Tag: pekalongan

  • Tangani Sampah yang Terus Meningkat, Pemkot Pekalongan Bangun TPST dengan Dibantu Kemitraan

    Tangani Sampah yang Terus Meningkat, Pemkot Pekalongan Bangun TPST dengan Dibantu Kemitraan

    7cloud.asia – Permasalahan sampah di Pekalongan, Jawa Tengah terutama di daerah perkotaan masih membutuhkan penanganan serius dari berbagai pihak terkait.

    Saat ini belum tersedia pengelolaan sampah terpadu dan juga kesadaran masyarakat untuk membuang sampah di tempat yang disediakan masih cukup rendah.

    Karena itu Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, menggiatkan gerakan kesadaran masyarakat peduli sampah dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat.

    “Kami mengajak masyarakat lebih peduli terhadap penanganan sampah dan limbah di wilayahnya masing-masing,” kata Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid, di Pekalongan, Jumat (2/8/2024)

    Menurut dia, di tengah permasalahan banjir dan rob di Kota Pekalongan yang sudah teratasi 70 persen, ada persoalan sampah dan limbah yang belum terselesaikan.

    Baca: DLH DKI Jakarta mulai bangun pulau sampah pada 2027

    Ia mengatakan gunungan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Degayu kini sudah mencapai 20 meter dan semua zona sudah dipenuhi sampah sehingga jika kondisi itu dibiarkan saja maka diperkirakan akhir 2024 sudah penuh dan tidak bisa menampung sampah.

    “Pemkot membutuhkan keterlibatan dan peran dari seluruh masyarakat bersama-sama memulai pilah sampah dari rumah dan tidak membuang limbah maupun sampah di sembarang tempat,” ujarnya.

    Setelah sampah dipilah, kata dia, bisa disetor ke bank sampah untuk ditabung dan mendapatkan tambahan penghasilan.

    “Kami berharap pengolahan dan penanganan sampah bisa lebih digiatkan lagi. Sebanyak apapun anggaran yang digelontorkan dan sebagus apapun program yang dicanangkan pemerintah akan percuma jika tidak dibarengi dengan kesadaran dan tanggung jawab dari masyarakat,” katanya.

    Baca: Pengelolaan sampah terpadu di berbagai negara maju

    Saat ini Pemkot Pekalongan sedang membangun tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) tahap pertama dengan lahan seluas 900 meter persegi senilai Rp2,8 miliar.

    Pembangunan TPST tersebut sebagai pengganti tempat pemprosesan akhir (TPA) Degayu yang sudah kelebihan kapasitas.

    “TPST ini dibangun di atas lahan seluas 900 meter persegi dan sudah dilengkapi peralatan 6 buah mesin canggih yaitu mesin pencacah ranting, mesin gibrik, conveyor (6m), incinerator, mesin pengasah pisau, dan mesin pemilah sampah ditambah pembubur sampah organik,” katanya.

    Pada acara peletakan batu pertama pembangunan TPST itu, dia menyampaikan terima kasih kepada Kemitraan Indonesia yang telah membantu pemerintah daerah melalui program dana adaptasi (Adaptation Fund).

    Baca: Kota di Jepang ini sukses merecycle hampir 100 persen sampahnya

    Dana inilah yang memfasilitasi terwujudnya TPST yang mampu mengolah sampah berkapasitas 5-10 ton per harinya.

    “Alhamdulillah, groundbreaking pembangunan TPST sudah dilakukan. Hal itu bisa menjadi solusi jangka pendek dalam mengurangi sampah yang menumpuk di TPA Degayu,” katanya.

    Ia berharap keberadaan TPST yang berada di Kelurahan Kuripan Kertoharjo ni bisa dimaksimalkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk mulai menggiatkan pemilahan sampah dari rumah.

    Selain itu, kata dia, bisa disinergikan dengan program-program penanganan sampah yang sudah digalakkan sebelumnya seperti Omah Pilah Sampah Mandiri dan Berekonomi (OOPS MAMI), tempat pengelolaan sampah reuse, reduce, dan recycle (TPS-3R), serta bank sampah.

    Baca: Teknologi pengelolaan sampah inovasi dosen ITB

    “TPST ini juga diharapkan bisa membantu menyelesaikan persoalan sampah di daerah karena masih ada timbunan sampah yang diakibatkan dari ulah sejumlah oknum yang membuang sampah pada sembarangan tempat seperti di pinggir jalan dan bantaran sungai,” katanya.

    Direktur Program Tata Kelola Berkelanjutan Perubahan Iklim Kemitraan Indonesia Eka Melisa menyebutkan total biaya pembangunan TPST tahap pertama diperkirakan mencapai Rp2,8 miliar.

    “Pembangunan TPST ini merupakan intervensi dari program Adaptation Fund yang di dalamnya ada 3 komponen yaitu melindungi, mempertahankan, dan melestarikan menuju ketahanan iklim,” katanya.

    Sumber:Antaranews.com

  • Tim SAR Lakukan Pencarian, Jumlah Korban Longsor di Pekalongan Bertambah Jadi 17 Orang

    Tim SAR Lakukan Pencarian, Jumlah Korban Longsor di Pekalongan Bertambah Jadi 17 Orang

    7cloud.asia – Korban longsor yang terjadi di Kecamatan Petungkriono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, pada Selasa (21/01/2025) siang bertambah jadi 17 orang dari sebelumnya sebanyak 16 orang.

    Longsor yang terjadi pada Senin (20/01/2025) pukul 17.30 waktu setempat tersebut menimbun 2 unit rumah dan menyeret beberapa kendaraan yang sedang melintas di wilayah tersebut.

    “Ya, informasi terakhir ada 17 korban yang sudah ditemukan tertimbun longsor,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pekalongan Yulian Akbar seperti yang dikutip Antaranews di Pekalongan.

    Baca: Banjir dan longsor di Sukabumi terparah dalam 10 tahun

    Jumlah korban ini dimungkinkan dapat bertambah. Tim SAR gabungan saat ini masih mencari korban yang tertimbun material longsor.

    Tak hanya korban jiwa, longsor juga menyebabkan 10 orang terluka dan dirujuk ke Puskesmas dan RSUD terdekat.

    Longsor juga mengakibatkan 2 unit jembatan rusak.  

    “Jadi, dampaknya tidak terjadi hanya di Petungkriono. Akan tetapi di Kecamatan Kandangserang juga terjadi bencana, bahkan untuk menuju ke wilayah bencana kami harus memutar melalui daerah tetangga, karena jembatan di Doro yang menghubungkan akses ke Kandangserang terputus,” jelasnya.

    Selain longsor, banjir bandang juga menerjang wilayah tersebut pasca hujan deras yang mengguyur. Kerugian akibat banjir bandang masih dalam pendataan hingga saat ini.

    Baca: Cura hujan tinggi di Sulawesi Selatan mengakibatkan longsor, 8 orang tewas

    Merujuk prakiraan cuaca BMKG hingga (23/01/2025) wilayah Kabupaten Pekalongan masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Kondisi cuaca seperti ini dapat memicu terjadinya banjir, banjar bandang, dan tanah longsor.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau warga untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan.

    Bagi warga yang tinggal di dekat lereng dan tebing, pantau secara berkala kondisi tanah yang ada di sekitar rumah. Warga juga diminta melakukan evakuasi mandiri jika terjadi hujan terus menerus selama dua jam atau lebih.