Tag: penuaan

  • Indonesia Masuki Fase Aging Population: Pemerintah Diminta Siapkan Sistem Perawatan untuk Lansia

    Indonesia Masuki Fase Aging Population: Pemerintah Diminta Siapkan Sistem Perawatan untuk Lansia

    7cloud.asia – Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan, Indonesia akan memasuki fase penuaan penduduk atau aging population pada tahun 2030, dengan lebih dari 15 penduduk penduduk tergolong lansia atau berusia 60 tahun ke atas.

    Untuk itu pemerintah diminta segera mengantipasi dan mempersiapkan/membangun sistem perlindungan sosial untuk lansia yang inklusif dan adaptif mulai dari sekarang.

    Hal itu dibahas dalam seminar internasional bertajuk “Triangular Collaboration in Elderly Care: Academia, Industry, and Community for Sustainable Ageing Solutions” pada Rabu (17/9/2025) di Auditorium Komunikasi, FISIP UI, Depok.

    Dekan FISIP UI, Prof. Semiarto Aji Purwanto mengatakan, di Indonesia, sistem keluarga tradisional masih ada, tetapi semakin rapuh. Banyak anak merantau untuk bekerja, sehingga orang tua lanjut usia sering hidup sendiri.

    Hal ini memunculkan dua masalah utama: kekerasan terhadap lansia dan lansia yang tinggal sendirian tanpa dukungan keluarga. Karena itu, perawatan lansia tidak bisa hanya mengandalkan keluarga, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke institusi.

    ”Solusi terbaik adalah sistem hibrida, dengan menggabungkan solidaritas keluarga dengan layanan profesional, dukungan komunitas, dan peran negara,” ujarnya.

    Baca: Indonesia masuki era aging population, ini tantangannya

    Prof. Aji berharap peran pemerintah dalam kebijakan ini bertumpu pada kesehatan, perlindungan sosial dan partisipasi aktif dari lansia.

    Namun, strategi ini hanya akan berhasil jika didukung oleh kebijakan yang mengintegrasikan keluarga, pengasuh, komunitas, dan dunia usaha ke dalam sebuah sistem yang terpadu.

    Guru besar Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI, Prof. Isbandi Rukminto Adi mengatakan, pembangunan lansia di Indonesia pada 2025–2045 melalui kebijakan pembangunan yang berfokus pada pengembangan modal manusia, sosial, dan spiritual.

    Hal ini agar penduduk lanjut usia dapat berdaya dan menjadi lansia yang lebih produktif serta sehat. Pengembangan modal tersebut akan mendorong serta mempercepat pencapaian lima dimensi dalam policy context untuk lansia yang produktif dan sehat.

    ”Lansia yang produktif dan sehat, harus memenhi ⁠physical dimension, ⁠psychological dimension, social dimension, spiritual dimension dan financial dimension,” jelasnya.

    Seminar yang digelar Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI ini bertujuan untuk mendorong kolaborasi segitiga antara akademisi, industri, dan masyarakat dalam mengembangkan solusi perawatan lansia yang berkelanjutan.

    Baca: Kementerian kesehatan dorong lansia tetap sehat dan aktif 

    Akademisi berperan dalam menghasilkan penelitian berbasis bukti yang dapat digunakan sebagai dasar kebijakan dan model intervensi.

    Sedangkan Industri memberikan dukungan melalui teknologi, inovasi, dan sumber daya keuangan. Sementara itu, masyarakat berperan sebagai platform untuk melaksanakan program yang disesuaikan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

    Sinergi ketiga elemen ini akan menciptakan ekosistem yang lebih adaptif terhadap kompleksitas permasalahan perawatan lansia.

    Acara ini terdiri dari sesi panel 1 membahas tema “Isu dan Tantangan Menuju Pengembangan Sistem Perawatan Lansia yang Komprehensif di Indonesia dan Kawasan Asia Pasifik”.

