Tag: minat baca

  • Minat Baca dan Literasi Masyarakat Indonesia Rendah, Ini Sebabnya

    Minat Baca dan Literasi Masyarakat Indonesia Rendah, Ini Sebabnya

    7cloud.asia – Data Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mencatat bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,001 persen.

    Dengan angka minat baca sebesar itu artinya hanya satu dari 1.000 orang yang gemar membaca di Indonesia.

    Survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) juga menunjukkan rendahnya minat baca masyarakat Indoensia.

    Survei yang dirilis pada tahun 2019 itu menyebut, Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara dalam hal literasi.

    Baca: Cara Pemkab Boyolali tumbuhkan minat baca jadi contoh nasional

    Menurut Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqii, hal tersebut menunjukan bahwa Indonesia termasuk dalam 10 negara dengan tingkat literasi terendah.

    Dengan kondisi ini, Komisi X DPR bersama dengan sejumlah mitra mengusulkan sejumlah masukan kepada pemerintah untuk meningkatkan minat baca dan budaya literasi masyarakat Indonesia.

    “Saya prihatin dengan persoalan literasi di Indonesia saat ini, yang berada pada kondisi darurat. Kondisi tersebut disebabkan karena abainya Pemerintah dalam membangun budaya membaca,” ujar Fikri.

    Hal itu diungkapkan Fikri usai memimpin Konsinyasi FGD Komisi X DPR dengan Kemendikbud-Ristek yang bertajuk ‘Darurat Literasi Indonesia: Urgensi Reformulasi dan Sinergi dan Kolaborasi’ di Jakarta, Sabtu (30/08/2023).  

    Baca: Cara mudah menanamkan minat baca sejak dini

    Fikri menambahkan, melalui Panja Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan (PLTP), Komisi X mencatat sejumlah penyebab rendahnya literasi.

    Seperti rendahnya alokasi anggaran, kondisi perpustakaan sekolah yang tidak memadak, bahkan secara umum tidak semua sekolah memiliki perpustakaan.

    Termasuk, jumlah tenaga pustakawan yang tidak sebanding dengan jumlah perpustakaan. 

    Karena itu, tambahnya, Komisi X berharap dengan terselenggaranya FGD dengan sejumlah mitra kerja menghasilkan sejumlah masukan-masukan serta usulan yang dapat meningkatkan kembali budaya literasi di Indonesia.

    Baca: Alasan mengapa tes calistung dihapus dari seleksi masuk SD

    Politisi Fraksi PKS ini mengatakan pihaknya akan mendorong enam kementerian dan lembaga yang mengampu program literasi agar dapat bekerja sama dalam melaksanakan peta jalan pembudayaan literasi yang sungguh-sungguh.

    Ia pun mengharapkan adanya koordinasi antar K/L tersebut, kemudian, Presiden atau pemerintah pusat menunjuk satu di antara K/L tersebut untuk menjadi leading sector.

    Selain itu, Komisi X juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) untuk merespons kondisi darurat literasi dengan membuat program nasional.

    Komisi X juga mendesak pemerintah mengalokasikan anggaran yang memadai untuk Kementerian/Lembaga yang memiliki tugas pokok dan fungsi di bidang pendidikan dan literasi.

    Baca: Cara mudah menumbuhkan motivasi belajar pada anak

    Hal tersebut, menurutnya, penting dilakukan mengingat minimnya alokasi anggaran literasi yang diperoleh oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) RI.

    Diketahui anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI tahun 2024 hanya Rp725 miliar.

    “Adapun anggaran Badan Bahasa yang mengampu program literasi di Kemendikbud Ristek hanya 0,72 persen dari keseluruhan anggaran,” kata Fikri yang juga Ketua Panitia Kerja Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan DPR.

    Dia menabahkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait dalam membuat perencanaan kebutuhan tenaga perpustakaan dan alokasi dalam formasi rekrutmen Aparatur Sipil Negara (ASN) pada tahun 2024.

    Baca: Belajar berempati bisa ditanamkan sejak anak berusia 3 tahun

    “Jumlah tenaga perpustakaan tidak sebanding dengan jumlah perpustakaan. Belum ada skema alokasi kebutuhan tenaga perpustakaan di KemenPAN-RB (Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi) dan BKN (Badan Kepegawaian Negara),” ucapnya

    Di kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpusnas RI Adin Bondar mengatakan sesungguhnya budaya membaca perlu dikuatkan sejak di level dini.

    Minat baca, ujarnya, bisa ditumbuhkan dari keluarga yaitu adanya kontribusi dari masing-masing keluarga.

    Hal itu karena budaya baca di masyarakat perlu ditanamkan, dikembangkan, serta dikuatkan mulai dari satuan pranata sosial terkecil bernama keluarga.

    Menurutnya, banyak keluarga yang kurang menanamkan budaya baca di dalam keluarganya sendiri. Bahkan, seolah menyerahkan sepenuhnya pengembangan pendidikan motorik emosional anak ke satuan pendidikan.

    Baca: Pendidikan montessori makin diminati

  • Infrastruktur Bagus Tapi Minat Baca Masyarakat Indonesia Rendah, Apa Penyebabnya?

    Infrastruktur Bagus Tapi Minat Baca Masyarakat Indonesia Rendah, Apa Penyebabnya?

    7cloud.asia – Sudah menjadi rahasia umum bahwa minat baca masyarakat Indonesia tergolong masih sangat rendah, jika diukur dari tingkat literasi dunia.

    Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca.

    Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

    Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung minat baca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

    Baca: Minat baca dan literasi masyarakat Indonesia rendah

    Menyoroti rendahnya minat baca masyarakat Indonesia ini, anggota Komisi X DPR Bonnie Triyana menekankan pentingnya pemerintah merumuskan kebijakan yang konkret.

    “Minat baca masyarakat sangat rendah artinya harus ada kebijakan konkret dari Perpustakaan Nasional agar bagaimana caranya minat membaca masyarakat ini meningkat tajam”, ujar Bonie dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi X dengan Kepala Perpusnas Indonesia di Gedung DPR, Kamis (24/4/2025).

    Untuk meningkatkan minat baca, Bonnie mengatakan perlu kesadaran bahwa kini ada banyak sekali sumber bacaan dan pengetahuan.

    Buku tidak lagi hanya berupa buku cetak, tetapi juga buku elektronik atau e-book maupun jurnal-jurnal atau hasil riset yang tersedia di berbagai platform terpercaya.

    Baca: Cara mudah menumbuhkan minat baca pada anak

    “Berdasarkan temuan lapangan banyak perpustakaan di daerah yang terbengkalai, ini menunjukkan bahwa pemerintah juga kurang serius untuk meningkatkan minat baca masyarakat”, imbuh Bonnie.

    Lebih lanjut, ia menilai efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah berpotensi mengakibatkan hilangnya 8.400 naskah kuno karena tidak dilakukan preservasi.

    Menurut Bonnie, Indonesia memiliki kelembapan udara yang cukup tinggi khususnya di Perpusnas sehingga berpotensi mempercepat kerusakan naskah kuno.

    “Ada baiknya pemangkasan anggaran selain tidak menganggu pelayanan publik juga tidak menganggu preservasi karena peradaban bangsa terekam dengan jelas melalui naskah kuno yang terancam rusak”, imbuhnya.

     

  • Jumlah Titik Baca di Jakarta Meningkat Pesat

    Jumlah Titik Baca di Jakarta Meningkat Pesat

    7cloud.asia – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta, terus memperluas akses layanan perpustakaan agar dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga kurang mampu.

    “Bukan hanya untuk kelompok yang mampu, tapi juga bagi yang kurang mampu. Salah satunya melalui perpustakaan keliling,” ujar Kepala Dispusip DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono Jumat (8/8/2025).

    Menurutnya, Dispusip juga mengoptimalkan fasilitas perpustakaan di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dengan menambah koleksi buku dan memperbanyak titik baca.

    Jumlah titik baca di Jakarta berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, dari 1.672 titik pada 2022–2024, menjadi 2.403 titik pada 2025. Dispusip DKI Jakarta menargetkan jumlah titik baca mencapai 3.003 titik pada 2026.

    Baca: Minat baca dan literasi masyarakat Indonesia rendah

    Untuk meningkatkan minat baca, Dispusip berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk memberdayakan Karang Taruna. Sejumlah rumah susun (rusun) juga telah memiliki perpustakaan atau pojok baca untuk memenuhi kebutuhan literasi warga.

    “Kami melakukan perawatan dan pengelolaan secara rutin dan berkelanjutan, agar perpustakaan tidak hanya ada secara fisik, tapi juga benar-benar berfungsi,” tandasnya.

    Sebelumnya, anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Abdul Aziz juga mendorong Dispusip memperbanyak fasilitas pojok baca, terutama di rumah ibadah dan kawasan padat penduduk.

    Dikatakan Aziz, keberadaan pojok baca di lokasi-lokasi strategis bisa menumbuhkan minat baca, khususnya di kalangan generasi muda yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai daripada buku.

    “Pekerjaan rumah kita saat ini adalah meningkatkan minat baca dengan menyediakan fasilitas yang mendukung, seperti buku-buku bacaan,” ujar Aziz, Rabu (30/7/2025).

    Baca: Mengenalkan kebiasaan membaca pada anak sejak dini

    Ia menilai, rumah ibadah merupakan lokasi ideal untuk menghadirkan pojok baca karena umumnya memiliki ruang yang cukup luas, terutama di tengah kawasan padat penduduk yang minim fasilitas publik.

    Aziz berharap, anak-anak terdorong untuk meningkatkan literasi sejak dini dengan disediakannya buku-buku yang menarik.

    Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pendekatan kreatif untuk menarik minat baca anak-anak, misalnya melalui kegiatan mendongeng.

    Dia menilai, perlu ada upaya aktif untuk mempromosikan pojok baca agar benar-benar dimanfaatkan masyarakat.