7cloud.asia – Tingginya timbulan sampah terutama sampah plastik di Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil memicu masalah lingkungan dan mengancam potensi wisata daerah tersebut.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Singkil, timbunan sampah plastik di Kecamatan Pulau Banyak mencapai 668 ton per tahun, dengan plastik menjadi jenis sampah terbanyak kedua, yakni 22 persen.
Kondisi ini menjadi perhatian karena daerah tersebut memiliki potensi wisata bahari yang besar, namun menghadapi tantangan pengelolaan sampah dan pemeliharaan infrastruktur.
Melalui program pengabdian masyarakat, Institut Teknologi Bandung (ITB), melalui tim Ganesha Operation Plastic (GaneOpTic) ikut turun tangan mengolah sampah plastik menjadi paving block ramah lingkungan.
Hal ini tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga mendukung kebutuhan infrastruktur masyarakat. Pengolahan ini menjadi upaya menjawab persoalan nyata di masyarakat melalui inovasi teknologi.
Tim membawa alat smelter untuk mengolah limbah plastik menjadi paving block. Prosesnya diperlihatkan secara langsung kepada warga, mulai dari pemilahan dan pengeringan plastik, peleburan pada suhu tertentu, penuangan ke dalam cetakan, hingga proses pendinginan sampai menjadi paving block siap pakai.
Baca: Industri FMCG Diminta Serius Kurangi Sampah Plastik
Teknologi ini telah diterapkan di Desa Pulau Balai, salah satu pulau di Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, pada 2025.
Di wilayah pesisir tersebut, sampah plastik menjadi salah satu persoalan masyarakat, selain kerusakan jalan dan keterbatasan infrastruktur.
Dari Berbagai Perguruan Tinggi
Program ini dijalankan oleh tim GaneOpTic ITB yang diketuai oleh Dr. Megawati Zunita, dari Teknik Kimia ITB.
Tim ini juga melibatkan dosen peneliti dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, antara lain Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Universitas Insan Budi Utomo (UIBU), serta Universitas Malikussaleh (Unimal).
Kegiatan berlangsung pada 18–20 Agustus 2025. Dalam rangkaian program tersebut, tim menyerahkan alat smelter, memberikan materi mengenai daur ulang plastik, laut bebas sampah, dan pemberdayaan masyarakat, sekaligus mendampingi warga dalam praktik langsung pembuatan paving block dari sampah plastik.
Megawati mengatakan, banyaknya sampah plastik yang terbawa arus menumpuk di pesisir pantai Pulau Balai, sebuah pulau kecil yang merupakan salah satu pulau dari Kepulauan Banyak, Kabupaten Singkil.
Baca: Upaya Global dalam Mengurangi Sampah Plastik
”Tim ITB membawakan teknologi terapan, pembuatan paving block dari plastik, sekaligus menjawab kebutuhan infrastruktur trotoar yang juga menjadi tantangan.” ujarnya.
Teknologi Menjadi Solusi Lingkungan
Kehadiran teknologi ini menjadi solusi pengurangan timbulan sampah plastik dan material daur ulang untuk perbaikan jalan setapak, area fasilitas umum, hingga ruang-ruang publik skala ringan.
Megawati Zunita mengatakan, paving block berbahan dasar plastik daur ulang ini relevan untuk wilayah pesisir dengan sejumlah keunggulan.
“Tahan terhadap korosi dari air laut, tidak retak akibat reaksi sulfat, lebih fleksibel dengan perubahan suhu, relatif lebih ringan dibandingkan paving beton konvensional,” ujarnya.
Ia mengatakan, dengan formulasi dan proses produksi yang tepat, paving block tersebut juga mampu memenuhi standar mutu untuk penggunaan jalan lingkungan dan area parkir ringan.
Paving block hasil olahan sampah plastik juga memiliki potensi ekonomi. Produk tersebut dapat digunakan oleh warga setempat, sekaligus berpeluang dikembangkan menjadi usaha desa dengan menjualnya ke desa lain yang memiliki kebutuhan serupa.
Hal inilah yang membuat program tersebut tidak hanya sebagai kegiatan pelatihan, melainkan langkah awal menuju kemandirian desa.
Baca: Daur Ulang Tak Akan Mampu Imbangi Ledakan Sampah Plastik
