Tag: owa jawa

  • Tim Ekspedisi Owa Jawa Sanggabuana: Perburuan Liar dan Alih Fungsi Lahan Ancam Populasi Owa Jawa

    Tim Ekspedisi Owa Jawa Sanggabuana: Perburuan Liar dan Alih Fungsi Lahan Ancam Populasi Owa Jawa

    7cloud.asia – Tim Ekspedisi Owa Jawa Sanggabuana Astra Otopart (SOP) Group dan Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) berhasil mendata populasi dan sebaran Owa Jawa (Hylobates moloch) di hutan Pegunungan Sanggabuana Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

    Populasi dan sebaran Owa Jawa di hutan Pegunungan Sanggabuana Karawang berhasil didata setelah tim melakukan ekspedisi di kawasan hutan pegunungan Sanggabuana selama lebih dari 40 hari.

    Leader Tim Ekspedisi Owa Jawa Sanggabuana, Bernard T Wahyu Wiryanta, di Karawang, Sabtu (28/9/2024) mengatakan, Tim Ekspedisi Owa Jawa Sanggabuana memulai aktivitasnya sejak 31 Juli 2024.

    Setelah menjelajahi hutan Pegunungan Sanggabuana sekitar 16,500 hektare tim ekspedisi berhasil menghitung populasi Owa Jawa di kawasan hutan tersebut.

    Baca: Balai Taman Nasional Way Kambas raih Herman Goldstein Award 

    Tim Ekspedisi ini terdiri dari anggota Sanggabuana Wildlife Ranger, Mahasiswa dari beberapa kampus di Jawa Barat, Komunitas Baraya Sanggabuana, Perum Perhutani, dan TNI AD dari Detasemen Pemeliharaan Daerah Latihan Kostrad Sanggabuana.

    Semua kawasan hutan di Gunung Sanggabuana yang meliputi empat kabupaten, yakni Karawang, Purwakarta, Cianjur, dan Bogor berhasil dijelajahi.

    Tim Ekspedisi yang dibagi menjadi dua tim ini berhasil menyisir semua punggungan hutan, semua bukit dan puncakan, menyusuri jalur survei sepanjang 307.273 meter.

    Ekspedisi yang menggunakan metode jelajah ini berhasil mendata 107 kelompok Owa Jawa dengan total jumlah individu sebanyak 311 individu.

    Baca: Populasi badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon bertambah

    Bernard menyampaikan bahwa dari sebagian besar kelompok Owa Jawa yang ditemui, rata-rata terdapat individu muda, sebagian masih digendong oleh induknya.

    Hal itu menandakan Owa Jawa di Pegunungan Sanggabuana berkembang biak dengan baik dan terdapat penambahan individu baru.

    Di beberapa blok hutan, hampir di setiap punggungan hutan ada kelompok Owa Jawa. Dan rata-rata induknya menggendong anak.

    “Bahkan di salah satu blok hutan, ketika bangun pagi jam 5 pagi, di basecamp kami di tengah hutan, suara nyanyian Owa Jawa bersahut-sahutan dari seluruh penjuru hutan.” Jelas Bernard.

    Baca: Konservasi macan tutul di Taman Nasional Ujung Kulon

    Namun menurut Bernard, tim ekspedisi di lapangan juga menemukan potensi ancaman terhadap Owa Jawa di Sanggabuana. Salah satunya adalah perburuan liar

    Ancaman terbesar terutama berasal dari alih fungsi lahan hutan yang menjadikan pohon pakan dan pohon tidur Owa Jawa berkurang.

    “Bahkan beberapa blok hutan ada yang sudah habis tegakannya berganti jadi tanaman kopi dan mengisolasi beberapa kelompok Owa Jawa,” katanya.

    Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Purwakarta, BBKSDA Jawa Barat, Vitriana mengatakan bahwa ekspedisi Owa Jawa di pegunungan Sanggabuana menunjukkan hasil yg menggembirakan.

    Itu menandakan peran penting pegunungan Sanggabuana sebagai habitat alami satwa owa jawa, penting untuk dijaga agar mampu terus mendukung kehidupan dan kelestarian owa jawa sebagai satwa primata endemik Jawa sehingga terhindar dari kepunahan.

    Sumber:Antaranews.com

  • Mengenal Owa Jawa Satwa Liar yang Hidupnya Sangat Tergantung pada Pepohonan

    Mengenal Owa Jawa Satwa Liar yang Hidupnya Sangat Tergantung pada Pepohonan

    7cloud.asia – Tim Ekspedisi Owa Jawa Sanggabuana Astra Otopart (SOP) Group dan Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) menemukan potensi ancaman terhadap Owa Jawa di Sanggabuana. Salah satunya adalah perburuan liar

    Namun, ancaman terbesar terhadap owa Jawa terutama berasal dari alih fungsi lahan hutan yang menjadikan pohon pakan dan pohon tidur Owa Jawa berkurang.

    “Bahkan beberapa blok hutan ada yang sudah habis tegakannya berganti jadi tanaman kopi dan mengisolasi beberapa kelompok Owa Jawa,” kata Leader Tim Ekspedisi Owa Jawa Sanggabuana, Bernard T Wahyu Wiryanta, di Karawang, Sabtu (28/9/2024)

    Temuan ini tentu menjadi peringatan yang harus menjadi perhatian serius karena keberadaan Owa Jawa terancam punah.

    Hewan yang memiliki suara khas di pagi hari ini memiliki status endangered (rentan) berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species tm yang diakses Januari 2021.

    Baca: Tim ekspedisi temukan 107 kelompok Owa Jawa

    Sementara hutan Sanggabuana sendiri juga tidak sepenuhnya aman. Dilansir Mongabay, di perbatasan hutan Sanggabuana terdapat pertambangan skala besar.

    Bernard menuturkan kepada Mongabay pada Desember 2023, perusahaan tersebut memang beroperasi dengan izin resmi.

    Tapi seperti apa keunikan binatang bernama Owa Jawa ini? Dilansir museum.biologi.ugm.ac.id, Owa Jawa memiliki nama ilmiah Hylobates moloch yang merupakan satwa endemik di Pulau Jawa.

    Selain di hutan Sanggabuana, Owa Jawa juga bisa ditemukan di sejumlah hutan hujan tropis di Jawa Barat dan Jawa Tengah, terutama di kawasan yang dilindungi seperti Taman Nasional.

    Ciri khas dari primata ini adalah tidak berekor, memiliki tubuh ramping dan memiliki tangan yang lebih panjang dari tubuhnya. Tangan ini digunakan untuk berayun dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.

    Baca: Populasi badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon bertambah

    Owa Jawa dewasa memiliki berat rata-rata 8 kilogram. Primata ini memiliki tubuh berwarna abu-abu dan wajah yang gelap.

    Owa Jawa merupakan hewan arboreal, yaitu hewan yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di atas pohon. Sehingga keberadaan pohon sangat menentukan kelangsungan hidup Owa Jawa.

    Owa Jawa hidup dalam kelompok kecil yang mirip keluarga, karena terdiri dari sepasang jantan dan betina, serta anak owa yang belum dewasa.

    Owa memiliki masa reproduktif sekitar 10 hingga 20 tahun dan memiliki rata-rata 5 hingga 6 keturunan. Owa yang telah dewasa secara seksual akan memisahkan diri dari kelompoknya.

    Owa Jawa merupakan primata yang setia dalam mempertahankan wilayah mereka. Owa betina akan mengeluarkan suara kencang untuk menandai daerahnya. Suara owa betina dapat terdengar hingga satu kilometer.