Tag: panas ekstrem

  • Peran Tanaman Hias dalam Mengatasi Cuaca Panas Ekstrem

    Peran Tanaman Hias dalam Mengatasi Cuaca Panas Ekstrem

    7cloud.asia – Dosen Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI), Mega Atria mengimbau masyarakat menanam tanaman hias untuk menghadapi cuaca panas ekstrem.

    “Tanaman merupakan komponen utama penyerap karbon dan berperan sebagai penyedia jasa lingkungan yang berfungsi sebagai penghasil udara segar, peneduh, penyerap debu dan polutan, penyubur tanah.

    “Tanaman juga mengikat air tanah, sehingga eksistensinya sangat penting untuk kehidupan manusia,” katanya di kampus UI Depok, Jumat (27/10/2023)..

    Ia mengatakan tumbuhan dan tanaman adalah salah satu organisme penyedia jasa ekosistem bagi manusia dan lingkungan.

    baca juga: dapatkah tanaman membersihkan udara dalam ruangan kita

    Menurutnya, beberapa tanaman hias berdaun yang cocok untuk ditanam di suhu panas, antara lain Palem Hias, Nanas Bromeliad, Sirih Gading, dan Lidah Buaya, yang juga berfungsi untuk menyerap debu.

    Mega mengimbau masyarakat menanam tanaman yang tidak membutuhkan banyak air dan menyukai cahaya matahari.

    Tanaman hias kelompok Kaktus, Bougenvile, dan Kamboja memenuhi kriteria yang disebutkan Mega ini.. 

    Jenis non-tanaman hias yang juga bisa menjadi alternatif antara lain bambu dan jenis pohon peneduh dengan kanopi lebar dan dapat mengurangi efek suhu tinggi.

    baca juga: tanaman dalam ruangan yang bagus untuk lingkungan

    Ia berharap masyarakat bisa menyiapkan lahan untuk ditanami tumbuhan di hunian masing-masing. Kegiatan penanaman, lanjutnya, dapat dimulai dengan menanam aneka sayur dan buah untuk dikonsumsi sendiri.

    Dengan menerapkan konsep grow your own food, lanjutnya, masyarakat akan mampu mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari.

    Jika memiliki lahan yang cukup luas, masyarakat juga bisa menanam pohon buah atau peneduh.

    “Karena jika lingkungan kita banyak pohon atau tanaman bunga, maka kita berperan juga dalam memastikan proses ekologi dan siklus jasa ekosistem tetap terjaga, tentunya kita juga yang mendapat keuntungan,” kata Mega.

    Baca: 8 Tanaman yang efektif menyerap polusi udara

    Umumnya cuaca ekstrem dengan suhu yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan flora. 

    Namun beberapa jenis tumbuhan  mampu beradaptasi dengan suhu tinggi, karena dapat mengurangi penguapan berlebihan, seperti tanaman hias dan tanaman obat.

    Tanaman-tanaman tersebut, lanjutnya, juga dapat membantu menanggulangi dampak cuaca ekstrem seperti polusi udara dan rendahnya kelembapan udara yang dapat mengakibatkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). 

    Sumber: Antaranews

  • Panas Ekstrem Diperkirakan Akan Berlanjut di Tahun 2024, Ini Cara Mengantisipasinya

    Panas Ekstrem Diperkirakan Akan Berlanjut di Tahun 2024, Ini Cara Mengantisipasinya

    7cloud.asia – Awal Januari 2024 lalu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis sebuah laporan dalam Pandangan Iklim Tahun 2024.

    Laporan itu menyebut, suhu permukaan Bumi diprediksi menjadi lebih hangat dibanding kondisi normal seperti halnya yang terjadi pada 2023 yang baru berlalu.

    Kondisi ini diperkirakan berpotensi membuat cuaca lebih hangat, sehingga masyarakat diminta mewaspadai kondisi panas ekstrem yang mungkin terjadi di tahun ini.

    Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi Imunologi Klinik DR. dr. Sukamto Koesnoe, SpPDD-KAI, FINASIM dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo memberikan sejumlah kiat untuk menghadapi cuaca panas ekstrem di tahun ini.

    Ia mengatakan, dalam cuaca ekstrem yang lebih panas, beberapa penyakit atau gangguan kesehatan yang dapat terjadi termasuk heat stroke, dehidrasi, heat exhaustion, heat cramps, dan eksaserbasi atau kekambuhan kondisi medis yang sudah ada.

    “Ini seperti penyakit jantung, gangguan pernapasan, dan penyakit kulit,” kata dr. Sukamto seperti dikutip Antaranews.com

    Baca: Dua hal penting sebelum konsumsi obat herbal

    Menurutnya, gangguan kondisi kesehatan akibat cuaca ekstrem juga dapat terjadi pada orang yang rentan dengan kondisi stres, serta menimbulkan kekambuhan penyakit yang sudah diderita seseorang.

    “Seperti gangguan kesehatan mental yang berat hingga penyakit autoimun,” imbuhnya.

    Oleh karena itu, dokter spesialis penyakit dalam lulusan Universitas Indonesia ini memberikan sejumlah kiat untuk menghadapi cuaca ekstrem yang akan datang.

