Tag: nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia

  • Dibutuhkan 5,4 Juta Lebih Telur Nyamuk Aedes Aegypti Ber-Wolbachia untuk Pengendalian DBD di Bandung

    Dibutuhkan 5,4 Juta Lebih Telur Nyamuk Aedes Aegypti Ber-Wolbachia untuk Pengendalian DBD di Bandung

    7cloud.asia – Sebanyak 5,4 juta lebih telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia, per pekan dibutuhkan untuk uji coba pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bandung, Jawa Barat.

    Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Maxi Rein Rondonuwu menjelaskan kebutuhan telur nyamuk tersebut akan dikirim dari insektarium Universitas Gajah Mada atau Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga.

    Melansir Antaranews, Maxi mengungkapkan uji coba pengendalian DBD di Kota Bandung dilakukan karena kasus DBD di Kota Bandung merupakan kasus terbanyak di Indonesia.

    Baca: Satu anak meninggal dalam kasus DBD di Tasikmalaya

    “Tahun 2024 di pekan ke-10, kasus dengue terlaporkan sebanyak 27.852 kasus dan kematian sebanyak 250 kematian. Kota Bandung merupakan kota dengan kasus dengue tertinggi di Indonesia mencapai 1.301 kasus dan kematian yang cukup tinggi, tujuh kematian,” ungkapnya.

    Dalam pertemuan koordinasi pilot project teknologi Wolbachia dengan Pemkot Bandung, Senin (18/03/2024), disampaikan kebutuhan telur nyamuk ber-Wolbachia berdasarkan luas lahan Kota Bandung 129 kilometer persegi diperkirakan mencapai 5.410.000 telur per pekan.

    Selanjutnya Maxi menjelaskan dibutuhkan 20.782 titik penitipan ember yang menjadi sarang perkembangbiakan telur. Hal ini perlu dilakukan agar sebaran nyamuk ber-Wolbachia efektif.

    Baca: Kasus DBD di Jakarta Selatan naik hingga 100 persen lebih

    Selain itu, Kemenkes juga akan memanfaatkan citra satelit untuk memposisikan ember di lokasi yang tepat dengan merekrut masyarakat setempat sebagai orang tua asuh pelaksanaan uji coba nyamuk ber-Wolbachia.

    Sesuai panduan yang diterbitkan Peneliti Pusat Kedokteran Tropis UGM, metode pelepasan nyamuk ber-Wolbachia dilakukan menggunakan ember berisi air bersih yang tersimpan 250 hingga 300 telur nyamuk dengan angka penetasan telur sekitar 90 persen.

    Setiap ember diletakkan pada jarak 75 meter per segi. Jumlah ember berisi telur nyamuk minimal harus mencapai 10 persen dari populasi Aedes aegypti di daerah tersebut.

    Penyebarannya dilakukan sebanyak 12 kali. Satu kali penyebaran diasumsikan hanya 1 persen dari populasi nyamuk.

    Baca: Kasus DBD di Indonesia naik hingga 2 kali lipat

    Universitas Gajah Mada, Yayasan Tahija dan Monesh University bekerja sama melakukan inovasi Program penanggulangan dengue berteknologi nyamuk ber-Wolbachia selama kurang lebih 10 tahun.

    Wolbachia adalah bakteri alami, simbion yang umum ditemukan di hewan arthropoda, dengan mekanisme menghambat replikasi virus dengue yang diperankan oleh Wolbachia.
    Hasil penelitian tersebut mampu menurunkan 77 persen incidence rate (IR) dengue dan mengurangi risiko perawatan di rumah sakit sebesar 86 persen.

    Atas pertimbangan itu, Kemenkes mengadopsi teknologi Wolbachia dengan menerbitkan Kepmenkes Nomor 1341 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Pilot Project Teknologi Wolbachia di lima kota yaitu Semarang, Bontang, Jakarta Barat, Kupang, dan Kota Bandung.

    Reporter: Nurakhmayani