7cloud.asia – Kebun Raya Cibodas di Cianjur Jawa Barat kembali membuka rumah kaca Nepenthes sebagai wahana edukasi untuk masyarakat umum pada Kamis (19/12/2024) lalu.
Rumah Kaca yang berfokus pada konservasi tanaman kantung semar Nepenthes dataran tinggi ini memiliki 80 jenis Nepenthes (180 individu) yang terbagi menjadi beberapa kelompok.
Sebanyak 80 jenis Nepenthes ini antara lain berasal dari Sumatra (30 jenis), Jawa (2 jenis), Kalimantan (8 jenis), Sulawesi (8 jenis), Papua (2 jenis), dari luar Indonesia (15 jenis), dan hibrida (15 jenis).
Selain Nepenthes, terdapat juga 7 marga tumbuhan karnivora lainnya, seperti Cephalotus, Sarracenia, Dionaea, Utricularia, Pinguicula, Drosera, dan Heliamphora.
Keberadaan Rumah Kaca Nepenthes yang mulai dirintis sejak 2009 berkat bekerjasama BRIN dan Komunitas Tanaman Karnivora Indonesia (KTKI) di Kebun Raya Cibodas ini memiliki keterwakilan jenis kantong semar dataran tinggi yang ada di Indonesia.
Baca: Ratusan jenis lumut menjadi kekayaan tersembunyi Gunung Gede
Rumah kaca ini juga menjamin kelestarian kantong semar melalui berbagai upaya perbanyakan dan penelitian di Kebun Raya Cibodas.
Nepenthes adalah tumbuhan karnivora atau pemakan serangga yang membentuk genus Nepenthes dan termasuk dalam famili monotipik Nepenthaceae.
Melansir wikipedia.com, terdapat setidaknya 130 spesies Nepenthes di seluruh dunia. Jumlah ini tidak termasuk Nepentes jenis hibrida alami maupun buatan.
Genus ini merupakan tumbuhan karnivora yang banyak ditemukan di kawasan tropis Dunia Lama, seperti Indonesia, China bagian selatan, Indochina, Malaysia, Filipina, Madagaskar bagian barat, Seychelles, Kaledonia Baru, India, Sri Lanka, dan Australia.
Sementara, habitat Nepenthes di Indonesia dengan spesies terbanyak bisa ditemukan di pulau Kalimantan dan Sumatra.
Baca: Puluhan jenis Ficus menjaga ekosistem Hutan Sanggabuana
Menurut data IUCN Red List, terdapat 27 jenis kantong semar yang terancam punah, 4 di antaranya merupakan jenis dengan status konservasi Critically Endengered (CR; kritis) dan 4 lainnya berstatus Endengered (EN; terancam).
Sebanyak 37 persen tanaman Nepenthes yang ada di dunia merupakan jenis yang terancam punah dengan sebaran yang sangat terbatas, seperti hutan sekunder, hutan rawa, dan hutan kerangas sehingga keberadaannya harus dilestarikan.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya, dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, tumbuhan Nepenthes termasuk tumbuhan yang harus dilindungi keberadaanya.
Direktur Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN, Ratih Damayanti mengatakan, 80 jenis Nepenthes yang ada di sana memiliki karakter dan keunikan masing-masing serta memiliki manfaat yang berbeda-beda.
Menurutnya, Rumah Kaca Nepenthes ini adalah kemajuan yang sangat luar biasa karena jenis-jenis yang ada di sini sebagian besar dilindungi.
Baca: Alih fungsi lahan mengancam populasi owa Jawa di Hutan Sanggabuana
”Kita juga bisa memberikan pelajaran dan pengajaran kepada generasi muda bahwa ada jenis atau famili tanaman yang memiliki peran sangat besar terhadap ekosistemnya,” ujar Ratih sebagaimana dikutip dari brin.go.id.
Dia berharap, ke depan BRIN akan dapat menyusun panduan atau buku katalog terkait karakter unik dari masing-masing jenis Nepenthes yang ada,
”Sehingga dapat memberikan edukasi bagi siswa siswi maupun masyarakat luas tentang tanaman Nepenthes, serta memasukkan unsur lima tusi kebun raya di dalamnya,” pungkas Ratih.
Adapun rumah kaca Nepenthes pertama kali diresmikan bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-162 Kebun Raya Cibodas yang jatuh pada 11 April 2014. Rumah kaca Nepenthes ini dibangun karena tanaman tersebut memiliki nilai konservasi yang sangat tinggi.


