Tag: pengibaran bendera merah putih

  • Pengibaran Bendera Pusaka Merah Putih: Dijahit Sendiri oleh Ibu Negara Dikibarkan di Tiang Bambu

    Pengibaran Bendera Pusaka Merah Putih: Dijahit Sendiri oleh Ibu Negara Dikibarkan di Tiang Bambu

    7cloud.asia – Pengibaran bendera merah putih menjadi salah satu kegiatan yang selalu menyertai peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

    Pun demikian, pada peringatan Hari Kemerdekaan tahun ini. Tapi, tahukah kamu bagaimana berlangsungnya upacara pengibaran bendera merah putih dilakukan di hari proklamasi kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta pada 79 tahun silam?

    Dalam artikel ini kita akan mengulas bagaimana upacara pengibaran bendera merah putih pertama kali dilakukan, tak lama setelah proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB.

    Pengibaran bendera merah putih menjadi salah satu kegiatan bersejarah, di samping pembacaan proklamasi oleh Presiden Soekarno dan sambutan oleh Wali Kota Suwirjo dan dr. Muwardi.

    Pada saat itulah, bendera merah putih untuk pertama kalinya dikibarkan oleh para pemuda Indonesia.

    Pengibar bendera merah putih pada 17 Agustus 1945 adalah Latief Hendraningrat, S Suhud, dan Surastri Karma Trimurti atau SK Trimurti.

    Baca: Biaya upacara peringatan Hari Kemerdekaan membengkak

    SK Trimurti semula ditunjuk sebagai petugas pengerek bendera, tetapi ia menolak.
    Ia berpendapat, orang yang cocok bertugas mengerek bendera merah putih adalah seorang prajurit seperti Latief Hendraningrat.

    Karena itu, ia ditunjuk untuk membawa bendera dan mendampingi Ibu Fatmawati selama upacara berlangsung.

    Sang Saka Merah Putih pun dibentangkan oleh Suhud, sementara Latief Hendraningrat bertugas mengerek bendera.

    Kendati upacara berlangsung khidmat, persiapan proklamasi dan pengibaran bendera merah putih berlangsung dalam suasana tegang.

    Sebab pihak penjajah Jepang yang saat itu sudah menyerah kepada Sekutu dapat sewaktu-waktu datang. Ketegangan ini menular pada tiga pemuda yang bertugas menjadi pengibar bendera.

    Dikutip dari Explore Sejarah Indonesia Jilid 2 untuk SMA/MA Kelas XI oleh Dr Abdurakhman SS MHum dan Arif Pradono SS MIKom, di depan rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan, sebetulnya terdapat dua tiang besi yang tidak terpakai. Salah satunya juga dapat dipindahkan.

    Baca: Megawati dan SBY tak hadir di upacara peringatan Hari Kemerdekaan di IKN

    Namun karena suasana sangat tegang dan area rumah Soekarno sudah ramai orang sejak pagi, Suhud tidak ingat akan keberadaan tiang tersebut.

    Suhud pun berjalan ke arah belakang rumah Sukarno dan membuat tiang bendera dari sebatang bambu. Batang bambu tersebut dibersihkan dan diberi tali, kemudian di tanah beberapa langkah dari teras.

    Suhud lalu menerima bendera merah putih yang dijahit Ibu Fatmawati dengan ukuran 200 cm x 300 cm.

    Memasuki upacara proklamasi kemerdekaan, Suhud yang bercelana pendek bertugas membantu Latief Hendraningrat mengibarkan bendera merah putih tersebut.

    Ia mengambil Sang Saka Merah Putih dari baki, lalu mengikatkan bendera tersebut ke tali pada tiang bambu yang telah disiapkan.

    Latief Hendraningrat lalu mengerek bendera merah putih lambat-lambat sampai ke puncak tiang dengan iringan hadirin yang bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa dipimpin oleh siapapun.

    Baca: Rapor merah Jokowi terkait perlindungan Masyarakat Adat

    Dan, berikut satu per satu petugas pengibar bendera pusaka pada 17 Agustus 1945

    Raden Mas Abdoel Latief Hendraningrat
    Dikenal juga sebagai Latief Hedraningrat dalam sejumlah buku sejarah, pengibar bendera saat proklamasi kemerdekaan Indonesia ini adalah seorang guru di masa penjajahan Belanda, dikutip dari Konflik Bersejarah-Ensiklopedia Pendudukan Jepang di Indonesia.

    Latief Hendraningrat mengajar di perguruan rakyat, Muhammadiyah dan Perguruan Taman Siswa. Kemahirannya berbahasa asing seperti bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman turut membuka peluang untuk menjadi pendidik.

    Kelahiran Jakarta, 15 Februari 1911, Latief aktif dalam Pusat Latihan Pemuda (Seinen Kunrenshoo) pada masa pendudukan Jepang. Dia kemudian bergabung dengan Pembela Tanah Air (Peta) dengan titel Chudanco.

    Pada 17 Agustus 1945, Latief Hendraningrat ditunjuk Kepala Keamanan Soekarno dr. Moewardi untuk menjadi penanggung jawab keamanan upacara.

    Anggotanya diminta berjaga-jaga di sekitar rumah Soekarno untuk memastikan peserta upacara aman jika ada serangan Jepang.

    Latief Hendraningrat juga bertugas menjamin kelancaran proklamasi. Untuk itu, ia mengawal Sukarno-Hatta menuju teras depan rumah yang menjadi lokasi pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

    Berpakaian rapi, ia pun ditugaskan sebagai pengibar bendera merah putih.

    Setelah Sukarno membacakan teks proklamasi didampingi Hatta, Latief Hendraningrat mengambil bendera. Ia dan Suhud lalu mengibarkan bendera merah putih.

    Setelah kemerdekaan, Latief Hendraningrat aktif dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan bidang pendidikan di Indonesia.

    Baca: Cara LBH Jakarta merayakan Hari Kemerdekaan

    S Suhud
    S Suhud atau Suhud Sastro Kusumo merupakan anggota Barisan Pelopor yang menjadi Komandan Pengawal Rumah Soekarno, seperti dikutip dari Sejarah Nasional Indonesia Jilid 6: Zaman Jepang & Zaman Republik oleh Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto.

    Pagi hari pada 17 Agustus 1945, anggota Barisan Pelopor termasuk dirinya mendapat tugas menyiapkan tiang bendera oleh Sudiro, yang merangkap sebagai sekretaris Sukarno. Dia meninggal pada 1986 di usia 66 tahun.

    SK Trimurti
    SK Trimurti, begitu nama ia dikenal, merupakan satu-satunya pengibar bendera putri pada upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia.

    Kelahiran 11 Mei 1912 ini semula aktif dalam gerakan kemerdekaan Indonesia sejak 1930 sambil menjadi guru sekolah dasar. Namun, SK Trimurti ditangkap Belanda pada 1936 karena membagikan selebaran antikolonial.

    Setelah dipenjara selama 9 bulan, SK Trimurti berpindah profesi menjadi wartawan.

    Usai kemerdekaan, SK Trimurti aktif menyuarakan hak-hak pekerja. Ia pun sempat menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja pertama di Indonesia pada 1947-1948.