    Diskusi ini menguraikan tantangan dalam mengembangkan sistem perawatan lansia yang komprehensif, serta peluang dalam membangun sistem perlindungan sosial yang inklusif dan adaptif.

    Sesi 2 berfokus pada “Percepatan Kebijakan dan Layanan untuk Lansia: Perspektif dari Akademisi, Praktisi, dan Industri.”

    Panel ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor yang nyata dalam memperkuat layanan untuk lansia, melalui inovasi teknologi, penguatan peran profesi pekerja sosial, dan dukungan kebijakan publik.

    Seminar ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan dan model intervensi yang dapat diadaptasi oleh pemerintah, organisasi sosial, dan pelaku industri, termasuk Universitas Indonesia.

    Baca: Kota pilihan untuk menghabiskan masa pensiun di Indonesia

  • Menguasai Banyak Bahasa Terbukti Menghambat Penuaan

     

    7cloud.asia Penuaan adalah salah satu hal yang tak bisa kita hindari. Seiring waktu, kita bisa mengamati tanda-tandanya, seperti lebih cepat merasa lelah, massa otot berkurang, kulit berkeriput, rambut beruban, dan sebagainya.

    Penyebabnya adalah sel-sel zombi yang bersemayam di dalam tubuh kita. Mereka sebenarnya adalah timbunan sel tua yang berhenti membelah, sehingga lama-kelamaan bisa mengubah DNA dan memicu sinyal pro-inflamasi (pro-inflammatory signalling) yang menyebabkan peradangan berlebihan.

    Situasi ini memengaruhi keseimbangan pasokan energi ke seluruh jaringan sel dalam tubuh. Mengalami stres yang tinggi juga bisa mempercepat ritme penuaan.

    Ini berarti, untuk menjadi awet muda, kita perlu menyingkirkan sel-sel zombi dari tubuh kita.

    Untungnya, ada pasukan sel pembunuh alami (natural killer cells) yang sanggup membantu melakukan tugas itu. Mereka dapat dirangsang, salah satu caranya, melalui aktivitas fisik dan serebral (berhubungan dengan otak) yang teratur.

    Beberapa studi yang dilakukan di Amerika Serikat (selama 2014 – 2015), di Spanyol (2015), serta di Korea Selatan (2019) menyimpulkan bahwa kegiatan aktif seperti berolahraga, belajar hal-hal baru, dan berbicara multibahasa dapat membantu otak agar tetap segar, sehingga bisa menahan jarum jam biologis si empunya tubuh.

    November 2025 ini, temuan riset lintas 27 negara Eropa mengungkapkan fakta bahwa monolingualisme (kemampuan seseorang berkomunikasi hanya dalam satu bahasa) dapat mengurangi lima tahun angka harapan hidup.

    Sementara multilingualisme (kemampuan seseorang menggunakan beberapa bahasa) menambah tiga tahun lebih lama. Artinya, semakin banyak bahasa yang dikuasai, semakin kuat perlindungan bagi otak.

    Baca Juga: Separuh dari Sekitar 6000 Bahasa di Dunia Terancam Punah

    Penelitian tahun 2020 juga telah membuktikan bahwa orang bilingual menunjukkan gejala Alzheimer empat tahun lebih lambat ketimbang orang monolingual.

    Alzheimer adalah penyakit otak yang menyebabkan penurunan daya ingat, melemahnya kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku.

    Aktivitas berganti-ganti antara dua bahasa menciptakan semacam cadangan pada kapasitas kognitif manusia. Kapasitas tersebut berkaitan dengan daya ingat, konsentrasi, bahasa, dan sebagainya.

    Kemampuan-kemampuan ini memungkinkan kita merespons rangsangan. Dengan kata lain, orang dengan cadangan kognitif yang lebih besar akan lebih tahan saat penuaan menggerogoti fungsi otaknya.

