Tag: oposisi

  • Paslon 02 Menang dengan Cara Tuna Etika, Sivitas Akademika UII Serukan Pembangkangan Sipil

    Paslon 02 Menang dengan Cara Tuna Etika, Sivitas Akademika UII Serukan Pembangkangan Sipil

    7cloud.asia – Sejumlah sivitas ackademica Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta melakukan aksi tabur bunga sebagai peringatan atas matinya demokrasi Republik Indonesia, Kamis (14/3/2024).

    Aksi tabur bunga bertempat di depan Gedung Auditorium Prof KH Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII, Sleman, DIY.

    Aksi dilakukan para dosen, guru besar, jajaran dekanat, alumni dan dipimpin langsung oleh Rektor UII, Fathul Wahid.

    Para sivitas UII sepakat dengan pandangan ahli dan lembaga independen terpercaya yang menilai bahwa Pemilu 2024 merupakan yang terburuk sepanjang sejarah Indonesia.

    Sekalipun tampak damai dan aman di permukaan, tapi nyatanya dimanipulasi elite politik dan kelompok oligarki, memperdaya masyarakat demi dukungan politik elektoral.

    “Pemilu, sebagai salah satu pilar utama demokrasi, telah ambruk dan sekadar menjadi sarana pelanggengan kekuasaan politik dinasti Presiden Jokowi,” ujar Rektor UII Fathul Wahid.

    Baca:  Ajukan gugatan Tim Ganjar-Mahfud minta MK tak hanya fokus pada perolehan suara

    Melihat situasi di atas, lanjut Fathul, UII merasa memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk terus berjuang menegakkan Indonesia agar berjalan di atas dasar konstitusi dan menghormati hak asasi manusia.

    Maka dari itu, sebagai bentuk tanggung jawab moral, historis, dan oposisi mereka menyerukan sejumlah hal.

    Pertama, menuntut seluruh penyelenggara negara menjunjung tinggi etika berbangsa dan bernegara, menghormati hak dan kebebasan warga negara, dan mengembalikan prinsip independensi peradilan.

    Kedua, mengingatkan pejabat negara dengan tugas konstitusional yang mereka miliki untuk mencerdaskan kehidupan bangsa demi tercapainya masyarakat yang sejahtera, beradab, adil, dan makmur.

    Ketiga, mendorong partai politik untuk menjaga independensinya sehingga berdaya dalam menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dan mampu menjalankan perannya untuk membangun etika dan budaya politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

    Keempat, mendesak partai politik yang kalah dalam Pemilihan Presiden 2024 ini untuk menjadi oposisi penyeimbang yang berpegang teguh pada etika berbangsa dan bernegara, serta menjunjung tinggi Konstitusi dan hak-hak asasi manusia.

    “Partai menggunakan hak angket dan mencari langkah politik dan hukum lainnya sebagai penghukuman terhadap Presiden Jokowi yang terbukti mengkhianati Reformasi 1998 dan telah melakukan praktik korupsi kekuasaan secara terbuka,” tutur Fathul.

    Baca: Timnas AMIN tak akan biarkan kecurangan Pemilu 2024 berlalu tanpa catatan

    Kelima, mengajak seluruh elemen masyarakat agar kembali sadar dengan memboikot partai politik yang menjelma menjadi penghamba kekuasaan dan uang serta secara terang-terangan mengkhianati tugas utamanya sebagai pelaksana kedaulatan rakyat.

    Keenam, meminta lembaga-lembaga negara sesuai tugasnya seperti KPU, Bawaslu, DKPP, dan Ombudsman Republik Indonesia untuk mengusut semua kecurangan pemilu.

    “Termasuk yang dilakukan Presiden Jokowi, pada masa sebelum, ketika, dan sesudah pemungutan suara. Pemilu harus menjadi sarana menghasilkan pemerintahan yang absah atau legitimate,” sambungnya.

    Terakhir, menyerukan kepada aktivis masyarakat sipil untuk melakukan pembangkangan sipil dan menolak menjadi bagian dari kekuasaan yang direbut dengan berbagai muslihat tuna etika.

    Sivitas akademika UII juga menyerukan kepada para tokoh kritis nasional agar bersatu dan membangun oposisi permanen melawan rezim politik dinasti yang menjadi predator pemangsa dan pembunuh demokrasi di Indonesia.

     

    Tabur bunga dilakukan di atas sebuah replika keranda berwarna hitam dan bertuliskan ‘demokrasi’.

    Baca: Masyarakat sipil gagas class action sikapi kecurangan Pemilu 2024

    Setelahnya, keranda diangkut oleh perwakilan dosen dan mahasiswa. Aksi hari ini didahului pembacaan orasi oleh perwakilan kampus dan pernyataan sikap UII ‘Kematian Demokrasi di Indonesia’.

     

    Rangkaian acara ini berlangsung 30 hari setelah pemilu serentak 2024 pada 14 Februari kemarin. Acara dimulai tepat pukul 14.14 WIB.

    Dalam pernyataan sikap yang dibacakan Fathul itu, disebutkan sejak awal pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), tanda-tanda kematian demokrasi sudah terasa.

    Pernyataan sikap itu menyatakan banyak yang tak merasakan tanda-tanda kematian demokrasi, karena saking halusnya gerakan itu.

    Fathul mengatakan segregasi sosial yang tercipta sejak 2014 hingga sekarang dengan label kadrun versus kampret telah terbukti menjadi sarana ampuh untuk melumpuhkan struktur demokrasi.

    Lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikebiri, kemudian pengkritik pemerintah diseret ke meja hijau hingga dijebloskan ke penjara.