    Pertama, gunakan sun screen (tabir surya), pakaian panjang, topi atau payung untuk melindungi diri dari paparan sinar matahari secara langsung.

    Kedua, perbanyak minum air untuk menjaga hidrasi tubuh dan hindari aktivitas di luar ruangan pada saat suhu paling panas.

    Baca: Benarkah penderita diabetes samasekali nggak boleh konsumsi gula?

    Ketiga, hindari mengonsumsi minuman beralkohol dan minuman berkafein yang dapat menyebabkan dehidrasi.

    Terakhir, carilah tempat yang sejuk atau ber-AC untuk menghindari panas yang berlebihan.

    Namun, jika seseorang mengalami gangguan kesehatan yang disebabkan oleh cuaca panas, seperti heat stroke, ada sejumlah langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan.

    Salah satunya memindahkan orang tersebut ke tempat yang sejuk dan melonggarkan pakaian orang tersebut jika terlalu ketat.

    “Berikan minuman dingin (bukan alkohol atau minuman berkafein) jika orang tersebut sadar dan mampu minum. Panggil bantuan medis segera,” kata Sukamto.

    Baca: Air kelapa tak disarankan untuk kelompok ini

    Saat kondisi cuaca panas ekstrem, Sukamto menyarankan untuk menghindari olahraga yang terlalu intens atau berat.

    Olahraga yang lebih disarankan saat cuaca ekstrem adalah olahraga dalam ruangan, seperti berenang, yoga, atau berjalan di treadmill.

    Jika ingin melakukan olahraga di luar ruangan, dia menyarankan untuk melakukannya pada pagi atau sore hari ketika suhu udara lebih rendah.

    Dia juga memberikan beberapa saran untuk masyarakat dalam menghadapi cuaca panas ekstrem, antara lain menjaga diri sendiri dan orang-orang di sekitar untuk tetap terhidrasi dengan baik.

    Selain itu, hindari terlalu lama berada di luar ruangan pada saat suhu paling panas dan selalu gunakan pakaian yang nyaman serta dapat melindungi diri dari sinar matahari langsung.

    “Jika mengalami gejala yang mencurigakan atau gangguan kesehatan akibat cuaca panas, segera cari pertolongan medis,” begitu saran dokter Sukamto.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Panas Ekstrem di Jepang, Suhu Udara Capai 35 Derajat Celsius Lebih

    Panas Ekstrem di Jepang, Suhu Udara Capai 35 Derajat Celsius Lebih

    7cloud.asia – Musim panas di Jepang tahun ini begitu membara dengan suhu yang mencapai di atas 35 derajat celcius di seluruh wilayah Jepang di mana kondisi tersebut juga dirasakan oleh warga negara Indonesia (WNI).

    Salah satu WNI Mohamad Yusup kepada Antara di Tokyo, Senin, mengatakan musim panas tahun ini begitu luar biasa padahal belum sampai puncak yang biasanya jatuh pada Agustus.

    “Musim panas tahun ini yang saya rasakan luar biasa ya padahal ini baru di awal bulan Juli. Dalam sepekan ini panasnya begitu menyengat dan begitu terasa di kulit dan kepala. Ini musim panas yang luar biasa ditambah lagi kalau siang hari itu anginnya sedikit,” kata WNI yang tinggal di Tokyo itu.

    Baca: India dan Pakistan tutup sekolah segara suhu panas hingga 50 derajat celsius

    Yusup yang sudah bermukim di Jepang selama 16 tahun itu pernah melewati berbagai musim panas bahkan pada saat Ramadhan.

    Namun, dia mengaku, musim panas tahun ini ia pun waspada agar tidak terkena dehidrasi atau sengatan panas (heat stroke) sebab tahun lalu keluarganya sempat dilarikan ke rumah sakit.

    “Tahun lalu, istri saya kepalanya pusing, mual-mual dan lemas. Akhirnya, setelah dibawa ke rumah sakit, harus diinfus seharian. Juga anak-anak saya pernah mengalami gejala-gejala semacam semacam dehidrasi, seperti mual, kepala pusing, badan lemas dan sebagainya,” katanya.

    Baca: Gelombang panas di Thailand tewaskan 61 orang

    Yusuf  yang bekerja sebagai perawat rumah sakit pun menyebutkan angka pasien yang terkena sengatan panas meningkat.

    Tidak hanya dialami oleh kelompok lansia dan anak-anak tetapi juga orang dewasa usia 30-an.

    “Angka kejadian sengatan panas pasien yang masuk UGD itu banyak sekali. Biasanya ditandai dengan tekanan nadinya meningkat. Itu tanda awal dehidrasi,” ujarnya.

    Kondisi yang sama juga dialami Vidya Gatari, WNI yang tinggal di Prefektur Chiba, yang mengaku musim panas di Jepang tahun ini sangat hebat.

    “Lebih sering berkeringat ketika di rumah meskipun kipas angin dinyalakan. AC pun harus disetel sekitar 15 derajat celcius baru akan terasa sejuk. Leher juga terasa perih mungkin karena keringat berlebih yang diproduksi badan,” ujarnya.

    Baca: Gelombang panas landa Asia, bagaimana dengan Indonesia

    Dia dan keluarga juga sempat merasakan sengatan panas setelah menghabiskan waktu di luar lebih banyak.

