7cloud.asia – Negara-negara di seluruh dunia berupaya keras untuk mendanai inisiatif lingkungan guna menghadang krisis iklim. Dan, pajak kekayaan diusulkan sebagai solusinya.
Dapatkah mengenakan pajak kepada 1 persen orang terkaya mendanai revolusi hijau yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi krisis iklim? Benarkah pendekatan ini akan menjadi bumerang dan mengusir investasi?
Berikut ulasan Amir H. Khodadadi, sarjana di bidang teknik industri dan gelar master di bidang ekonomi pembangunan dan perencanaan dari Universitas Sains dan Riset di Iran yang telah terbit di earth.org.
Saat krisis iklim semakin parah, biaya yang harus dibayar karena negara-negara di dunia tidak mengambil tindakan berarti, akan meningkat sangat tinggi.
Kebakaran hutan yang dahsyat, banjir, dan naiknya permukaan air laut menimbulkan beban keuangan yang berat pada pemerintah di seluruh dunia.
Cara tradisional untuk mendanai inisiatif lingkungan, mulai dari pajak karbon hingga peningkatan pinjaman, terbukti tidak memadai atau tidak populer.
Baca: Upaya pemerintah terapkan pajak karbon
Pajak kekayaan telah menjadi solusi radikal untuk gagasan ini, dengan para pendukungnya berpendapat bahwa pajak ini dapat mendistribusikan kembali kekayaan dan secara langsung membiayai proyek lingkungan.
Para kritikus berpendapat bahwa pajak kekayaan akan memiliki sejumlah efek samping yang merugikan, seperti melemahkan upaya melawan krisis iklim, dimana pajak kekayaan akan menghalangi investasi dalam teknologi hijau dan membujuk orang kaya untuk pindah ke surga pajak.
Ujung-ujungnya, pajak kekayaan akan mendorong keluar modal yang tersedia untuk mengatasi krisis iklim.
Para kritikus juga menunjukkan bahwa penerapan pajak kekayaan mungkin terlalu tidak praktis atau tidak dapat ditegakkan secara administratif.
Oleh karena itu, mereka akan memperoleh pendapatan lebih sedikit daripada yang dapat digunakan dalam aksi iklim.
Para kritikus masih menolak pajak kekayaan karena pungutan semacam itu menghambat investasi dan mengakibatkan pelarian modal.
Baca: Kisah sukses penerapan pajak karbon di India
Mereka merujuk pada sejumlah pengalaman masa lalu di mana pajak kekayaan gagal meningkatkan pendapatan yang diharapkan, seperti di Prancis, yang mencabut “pajak solidaritas atas kekayaan.”
Perdebatan tentang pajak kekayaan sebagai mekanisme pendanaan aksi iklim ini menggarisbawahi interaksi kompleks antara kebijakan lingkungan, pertimbangan ekonomi, dan keadilan sosial.
Hasil ini dapat berdampak signifikan terhadap cara dunia berpikir tentang mekanisme masa depan keuangan iklim dan pendistribusian ulang kekayaan, yang berpotensi memperkuat upaya penanganan perubahan iklim dan kesenjangan ekonomi.
Lebih jauh lagi, dengan mendanai aksi iklim, pajak kekayaan dapat berperan penting dalam membawa perubahan dalam dinamika ekonomi global yang menyangkut pola investasi, aliran modal, dan efisiensi dalam kebijakan lingkungan.
Perkembangan tersebut dapat membentuk kembali strategi internasional keuangan iklim dan distribusi kekayaan serta membawa dampak signifikan terhadap kapasitas masyarakat global dalam menangani perubahan iklim dan kesenjangan ekonomi.
Pajak kekayaan untuk pembiayaan aksi iklim ini juga cukup adil jika memandang dengan emisi karbondioksida atau CO2 yang dihasilkan.
Baca: Penerapan pajak karbon di negara berkembang
Menyimak data IEA, terungkap adanya ketimpangan dalam distribusi emisi karbondioksida atau CO2 global di antara populasi berdasarkan segmen kekayaan.
Di mana 10 persen orang terkaya menyumbang 47 persen total emisi CO2 global; 1 persen orang terkaya saja menghasilkan 15 persen total emisi global.
Dari 1 persen terkaya, 0,1 persen yang paling kaya menyumbang 7 persen dengan jejak karbon rata-rata 225 tCO2. Sisanya yang 9 persen menghasilkan 32 persen, pada 11,6 tCO2 per kapita.
Sebaliknya, 50 persen populasi global termiskin berkontribusi kurang dari 10 persen emisi, dengan jejak rata-rata hanya 0,6 tCO2 per tahun.
Sementara itu, 40 persen masyarakat kelas menengah menyumbang 43 persen dari seluruh emisi, dengan jejak rata-rata 3,5 tCO2 per tahun.
Mengapa pajak kekayaan harus menjadi perhatian negara-negara di dunia untuk membiayai aksi iklim, akan diulas di tulisan selanjutnya.

