7cloud.asia – Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional majelis Ulama Indonesia (MUI) Sudarnoto Abdul Hakim menyesalkan kunjungan cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) ke Israel.
Sudarnoto menyebut, kunjungan cendekiawan Nahdlatul Ulama di tengah agresi militer ke Palestina ini sebagai “perbuatan tercela dan tidak terhormat.”
Dia mengatakan, tidak tahu persis maksud kunjungan cendekiawan Nahdlatul Ulama yang dinilainya “tidak peka” dan “tidak memiliki sensitivitas kemanusiaan.”
“Kalau akal sehat digunakan, bagaimana mungkin pada saat pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh Israel Defense Forces terhadap rakyat Palestina yang tidak pernah berhenti, ada lima aktivis dari Nahdlatul Ulama yang bertemu, melakukan pembicaraan dengan presiden Israel, yaitu presiden dari sebuah negara yang sedang melakukan genosida dan melanggar hukum internasional,” katanya dikutip VOA Indonesia.
Ia menuntut kelima cendekiawan itu untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat dan menyerukan kepada pemimpin PBNU untuk mengambil langkah menyikapi hal ini.
Baca: JK bertemu pimpinan Hamas bahas kondisi Palestina
Tujuan lawatan dipertanyakan
Diwawancarai secara terpisah, Yon Machmudi, pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, menyebut lawatan itu sebagai pukulan terburuk bagi diplomasi Indonesia, dan mencoreng lembaga yang menjadi wadah bagi kelima cendekiawan muda itu.
Yon menggarisbawahi sikap tegas pemerintah Indonesia dan Nadhlatul Ulama, yang senantiasa membela Palestina, dan kini sedang meminta pertanggungjawaban Israel terhadap tragedi kemanusiaan yang sedang terjadi di Gaza.
Tetapi lawatan ini justru dapat dimanfaatkan Israel untuk menunjukkan bahwa di tengah kecaman internasional atas apa yang terjadi di Gaza, ada anak-anak muda dari organisasi massa Islam terbesar di Indonesia yang datang, dan bahkan berdialog dengan presiden mereka.
“Jika dibilang ini bagian dari diplomasi, diplomasi seperti apa yang mau diperjuangkan dalam kondisi hubungan yang sangat timpang,” tanya Yon.
Dia menambahkan, “(pengaruhnya bagi Indonesia adalah) dari sisu diplomasi, (lawatan lima aktivis NU) itu seperti mencoreng kredibilitas Indonesia di mata dunia internasional, etika sikap pemerintah memang sangat tegas terhadap Israel. Dan kita juga tidak ada hubungan dengan negara Israel sehingga kunjungan apapun namanya tidak bisa dilakukan.”
Berbicara pada wartawan di Jakarta, Ketua PBNU Savic Ali menegaskan kunjungan lima cendekiawan muda NU ke Israel itu tidak atas nama organisasinya.
Baca: Peran Rumah Sakit Indonesia untuk rakyat Palestina
PBNU, tambahnya, juga belum mengetahui siapa yang mendukung keberangkatan itu. Yang pasti, Savic Ali menilai langkah ini justru memperburuk citra NU di mata publik.
Ia juga mengonfirmasi kedatangan Dubes Palestina Untuk Indonesia Zuhair Al Shun minggu lalu untuk membahas dampak lawatan tersebut.
“Kemungkinan kunjungan mereka atas nama pribadi. Kita tidak tahu apa tujuannya, dan siapa yang mensponsorinya. Ini yang disesalkan,” ujar Savic Ali.
Sebaliknya, aktivis pro-Israel yang juga pendiri Yayasan Hadassah of Indonesia Monique Rijkers menilai kunjungan kelima cendekiawan muda Nahdlatul Ulama itu tidak perlu dipermasalahkan, bahkan di tengah konflik Israel-Hamas yang sudah berlangsung lebih dari sepuluh bulan ini,
“Orang Indonesia juga perlu mendengar dari sisi Israel. Sebab dalam sebuah peristiwa selalu ada dua sisi.”
“Kalau mereka ke sana (Israel), mereka bisa bertemu dengan orang-orang yang menjadi korban. Cendekiawan NU ini bisa melihat langsung lokasi-lokasi kibbutz korban teror Hamas,” ujarnya.
Sumber:VOA Indonesia
