Tag: Naik Dango

  • Mengenal Tradisi Naik Dango di Kalangan Masyarakat Adat Dayak Kanayatn

    Mengenal Tradisi Naik Dango di Kalangan Masyarakat Adat Dayak Kanayatn

    7cloud.asia – Masyarakat adat Dayak di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat memiliki kearifan lokal bernama tradisi Naik Dango

    Tradisi Naik Dango ini dilaksanakan dengan ritual menyimpan padi di dango sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil alam yang melimpah.

    Hingga kini, tradisi Naik Dango terus dirawat dan bahkan menjadi atraksi wisata yang menarik pengunjung.

    “Naik Dango merupakan sebuah prosesi menyimpan seikat padi yang baru selesai dipanen di dalam dango atau lumbung padi,” ujar Ketua Panitia Naik Dango Kecamatan Sungai Ambawang, Petrus Muntai, di Sungai Ambawang, Sabtu (20/4/2024) seperti dikutip Antaranews.com 

    Ditambahkan Petrus jika tradisi Naik Dango merupakan wujud rasa syukur atas hasil panen padi dan berharap kelimpahan hasil panen di tahun berikutnya.

    Naik Dango menjadi satu di antara tradisi, adat istiadat dan kebudayaan yang ada di Dayak Kanayatn, sehingga harus dilestarikan dan dipertahankan dari generasi ke generasi.

    Baca Juga: Mengenal Tradisi Manugal Banih Patawungan di Kalangan Masyarakat Dayak

    Dilansir laman resmi kemendikbud.go.id, tradisi Naik Dango dilaksanakan setahun sekali setiap bulan April yang bertempat di rumah betang, rumah adat khas Suku Dayak.

    Upacara adat Naik Dango yang juga dikenal dengan Gawai Dayak merupakan bentuk kearifan lokal suku Dayak Kanayatn yang merupakan perkembangan dari pertunjukan kesenian.

    Naik Dango masih dilaksanakan masyarakat di beberapa wilayah di Kalimantan Barat, seperti Kabupaten Mempawah, Kabupaten Landak, Kabupaten Kubu Raya, Pontianak, hingga Kabupaten Sanggau.

    Upacara adat Naik Dango berasal mitos di kalangan orang Dayak Kanayatn mengenai asal mula tanaman padi yang berasal dari setangkai padi milik Jubata di gunung bawang.

    Suatu hari, setangkai padi milik Jubata dicuri seekor burung pipit dan jatuh ke tangan Ne Jaek yang saat itu sedang mengayau.

    Sejak saat itu, manusia yang dalam bahasa Dayak disebut Talino mulai mengenal padi sebagai makanan pokok mereka.

    Baca Juga: Tradisi Perang Ketupat, Wujud Rasa Syukur Warga Bali atas Kesuburan Tanah

    Tujuan Upacara Adat Naik Dango Upacara adat Naik Dango memiliki tujuan untuk menghaturkan rasa syukur terhadap Nek Jubata atau Sang Pencipta atas berkah berupa hasil panen padi. Selain itu, Naik Dango juga memiliki maksud agar hasil panen di tahun berikutnya bisa berlimpah. 

    Sesuai tradisi nenek moyang Dayak Kanayatn, Naik Dango akan diawali dengan pertemuan masyarakat setelah panen untuk merencanakan ritual.

    Setelah waktu ritual diputuskan, setiap keluarga akan melaksanakan kegiatan batutu’, dengan memasak semacam makanan beras ketan yang dimasak di dalam bambu berukuran besar dan tumpi (semacam roti cucur).

    Tidak lupa setiap keluarga juga akan menyediakan seekor ayam yang masih hidup. Bahan-bahan tersebut kemudian dibawa ke dalam lumbung padi (dango) oleh setiap kepala keluarga masyarakat dayak yang bertani atau berladang.

    Di dalam dango, dilakukan upacara nyangahatn atau disebut juga barema, di mana doa-doa dari pamane atau tetua adat teruntai kepada sang pencipta atau Nek Jubata.

    Baca Juga: Menggali Makna Tradisi Sebar Apem Yaa Qowiyyu di Jatinom Klaten Jawa Tengah

    Pada hari pelaksanaan Naik Dango, akan dilakukan ritual nyangahatn sebanyak 3 kali ditempat yang berbeda.

    Pertama, nyangahatn diadakan di sami atau pelataran utama yang ada di radank dengan tujuan untuk memanggil jiwa atau semangat padi yang belum datang agar menuju ke rumah adat.

    Kedua, nyangahatn dilakukan di baluh atau langko (lumbung padi) untuk mengumpulkan semangat padi yang tadinya telah dipanggil agar di lumbung padi atau dango.

    Ketiga, nyangahatn dilakukan di pandarengan atau sejenis tempat penyimpanan beras besar untuk memberkati padi yang telah dipanen agar dapat bertahan dalam waktu yang lama serta tidak cepat habis.

    Selanjutnya, padi yang disimpan di dalam dango nantinya akan dijadikan bibit untuk ditanam bersama-sama dan sisanya menjadi cadangan pangan untuk masa-masa paceklik. 

    Puncak tradisi Naik Dango adalah saat dilakukannya nyangahatn. Dalam proses nyangahatn terdapat prosesi tingkakok nimang padi, yang menjadi simbol proses turunnya padi dari Jubata kepada manusia.

    Baca Juga: Tradisi Idul Fitri atau Lebaran yang Hanya Ditemukan di Indonesia

    Dalam tingkakok nimang padi, padi dari hasil panen setiap tahun akan dibawa ke lumbung padi dengan iringan tari-tarian. Prosesi ini menunjukkan ungkapan terima kasih dan rasa syukur yang mendalam atas berkat panen yang diberikan.

    Setelah para tetua adat melakukan ritual nyangahatn, masyarakat adat dari berbagai sub Suku Dayak Kanayatn dari berbagai kampung atau pangayokng akan menyerahkan hasil panen dengan ragam atraksi yang dihantar oleh para pemuda dan tokoh adat setempat.

    Ketua DAD Kecamatan Sungai Ambawang, Daniel Saputra, menambahkan jika pihaknya selalu berupaya berkoordinasi dengan para pengurus adat di setiap desa dan kepesirahan, untuk memberikan kontribusi pada kegiatan adat Naik Dango di Kecamatan Sungai Ambawang ini.

    “Kami selalu berusaha berkoordinasi bersama para pengurus adat di desa-desa di tiap kepesirahan dan berusaha berkontribusi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat adat istiadat, budaya dalam perkembangannya,” ujar Daniel.

    Pihaknya juga terus besinergi bersama pihak terkait guna menjaga ketenteraman dan berupaya memberikan yang terbaik bagi masyarakat adat dengan berkoordinasi untuk keperluan pengurus adat seperti Naik Dango Sungai Ambawang.

    Esti Utami, dari berbagai sumber