    Dengan gejala kepala terasa berat, mual, keluar keringat dingin bahkan demam yang naik turun selama dua hingga tiga hari.

    “Dua tahun lalu, saya juga merasakan leher yang memerah dan perih di bulan-bulan musim panas. Tapi, mostly kami sekeluarga mudik atau traveling agar tidak merana di rumah,” katanya.

    Ibu satu anak itu mengaku musim panas saat delapan tahun lalu saat pertama kali dia ke Jepang tidak seekstrem tahun ini.

    Demikian juga Izzah, WNi yang tinggal di Yokohama, mengaku musim panas tahun ini terasa menantang yang dipengaruhi juga pemanasan global yang berakibat musim semi yang bergeser serta berdampak pada musim hujan atau peralihan sehingga cuaca tak menentu.

    Baca: Asia Selatan dan Asia Tenggara dilanda gelombang panas

    “Suhunya enggak menentu, setelah hujan suhunya agak turun besoknya langsung naik drastis. Tahun ini beberapa kali merasa langsung pusing, sampai rumah enggak bisa ngapa-ngapain,” ujar diaspora yang sudah bermukim di Jepang selama enam tahun ini.

    Suami Izzah yang merupakan warga Jepang juga merasakan cuaca ekstrem musim panas tahun ini.

    “Dia juga sama, rasanya mau meleleh akhirnya kita berdua mageran (bermalas-malasan) aja gitu,” katanya.

    Jepang mencatat suhu meroket hingga 40 derajat celcius di Prefektur Shizuoka pada awal pekan Juli 2024. Suhu ekstrem juga terjadi di beberapa wilayah, seperti Prefektur Gunma 39.8 derajat celcius dan rata-rata 39 derajat di Prefektur Yamanashi.

    Baca: Kurangi konsumsi kopi saat cuaca panas

    Berdasarkan data Badan Meteorologi Jepang, rata-rata di wilayah Jepang suhu mencapai di atas 35 derajat celcius, termasuk wilayah Kanto yang meliputi Tokyo, Chiba, Saitama dan Kanagawa.

    Menurut data media setempat, 198 orang di Tokyo dilarikan ke rumah sakit akibat terkena serangan panas.

    Pemerintah Indonesia melalui KBRI Tokyo juga mengimbau WNI untuk menjaga kesehatan selama musim panas di Jepang.

    Salah satunya dengan menggunakan payung atau topi, banyak minum air putih, mengenakan pakaian longgar dan aplikasikan tabir surya.

    Sumber: Antaranews

  • Gara-gara Panas Ekstrem, Hampir Setengah Juta Orang Meninggal Per Tahun

    Gara-gara Panas Ekstrem, Hampir Setengah Juta Orang Meninggal Per Tahun

    7cloud.asia – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, Kamis (25/7/2024), menyoroti bahaya panas ekstrem yang semakin meningkat bagi dunia.

    “Panas ekstrem diperkirakan membunuh hampir setengah juta orang per tahun, sekitar 30 kali lebih banyak dari pada siklon tropis,” kata Guterres kepada wartawan.

    “Kita tahu apa yang mendorongnya — perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia dan bahan bakar fosil. Dan kita tahu itu akan menjadi lebih buruk,” katanya lagi.

    Panas ekstrem adalah “ketidaknormalan baru, tetapi kabar baiknya adalah kita dapat menyelamatkan nyawa dan membatasi dampaknya,”  lanjutnya.

    Baca: Suhu panas di Jepang, 6 orang tewas

    Guterres menekankan bahwa panas ekstrem semakin menghancurkan ekonomi, memperlebar kesenjangan, melemahkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) PBB dan membunuh korban.

    Karena itu, Sekjen PBB tersebut mengatakan bahwa dia meluncurkan tuntutan global dengan empat area fokus – merawat yang paling rentan, meningkatkan perlindungan bagi pekerja, meningkatkan ketahanan ekonomi dan masyarakat dengan menggunakan data dan sains.

    Guterres menegaskan bahwa poin utamanya yaitu fokus komunitas internasional sekarang adalah dampak panas ekstrem.

    “Namun, jangan lupa bahwa masih banyak lagi gejala krisis iklim yang menghancurkan: Badai yang semakin dahsyat, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, naiknya permukaan air laut — dan masih banyak lagi,” kata Guterres.

    Baca: Suhu di India hampir capai 50 derajat celsius

    Untuk mengatasi gejala-gejala tersebut, dia menegaskan penggunaan bahan bakar fosil harus segera dievaluasi.

    “Kita perlu melawan penyakit. Penyakit itu adalah kegilaan yang membakar satu-satunya rumah kita. Penyakit itu adalah kecanduan bahan bakar fosil. Penyakit itu adalah tidak adanya tindakan untuk mengatasi perubahan iklim.” ujarnya

    Dia mengatakan G20 harus mengalihkan subsidi bahan bakar fosil ke energi terbarukan dan mendukung negara-negara dan masyarakat yang rentan.

    “Pesannya jelas: Panas sedang terjadi. Panas ekstrem berdampak ekstrem pada manusia dan planet ini. Dunia harus bangkit menghadapi tantangan kenaikan suhu,” tambahnya.

    Sumber: Anadolu

  • BMKG: Generasi Muda Perlu Mitigasi Bahaya Peningkatan Suhu di Kota

    BMKG: Generasi Muda Perlu Mitigasi Bahaya Peningkatan Suhu di Kota

    7cloud.asia – Suhu di wilayah perkotaan kini meningkat jika dibandingkan dengan pedesaan. Karena itu generasi muda perlu melakukan mitigasi terhadap bahaya fenomena ini.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati dalam acara Workshop Urban Heat Island (UHI) 2024.

    Urban Heat Island merupakan fenomena alam berupa tingginya temperatur daerah perkotaan dibandingkan pedesaan.

    “UHI ini harus kita mitigasi bersama. Perlu kesadaran dan aksi nyata untuk menghadapi UHI ini,” ungkap Dwikorita.

    Baca: Emisi gas rumah kaca memicu gelombang panas ekstrem

    Selanjutnya dia menjelaskan peningkatan suhu yang terkait dengan fenomena UHI perkotaan bervariasi tergantung pada tutupan lahan.

    Fenomena ini, kata dia, dipicu oleh beberapa faktor, diantaranya struktur geometris kota yang rumit, sedikitnya vegetasi, hingga efek rumah kaca.

    Selain itu, perubahan tutupan lahan yang menjadi lahan terbangun juga memperparah terjadinya UHI.

    Dwikorita menyebut dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, efek UHI relatif cukup kuat dirasakan.

    Baca: Waspada panas menyengat di perkotaan

    Sejumlah kota besar di Indonesia seperti Jabodetabek, Medan, Surabaya, Makassar, dan Bandung, lanjut dia, termasuk dalam 20% kota dengan nilai Land Surface Temperature (LST) terbesar.

    Menurutnya, permukaan yang kedap air dan lebih sedikit vegetasi menambah efek dari UHI tersebut.

    Badan Meteorologi Dunia (WMO) baru saja menyatakan bahwa tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang pengamatan instrumental. Anomali suhu rata-rata global mencapai 1,45 derajat celcius di atas zaman pra industri.

    Baca: Hampir setengah juta orang meninggal per tahun akibat panas ekstrem

    Dwikorita menyebut angka ini nyaris menyentuh batas yang disepakati dalam Paris Agreement tahun 2015 bahwa dunia harus menahan laju pemanasan global pada angka 1,5 derajat celcius.

    Pada tahun 2023, terjadi rekor suhu global harian baru dan terjadi bencana heat wave ekstrem yang melanda berbagai kawasan di Asia dan Eropa.

    “Rekor iklim yang terjadi di tahun 2023 bukanlah kejadian acak atau kebetulan, melainkan tanda-tanda jelas dari pola yang lebih besar dan lebih mengkhawatirkan yaitu perubahan iklim yang semakin nyata. Maka dari itu, perlu langkah atau gerak bersama seluruh komponen masyarakat, tidak hanya pemerintah, namun juga sektor swasta, akademisi, media, LSM, dan lain sebagainya termasuk anak-anak muda,” jelasnya.

     

  • WMO Sebut Perubahan Iklim Penyebab Utama Panas Ekstrem di Seluruh Dunia

    WMO Sebut Perubahan Iklim Penyebab Utama Panas Ekstrem di Seluruh Dunia

     

    7cloud.asia – Perubahan iklim menjadi “kekuatan pendorong utama” yang menyebabkan panas ekstrem di seluruh dunia, menurut juru bicara Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

    Clare Nullis mengatakan kepada Anadolu bahwa WMO “mengukur suhu selama periode dasar 30 tahun, yang terbaru adalah 1991-2020.”

    “Jadi, negara-negara yang melaporkan di atas periode tersebut menunjukkan bahwa suhunya lebih hangat daripada rata-rata 30 tahun,” katanya seraya menambahkan: “Untuk tujuan pemantauan iklim, kami menggunakan dasar pra-industri.”

    “Perubahan iklim adalah kekuatan pendorong utama di balik panas yang berlebihan saat ini,” dia menekankan.

    Baca: Perubahan iklim picu gelombang panas

    Musim panas saat ini telah mencatat banyak rekor baru di stasiun-stasiun pengamatan, dengan beberapa negara Eropa tercatat mengalami situasi Juli terpanas, meskipun rekor tertinggi di benua ini tetap yang tercatat di Sisilia beberapa tahun yang lalu, tambahnya.

    Peringatan panas ekstrem di Belgia

    Suhu tinggi terus berlanjut di seluruh Eropa hingga Agustus, dengan Belgia kini menghadapi gelombang panas.

    Institut Meteorologi Kerajaan Belgia telah mengeluarkan “peringatan oranye” untuk 12 dan 13 Agustus di sebagian besar negara tersebut karena suhu yang diperkirakan melebihi norma musiman, berkisar antara 30 hingga 35 derajat Celsius (86 hingga 95 derajat Fahrenheit), dan mencapai 36 derajat Celsius (hampir 97 derajat Fahrenheit) di dekat perbatasan Prancis.

    Baca: Suhu udara capai 50 derajat di Timur Tengah

    Peringatan oranye adalah penanda bahwa cuaca akan sangat panas. Namun, “peringatan kuning” tetap berlaku di beberapa wilayah.

    Peringatan oranye di Prancis

    Di Prancis, menjadi tempat gelombang panas berlanjut, peringatan “oranye” dikeluarkan pada Senin di 45 provinsi.

    Meteo-France telah memperingatkan bahwa suhu akan tetap tinggi di sebagian besar wilayah negara tersebut.

    Suhu tertinggi, berkisar antara 36 hingga 38 derajat Celsius (hampir 97 hingga lebih dari 100 derajat Fahrenheit), diperkirakan terjadi di Ile-de-France, Provence-Alpes-Cote d’Azur, Burgundy, Centre, Haute-Normandie, dan Hauts-de-France.

    Baca: Hampir setengah juta orang meninggal per tahun akibat panas ekstrem

    Sementara itu, Kementerian Kesehatan Kosovo telah mengingatkan warga tentang suhu yang semakin tinggi, mengindikasikan bahwa tindakan seperti pembatasan jam kerja mungkin akan diberlakukan selama minggu ini.

    Hari terpanas di Inggris tahun 2024

    Tanggal 12 Agustus tercatat sebagai hari terpanas tahun ini di Inggris. Badan Meteorologi melaporkan suhu puncak sebesar 34,8 derajat Celsius (hampir 95 derajat Fahrenheit) di Cambridge. Ini adalah suhu tertinggi sejak 13 Agustus 2022.

    Badan Meteorologi lebih lanjut mencatat bahwa wilayah selatan negara itu akan terus mengalami panas pada Selasa, dengan perubahan menjadi hujan diperkirakan terjadi pada 14 Agustus.

    Paruh kedua bulan ini diperkirakan akan panas dan kering, dengan hujan sesekali.

    Selain itu, badan tersebut mengonfirmasi bahwa musim panas ini adalah musim panas terpanas ke-11 sejak 1961, dengan menyoroti bahwa delapan dari musim panas terpanas telah terjadi sejak tahun 2000, dengan enam di antaranya dalam dekade terakhir.

    Baca: Sebanyak 61 orang tewas akibat gelombang panas di Thailand

    Panas ekstrem di Italia

    Gelombang panas ekstrem yang berasal dari Afrika diperkirakan akan melanda Italia sepanjang minggu ini, dengan suhu yang mungkin mencapai 40 derajat Celsius (104 derajat Fahrenheit) pada Kamis, 15 Agustus.

    Kementerian Kesehatan telah menempatkan 19 kota, termasuk Roma, dalam kategori “merah”, yang menunjukkan tingkat risiko tertinggi untuk Selasa, 13 Agustus.

    Media Italia melaporkan bahwa suhu di Mont Blanc, puncak tertinggi di Pegunungan Alpen, tetap di atas 0 derajat Celsius (32 derajat Fahrenheit) selama 33 jam, menimbulkan kekhawatiran bahwa gletser gunung tersebut “sekarat” akibat panas yang ekstrem.

    Baca: Suhu udara hampir capai 50 derajat celcius, India tutup sekolah

    Swiss

    Swiss mengalami panas yang intens sepanjang akhir pekan, dengan suhu mencapai 33 derajat Celsius (lebih dari 91 derajat Fahrenheit) di Jenewa dan 34 derajat Celsius (lebih dari 93 derajat Fahrenheit) di Zurich pada 12 Agustus.

    Beberapa wilayah yang terkena gelombang panas mengalami hujan petir pada Senin malam.

    Di kanton Ticino, panas yang ekstrem terus berlanjut. Kantor Federal Meteorologi dan Klimatologi Swiss (MeteoSwiss) mencatat suhu tertinggi tahun ini sebesar 35,8 derajat Celsius (lebih dari 96 derajat Fahrenheit) pada 10 Agustus.

    Suhu di seluruh Swiss diperkirakan akan turun sekitar 4 derajat mulai Rabu.

    Eropa

    Eropa mengalami pemanasan dengan laju lebih dari dua kali lipat rata-rata global. Kedekatan benua tersebut dengan Kutub Utara memainkan peran yang signifikan.

    Baca: Gelombang panas landa Jepang, 6 orang tewas

    Dari Juni 2023 hingga Juni 2024, rekor suhu global telah dipecahkan selama 13 bulan berturut-turut.

    Menurut sistem pemantauan satelit Copernicus Uni Eropa, tanggal 21 Juli tercatat sebagai hari terpanas secara global dalam sejarah baru-baru ini.

    Pada tahun 2023, setiap benua mengalami gelombang panas yang meluas, intens, dan berkepanjangan, dan tren pemanasan Bumi terus berlanjut.

    Para ahli memprediksi bahwa suhu tinggi akan terus berlanjut di banyak wilayah dalam waktu dekat.

    Tahun ini, Eropa kembali terkena dampak besar dari panas ekstrem, terutama di Mediterania dan Balkan, di mana gelombang panas berkepanjangan tercatat pada bulan Juli.

    Sumber : Anadolu-OANA

  • Cuaca Hari Ini: Puncak Musim Kemarau, Waspada Suhu Panas

    Cuaca Hari Ini: Puncak Musim Kemarau, Waspada Suhu Panas

    7cloud.asia – Memasuki puncak musim kemarau, beberapa kota dilanda suhu panas. Bahkan diperkirakan ada wilayah yang mencapai hingga 35 derajat celsius.

    Dalam kanal youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) suhu panas yang mencapai 35 derajat celsius diperkirakan terjadi di Kota Palembang pada Kamis (29/08/2024).

    Prakirawan BMKG, Sekar Anggaraeni mengatakan dengan adanya suhu panas ini, kebakaran hutan dan lahan dapat mudah terjadi.

    “Waspadai potensi tingkat kemudahan terbakar di lapisan atas tanah pada kategori sangat mudah terbakar,” kata Sekar.

    Dia menyebutkan beberapa wilayah mudah terbakar seperti Aceh, Sumatera bagian tengah hingga Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian kecil Kalimantan bagian selatan.

    Selain itu wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara serta di Papua bagian selatan juga merupakan wilayah yang mudah terbakar.

    “Berhati-hati saat membakar sampah atau lahan dan tidak membuang puntung rokok di sembarang tempat untuk menghindari terjadinya kebakaran lahan dan hutan,” ujarnya.

    Sementara itu, hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir berpotensi melanda sejumlah kota di Indonesia.

    Hujan berintensitas ringan diperkirakan terjadi di Kota Medan, Bengkulu, Serang, Bandung, Samarinda, Palangkaraya, Palu, Ternate, Sorong dan Manokwari.

    Hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Nabire dan Jayawijaya. Hujan lebat berpotensi mengguyur Kota Mamuju.

    BMKG juga mengimbau warga agar mewaspadai hujan disertai petir yang berpotensi mengguyur Kota Palembang, Pontianak, Tanjung Selor, Manado dan Ambon.

    Untuk seluruh wilayah DKI Jakarta dan kota-kota lainnya cuaca diperkirakan cerah, berawan sepanjang hari.

    Suhu terendah diperkirakan terjadi di Kota Jayawijaya. Sedangkan tingkat kelembaban rata-rata di wilayah Indonesia antara 32 hingga 100 persen.

     

     

  • Bagaimana Kota-kota di Dunia Mengatasi Panas Ekstrem yang Semakin Sering Terjadi

    Bagaimana Kota-kota di Dunia Mengatasi Panas Ekstrem yang Semakin Sering Terjadi

    7cloud.asia – Perubahan iklim telah memicu panas ekstrem di banyak kota di seluruh dunia.

    Menurut analisis yang dilakukan oleh organisasi nirlaba Climate Central baru-baru ini, antara Mei 2023 dan Mei 2024, diperkirakan 6,3 miliar orang – mengalami setidaknya sebulan hidup dalam kondisi panas ekstrem menurut wilayah mereka.

    Ini artinya, sekitar 4 dari 5 orang di dunia mengalami suhu panas ekstrem. Perubahan iklim antropogenik yang disebabkan oleh manusia membuat panas ekstrem ini setidaknya dua kali lebih mungkin terjadi, demikian temuan Climate Central

    Panas ekstrem telah mempengaruhi banyak orang dan semakin sulit untuk diabaikan, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan.

    Sebuah studi pada tahun 2021 menyimpulkan bahwa pada akhir abad ini, suhu perkotaan bisa mencapai 4,4C lebih hangat tergantung pada skenario emisi.

    Baca: Menata ulang kota di dunia untuk tanggulangi panas ekstrem

    Untungnya, banyak kota yang mengambil tindakan untuk mengatasi masalah ini, menerapkan strategi untuk memperingatkan warganya tentang risiko yang ditimbulkan oleh panas ekstrem.

    Mereka juga memitigasi potensi pemanasan lebih lanjut, dan beradaptasi terhadap panas yang tidak dapat lagi dicegah.

    Langkah itu, mulai dari sistem peringatan dini, rencana tindakan darurat dan kesehatan akibat panas hingga intervensi arsitektur, Earth.Org melihat bagaimana kota-kota tetap aman dari ancaman yang mematikan ini.

    Peringatan: Panas Berlebihan!
    Musim panas ini, suhu yang memecahkan rekor telah menjadi berita utama yang didominasi oleh laporan tentang jutaan orang yang mendapat peringatan panas.

    Sistem peringatan panas adalah alat penting yang dirancang untuk memperingatkan masyarakat tentang gelombang panas yang akan datang dan kejadian panas ekstrem.

    Baca: Solusi kota untuk hadapi perubahan iklim

    Alat ini digunakan di ratusan kota di seluruh dunia, dari Las Vegas hingga Hong Kong, untuk memperingatkan dan memberikan panduan kepada warga dan otoritas lokal ketika suhu meningkat ke tingkat berbahaya.

    Warga sering kali disarankan untuk tetap terhidrasi, mencari perlindungan di ruangan ber-AC, dan menghindari aktivitas luar ruangan yang berat.

    Sementara itu, departemen lokal terkait diperingatkan tentang perlunya mengambil tindakan pencegahan seperti membuka tempat penampungan sementara dan pusat pendingin.

    Di dunia yang semakin panas, sistem peringatan ini sangat penting. Tapi bisakah mereka menyelamatkan nyawa?

    Meskipun tidak ada jawaban yang jelas, kejadian-kejadian di masa lalu menunjukkan bahwa peringatan saja tidak dapat mengimbangi ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi pemanasan ini.

    Pada tahun 2021, peringatan tidak cukup untuk mencegah ratusan kematian di Pacific Northwest. 441 orang tewas akibat cuaca panas ekstrem antara tanggal 27 Juni dan 3 Juli.

    Baca: Atap hijau salah satu solusi kota hadapi perubahan iklim 

    Lebih dikenal karena langitnya yang mendung dan hujan ringan, wilayah Barat Laut relatif tidak terbiasa dengan panas ekstrem.

    Hal ini berarti infrastruktur yang tidak memadai dan pemahaman yang buruk mengenai risiko-risiko tersebut, yang kombinasi keduanya dapat berakibat fatal.

    Demikian pula dengan Inggris, sebuah negara yang biasanya tidak memiliki cuaca yang baik, namun kini mulai merasakan kenyataan pemanasan global.

    Badan cuaca nasionalnya, Met Office, mengeluarkan peringatan “panas ekstrem” pertama di negara itu pada Juli 2022, ketika suhu mencapai 40C untuk pertama kalinya dalam sejarah.

    Pemerintah mengumumkan keadaan darurat nasional; Namun kenyataannya, tidak ada satupun yang siap.

    “Ini adalah tantangan yang nyata,” kata Renee Salas, seorang dokter pengobatan darurat di Rumah Sakit Umum Massachusetts dan Harvard Medical School, mengingat gelombang panas tersebut.

    Baca: Manfaat infrastruktur hijau bagi kota dalam hadapi perubahan iklim

     

    “Kami sudah terbiasa […] ] hingga cuaca kelabu dan mendung, umumnya suhu rata-rata bulan Juli adalah 20C. Jadi ada kesulitan nyata dalam berkomunikasi dengan orang-orang ‘ini bukan cuaca pantai atau cuaca taman atau cuaca es krim’. Jika Anda berada dalam kelompok yang mungkin rentan, jika Anda lebih tua, jika Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu yang sudah ada sebelumnya, hal ini sungguh sangat berbahaya.”

    Perkiraan resmi menyebutkan jumlah kematian akibat cuaca panas pada musim panas itu mencapai 2.985 orang, namun tidak ada keraguan bahwa jumlah kematian tersebut jauh lebih tinggi.

    “Ketika Anda pergi ke rumah sakit dengan kondisi yang berhubungan dengan panas, tidak ada sertifikat kematian yang menyatakan bahwa Anda meninggal karena gelombang panas. Itu sesuatu yang lain… kejadian kardiovaskular atau semacamnya,” jelas Salas.

    Hambatan komunikasi dan terbatasnya akses terhadap teknologi, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia, rumah tangga berpendapatan rendah, dan tunawisma adalah beberapa tantangan paling nyata yang dihadapi pihak berwenang sehubungan dengan sistem peringatan panas.

    Masalah ini terutama terjadi di negara-negara berpendapatan rendah, yang tertinggal dalam hal konektivitas.

    Dengan lebih dari 2,6 miliar orang – hampir 32% populasi dunia – masih offline, saluran-saluran tersebut hanya dapat berfungsi sejauh ini.

    Sumber:earth.org

  • Minim Ruang Hijau, Kota-kota di Belahan Bumi Selatan Rentan terhadap Panas Ekstrem

    Minim Ruang Hijau, Kota-kota di Belahan Bumi Selatan Rentan terhadap Panas Ekstrem

    7cloud.asia – Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications, mengungkap bahwa kota-kota di belahan bumi selatan lebih rentan terhadap panas ekstrem karena kekurangan ruang hijau yang menyejukkan.

    Kota-kota di belahan bumi selatan (Global South) yang kekurangan ruang hijau tersebut meliputi sebagian besar negara Asia, Afrika, dan Amerika Selatan atau Latin.

    Penelitian yang dilakukan tim dari University of Exeter tersebut menemukan bahwa kota-kota di belahan bumi selatan hanya memiliki 70 persen ruang hijau jika dibandingkan dengan kota di belahan bumi utara.

    Mengutip laman resmi University of Exeter, Rabu (25/9/2024) pemanasan global yang dikombinasikan dengan efek “urban heat island”, membuat penyakit dan kematian akibat panas di kota-kota dunia menjadi lebih sering terjadi.

    Ruang hijau perkotaan dapat membantu mengurangi risiko tersebut. Ruang hijau perkotaan juga mendinginkan lingkungan luar ruangan dan menyediakan tempat berlindung yang penting.

    “Ruang hijau perkotaan adalah cara yang sangat efektif untuk mengatasi apa yang dapat menjadi efek fatal dari panas dan kelembaban yang ekstrem,” kata Profesor Tim Lenton, dari Global Systems Institute di University of Exeter.

    Baca: Kehidupan kota yang minim ruang hijau tak bagus untuk kesehatan paru

    Menurut peneliti, semakin banyak orang yang meninggal karena perubahan iklim, terutama mereka yang tinggal di kawsan kumuh kota-kota di belahan bumi selatan.

    “Analisis kami menunjukkan bahwa ruang hijau dapat mendinginkan suhu permukaan di kota rata-rata sekitar 3°C selama musim panas, perbedaan yang sangat penting selama cuaca panas ekstrem,” ungkap Lenton.

    Efek pendinginan ruang hijau perkotaan terutama hutan perkotaan ini terjadi karena kanopi hijau dan penguapan air yang terjadi.

    Sebelumnya, sebuahvstudi serupa menemukan bahwa kebijakan iklim yang kurang ambisius saat ini akan mengakibatkan lebih dari seperlima populasi terpapar suhu panas yang berbahaya pada tahun 2100.

    Adapun populasi yang paling berisiko terpapar cuaca panas ekstrem ini berada di India (Asia Selatan) dan Nigeria (Afrika).

    Sementara studi baru ini menilai kepadatan populasi dan lokasi untuk memperkirakan “manfaat pendinginan” yang diterima oleh rata-rata masyarakat karena area hijau masih ditemukan di bagian kota yang lebih kaya.

    Baca: Jakarta terus menambah ruang terbuka hijau

    Studi ini juga menggunakan data satelit dari 500 kota terbesar di dunia untuk menilai sejauh mana ruang hijau perkotaan mendinginkan suhu permukaan kota.

    “Kabar baiknya adalah solusi berbasis alam untuk pendinginan ini dapat ditingkatkan secara substansial di seluruh belahan Bumi Selatan, membantu mengatasi tekanan panas di masa mendatang bagi miliaran orang,” ungkap Profesor Jens-Christian Svenning, dari Center for Ecological Dynamics in a Novel Biosphere (ECONOVO) di Universitas Aarhus.

    Profesor Rob Dunn, dari Universitas Negeri Carolina Utara menambahkan tidak akan mudah untuk menghijaukan kembali kota karena terkait dengan biaya. Namun upaya tersebut akan menjadi kunci untuk membuat kota layak huni dalam waktu dekat.

    Selain itu juga dibutuhkan upaya untuk mencegah hilangnya ruang hijau yang hingga saat ini masih dimiliki kota-kota di belahan bumi selatan, meski itu hanya sedikit.

    “Perubahan dapat mencakup ruang hijau di permukaan tanah dan taman vertikal dan atap, atau bahkan hutan, untuk membantu melindungi penduduk kota dari panas ekstrem,” katanya.

    Sumber: Kompas.com

  • Cuaca Panas Ekstrem Memaksa Pemerintah Filipina Liburkan Sekolah

    Cuaca Panas Ekstrem Memaksa Pemerintah Filipina Liburkan Sekolah

    7cloud.asia – Cuaca panas ekstrem memaksa pemerintah Filipina menutup sekolah di hampir separuh wilayah ibu kota pada Senin (3/3/2025), menurut pejabat setempat.

    Dilansir VOA Indonesia, negara tersebut saat ini sedang memasuki musim kemarau yang terik dan menyengat yang memicu cuaca panas ekstrem.

    Badan layanan cuaca nasional Filipina memperingatkan bahwa indeks panas, yang mengukur suhu udara dan kelembapan relatif, diperkirakan mencapai tingkat “berbahaya” di Manila dan dua wilayah lainnya di Filipina.

    “Kram panas dan kelelahan akibat panas mungkin terjadi” pada tingkat tersebut, kata badan layanan cuaca, sambil memperingatkan warga di daerah terdampak untuk menghindari paparan sinar matahari yang berkepanjangan.

    Cuaca panas ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Filipina pada April dan Mei tahun lalu menyebabkan kelas tatap muka ditiadakan hampir setiap hari sehingga berdampak pada jutaan siswa.

    Baca: Pemanasan suhu Bumi cetak rekor pada 2024

    Manila mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 38,8 derajat Celsius, pada 27 April tahun 2024 lalu.

    Sementara suhu rata-rata global pada 2024 juga mencetak rekor tertinggi dan bahkan sempat melewati ambang batas pemanasan kritis 1,5 derajat Celsius.

    Pada Januari, UNICEF—badan PBB untuk anak-anak—melaporkan bahwa cuaca ekstrem mengganggu pendidikan sekitar 242 juta anak di 85 negara tahun lalu, termasuk Filipina, dengan gelombang panas sebagai faktor yang paling berdampak.

    Meskipun suhu pada Senin (3/3/2025) diperkirakan hanya mencapai 33 derajat Celsius, pemerintah daerah di Manila dan enam distrik lainnya tetap memerintahkan penutupan sekolah sebagai langkah pencegahan.

    Departemen Pendidikan setempat mencatat bahwa wilayah ibu kota Manila memiliki lebih dari 2,8 juta siswa.

    Baca: Emisi gas rumah kaca global terus meningkat

    Departemen Pendidikan di distrik Malabon, Manila, melalui pejabat Edgar Bonifacio, menyatakan bahwa penutupan kegiatan belajar berdampak pada lebih dari 68.000 siswa di 42 sekolah.

    “Kami terkejut dengan peringatan indeks panas,” kata Bonifacio kepada AFP, sembari menambahkan, “Kami belum merasakan panas yang ekstrem di luar.”

    Namun, berdasarkan protokol yang diterapkan selama gelombang panas tahun lalu, pengawas sekolah distrik merekomendasikan penangguhan kelas tatap muka.

    Di distrik Valenzuela, pejabat sekolah Annie Bernardo mengatakan kepada AFP bahwa 69 sekolah di wilayahnya telah diinstruksikan untuk beralih ke model pembelajaran “alternatif,” termasuk kelas daring.