7cloud.asia – Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa menyebut program Food Estate di Gunung Mas gagal karena tidak memperhatikan 4 pilar sebelum menjalankan program ini.
Dwi memaparkan sebenarnya proyek Food Estate jadi wacana lama sejak tahun 1996. Pelaksanannya sempat dihentikan kemudian dibuka lagi ketika rezim berganti hingga rezim Jokowi sekarang ini.
“Lalu kemudian di 2020 dikembangkan lagi food estate, salah satunya di Kalteng. Lalu dibuka lahan baru yang kita kenal sebagai Gunung Mas. Dan bagaimana ceritanya? Gagal total juga,” jelas Dwi seperti yang dilansir Kumparan.
Menurutnya hal ini menurutnya karena pemerintah mengabaikan 4 pilar kaidah ilmiah yang harus dilaksanakan sebelum melakukan program Food Estate.
Baca: Cak Imin dan Mahfud sebut Food Estate program gagal
Pakar yang mendapat gelar Doktor di Faculty of Life Science, Technische Universitaet, Braunweig, Jerman ini menjelaskan keempat pilar ini. Pilar pertama adalah kelayakan tanah dan agroklimat.
“Kalau bicara Gunung Mas, itu saja sudah dilanggar. Bagaimana bisa tanam di lahan berpasir di bawahnya sekitar kedalaman 30-40 cm itu lapisan padat. Itu sudah melanggar pilar pertama, kelayakan tanah dan agroklimat. Padahal ada pilar lainnya,” jelasnya.
Pilar kedua adalah kelayakan infrastruktur, yang terdiri dari jaringan irigasi dan jalan usaha tani yang merupakan pilar yang sangat penting.
Sementara di Food Estate Gunung Mas, Kalimantan Tengah seperti keterangan Walhi Kalteng ternyata menggunakan tandon air.
“Kalau tata kelola air hancur-hancuran, jangan berharap itu berhasil,” tegasnya.
Baca: Capres dan cawapres harus cari solusi ketahanan pangan
Pilar ketiga adalah aspek budidaya dan teknologi yang menyangkut varietas bibit unggul dan teknologi pertanian.
Pilar keempat adalah sosial dan ekonomi. Ia mencontohkan kegagalan rice estate di Merauke yang digarap Jokowi beberapa waktu lalu akibat melanggar pilar keempat ini.
“Salah satu kegagalan rice estate di Merauke 1,2 juta ha, dari mana kita dapat petani 600 ribu orang, wong penduduk Merauke saja hanya 174 ribu,” katanya.
Akibat mengabaikan keempat pilar kaidah ilmiah tersebut, anggaran untuk proyek Food Estate sebesar Rp 54 miliar menjadi sia-sia.
Bahkan jika masih ada pihak yang mengklaim program ini berhasil, Dwi mempersilakan untuk mengecek langsung ke lokasinya.
Baca: Food Estate sudah ada sejak era Soeharto
“Gunung Mas ini kan konyol sekali kan. Tanahnya itu podsol, pasir. Melakukan apa pun pasti enggak bisa. Tanam singkong, singkongnya mati. Lalu menteri yang sekarang supaya itu kelihatan bisa, ditanam jagung di dalam polybag. Lah ini apa-apaan sih. Keluar (anggaran pemerintah) Rp 54 miliar,” katanya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalimantan Tengah, Bayu Herinata.
Menurutnya Food Estate singkong di Gunung Mas telah merusak lingkungan dengan membabat hutan yang dapat mengakibatkan bencana banjir.
“Lahan singkong gagal tanam dan diganti dengan jagung yang juga enggak maksimal tumbuhnya, dan belum ada panen sampai hari ini,” jelas Bayu.
Sebelumnya, lanjut Bayu, proyek Food Estate di Gunung Mas tersebut sempat mangkrak hampir 2 tahun sejak dibuka 2021 lalu.
Kemudian pada September-Oktober 2023, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mengunjungi Food Estate Gunung Mas.
Saat itu Kementerian Pertanian mulai penanaman jagung, yang sebenarnya lahan itu disiapkan untuk menanam singkong.
Baca: Food Estate tetap dilanjutkan
“Jagung ini dipilih menurut kami modusnya hampir sama, karena komoditas awal yang ditanam singkong terbukti gagal dan mereka sebenarnya secara tidak langsung mengakui dengan mengubah komoditas yang ditanam tadi. Itu kan berarti tidak jalan sesuai dengan perencanaan dan target,” paparnya.
Selanjutnya Bayu memaparkan sebagian besar dari 700 hektar lahannya masih mangkrak.
Hanya 30 persen dari luasan tanah di sana yang ditanami jagung, dan sebagian kecil singkong.
Padahal lahan Food Estate di Gunung Mas tidak cocok untuk ditanami. Pengelolaan lahannya pun terkesan asal-asalan, menanam jagung di media polybag serta mendatangkan tanah dari luar lokasi food estate.
Kondisi ini diperparah dengan memaksakan irigasi pengairan menggunakan tandon-tandon air.
Baca: Food Estate disebut kejahatan lingkungan
Menurut Bayu, agar pemerintah ingin dicap berhasil, maka mengganti singkong dengan jagung, karena jagung lebih tahan dan lebih cepat panen.
“Hal ini karena jagung ini relatif cepat masa tanam dan panennya hanya butuh 60 harian, jadi kalau mereka tanam Oktober-November (2023), mungkin Januari ini sudah bisa panen. Tapi info yang kami temukan belum ada aktivitas pemanenan di lokasi food estate,” katanya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 02, Gibran Rakabuming Raka pada debat cawapres Minggu (21/01/2024) malam mengklaim program Food Estate di Gunung Mas berhasil.
Reporter; Nurakhmayani
