ada, dan akan berulang. Tapi, mungkin memang periode waktunya cukup panjang ya,” ungkapnya.

    Selanjutnya Nuaraini menjelaskan besar tidaknya resiko akibat gempa megathrust tidak hanya dipengaruhi oleh kekuatan gempa.

    Tetapi juga dipengaruhi oleh banyaknya penduduk yang terdapat dalam kawasan di segmen-segmen tersebut.

    Baca: Mengenal lebih jauh gempa megathrust

    “Artinya, kalau kita mempertemukan skala gempa megathrust yang besar dengan penduduk yang paling padat, maka risikonya menjadi lebih tinggi di Pulau Jawa ini,” jelasnya.

    Nuraini menegaskan bahwa megathrust bukanlah sebuah bencana tetapi fenomena alam yang pasti terjadi, karena fluktuasi dan revolusi bumi yang mengakibatkan dinamika alam.

    Karena itu, dia mengajak seluruh masyarakat Indonesia termasuk para pemangku kepentingan agar dapat mengantisipasi, memperkuat early warning system.

    Hal ini harus dilakukan sebagai upaya mitigasi diri dari bencana besar, yang dapat menyelamatkan banyak nyawa manusia.

     

     

  • Megathrust Bukan Mitos, Sudahkah Warga Indonesia Sadar Bencana

    Megathrust Bukan Mitos, Sudahkah Warga Indonesia Sadar Bencana

    7cloud.asia – Kabar mengenai ancaman gempa megathrust yang mengintai kawasan selatan Pulau Jawa kembali ramai diberitakan beberapa pekan terakhir ini.

    Megathrust adalah gempa bumi sangat besar yang terjadi di zona subduksi—tempat pertemuan antara lempeng benua dan samudra. Ketika kedua lempeng itu bertemu, lempeng samudra yang lebih berat akan terdorong ke bawah sehingga memicu gempa yang sangat besar.

    Para ilmuwan memprediksi bahwa gempa megathrust dengan magnitudo besar berpotensi menimbulkan bencana susulan seperti tsunami dan likuifaksi (pencairan tanah).

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat terdapat 13 zona megathrust di wilayah Indonesia, dua di antaranya sudah ratusan tahun tidak mengalami gempa akibat pergeseran kulit bumi atau tektonik, yaitu zona Mentawai-Siberut dan Selat Sunda. Ini biasa disebut dengan seismic gap.

    Berita mengenai ancaman megathrust sebenarnya bukan hal baru. Pemberitaan serupa sudah muncul di beberapa media sejak beberapa tahun lalu, misalnya pada Maret 2018, Agustus 2019, dan setelah gempa Pandeglang di Banten pada Januari 2022.

    Meski demikian, pola pemberitaannya masih fluktuatif, menunjukkan bahwa banyak media belum memiliki pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan dalam menyajikan informasi seputar megathrust.

    Akibatnya, respon publik terhadap berita tersebut cenderung reaktif seperti pembatalan pemesanan di restoran-restoran sekitar kawasan pantai di Gunungkidul, Yogyakarta.

    Tak hanya dibayangi ancaman megathrust, banyaknya titik rawan bencana membuat Indonesia rentan terhadap berbagai bencana alam lainnya seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami. Sebagai negara dengan iklim tropis lembap, Indonesia juga rawan banjir dan tanah longsor.

    Sayangnya, pemerintah—sebagai pihak yang paling berwenang—acap gagal menyampaikan komunikasi risiko dengan baik, sehingga membuat pemberitaan mengenai bencana sering kali simpang siur.

    Bahkan, antarinstitusi pun kerap tidak sejalan. Pada medio 2018 misalnya, polisi sempat hendak memidanakan BMKG dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknolog (BPPT) karena informasi mengenai ancaman gempa megathrust yang mereka sampaikan dianggap meresahkan dan merugikan perekonomian lokal.

    Dalam situasi seperti ini, Indonesia memerlukan komunikasi risiko yang efektif untuk membangun kesadaran dan kesiapsiagaan berkelanjutan dengan memadukan pengetahuan ilmiah dengan budaya lokal.

    Seperti apa komunikasi risiko yang efektif?
    Komunikasi risiko melibatkan pertukaran informasi dan pandangan mengenai risiko serta faktor-faktor terkait.

    Dalam penyampaian informasi bencana, membangun kepercayaan masyarakat menjadi elemen kunci. Kepercayaan yang tinggi terhadap sumber informasi dapat meningkatkan efektivitas komunikasi risiko dan memengaruhi respon masyarakat terhadap ancaman bencana.

    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemerintah seringkali dianggap sebagai sumber informasi risiko yang paling dipercaya.

    Komunikasi risiko juga harus fleksibel agar dapat disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan yang ada. Banyak pakar menyebutkan bahwa tidak ada model komunikasi risiko tertentu yang paling mujarab untuk semua krisis. Setiap krisis membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan situasi lokalnya.

    Bagaimana seharusnya merespon informasi bencana?
    Waspada secara terus-menerus terhadap ancaman bencana bisa melelahkan secara psikologis. Sebaliknya, mengabaikan ancaman bisa meningkatkan risiko, berupa melakukan respon yang tidak tepat ketika bencana terjadi.