    Baca: Parlemen Jalanan akan terus digulirkan untuk hadang rezim hasil politik dinasti

    Fathul melanjutkan, upaya membunuh demokrasi lainnya adalah tindakan ‘main kasar konstitusional’. Contohnya, amandemen terhadap UU KPK, UU Minerba, dan UU MK, serta pengesahan UU Ciptaker yang seakan-akan dilakukan secara konstitusional.

    “Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah manipulasi jalur dan mekanisme konstitusional. Kasarnya permainan itu dilanjutkan dengan memunculkan gagasan tiga periode dan perpanjangan masa jabatan presiden tanpa pemilu,” tutur Fathul.

    “Tindakan paling kasar adalah mengintervensi Mahkamah Konstitusi untuk meloloskan putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, sebagai calon wakil presiden,” lanjutnya.

    Bagi civitas UII, hal-hal tersebut adalah serangan terhadap independensi lembaga peradilan sekaligus pengkhianatan terhadap amanat Reformasi 1998. Kata Fathul, fakta pahit bahwa demokrasi mati di tangan Jokowi setelah Indonesia 26 tahun melewati reformasi.

    “Demokrasi sebagai kesepakatan publik yang suci telah mati di tangan Presiden Jokowi,” ujar Fathul.

    Sumber: CNN Indonesia

     

  • Ray Rangkuti: Jika Setia pada Narasi Perubahan Seharusnya Nasdem Jadi Oposisi

    Ray Rangkuti: Jika Setia pada Narasi Perubahan Seharusnya Nasdem Jadi Oposisi

    7cloud.asia – Pengamat Politik Ray Rangkuti mengkritik dukungan Partai Nasdem untuk pemerintah Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka periode 2024-2029.

    Menurut Ray Rangkuti, jika Nasdem yang dipimpin Surya Paloh itu setia pada narasi perubahan seharusnya Nasdem berada di luar pemerintahan atau menjadi oposisi.

    “Kalau Nasdem setia pada jargon perubahan, ya mereka mestinya partai yang mendeklarasikan pertama kali sebagai oposisi karena jelas-jelas Nasdem itu berbeda dengan koalisinya Pak Prabowo,” kata Ray dalam acara laporan tahunan PBHI di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (26/4/2024).

    Diketahui, di Pilpres 2024 Nasdem berada dalam Koalisi Perubahan bersama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

    Baca Juga: Pengamat: Sebagai Oposisi PDI Perjuangan Jaga Iklim Demokrasi Indonesia

    Koalisi Perubahan mendukung Anies Baswedan yang diusung Nasdem sebagai calon presiden. Belakangan Anies berpasangan dengan Muhaimin Iskandar.

    Sementara itu, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka merupakan pasangan calon yang diusung oleh Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang terdiri dari Gerindra, Partai Golkar, PAN, Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Gelora, dan PSI.

    Pasangan Prabowo-Gibran membawa narasi keberlanjutan dari kebijakan yang telah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Misalnya, pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

    Menurut Ray, jika Nasdem mendukung pasangan Prabowo-Gibran artinya mereka mendukung kebijakan lanjutan tersebut. Termasuk, kebijakan Prabowo-Gibran yang akan memberi makan siang dan susu gratis.

     

    Baca Juga: KPU Tetapkan Prabowo-Gibran Menjadi Presiden-Cawapres Terpilih, Organisasi Masyarakat Sipil Cemaskan Kebebasan Berekspresi

    “Sekarang kalau mereka masuk ke dalam (pemerintahan), ya artinya mereka menerima IKN, menerima makan siang gratis, dan seterusnya,” ujar Ray.

    “Jadi kalau dari jargon jelas ini bukan pertemuan yang tepat, ini adalah pertemuan yang dipaksakan. Apa yang memaksa mereka bertemu, nah kepentingan pragmatis politik,” katanya lagi.

    Ray lantas menduga, ada kepentingan yang ingin dicapai Partai Nasdem atas pernyataan dukungan terhadap pasangan Prabowo-Gibran.

    “Mungkin Nasdem mengejar jabatan menteri, dan tentu saja hal-hal lain di luar menteri dan itu juga ditawarkan oleh Pak Prabowo,” ujar Ray.

    Baca Juga: Tak Melulu Mengejar Kekuasaan, PDI Perjuangan Persilahkan Jokowi dan Gibran Pindah ke Golkar

    Diberitakan sebelumnya, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh menyatakan bahwa partainya resmi mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran.

    Hal ini disampaikan Surya Paloh saat mengunjungi Prabowo di rumah pribadinya, Jalan Kertanegara, Jakarta pada 25 April 2024.

    “Nasdem hari ini menyatakan kembali menegaskan mendukung pemerintahan baru di bawah Prabowo-Gibran,” kata Surya Paloh.

    Sumber: Kompas.com

  • PDI Perjuangan: Oposisi Dibutuhkan Demi Demokrasi yang Berkualitas

    PDI Perjuangan: Oposisi Dibutuhkan Demi Demokrasi yang Berkualitas

    7cloud.asia – Politisi Partai Demokrasi Indonesia atau PDI Perjuangan Masinton Pasaribu mengatakan oposisi dalam pemerintahan diperlukan untuk mengontrol kekuasaan

    Menurut dia, istilah oposisi merupakan bagian dari demokrasi yang berkualitas. Sejumlah kalangan juga menyarankan PDI Perjuangan jadi oposisi jika memang Prabowo benar-benar dilantik menjadi presiden.

    Di mana harus terdapat sistem kontrol pengawasan melalui sikap kritis agar pemerintahan berjalan efektif dan bermanfaat bagi rakyat.

    “Demokrasi butuh penyeimbang dan kontrol terhadap kekuasaan itu karena kekuasaan kalau tanpa ada kontrol yang terjadi bisa semena-mena,” kata Masinton dalam diskusi daring bertajuk Demokrasi Tanpa Oposisi yang dipantau di Jakarta, Sabtu (4/5/2024).

    Baca: PDI perjuangan anggap Jokowi dan Gibran sebagai-masa-lalu

    Untuk itu apabila nantinya PDI Perjuangan berada di kursi oposisi, Masinton menegaskan pihaknya tidak hanya sekadar berbeda pendapat dengan pemerintah, tetapi memberikan berbagai alternatif kebijakan.

    Langkah tersebut sebelumnya telah dilakukan PDI Perjuangan pada masa pemerintahan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono selama 10 tahun.

    Kala itu, PDI Perjuangan konsisten berada di luar pemerintahan dan aktif memberikan berbagai alternatif kebijakan yang bisa dinilai oleh rakyat.

    Baca: Sebagai oposisi PDI Perjuangan akan jaga iklim demokrasi Indonesia

    PDI Perjuangan memberi contoh baik bagi sistem pemeriksaan dan penyeimbang (check and balance) dan kontrol dari luar pemerintahan.

    “Ini juga menjadi bagian dari edukasi dan pendidikan politik rakyat sehingga rakyat juga memiliki berbagai alternatif pandangan yang disajikan, baik oleh pemerintah maupun di luar pemerintah,” ucap dia.

    Namun, ia mengingatkan bahwa berada di luar pemerintahan bukan berarti pihak oposisi membenci atau anti terhadap pemerintah.

    Baca: Tak melulu mengejar kekuasaan PDI Perjuangan persilahkan Jokowi dan Gibran pindah ke-Golkar

    “Itu stigma yang selalu salah selama ini karena kita belum mampu membangun kelembagaan demokrasi, termasuk melembagakan partai-partai politik yang ada di luar pemerintahan,” tutur Masinton.

    Kendati demikian, Masinton mengungkapkan PDI Perjuangan sejauh ini belum menentukan sikap politik akan berada di dalam atau di luar pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

    Dia menyebutkan keputusan itu akan diambil saat Rapat Kerja Nasional PDI Perjuangan pada 24-26 Mei 2024.

    Sumber:Antaranews.com

  • TPN Ganjar-Mahfud Resmi Dibubarkan, Ganjar Deklarasikan Diri Jadi Oposisi

    TPN Ganjar-Mahfud Resmi Dibubarkan, Ganjar Deklarasikan Diri Jadi Oposisi

    7cloud.asia – Calon presiden nomor urut 3, Ganjar Pranowo resmi membubarkan Tim Pemenangan Nasional atau TPN Ganjar-Mahfud pada Senin (6/5/2024) malam di Posko Teuku Umar Nomor 9, Jakarta Pusat.

    Saat berpidato dalam acara halalbihalal Lebaran di hadapan para elite TPN Ganjar-Mahfud dan juga cawapres pendampingnya, Mahfud MD.

    Ganjar meminta izin kepada Ketua TPN Ganjar-Mahfud, Arsjad Rasjid yang duduk di hadapannya bersama jajaran TPN lainnya untuk membubarkan TPN.

    “Maka dengan ini kalau berkenan, ya Mas Arsjad, TPN-nya sebagai institusi harus bubar,” kata Ganjar di hadapan hadirin TPN.

    Dalam kesempatan ini, Ganjar mengumumkan dirinya tidak akan bergabung dengan pemerintahan Prabowo-Gibran. Sikap itu, kata dia, sebagai pengontrol pemerintahan baru dalam menjalankan roda birokrasi.

    “Saya tidak akan bergabung di pemerintahan ini. Tapi saya sangat menghormati pemerintahan ini, dan kami akan melakukan kontrol dengan cara yang benar,” kata Ganjar.

    Baca Juga: PDI Perjuangan: Oposisi Dibutuhkan Demi Demokrasi yang Berkualitas

    Dia menjelaskan menjadi oposisi tak menyurutkan niatnya untuk ikut membantu Indonesia. Dia ingin menunjukkan langkah tersebut menjadi contoh bagi masyarakat mengenai cara menyikapi perbedaan politik pasca Pemilu.

    Ganjar pun meminta kepada semua pihak untuk saling menghargai setiap keputusan yang dilakukan oleh partai politik.

    Baik bergabung ke dalam pemerintahan atau menjadi oposisi. Dia menilai kedua posisi tersebut sama terhormatnya.

    “Sehingga moralitas politiknya ada. Cara berpolitik yang benar mesti naik kelas dan semua sama-sama terhormat. Tidak perlu saling mencibir,” tutur Ganjar.

    Pernyataan Ganjar ini disambut tepuk tangan meriah dari seluruh pendukung yang hadir. Meski begitu, Ganjar menegaskan, semangat TPN Ganjar-Mahfud dalam membangun negeri harus terus dipupuk.

    Sebab, ia melihat banyak orang di TPN dan relawan pendukungnya yang masih ingin melihat Indonesia lebih baik ke depannya.

    Baca Juga: Pengamat: Sebagai Oposisi PDI Perjuangan Jaga Iklim Demokrasi Indonesia

    “Tapi ada beberapa orang yang masih punya komitmen tinggi, kita membuka ruang yang lebih panjang. Karena kita ingin Republik ini berdiri sepanjang masa,” ucap politikus PDI Perjuangan ini.

    Ia lantas mengucapkan terima kasih atas seluruh dukungan dari TPN Ganjar-Mahfud, relawan, beserta seluruh partai politik pengusung.

    Ganjar berharap, semua pendukungnya tetap mengawal berjalannya Indonesia di masa pemerintahan yang baru.

    “Kekuatan yang ada di barisan Ganjar-Mahfud dan partai pengusung termasuk relawan kita juga harus tampil terdepan bicara membereskan itu. Ini cara cara yang harus kita kuatkan,” papar Ganjar.

    Terpisah, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai pembubaran TPN Ganjar-Mahfud bukan lah akhir dari perjuangan.

    Menurutnya, TPN Ganjar-Mahfud kini justru telah berubah menjadi sebuah ide dan gagasan membangun bangsa lebih baik ke depan.

    Baca Juga: Ray Rangkuti: Jika Setia pada Narasi Perubahan Seharusnya Nasdem Jadi Oposisi

    Ganjar dan Mahfud, menurut Hasto akan terus berjuang bagi kepentingan rakyat, bangsa, dan negara.

    Hasto menegaskan, TPN yang bernama Ganjar-Mahfud itu kini akan berfokus pada perjuangan di bidang hukum hingga demokrasi. Perjuangan itu juga akan dilakukan oleh pasangan yang didukung TPN, Ganjar Pranowo-Mahfud MD.

    “Ganjar-Mahfud sekarang menjadi suatu ide, menjadi suatu gagasan bagaimana supremasi dibangun, supremasi hukum,” ujar Hasto.

    Di sisi lain, Hasto menekankan bahwa Ganjar-Mahfud beserta orang-orang di TPN terus berjuang menegakkan pentingnya bangsa dibangun atas prestasi dan menghargai setiap proses.

    Juga meritokrasi dan seluruh gagasan-gagasan keberpihakan kepada rakyat (ditegakkan) melalui suatu budaya berprestasi, melalui suatu proses.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

  • Salah Besar Jika Ada yang Sebut Indonesia Tak Butuh Oposisi; Kritik terhadap Wacana Rekonsiliasi yang Dilontarkan Prabowo

    Salah Besar Jika Ada yang Sebut Indonesia Tak Butuh Oposisi; Kritik terhadap Wacana Rekonsiliasi yang Dilontarkan Prabowo

    7cloud.asia – Wakil Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Ketua MPR Bambang Soesatyo mengatakan mendukung rencana presiden terpilih, Prabowo Soebianto untuk merangkul semua parpol untuk bersatu membangun Indonesia.

    Bamsoet, demikian ia sering disebut, menyampaikan hal ini usai menghadiri acara open house di rumah dinas Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto di Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, pada 11 April 2024.

    “Dan enggak dibutuhkan lagi oposisi. Saya mendukung Pak Prabowo merangkul semua parpol untuk bersatu membangun bangsa ini ke depan. Lebih gampang (check and balance) justru,“ujarnya.

    “Karena kan kalau oposisi bicara pride. Kadang lari dari substansi, tapi kalau satu koalisi bisa bicara dari hati ke hati dan lebih baik untuk masyarakat.”

    Bamsoet juga menyinggung tentang rekonsiliasi politik. Menurutnya, yang dibutuhkan dalam pemerintahan baru adalah demokrasi gotong-royong, sehingga oposisi tidak lagi dibutuhkan.

    Presiden terpilih Prabowo Subianto, menurut Bambang, perlu merangkul semua partai politik untuk masuk ke dalam pemerintahan.

    Baca: Ganjar resmi deklarasikan diri menjadi oposisi

    The Conversation Indonesia menghubungi Yohanes Sulaiman, dosen ilmu pemerintahan dari Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi, Jawa Barat, untuk memeriksa klaim Bambang tersebut.

    Pernyataan Bambang salah besar, oposisi sangat dibutuhkan
    Menurut Yohanes, pernyataan Bambang bahwa oposisi tidak lagi dibutuhkan jelas salah.

    Secara logika, kalau tidak ada oposisi dan semua partai politik ada dalam pemerintahan, tidak akan ada yang berani mengkritik pemerintah, karena mereka akan takut dikeluarkan dari koalisi.

    Padahal, kritik dari oposisi dapat memberikan pandangan alternatif terhadap kebijakan pemerintah yang kiranya bermasalah.

    Jika suatu negara demokrasi seperti Indonesia tidak memiliki kekuatan oposisi, risikonya adalah akan lahir kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat, melainkan hanya melayani kepentingan penguasa.

    Baca: PDI Perjuangan sebut oposisi dibutuhkan untuk demokrasi yang berkualitas

    Selain itu, absennya kubu oposisi akan membuat praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) semakin tidak terkontrol.

    Apa gunanya partai politik jika semua masuk kubu pemerintah?
    Yohanes menambahkan, saat ini, partai politik yang berada di luar pemerintah hanyalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

    Selama beberapa tahun terakhir pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo, kita bisa lihat bagaimana partai-partai koalisi pemerintah justru mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah yang kontroversial, seperti Undang-Undang Cipta Kerja (UUCK).

    Sementara itu, partai oposisi yang jumlah kursinya saja tidak mayoritas di parlemen tidak punya cukup kekuatan untuk menentang atau melawannya.

    Pihak yang berteriak dan mengkritik justru adalah publik. Jadi, apa gunanya partai politik kalau semua tidak ada yang berani mengkritik pemerintah dan hanya mementingkan posisi dalam kabinet?

    Baca: Sebagai oposisi, PDI Perjuangan akan merawat demokrasi yang berkualitas

    Pada periode pemerintahan berikutnya, kemungkinan besar hanya PKS dan PDI-P yang akan menjadi oposisi. Ini saja sebetulnya tidak cukup secara kekuatan di parlemen.

    Idealnya, kubu pemerintah jangan sampai menguasai kursi mayoritas 67%, karena jika mencapai persentase tersebut, UU dan aturan bermasalah bisa mudah digolkan tanpa mempedulikan suara oposisi.

    Yohanes menegaskan, tanpa adanya oposisi, tidak akan ada check and balance dalam tata kelola pemerintahan. Pemerintah akan menjadi korup, otoriter, dan sewenang-wenang, dan demokrasi hanya akan jadi formalitas ala Orde Baru.

    Artikel ini merupakan hasil kolaborasi program Panel Ahli Cek Fakta The Conversation Indonesia bersama Kompas.com dan Tempo.co, didukung oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

     

  • Sandiaga Uno Beri Sinyal Tak Akan Bergabung di Pemerintahan Prabowo- Gibran

    Sandiaga Uno Beri Sinyal Tak Akan Bergabung di Pemerintahan Prabowo- Gibran

    7cloud.asia – Sandiaga Uno, politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memberi sinyal tidak akan menerima tawaran kursi menteri di kabinet Prabowo-Gibran.

    Sandiaga Uno yang pernah menjadi cawapres berpasangan dengan Prabowo Soebianto di Pilpres 2019, menolak secara halus untuk bergabung.

    Menurut Sandiaga Uno yang saat ini menjabat sebagai Menparekraf, sudah saatnya kursi menteri diisi oleh orang-orang dari koalisi Prabowo.

    “Sudah banyak yang lebih berkeringat dari saya. Kemarin kan saya ada di pihak Pak Ganjar dan rasanya sudah saatnya dari koalisinya Pak Prabowo,” tutur Sandiaga Uno setelah menghadiri agenda World Water Forum (WWF) di Bali, Senin (20/5/2024).

    Baca: Salah besar jika ada yang sebut Indonesia tak butuh oposisi

    Meski demikian, Mantan Ketua Badan Pemenangan Pemilu PPP tersebut mengaku akan memberi kontribusi dan doa terbaik.

    Mengenai sikap partainya, PPP terhadap koalisi Prabowo, Sandiaga mengungkap, hal itu akan dibahas melalui proses internal partai.

    “Mungkin di Mukernas atau Rapimnas di tingkat jajaran yang melibatkan semua DPW,” katanya seperti dikutip Kompas.com.

    Baca: Ganjar Pranowo resmi deklarasikan diri sebagai oposisi

    Seperti diketahui, Sandiaga dan PPP mendukung pasangan nomor urut 3 Ganjar Pranowo dan Mahfud MD dalam Pilpres 2024.

    Sedangkan Pemilu dimenangkan oleh pasangan nomor urut 2 yakni Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

    Prabowo Subianto yang telah ditetapkan menjadi presiden terpilih menyatakan akan merangkul semua partai politik untuk masuk ke dalam pemerintahannya.

    Baca: Oposisi dibutuhkan untuk demokrasi yang berkualitas

    Namun, sejumlah kalangan mengingatkan perlu adanya oposisi untuk demokrasi yang lebih berkualitas di Indonesia.

    Lemahnya oposisi, seperti yang ditunjukkan di periode kedua pemerintahan Jokowi dinilai telah melemahkan demokrasi.

    Tak hanya itu, di era ini juga lahir kebijakan yang tak memihak rakyat, sebuat Omnibus law Cipta Kerja pun revisi UU KPK yang melemahkan pemberantasan korupsi di Indonesia.

    Tokoh yang menyatakan akan menjadi oposisi antara lain adalah Ganjar Pranowo, Mahfud Md pun Anies Baswedan.

  • Pengamat: Instruksi Megawati adalah Langkah PDI Perjuangan Menuju Oposisi

    Pengamat: Instruksi Megawati adalah Langkah PDI Perjuangan Menuju Oposisi

    7cloud.asia – Instruksi Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri kepada para kepala daerah dari partainya untuk tidak mengikuti retreat di Akmil, Magelang, Jawa Tengah, dapat dimaknai sebagai pernyataan untuk cenderung melangkah ke arah oposisi.

    “Jika dalam 100 masa kerja Prabowo, geliat oposisi masih moderat, maka kebijakan menarik kader mereka dari retret adalah pernyataan terbuka untuk oposisi keras PDI Perjuangan,” kata Pengamat politik dari Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti mengatakan dilansir Antaranews,com, Jumat (21/2/2025).

    Menurutnya, langkah ini tak hanya sekadar disebabkan penahanan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas perannya dalam perkara dugaan suap pengurusan pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR dan perintangan penyidikan.

    Baca: Megawati instruksikan Kepala Daerah dari PDI Perjuangan tak ikut retreat di Akmil

    Dia menilai, instruksi Megawati ini sebagai reaksi atas pernyataan Presiden Prabowo Subianto sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra sudah seperti mengumumkan perpisahan pemerintah dengan PDI Perjuangan.

    Pasalnya, dalam acara rakernas Gerindra, Prabowo menyanjung Jokowi dan menyatakan tidak semua partai harus dalam satu barisan pemerintah.

    “Pidato dan teriakan hidup Jokowi ini seperti isyarat keras Prabowo bahwa pemerintahan Prabowo lebih memilih berkoalisi dengan Jokowi dibanding dengan PDI Perjuangan,” ujarnya.

    Oleh karena itu, sikap PDI Perjuangan yang sekarang merupakan respons atas pernyataan posisi Prabowo terhadap PDI Perjuangan.

    Baca: Hasto Kristiyanto sebut penjara adalah risiko perjuangan

    Seperti diketahui, Megawati menginstruksikan para kepala daerah yang diusung partainya untuk tidak mengikuti acara pembekalan atau retret yang digelar pada 21–28 Februari 2024 di Akademi Militer (Akmil), Magelang, Jawa Tengah.

    Hal itu termuat dalam surat resmi PDI Perjuangan bernomor 7294/IN/DPP/II/2025 yang ditandatangani Ketua Umum Megawati Soekarnoputri pada hari ini, Kamis (20/2).

    Adapun instruksi tersebut muncul setelah mencermati dinamika politik nasional yang terjadi pada hari ini, khususnya setelah penahanan Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    Usai merilis surat edaran ini, Megawati memanggil sejumlah pengurus partai ke kediamannya di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat.

  • Populisme Prabowo-Gibran: Memperkuat Polarisasi, Menghilangkan Oposisi

    Populisme Prabowo-Gibran: Memperkuat Polarisasi, Menghilangkan Oposisi

    7cloud.asia – Belum ada setengah tahun menjabat, Presiden Prabowo Subianto telah mewarnai negara dengan nuansa populisme yang cukup “merepotkan” publik.

    Mulai dari pembentukan kabinet gemuk, pemangkasan anggaran dan realokasi belanja negara termasuk untuk pendidikan dan riset—guna membiayai program populis Makan Bergizi Gratis (MBG)—hingga meloloskan revisi Undang-Undang (UU) TNI yang memberikan militer lebih banyak ruang di jabatan sipil.

    Kesehatan dan pendidikan tidak dijadikan prioritas. Pemutusan hubungan kerja (PHK) dibiarkan. Namun, militer justru diberi “lowongan kerja” tambahan.

    Pengambilan kebijakan dan koordinasi antarlembaga di tingkat pusat masih serampangan, jauh dari kata musyawarah, hanya mengandalkan sentimen publik sebagai legitimasinya.

    Kecenderungan ini memungkinkan meluasnya polarisasi masyarakat sekaligus meningkatnya pengawasan kepada mereka yang berseberangan suara. Dalam skala yang lebih luas, ini dapat mendorong bangkitnya kembali era otoritarianisme di Indonesia.

    Praktik populisme: Baik atau buruk?
    Cas Mudde, ilmuwan politik asal Belanda, mendefinisikan populisme sebagai sebuah ideologi yang membelah masyarakat menjadi dua kubu, yakni “rakyat murni” yang melawan “elite korup.”

    Menurut Chantal Mouffe, ahli teori politik asal Belgia, populisme kiri merupakan alat demokratisasi yang menantang dominasi elite demi keadilan sosial. Sementara itu, menurut filsuf Inggris Margaret Canovan, populisme kanan cenderung mengusung nasionalisme yang bersifat eksklusif dan anti-imigran.

    Kebijakan populisme memang bisa menawarkan solusi cepat atas ketidakpuasan rakyat, namun seringkali berdampak buruk pada perekonomian negara.

    Di Venezuela, misalnya, mantan Presiden Hugo Chávez membangun [program sosial ambisius](https://www.cfr.org/timeline/venezuelas-chavez-era), tetapi kemudian ekonomi negara tersebut ambruk akibat ketergantungan pada ekspor minyak dan utang luar negeri.

    Contoh lainnya adalah Argentina yang berulang kali mengalami inflasi tinggi akibat kebijakan populis yang mengabaikan keberlanjutan fiskal.

    Di Indonesia, populisme hadir dalam berbagai kebijakan yang populer seperti subsidi besar-besaran atau proyek infrastruktur di daerah.

    Program tersebut dapat menarik dukungan masyarakat terhadap pemerintah, namun membawa risiko besar karena berdampak pada ketahanan ekonomi jangka panjang. Populisme lebih sering menjadi bom waktu yang meninggalkan beban ekonomi dan politik bagi generasi berikutnya.

    Paradoks populisme era Prabowo
    Sejak awal, Prabowo telah melakukan kesalahan orientasi dalam penentuan arah kebijakan. Ia lebih memilih menerapkan program kerja jangka pendek yang memikat segmen masyarakat tertentu saja. Ini termasuk program MBG dan bantuan sosial bansos.

    Populisme semacam ini dapat memantik polarisasi, karena dapat membelah pandangan masyarakat. Ada yang loyalis, ada pula yang apatis, bahkan skeptis dan sinis.
    Polarisasi ini meluas ketika pemerintah memulai agenda efisiensi anggaran dan strategi realokasi sumber daya. Padahal dari awal saja Prabowo membentuk struktur kabinet gemuk, yang sangat bertolak belakang dengan urgensi efisiensi anggaran.

    Lucunya, pemerintah kemudian memandang fragmentasi ini sebagai sesuatu yang lazim, dengan mengklaim secara subjektif bahwa tidak semua hal harus memuaskan semua pihak.

    Kritik dan aspirasi publik seringkali dibingkai sebagai gangguan, seakan publik enggan untuk berkolaborasi dengan pemerintah. Padahal, kritik harusnya menjadi masukan strategis bagi pembuat kebijakan.

    Berbagai studi komparatif politik telah membuktikan bahwa populisme justru menjadi penyebab lahirnya perpecahan di masyarakat.

    Dalam konsep good populism (populisme baik), proses konsolidasi partai-partai politik cenderung lebih cair, sehingga proses pembuatan kebijakan lebih berorientasi pada mekanisme check and balance ketimbang acceptance and rejection.

    Namun, di Indonesia, konsep populisme yang terlihat adalah ketika partai politik berkonsolidasi dan hanya demi memenangkan pemilu. Setelah menang, mereka kemudian hanya mementingkan bagi-bagi jabatan.

    Hilangnya oposisi
    Konsekuensi logis dari berjayanya rezim populis Prabowo tidak hanya menguatnya polarisasi masyarakat, tetapi juga melemahnya kehadiran oposisi.

    Prabowo tampak menempatkan mereka yang berseberangan paham sebagai musuh, ketimbang oposisi dan agen kontrol kebijakan. Contohnya adalah “…yang tidak mendukung hal ini (program MBG) silakan keluar dari pemerintahan yang saya pimpin” yang ia lontarkan pada sidang kabinet paripurna Oktober lalu.

    Prabowo pernah merespons kritik dengan ujaran “ndasmu”. Ini mencerminkan sikap antikritik yang mengikis peran oposisi dalam demokrasi.

    Pernyataan itu bukan sekadar ekspresi emosional, tetapi sinyal bahwa kritik maupun pendapat yang bersebrangan dianggap tidak relevan dalam lanskap politik yang ia bangun. Alih-alih membiarkan oposisi tumbuh, ia justru menciptakan politik akomodasi yang menutup ruang bagi perbedaan.

    Aspirasi publik melalui kekuatan oposisi pun mulai redup. Carut marut problem internal PDI Perjungan sebagai partai oposisi terbesar saat ini hingga kemelut kasus korupsi yang menjerat kadernya, memaksa PDI Perjuangan untuk bermain aman dan minim konfrontasi sebagaimana biasanya.

    Jangankan menunjukkan sikap prorakyat, petinggi PDIP Puan Maharani yang kini menjabat sebagai Ketua DPR RI pun ikut serta meloloskan revisi UU TNI yang kontroversial.

    Pelemahan institusi demokratis seperti parlemen pun kian terlihat. Kontrol terhadap kebijakan pemerintah melemah dan terbias oleh ramainya anggota parlemen berlatar selebritas yang pemenangannya juga didukung oleh basis massa populis.

    Saat eksistensi oposisi melemah, maka rezim populis akan makin memiliki kontrol dominan terhadap proses pengambilan kebijakan yang mementingkan elite. Ini akan mengikis kebebasan di ruang sipil serta memperluas potensi konflik sosial.

    Populisme yang mengancam demokrasi
    Menurut sebuah studi filsafat politik, dalam skema negara populis, identitas rakyat seakan menjadi “penanda kosong”, bukan sebuah unit sosial yang konstan dan stabil.

    Artinya, rakyat hanya menjadi alat untuk mendulang suara dalam pemilu, lalu kondisi rakyat hanya mengikuti proses politik yang dijalankan oleh elite pemerintah saja.

    Dalam konteks ini, rakyat tidak dianggap eksis sebagai pilar utama di dalam negara demokrasi sehingga suara maupun kritiknya tidak perlu didengar.

    Konsep seperti inilah yang menjadi cikal bakal pola otoritarianisme–hanya saja dikemas dalam strategi populis. Program ketahanan pangan, misalnya, terlihat sebagai kebijakan prorakyat.

    Padahal kebijakan ini dapat melanggengkan monopoli sektoral. Lahirnya lembaga yang imun terhadap mekanisme pemantauan publik seperti Danantara juga menjadi kontrol elite yang dibungkus seakan menjadi kebijakan prorakyat.

    Masyarakat harus melawan
    Strategi “pecah belah, lalu kuasai” merupakan strategi utama yang memungkinkan seorang pemimpin populis mendominasi negara.

    Pemimpin populis yang paling sukses adalah mereka yang berhasil melanggengkan perpecahan dan konflik sebagai sarana untuk meraih kuasa.

    Maka dari itu, masyarakat harus mulai menyadari fenomena ini sebagai tantangan bersama dan menyikapi perbedaan yang ada untuk membulatkan suara dan bersatu dalam menolak pemisahan sosial.

    Artikel ini sebelumnya telah terbit di The Conversation, Penulis: Lalu Ary Kurniawan Hardi (Dosen Universitas Airlangga)

  • Demokrasi Butuh Kritik: Masyarakat Mendorong Adanya Peran Oposisi

    Demokrasi Butuh Kritik: Masyarakat Mendorong Adanya Peran Oposisi

    7cloud.asia – Survei nasional Kawula17 pada Q3 2025 menemukan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia menilai keberadaan oposisi sangat penting untuk menjaga keseimbangan kekuasaan.

    Mayoritas masyarakat menilai peran partai politik adalah untuk mengawasi program atau kebijakan pemerintah (63 persen). Setidaknya 4 dari 5 orang menyatakan bahwa pelibatan oposisi dalam pembentukan, pelaksanaan, dan evaluasi kebijakan esensial dalam sistem demokrasi.

    Koalisi Indonesia Maju Plus (KIM Plus) menjadi koalisi terbesar di parlemen dengan 81 persen dari total 580 kursi DPR, menyisakan PDI Perjuangan sebagai satu-satunya partai di luar koalisi.

    Peta politik ini menciptakan situasi di mana hampir tidak ada kekuatan oposisi yang mampu menjadi penyeimbang program dan kebijakan pemerintah.

    Dalam sejumlah Rancangan Undang-Undang yang termasuk dalam Program Legislasi
    Nasional, seperti Revisi KUHAP dan RUU BUMN, posisi partai politik di DPR sangat
    terkonsolidasi.

    Padahal, 61 persen masyarakat tegas menolak Revisi KUHAP yang memperkuat kewenangan aparat tanpa mekanisme pengawasan yang jelas, dan 55 persen menolak kerugian BUMN yang dianggap sebagai risiko usaha, bukan kerugian negara.

    Baca: Populisme Prabowo-Gibran menghilangkan oposisi

    Ketidaksesuaian sikap mayoritas fraksi partai politik di DPR dengan sikap masyarakat juga terlihat pada RUU Kehutanan, dengan 70 persen masyarakat yang menolak kontrol pemerintah, daripada Masyarakat Adat dan komunitas lokal, atas hutan negara.

    Dukungan fraksi partai politik di DPR yang nyaris bulat memperkuat kesan bahwa stabilitas politik justru dibangun dengan mengorbankan keterwakilan rakyat.

    “Kita melihat bagaimana stabilitas digunakan sebagai alasan untuk menghapuskan perbedaan pandangan. Padahal, demokrasi yang matang justru membutuhkan ruang bagi ketidaksetujuan,” ungkap Maria Angelica, Program Manager Kawula17 dalam keterangan tertulisnya kepada 7cloud.asia

    Pernyataan ini sejalan dengan pandangan Lili Romli, Peneliti Senior Bidang Politik BRIN,
    yang menilai bahwa ketiadaan oposisi akan menurunkan kualitas demokrasi karena tidak
    adanya mekanisme control dan check and balances.

    Ketimpangan koalisi di parlemen tercerminkan dari kuatnya pengaruh Presiden Prabowo
    sebagai Ketua Umum Gerindra, sebagaimana disampaikan Peneliti CSIS, Dominique Nicky
    Fachrizal.

    Dia mengatakan, dengan posisi Gerindra yang begitu dominan di parlemen, partai ini pada dasarnya menjadi operator politik yang memastikan program pemerintah dan rancangan undang-undang berjalan sebagaimana diarahkan.

    Baca: Salah besar jika ada yang sebut Indonesia tak butuh oposisi

    Dominasi tersebut membuat koalisi tidak benar-benar efektif. Pada akhirnya, fungsi koalisi menjadi lemah karena seluruh arah kebijakan cenderung mengikuti kehendak presiden.

    Masyarakat sebagai Oposisi
    Dalam situasi politik yang hampir tanpa oposisi, masyarakat sipil kini mengambil peran
    sebagai penyeimbang kekuasaan. Sebanyak 68 persen menyatakan bahwa masyarakat merasa menjadi pihak yang aktif mengawasi jalannya pemerintahan.

    “Fenomena ini memperlihatkan tumbuhnya kesadaran publik bahwa partisipasi warga adalah bentuk pengawasan yang esensial terhadap kebijakan negara, sekaligus menandakan melemahnya fungsi representasi politik di parlemen.” ujar Angelica.

    Idealnya, aspirasi rakyat disuarakan oleh wakil mereka di DPR. Namun, realitas politik hari ini memperlihatkan jarak yang kian lebar antara masyarakat dan legislatornya.

    Hal ini terlihat dari posisi partai politik di Senayan yang kerap tidak sejalan dengan aspirasi masyarakat terhadap sejumlah RUU dalam Prolegnas.

    “Parlemen berhenti menjadi ruang diskusi dan berubah menjadi ruang persetujuan, sehingga memaksa masyarakat untuk mengambilalih peran oposisi itu,” tambah Angelica.

    Baca: Ganjar Pranowo resmi deklarasikan diri jadi oposisi

    Di sisi lain, sebanyak 54 persen masyarakat dalam survei NKS Q3 2025 menilai bahwa peran
    oposisi yang aktif dibutuhkan untuk menjaga arah program dan kebijakan pemerintah
    agar tetap berpihak pada rakyat.

    “Tanpa oposisi yang aktif di parlemen, demokrasi berisiko kehilangan salah satu pilarnya: kemampuan untuk mengoreksi diri,” tegas Angelica.

    Kawula17 menilai absennya oposisi tidak hanya berdampak pada politik praktis, tetapi juga pada kualitas demokrasi secara keseluruhan. Ketika kebijakan publik disusun tanpa kritik atau perdebatan yang memadai, potensi penyalahgunaan kekuasaan menjadi lebih besar.

    “Demokrasi membutuhkan ruang bagi perbedaan karena dari situlah muncul inovasi,
    transparansi, dan kontrol terhadap kekuasaan,” tutup Angelica.

    Survei Nasional Kawula17 (NKS) merupakan survei per kuartal untuk melihat kinerja
    pemerintah dari perspektif masyarakat. Survei dilakukan dengan metode Computer
    Assisted Self Interviewing (CASI) atau survei daring.

    Periode pengumpulan data survei dilakukan pada tanggal 26-29 September 2025 dengan sampel representatif sebesar 404 responden dari seluruh Indonesia dan diikuti oleh responden berusia 17-44 tahun dengan margin of error 5 persen.

    Baca: Revisi KUHAP dinilai membahayakan penegakan hukum

  • Venezuela Bebaskan 35 Tahanan Politik, Termasuk Tokoh Oposisi Ternama

    Venezuela Bebaskan 35 Tahanan Politik, Termasuk Tokoh Oposisi Ternama

    7cloud.asia – Venezuela membebaskan sedikitnya 35 tahanan politik, termasuk sejumlah tokoh oposisi ternama, dalam langkah yang bertepatan dengan upaya kepemimpinan sementara negara itu untuk memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat.

    Pernyataan tersebut disampaikan oleh Organisasi Hak Asasi Manusia Foro Penal pada Minggu (8/2/2026). Disebutkan bahwa pada pekan lalu lebih dari 650 orang yang mereka anggap sebagai tahanan politik masih ditahan di seluruh negeri.

    Di antara mereka yang dibebaskan terdapat politisi oposisi Juan Pablo Guanipa dan Perkins Rocha, menurut pernyataan serikat pers Venezuela, pejabat partai oposisi, serta anggota keluarga.

    Baca: Wakil Presiden Delcy Rodriguez gantikan posisi Nicolas Maduro

    Pihak berwenang tidak segera mengeluarkan pengumuman resmi terkait pembebasan ini.

    Namun dalam beberapa hari terakhir, presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez mengatakan ia berniat menutup El Helicoide, kompleks penahanan yang lama dikritik kelompok HAM, serta menguraikan rencana undang-undang amnesti yang luas.

    Pembebasan tersebut terjadi menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh otoritas Amerika Serikat pada bulan lalu. Peristiwa tersebut kemudian mengubah lanskap politik Venezuela.

    Sejak itu, Rodriguez, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden, telah mengambil langkah untuk mengarahkan ulang kebijakan luar negeri negara tersebut.

    Baca: Mengartikan serangan militer AS ke Venezuela

    Menurut The New York Times, Rodriguez bekerja sama dengan pemerintahan Donald Trump dan mengalihkan ekspor minyak ke Amerika Serikat.

    Sementara itu, pemimpin oposisi Maria Corina Machado menyambut pembebasan tersebut dalam pesan di platform media sosial X.

    “Hari ini rakyat Venezuela menyambut para pahlawan kami pulang … Mereka kembali dengan kekuatan dan martabat yang mengharukan.”

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu