7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan melakukan konservasi pada pedestal atau tiang Patung Dirgantara, yang lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran.
Patung Dirgantara selesai dibangun pada 1966 dan telah ditetapkan menjadi salah satu cagar budaya oleh Pemprov DKI Jakarta.
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary menjelaskan, konservasi ini merupakan kewajiban pemerintah untuk menjaga, merawat, dan melestarikan warisan dari para pendahulu.
Saat ini kondisi pedestal Patung Dirgantara sudah kurang baik, dengan cat banyak terkelupas.
“Itu kan bangunan cagar budaya. Supaya tetap lestari harus diperbaiki. Karena sudah berlumut dan dapat merusak struktur bangunan jika dibiarkan. Oleh karena itu, tahun ini kita perbaiki pedestalnya,” ujar Miftah, dalam Siaran Pers Pemprov DKI Jakarta, Sabtu (16/8/2025).
Dilansir beritajakarta.id, perawatan yang dilakukan meliputi perapian dan pelapisan bagian tiang patung agar tampilannya lebih menarik dan terawat.
Baca: Revitalisasi Kota Yogyakarta dan Sumbu Filosofi
“Langkah pertama, cat lama dikerok. Selanjutnya, akan dilakukan coating dan pengecatan khusus untuk bangunan cagar budaya,” tambah Miftah.
Pengerjaan konservasi Patung Dirgantara ini dimulai sejak 11 Agustus 2025 dan diperkirakan akan memakan waktu selama 60 hari kalender.
Proyek ini dikerjakan oleh sekitar delapan hingga sepuluh tenaga ahli yang terdiri dari pelaksana teknis perawatan pedestal, pengawas, dan petugas pengamanan lapangan.
“Anggarannya berasal dari Dinas Kebudayaan,” lanjutnya.
Miftah menambahkan, Dinas Kebudayaan berkomitmen akan menganggarkan dana untuk konservasi bangunan-bangunan cagar budaya lainnya setiap tahun.
“Ke depan kita juga akan melakukan hal serupa untuk patung-patung lain yang ada di Jakarta seperti Patung Selamat Datang di Bundaran HI, Patung Lapangan Banteng, dan masih banyak lainnya,” tandasnya.
Baca: Kawasan Malioboro ditataulang sesuai maknanya dalam Sumbu Filosofi
Sejarah
Patung Dirgantara berada di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, tepatnya di depan kompleks perkantoran Wisma Aldiron Dirgantara yang dulunya merupakan Markas Besar TNI Angkatan Udara.
Posisinya yang strategis karena merupakan pintu gerbang menuju Jakarta bagi para pendatang yang baru saja mendarat di Bandar Udara Halim Perdanakusuma.
Ide pembuatan Patung Dirgantara datang dari Presiden Soekarno yang menghendaki agar dibuat sebuah patung mengenai dunia penerbangan Indonesia atau kedirgantaraan.
Patung ini menggambarkan manusia angkasa, yang berarti menggambarkan semangat keberanian bangsa Indonesia untuk menjelajah angkasa.
Patung ini dirancang oleh Edhi Sunarso sekitar tahun 1964–1965 dengan bantuan dari Keluarga Arca Yogyakarta. Sedangkan proses pengecorannya dilaksanakan oleh Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono.
Rancangan patung ini berdasarkan atas permintaan Bung Karno untuk menampilkan keperkasaan bangsa Indonesia di bidang dirgantara.
Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta
Penekanan dari desain patung tersebut berarti bahwa untuk mencapai keperkasaan, bangsa Indonesia mengandalkan sifat-sifat Jujur, Berani dan Bersemangat.
Berat patung yang terbuat dari perunggu ini mencapai 11 Ton. Sementara tinggi patung itu sendiri adalah 11 Meter, dan kaki patung mencapai 27 Meter. Proses pembangunannya dilakukan oleh PN Hutama Karya dengan Ir. Sutami sebagai arsitek pelaksana.
Pengerjaannya sempat mengalami keterlambatan karena peristiwa G30S pada tahun 1965.
Proses pemasangan Patung Dirgantara sering ditunggui oleh Bung Karno
Kehadiran Bung Karno ini dilaporkan selalu merepotkan aparat negara yang bertugas menjaga keamanan sang kepala negara.
Alat pemasangannya sederhana saja yaitu dengan menggunakan derek tarikan tangan. Patung yang berat keseluruhannya 11 ton tersebut terbagi dalam potongan-potongan yang masing-masing beratnya 1 ton.
Pemasangan patung Dirgantara akhirnya dapat diselesaikan pada akhir tahun 1966.