    Bagaimana seharusnya kita merespon informasi bencana?

    1. Membentuk budaya sadar bencana
    Masyarakat membutuhkan budaya sadar bencana. Greg Bankoff, ahli sejarah bencana dari Inggris, menyebutnya sebagai ‘cultures of disasters’. Dalam ‘budaya sadar bencana’ ini, ancaman bencana alam telah terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, menciptakan pemahaman kolektif tentang risiko dan respons terhadap bencana.

    Budaya sadar bencana akan tercermin dalam kesiapsiagaan warga ketika menghadapi berbagai situasi. Contoh ini dapat dilihat pada masyarakat di lereng Merapi yang sudah terbiasa dengan ancaman erupsi gunung.

    Ketika status Gunung Merapi dinaikkan menjadi Siaga (Level III), masyarakat sudah tahu harus berbuat apa. Mereka bisa tetap menjalankan kehidupan sehari-hari dengan normal sambil menyiapkan tas darurat, memahami jalur evakuasi, dan mengikuti informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

    Kebiasaan ini dibentuk melalui edukasi bencana yang panjang sejak pertengahan 1990-an, yakni setelah erupsi Merapi pada 1994. BPPTKG juga telah memulai program Wajib Latih Penanggulangan Bencana (WLPB) untuk masyarakat sejak 2008.

    2. Memadukan pendekatan sains dan nilai lokal
    Orang mungkin tidak selalu mengingat ancaman gempa, namun pengetahuan dan ingatan tentangnya selalu ada. Sehingga, ketika mereka menerima peringatan dini gempa atau mengalami gempa, respons yang tepat dapat dilakukan karena pengetahuan dan ingatan tersebut tertanam dalam diri mereka.

    Contohnya adalah masyarakat Simeulue di Aceh yang mengenal fenomena smong. Ketika terjadi gempa besar disertai surutnya air laut, mereka akan segera berlari ke bukit untuk menghindari tsunami sambil berteriak bersahut-sahutan, “smong, smong, smong”. Dalam bahasa lokal, smong berarti tsunami.

    Pengetahuan lokal ini telah menyelamatkan banyak nyawa pada peristiwa tsunami 2004. Tercatat, hanya lima warga Simeulue yang meninggal. Jumlah ini sangat kecil jika dibandingkan dengan ratusan ribu korban di Banda Aceh dan sekitarnya.

    Penelitian terbaru yang dilakukan tim dari UII mengenai fenomena smong menunjukkan bahwa pengetahuan kebencanaan, baik pengetahuan tradisional maupun pengetahuan ilmiah, harus diadaptasi dalam budaya populer atau praktik keseharian agar nilai-nilai tersebut terus melekat dalam budaya itu sendiri.

    Setelah tsunami 2004, beberapa seniman Simeulue mengadaptasi kisah tentang smong dalam nandong, nyanyian lokal masyarakat Simeuleu. Pengetahuan lokal ini juga diadaptasi sebagai media edukasi oleh lembaga-lembaga kebencanaan seperti Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), pusat riset, dan organisasi masyarakat sipil yang fokus pada isu kebencanaan.

    3. Memprioritaskan ancaman utama
    Dalam konteks kehidupan sehari-hari, orang cenderung lebih responsif terhadap ancaman yang jelas dan langsung dibandingkan dengan ancaman yang lebih abstrak dan jauh, seperti ancaman gempa megathrust.

    Oleh karena itu, penting bagi pemerintah, media, lembaga masyarakat sipil, dan para pemangku kepentingan lainnya untuk menempatkan megathrust sebagai ancaman prioritas dalam mitigasi bencana.

    Pendekatan top hazard—metode alternatif yang memfokuskan perencanaan pada bahaya dengan risiko dan dampak tertinggi—dapat membantu mengidentifikasi dan mengelola risiko dengan lebih efektif, dengan fokus pada ancaman yang paling signifikan bagi masyarakat.

    Warga adalah subjek aktif
    Ancaman megathrust bukanlah mitos, tapi sesuatu yang niscaya terjadi. Gempa megathrust diikuti tsunami raksasa yang paling diingat dalam sejarah modern Indonesia adalah tsunami 2004 yang meluluhlantakkan Aceh dan beberapa daerah sekitarnya.

    Selain itu, gempa megathrust juga pernah menerjang beberapa kawasan di Jawa, seperti Banten (1903), Yogyakarta (1937 dan 1943), Banyuwangi (1994), dan Pangandaran (2006).

    Meskipun ilmuwan belum bisa memprediksi secara pasti kapan gempa besar ini akan terjadi lagi, kita harus mulai menggerakkan ‘budaya sadar bencana’. Ini adalah agenda kolektif yang perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan terkait seperti pemerintah, akademisi dan peneliti, organisasi masyarakat dan keagaaman, lembaga masyarakat sipil, dan pihak swasta.

    Dalam praktiknya, kita juga harus melihat masyarakat sebagai subjek aktif dalam mitigasi bencana yang demokratis. Pemberdayaan masyarakat seharusnya menjadi fokus utama dalam membangun budaya sadar bencana yang kuat dan berkelanjutan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Muzayin Nazaruddin (Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta)