Tag: organik

  • Cara Pengolahan Sampah Organik Menjadi Kompos, Bisa Dilakukan Sendiri di Rumah

    Cara Pengolahan Sampah Organik Menjadi Kompos, Bisa Dilakukan Sendiri di Rumah

    7cloud.asia – Menghadapi kedaruratan sampah di Yogyakarta, relawan Sambatan Jogja atau SONJO bekerja sama dengan UGM menggelar pelatihan pengolahan sampah organik. 

    Pelatihan pengolahan sampah diikuti sekitar 60 peserta yang berasal dari sejumlah rumah sakit dan pesantren yang tergabung dalam SONJO.

    Selama tiga hari, 7-9 Agustus 2023 para peserta mengikuti pelatihan pengelolaan dan pengolahan sampah organik di Fakultas Biologi UGM.

    Sedangkan pelatihan pengolahan sampah anorganik dilakukan  Fakultas Kedokteran Gigi UGM.

    Bagi relawan SONJO ini sebagai bentuk peran aktif UGM dalam mengatasi masalah sampah di Yogyakarta. 

    Baca: Sistem guna ulang antisipasi larangan sampah sekali pakai

    Founder SONJO yang juga Dosen FEB UGM, Rimawan Pradiptyo mengatakan, Warga DIY khususnya Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta mengalami darurat sampah akibat penutupan TPA Regional Piyungan pada 23 Juli 2023 lalu.

    Melihat hal tersebut SONJO hadir dengan mendorong pemilihan dan pemilahan sampah yang dapat dilakukan di level rumah tangga dan dasawisma.

    “Salah satunya dengan memberikan pelatihan pengelolaan dan pengolahan sampah ini,” ujarnya sebagaimana dikutip ugm.ac.id

    Dalam pelatihan ini, Fakultas Biologi UGM mengenalkan sejumlah teknologi sederhana pengolahan sampah rumah tangga, khususnya sampah organik. Teknologi ini harapannya nanti dapat dipraktikkan oleh masyarakat.

    Baca: Menyoal galon sekali pakai dan masalah bagi lingkungan

    Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi S. Daryono, menyebutkan sejak tahun 2017 silam Fakultas Biologi UGM telah menangani persoalan sampah organik dengan beragam pendekatan.

    Pendekatan yang digunakan adalah pengolahan sampah melalui vermicomposting, pupuk cair organik (poc), eco enzim, pengomposan, serta pemakaian biofertilizer dari urine ternak.

    “Persoalan sampah ini kan berasal dari diri kita sendiri sehingga harus diselesaikan sendiri. Kami di Biologi UGM setiap hari mengolah minimal 25 kilogram sampah organik,” paparnya, Senin (7/8) saat membuka pelatihan Pengolahan Sampah di Fakultas Biologi UGM.

    Baca: Mendulang uang dari pengolahan sampah

    Pengalaman pengelolaan dan pengolahan sampah dibagikan dengan harapan bisa membantu dalam menjaga kebersihan dan keberlangsungan lingkungan.

    Upaya pengelolaan sampah dengan perpektif ramah lingkungan dan berkelanjutan ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

    Dalam kesempatan itu, peserta mendapatkan pemaparan tentang cara pengolahan sampah menjadi pupuk dengan memanfaatkan biofertilizer. Pemaparan dilakukan oleh Dosen Fakultas Biologi UGM, Dwi Umi Siswanti.

    Dijelaskan, dalam pengolahan sampah organik menjadi kompos memanfaatkan sembilan spesies mikrobia. Penambahan biofertilizer menjadikan proses degradasi berlangsung lebih cepat ketimbang cara konvensional.

    “Prosesnya tidak terlalu lama, yang biasanya butuh waktu 2 minggu bahkan lebih. Namun, dengan penambahan biofertilizer proses komposting bisa lebih cepat,” jelasnya.

    Baca: Insectta mengubah sampah makanan menjadi bahan bernilai tinggi

    Cara aplikasi biofertilizer pun tergolong sederhana. Cukup dengan mengencerkan  biofertilizer dengan rasio biofertilizer dan air 1:11.

    Selanjutnya cairan dimasukan ke dalam sprayer lalu disemprotkan ke sampah yang sudah dicacah kemudian ditutup terpal.

    Setiap dua hari sekali terpal dibuka dan sampah cacah dibalik kemudian ditutup kembali.

    Hal tersebut terus diulang sampai 2 minggu dan setelah itu pupuk kompos siap untuk dikeringkan atau diangin-anginkan kemudian diayak untuk siap dikemas.

    “Proses komposting ini efisien dan ramah lingkungan. Sampah bisa diubah jadi kompos maupun pupuk cair yang kaya nutrisi,” terangnya.

    Baca: Seperti ini dampak sampah makanan pada lingkungan

    Sementara Sukirno, memaparkan cara pengolahan sampah organik menjadi pupuk organik cair dengan metode vermicomposting dengan maggot yang berasal dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF).

    Untuk memproduksi pupuk organik cair, sisa makanan yang dihasilkan rumah tangga dimasukan dalam digester dalam bentuk ember tumpuk. Selanjutnya limbah organik rumah tangga tersebut difermentasi menggunakan maggot BSF.

    “BSF ini bisa mempercepat degradasi sampah sehingga fermentasi lebih cepat dan efektif,”urainya.

    Soenarwan Heri Poerwanto, dalam kesempatan itu menyampaikan tentang metode vermicomposting dengan menggunakan cacing tanah.

    Sampah organik dari limbah pertanian, perkebunan, maupun peternakan bisa diolah menjadi pupuk organik dengan menambahkan cacing tanah sebagai agen untuk mendegradasi sampah yang ada.

    Baca: Teba, cara unik warga Bali mengolah sampah rumah tangga

    Pembuatan pupuk tergolong mudah. Pertama, limbah organik dihancurkan menjadi partikel kecil terlebih dahulu. Lalu, disebar di tempat rata dengan ketinggian antara 20-30 cm untuk ditaburkan cacing tanah.

    Upayakan kondisinya media dalam keadaan lembab saat dimasukkan cacing tanah.

    “Cacing tanah ini memiliki kemampuan degradasi sampah organik dalam 24 jam seberat berat tubuh. Hasilnya adalah granul dari cacing tanah yang bisa dipakai menjadi pupuk,” ungkapnya.

    Kelebihan dari metode ini, dikatakan Heri, pupuknya dapat digunakan di bidang pertanian.

    Sementara biomasa cacing tanah bisa dimanfaatkan sebagai sumber protein di bidang perikanan dan peternakan sebagai campuran pakan ikan maupun ternak.

    Baca: Teknologi Masaro, ubah sekilo sampah jadi senilai satu gram emas

     

     

  • Memilah Sampah Sendiri, Edukasi Panjang Membangun Kesadaran Warga Sukaluyu, Bandung  

    Memilah Sampah Sendiri, Edukasi Panjang Membangun Kesadaran Warga Sukaluyu, Bandung  

     

    7cloud.asia – Masalah sampah masih belum terselesaikan oleh pemerintah kota Bandung. Tetapi berbeda halnya dengan di RW 09, Kelurahan Sukaluyu, Bandung Jawa Barat. Di tempat ini warga memilah sampah sendiri.

    Mereka mulai terbiasa memilah sampah sejak didampingi Perkumpulan Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) pada 2015. Praktik ramah lingkungan ini sudah diterapkan hampir 90 persen warga.

    Melansir KBR, Koordinator Tim Kota YPBB, Ratna Ayu Wulandari menjelaskan butuh proses panjang untuk mengubah perilaku dan sistem di masyarakat.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Ayu mengatakan, pihaknya melakukan sosialisasi, konsultasi dengan RW atau kelurahan, kemudian ada edukasi bukan hanya untuk warga, tetapi juga untuk petugas yang mengambil petugas.

    “Jadi nanti nggak ada istilahnya udah dipilah di rumah, dicampur sama petugas. Tetap kita akan edukasi juga petugas sampah,” jelas Ayu.

    Memang, Ayu mengakui tak mudah membujuk warga agar mau memilah sampah dari rumah. Bahkan proses edukasinya membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun.

    “Di RW 09 ada fasilitas umum yang bisa diintegrasiin untuk pengelolaan sampah organik. Jadi sampah organiknya dikelola di kawasan, tidak diangkut keluar. Yang diangkut ke TPS adalah sampah yang memang tidak bisa dimanfaatkan,” jelasnya.

    Baca: DemiBumi mengajak konsumennya untuk jalani gaya hidup minim sampah

    Salah seorang warga RW RW 09, Nina tak cuma cakap memilah sampah, tetapi juga telaten mengompos sendiri sampah organiknya. Rumah Nina tak lagi berbau dan bebas lalat.

    Dari pihak RW tersedia tempat pengomposan terpusat, sehingga sampah-sampah organik dari warga bisa langsung dikompos.

    “Alhamdulillah manfaatnya banyak. Ini organiknya kan di kompos ya nanti komposnya balik ke kita buat tanaman, enam bulan sekali dipanen, balik lagi ke warga untuk menyuburkan tanaman,” kata Nina.

    Ibu rumah tangga berusia 70 tahun ini juga menjelaskan butuh waktu tahunan agar dirinya terbiasa mengelola sampah sendiri. Bahkan kini ia merasa miris melihat tumpukkan yang tak dipilah.

    Baca: Siklus ajak konseumennya kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang

    “Lama-lama kita biasa, jadi udah gereget ya, kalau misalkan di jalan atau di RW lain lihat ‘aduh masih nyampur’, jadi gimana gitu rasanya. Kalau di sini kan sudah biasa ya, malahan RT yang warganya banyak yang memilah, dikasih apresiasi,” kata Nina.

    Sementara itu, ketua RW 09 Sukaluyu, Iwan Poernawan mengatakan kemandirian mengelola sampah membuat masyarakat tak terdampak tutupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti Bandung akibat kebakaran.

    “Di kawasan kami itu tetap bersih-bersih aja, tidak berbau busuk, itu dampak positif yang kami ini kalau milah sampah karena memang sistem kita sudah berjalan”

    “Darurat sampah ini kita tidak berdampaknya secara langsung di kawasan. Jadi panik kalau nggak memilah, terus sampah menumpuk jadi mengundang bau yang tidak sedap,” papar Iwan.

    Baca: Gaya hidup nyampah dan tak ramah lingkungan yang layak ditinggalkan

    RW 09 memang sudah bebas dari lautan sampah. Namun, masih ada sekitar 10 persen warga yang belum mau mengelola sampah sendiri di rumah.

    Umumnya mereka warga pendatang yang mengontrak rumah atau indekos.

    “Anak-anak kos saya lebih cenderung ke RT-nya masing-masing saya serahkan. Jadi tergantung pendekatannya sebetulnya. Pokoknya saya tidak mau tahu RT 1 sampai 7 tidak mengenal apakah itu kosan, harus memilah sampah suka atau tidak suka,” tegas Iwan.

    Ratna Ayu Wulandari, pendamping dari YPBB berharap warga RW09 dapat terus mengolah sampah secara mandiri tanpa didampingi YPBB serta menjadi gaya hidup sehari-hari.

    “Kan nggak mungkin kita terus-terusan dampingin. Tapi kalau pak RW mau konsultasi, mau tanya, kita masih ada. Di DLH (Dinas Lingkungan Hidup) kan juga punya tim pendamping, yang itu juga bisa rutin kalau ada masalah, error pengolahan, bisa ada pendamping juga (dari) DLH,” jelas Ayu.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Pasca Kebakaran TPA Sarimukti, DLH Jabar Akan Tolak Sampah Campuran Organik dan Anorganik

    Pasca Kebakaran TPA Sarimukti, DLH Jabar Akan Tolak Sampah Campuran Organik dan Anorganik

    7cloud.asia – Pasca kebakaran di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat beberapa waktu lalu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat menolak sampah dari kawasan Bandung Raya tercampur antara organik dan anorganik.

    Kepala DLH Jabar, Prima Mayaningtyas mengatakan kebijakan ini mulai berlaku awal tahun 2024 mendatang.

    “Kabupaten/kota sudah tidak boleh buang sampah organik. Mulai 1 Januari 2024, kalau masih masuk (Sarimukti) kita suruh balik truknya,” tegas Prima seperti yang dilansir Antaranews, Senin (13/11/2023).

    Lebih jauh Prima menjelaskan pihaknya saat ini memberlakukan masa transisi sebagai persiapan kebijakan penolakan jenis sampah organik masuk ke Sarimukti.

    baca: mengintip krisis pengelolaan sampah di bandung raya pasca kebakaran di tpa sarimukti

    Karena itu, dia berharap kerja sama dari seluruh pihak, baik pemerintah daerah di kawasan Bandung Raya, serta masyarakat agar dapat bersama-sama mengurangi dan memilah sampah.

    Menurut Prima, hal ini harus dilakukan karena dari hari ke hari kapasitas TPA Sarimukti semakin terbatas hingga harus dilakukan pembuangan dengan sistem kuota bagi seluruh daerah di Bandung Raya.

    Dengan begitu, TPAS Sarimukti dapat terus digunakan hingga TPPAS Regional Legok Nangka bisa beroperasi maksimal.

    “Maka kita harap supaya bisa mempertahankan masa darurat ini (untuk mengurangi volume sampah dan membiasakan memilah sampah),” katanya.

    Saat ini DLH Jabar kembali menambah jatah kuota pengiriman sampah (ritasi) untuk kabupaten/kota di Bandung Raya yang sudah ditandatangani tanggal 7 November 2023. Sebab kuota sampah di wilayah tersebut hampir habis.

    baca: pasca kebakaran ini rencana pemprov bandung di tpa sarimukti

    Pada kesempatan itu, Prima mengungkapkan selama pembukaan zona 1 berlangsung, terdapat kuota ritasi yang masih berlaku sejak tanggal 13 Oktober 2023 sampai 12 November 2023.

    Tetapi kuota untuk beberapa kota/kabupaten tersebut tidak akan mencukupi sampai waktu yang ditargetkan.

    Misalnya Kota Bandung dari 4.055 kuota (ritasi) yang diberikan, hanya menyisakan sebanyak 59 ritasi, kemudian Kabupaten Bandung dari 796 total kuota ritasi yang diberikan hanya menyisakan sebanyak 54 ritasi.

    Sedangkan Kabupaten Bandung Barat (KBB) dari 472 total kuota ritasi hanya menyisakan sebanyak 15 ritasi. “Itu harusnya selesai di 12 November, tapi ini sudah habis di 6 November coba bagaimana,” ucapnya.

    Sementara untuk Kota Cimahi, Prima mengatakan kuota ritasi masih menyisakan sebanyak 322 ritasi dari total 836 kuota yang diberikan pada periode 13 Oktober sampai 12 November 2023.

    baca: api padam status darurat kebakaran tpa sarimukti dihentikan

    “Cimahi keren banget sampai sekarang dia masih sisa 322 truk yang jatah dia, sisa belum diabisin, coba lihat Kota Bandung tuh habis tinggal 59 ritasi semua habis, akhirnya saya keluarkan lah yang tadi (penambahan kuota),” jelasnya.

    Dengan demikian, Prima berharap penambahan jatah kuota bagi kota/kabupaten Bandung Raya yang habis kuota bisa dimanfaatkan dengan baik tentu dengan cara mengantisipasi dari hulu.

    Sementara itu, penjabat (Pj) Gubernur Provinsi Jawa Barat Bey Triadi Machmudin meminta DLH Jawa Barat untuk membuat solusi terkait sampah yang berasal dari hulu.

    “Saya bilang dipikirkan mau dikemanakan sampah di Bandung Raya itu, jangan sampai kita perintahkan tidak boleh lagi di Sarimukti (organik), tetapi seperti apa solusinya? Jangan sampai ada penumpukan, setiap hari saya terima keluhan ada di (TPS) Rajamantri, Sederhana, sebetulnya kan dibersihkan tapi muncul lagi,” papar Bey.

    Reporter: Nurakhmayani