Tag: mudik lebaran

  • BMKG Bersiap Lakukan Modifikasi Cuaca saat Mudik Lebaran

    BMKG Bersiap Lakukan Modifikasi Cuaca saat Mudik Lebaran

    7cloud.asia – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dalam rapat koordinasi bersama Kemenko PMK memprediksi potensi pergerakan masyarakat yang akan melaksanakan mudik Lebaran tahun ini mencapai 193,6 juta orang atau sebesar 71,7 persen dari jumlah penduduk.

    Jumlah pergerakan pemudik tersebut meningkat jika dibandingkan dengan mudik Lebaran tahun 2023 lalu yang hanya 123,8 juta orang.

    Adapun masa puncak arus mudik Lebaran diperkirakan terjadi pada 5-8 April 2024. Sedangkan puncak arus balik akan terjadi pada 13-16 April 2024.

    Karena itu Kemenhub menilai informasi dan upaya kesiapsiagaan penanganan cuaca dan iklim menjadi penting, sehingga masyarakat atau penyedia jasa transportasi bisa mengantisipasi dan memperkecil dampak selama mudik Lebaran.

    Baca: Cuaca ekstrem membayangi mudik Lebaran 2024

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan selama arus mudik Lebaran sejumlah daerah berpotensi mengalami cuaca ekstrem dan gelombang tinggi.

    Karena itu BMKG siap menerapkan teknologi modifikasi cuaca berbasis siaga atau standby on call sebagai bentuk upaya mitigasi cuaca ekstrem, sekaligus mengamankan arus perjalanan mudik Lebaran 2024.

    Daerah manapun yang mengalami cuaca memburuk saat mudik Lebaran, maka di situlah yang akan dilakukan modifikasi cuaca. 

    ” Bila ada status tanggap darurat maka TMC pasti akan dilakukan,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dalam siniar bertajuk “Lebaran Aman, Mudik Ceria Penuh Makna” di Jakarta, Senin (1/4/2024).

    Baca: Kiat mudik Labaran yang ramah lingkungan

    Kebijakan itu, lanjutnya, diambil berdasarkan rapat koordinasi lintas sektoral yang dipimpin Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, yang menilai penerapan TMC standby on call itu menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mengamankan arus mudik Lebaran.

    Pemerintah mengharapkan melalui penerapan modifikasi cuaca maka kondisi cuaca ekstrem saat mudik Lebaran dapat dikurangi sehingga mencgah hal-hal yang tidak diinginkan.

    “Wilayah yang prioritas misalnya Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa (Jawa Barat), Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Papua,” ujarnya.

    BMKG memprakirakan pada fase pertama sepekan sebelum Lebaran (3-9 April 2024), bakal terjadi hujan intensitas sedang-lebat (150 mm – 200 mm). Cuaca ekstrem juga berpotensi meningkatkan gelombang laut mulai dari 1,25 meter -2,5 meter.

    Baca: Makna di balik mudik Lebaran

    BMKG memprakirakan kondisi ini akan terjadi di Samudera Hindia selatan, berimplikasi pada penyeberangan laut di Pelabuhan Merak dan Bakauheni, kemudian Pelabuhan Gilimanuk yang berpotensi banjir rob.

    Karena itu pihaknya berharap pemerintah daerah (pemda) dapat berkomunikasi secara aktif mengenai kebutuhan di daerah menyangkut keamanan cuaca untuk mengamankan arus mudik Lebaran tahun ini.

    Hal ini juga berlaku bila memang daerah membutuhkan modifikasi cuaca.

    “Para pemudik atau penyedia jasa angkutan juga diminta untuk secara aktif melihat informasi dan kondisi cuaca terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan,” ujarnya.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Menggali Makna Mudik Lebaran, Ternyata Sudah Dikenal Lama

    Menggali Makna Mudik Lebaran, Ternyata Sudah Dikenal Lama

    7cloud.asia – Mendekati masa puncak arus mudik Lebaran yang diperkirakan akan terjadi pada 5-8 April 2024, kesibukan makin terlihat baik dari sisi pemudik, perusahaan angkutan maupun pemerintah.

    Meski sedikit merepotkan dan kadang perlu effort dan biaya besar, tradisi mudik tetap saja dilakukan oleh sebagian besar anggota masyarakat.

    Kemenhub) dalam rapat koordinasi bersama Kemenko PMK memprediksi potensi pergerakan masyarakat yang akan melaksanakan mudik Lebaran tahun ini mencapai 193,6 juta orang atau sebesar 71,7 persen dari jumlah penduduk.

    Meski juga dilakukan oleh penganut agama lain, tradisi mudik memang lebih sering sering diidentikkan dengan Hari Raya Idulfitri sehingga lahirlah istilah mudik Lebaran tersebut.

    Mengapa orang selalu berusaha meluangkan waktu untuk mudik Lebaran, dan sejak kapan mudik ini mulai dikenal, artikel ini akan mengulas tentang mudik Lebaran. 

    Secara harafiah mudik diartikan sebagai orang-orang yang merantau atau tinggal di kota atau bukan di kampung halamannya sendiri akan memanfaatkan momen Lebaran untuk pulang kampung bertemu dengan keluarga besarnya.

    Dalam tradisi mudik ini, secara tidak langsung bisa menjadi sarana untuk mengenalkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda.

    Anak-anak yang tumbuh dan besar di kota, setahun sekali menyambangi kampung orangtuanya dan mengenal tradisi di sana.

    Tradisi mudik juga bisa menjadi penggerak roda ekonomi. Mudik menjadi sarana distribusi ‘moda ekonomi’ yang selama ini terakumulais di kota-kota besar.

    Dari catatan Menko ekonomi Kegiatan mudik Lebaran tahun 2022 berpengaruh sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi, khususnya pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di daerah.

    Baca: Kiat mudik ramah lingkungan

    Mari kita berhitung besaran uang yang berputar dari arus mudik Lebaran 2023 yang diperkirakan mencapai hampir 139 juta orang. Jika setiap pemudik menghabiskan Rp 1 juta maka uang yang berputar mencapai Rp 139 triliun. Angka yang tidak sedikit!

    Meski tradisi pulang kampung sudah berlangsung lama, istilah mudik baru ngetren pada tahun 1970-an.

    Di mana mudik diartikan sebagai sebuah tradisi yang dilakukan oleh perantau di berbagai daerah untuk kembali ke kampung halamannya, untuk berkumpul bersama dengan keluarga.

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, kata “mudik” memiliki arti “kembali ke udik” serta “pulang ke kampung halaman”.

    Sementara dalam Bahasa Jawa, mudik berasal dari kata “mulih disik” yang artinya “pulang dulu”. Ini diartikan juga dengan pulang yang hanya sebentar untuk bertemu keluarga setelah lama tinggal di tanah rantau.

    Sedangkan, orang Betawi mengartikan mudik sebagai “kembali ke udik”, di mana dalam bahasa Betawi, “udik” sendiri memiliki arti kampung.

    Tradisi mudik di Indonesia makin berkembang sejalan dengan makin banyaknya anggota masyarakat yang melakukan urbanisasi atau perpindahan masyarakat rural ke urban (perkotaan)

    Dikutip blog.eigeradventure.com, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB Unair) Profesor Purnawan Basundoro menjelaskan bahwa urbanisasi yang kebanyakan dilakukan oleh orang-orang desa ke kota membuat mereka rindu dengan kampung halamannya.

    Urbanisasi sendiri mungkin sudah dimulai usai kemerdekaan, setelah banyak orang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari pekerjaan di kota.

    Mungkin tahun 60-an hingga 70-an di mana Kota Jakarta mulai didatangi oleh orang-orang dari berbagai daerah. Desa diibaratkan sebagai sebuah sumber air, sehingga dalam konteks urbanisasi berarti desa merupakan asal atau sumber dari orang-orang kota.

    Baca: Pemudik diminta waspadai cuaca ekstrem

    Seiring semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang melakukan mudik, pemerintah Indonesia pada tahun 1960-an memberikan perhatian serius pada kegiatan mudik ini. Jalur kereta api yang beroperasi pada masa kolonial akhirnya kembali diaktifkan untuk menampung para pemudik.

    Kemudian memasuki tahun 1980-an, opsi kendaraan masyarakat yang ingin melakukan mudik pun semakin variatif.

    Mulai dari pesawat, kereta api, bus, hingga kendaraan pribadi. Daerah-daerah kampung halaman yang jaraknya jauh, tidak lagi menjadi masalah besar bagi para pemudik yang berasal dari Ibu Kota.

    Ketika pulang kampung, ada beberapa hal yang biasa dilakukan seperti ziarah ke makan para sepuh, takbiran, hingga sungkeman atau mengunjungi rumah sanak keluarga untuk silaturahmi.

    Bersama dengan sanak keluarga dan teman-teman menjadi tradisi yang terjadi dalam mudik di Indonesia.

    Namun selain kegiatan tersebut, biasanya acara makan bersama juga menjadi hal yang lumrah ditemui saat mudik. Momen mudik Lebaran ini sering dimanfaatkan untuk reuni alumni sekolah.

    Sejak jaman Majapahit

    Berdasarkan buku berjudul Pertanian dan Kemiskinan di Jawa (2002), tradisi mudik sangat lekat dengan kebiasaan petani Jawa yang mengunjungi tanah kelahirannya untuk berziarah ke makam para leluhur.

    Bagi mereka, mengunjungi makam leluhur menjadi aspek spiritual penting yang harus dilakukan.

    Mendoakan leluhur dianggap sebagai sebuah kewajiban yang harus mereka tunaikan. Budaya ziarah yang dimiliki masyarakat Jawa tersebut, sebelumnya berasal dari upacara sraddha atau dikenal dengan nyadran.

    Upacara sradda menjadi cikal bakal ziarah yang dilakukan oleh masyarakat Jawa di berbagai daerah.

    Nyadran yang berasal dari upacara tersebut, menjadi sebuah tradisi pembersihan makam yang dilakukan di pedesaan.

    Masyarakat Jawa akhirnya rela melakukan perjalanan jauh hanya untuk melaksanakan kewajiban mereka, yaitu mendoakan dan membersihkan para makam leluhur. Dan dari sini lah istilah mudik menjadi membudaya di kalangan masyarakat Jawa.

    Tapi ternyata tradisi mudik sudah berlangsung jauh sebelum kemerdekaan. Sejarah mencatat tradidi mudik bermula dari kekuasaan Majapahit yang luas hingga Sri Lanka dan Semenanjung Malaya.

    Untuk menjaga wilayah kekuasaannya yang sangat luas, sang raja menempatkan pejabat di berbagai daerah.

    Pada waktu-waktu tertentu, pejabat-pejabat itu pulang untuk menghadap raja dan mengunjungi kampung halamannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Mataram Islam untuk menjaga wilayah kekuasaannya.

    Di Mataram Islam, pejabatnya pulang secara khusus ketika Hari Raya Idulfitri datang. Kedua hal itulah yang menjadi asal usul tradisi mudik di Indonesia.

     

  • Terjadi 175 Kasus Kecelakaan Selama Arus Mudik Lebaran 2025

    Terjadi 175 Kasus Kecelakaan Selama Arus Mudik Lebaran 2025

    7cloud.asia – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengeklaim jumlah kecelakaan dan kecepatan perjalanan arus mudik Lebaran 2025 lebih baik dibandingkan tahun 2024.

    Berdasarkan data yang diperolehnya, Kapolri mencatat jumlah kecelakaan sejak awal arus mudik hingga Jumat, 28 Maret 2025 menurun dibandingkan tahun lalu.

    Aspek lain yang disorot Kapolri adalah soal kecepatan rata-rata perjalanan pemudik yang melintas dari bagian barat Jawa menuju arah timur.

    Sigit menyebut, dari data yang diperolehnya, kecepatan rata-rata dan masyarakat yang masuk mudik juga lebih baik dibandingkan tahun lalu.

    Pada 2024, Korps Lalu Lintas atau Korlantas Polri mencatat ada 1.581 kasus kecelakaan lalu lintas pada masa arus mudik lebaran.

    Baca: Jumlah warga yang mudik Lebaran tahun ini menurun

    Pada H-1 Idul Fitri hingga hari pertama Lebaran Korlantas mencatat 500 kecelakaan, yang menyebabkan 67 orang meninggal.

    Sebelumnya, Juru Bicara Operasi Ketupat 2025, Komisaris Besar Alfian Nurfas memaparkan perkembangan situasi lalu lintas selama masa arus mudik lebaran tahun ini.

    Laporan pada Jumat, 28 Maret 2025 menunjukkan telah terjadi kecelakaan lalu lintas sebanyak 175 kali.

    Adapun 25 orang meninggal dan dua ratus lebih pengendara luka-luka akibat insiden tersebut. Belum diketahui apa saja penyebab dari kecelakaan tersebut.

    Selain korban jiwa dan luka-luka, Alfian juga menjelaskan jumlah kerugian material akibat kecelakaan lalu lintas ini. Besarannya mencapai Rp417,9 juta

    Baca: Meski mahal dan merepotkan warga tetap mudik Lebaran

    “Semua data ini adalah perkembangan situasi lalu lintas dan kecelakaan yang terjadi sejak kemarin,” ujar Alfian melalui keterangan resminya, Jumat, 28 Maret 2025.

    Volume Kendaraan yang Tinggi
    Tercatat sebanyak 102.116 kendaraan di Gerbang Tol Cikampek, 47.547 kendaraan di Gerbang Tol Cikupa, 36.994 kendaraan di Gerbang Tol Ciawi, dan 37.417 kendaraan di Gerbang Tol Kalihurip Utama.

    Kemudian untuk jumlah kendaraan yang masuk Jakarta juga cukup besar, dengan total 110.387 kendaraan.

    Rinciannya melalui Gerbang Tol Cikampek Utama sebanyak 5.391 kendaraan, Gerbang Tol Cikupa sebanyak 46.809 kendaraan, Gerbang Tol Ciawi sebanyak 30.358 kendaraan, dan Gerbang Tol Kalihurip Utama sebanyak 27.829 kendaraan.