7cloud.asia – Krisis air bersih hampir terjadi setiap tahun di Muara Angke, Jakarta Utara.
Apalagi di saat musim kemarau seperti ini, kekeringan pun terjadi di wilayah Muara Angke. Akibatnya warga harus merogoh kocek hingga Rp400 ribu untuk membeli air.
Seperti yang dialami warga di RW 22 Blok Empang, Muara Angke, Jakarta Utara. Di tempat ini warga hanya mengandalkan suplai dari jeriken air gerobak yang dijual secara keliling untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Baca: Kemarau panjang membuat biaya tanam melonjak
Selain itu warga juga memanfaatkan air sumur yang kondisinya tidak jernih dan berasa asin karena dekat dengan pesisir Jakarta.
“Permasalahan akses air bersih di sini sudah berlangsung selama tahunan,” ungkap Oni, salah satu warga seperti dikutip Antaranews.
Hal senada juga diungkapkan oleh warga lainnya, Udin. Pedagang kerang hijau ini terpaksa membeli air bersih dari pedagang keliling untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Baca: BRIN sebut El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024
“Seharinya bisa habis lima galon air bersih, untuk memasak dan minum, kalau mandi dan nyuci saya biasanya pakai air sumur” jelas Udin.
Kualitas air yang buruk di wilayah ini memaksa warga harus membeli air bersih.
Air sumur tak layak konsumsi sebab bercampur dengan tanah bekas galian dan terdapat banyak kutu air.
Akibatnya mereka mengalami gatal-gatal usai mandi karena menggunakan air sumur. “Air dari sumur resapan berbau menyengat, berminyak, asin. Banyak warga yang terkena penyakit kulit gatal-gatal,” kata Udin.
Baca: Warga diminta hemat air karena musim hujan diperkirakan mundur
Jika ingin air bersih, maka warga harus membeli dengan harga Rp 5000 per jeriken. Dalam satu bulan, warga Muara Angke harus mengeluarkan uang sekitar Rp300 ribu-Rp400ribu hanya untuk membeli air bersih.
Tentu saja kondisi ini memberatkan warga yang mayoritas bekerja sebagai nelayan, pengupas kerang, pedagang asongan atau kuli harian.
Sementara itu, salah satu penjual air bersih keliling, Rizal menjelaskan dalam sehari mampu mengangkut 40 jeriken air untuk dijajakan kepada warga Muara Angke.
Baca: BMKG perkirakan musim hujan 2023/2024 akan mundur
“Biasanya kalau lagi ramai bisa dapat Rp200 ribu tapi kalau sepi paling Rp150 ribu,” kata Rizal yang berdagang air bersih mulai pukul 04.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.
Kualitas air di wilayah ini yang buruk memang tak bisa dipungkiri. Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral menyatakan bahwa 80 persen air tanah di wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta tidak memenuhi standar Menteri Kesehatan No. 492 tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.
Jakarta bagian utara merupakan wilayah terparah di mana secara umum CAT air tanahnya mengandung unsur Fe (besi) dengan kadar yang tinggi serta kandungan Na (Natrium), Cl (Klorida), TDS (Total Dissolved Solids).
Baca: Mentan perkirakan El Nino bisa picu kekurangan beras
Tak hanya itu, air sumur di wilayah ini juga mengandung DHL (Daya Hantar Listrik) yang tinggi akibat adanya pengaruh dari intrusi air asin.
Masalah air bersih ini sebenarnya sudah menjadi perhatian lama pemerintah setempat. Pihak Kelurahan Pluit tengah mengupayakan pipanisasi air agar tersambung dengan aliran air dari PAM Jaya.
“Kami sudah rapat terus intens dengan pihak PAM dan kami akan usahakan secepat mungkin mengenai jalur pipa di Muara Angke,” kata Sekretaris Lurah Kelurahan Pluit Muhamad Djahruddin.
Reporter: Nurakhmayani