    Artinya, multilingualisme bukan cuma soal keterampilan, tapi juga ramuan awet muda yang menjaga otak tetap aktif sehingga dapat memperlambat penuaan.

    Bahasa ibu, bahasa kedua, dan bahasa asing

    Di Tanah Air, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional menciptakan masyarakat yang multibahasa secara alamiah. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang kaya dengan keragaman bahasa.

    Ada lebih dari 300 suku dan lebih dari 700 bahasa daerah yang digunakan di seluruh Nusantara.

    Individu yang tumbuh di Indonesia biasanya memiliki bahasa ibu—bahasa yang diperoleh pertama kali—berupa bahasa daerah, misalnya bahasa Batak, Minangkabau, Sunda, dan lain-lain. Mereka biasa menggunakan bahasa ibu tersebut dalam lingkup keluarga atau di tempat tinggalnya.

    Baca Juga: Riset Tunjukkan ‘Google Translate’ Berdampak pada Kemampuan Bahasa Siswa

    Selain itu, mereka akan menggunakan bahasa kedua (bahasa yang didapatkan melalui pembelajaran), misalnya bahasa Indonesia. Bahasa ini diperoleh secara formal di sekolah dan digunakan melalui praktik komunikasi antaretnis sehari-hari.

    Kemudian, banyak orang Indonesia juga belajar bahasa asing—bahasa yang dituturkan secara resmi di luar Indonesia—contohnya bahasa Inggris di sekolah. Bahasa ini umumnya menjadi bahasa ketiga.

    Sementara itu, bahasa asing lain, misalnya bahasa Prancis, Jerman, Arab, dan sebagainya, akan menempati posisi berikutnya sebagai bahasa keempat, kelima, keenam, dan seterusnya.

    Memang, untuk memudahkan identifikasi, para ahli ilmu bahasa (linguis) sering menyamaratakan semua bahasa yang dipelajari setelah bahasa ibu sebagai “bahasa kedua”.

    Dalam praktiknya, seorang siswa di Indonesia bisa saja mempelajari bahasa daerah lain sebagai bahasa kedua, terutama jika ia bersekolah di luar wilayah bahasa ibunya.

    Jangan karena terpaksa

    Otak adalah pusat kendali tubuh, yang menjaga seluruh fungsi vital. Gaya hidup sehat memastikan fisik tetap bugar. Sementara belajar bahasa baru menjadi latihan penting untuk menjaga otak tetap aktif, tajam, dan tahan terhadap penuaan.

    Meski demikian, faktor sosial, ekonomi, dan kontekstual tak kalah dominan dalam menentukan keberhasilan pembelajaran bahasa kedua, khususnya menyangkut manfaat resep awet muda.

    Tim peneliti mengamati bahwa mereka yang belajar bahasa asing di negara-negara Eropa, pada umumnya, adalah orang-orang berpendidikan lebih tinggi, memiliki akses dan jejaring luas, serta bergaya hidup sehat.

    Namun demikian, hasil riset tersebut juga menunjukkan bahwa manfaat kesehatan dari belajar bahasa tidak berlaku pada imigran yang merasa terpaksa belajar dan juga perempuan dalam ketidaksetaraan gender.

    Kondisi belajar di bawah keadaan stres, tekanan, dan keterpaksaan justru dapat meniadakan manfaat kognitif. Sebaliknya, hasil terbaik muncul bila bahasa kedua dipelajari sejak muda dan digunakan secara terus-menerus dengan kondisi yang kondusif.

    Tak heran, pembelajaran bahasa kedua yang diwajibkan di sekolah juga kerap tidak mencapai hasil optimal.

    Karena itu, ruang belajar yang sehat dan mendukung perlu diciptakan di tengah masyarakat, agar setiap orang dapat menikmati proses belajar bahasanya.

    Belajar bahasa kedua karena dorongan pribadi (motivasi internal) akan lebih efektif, membahagiakan, sekaligus memperkecil risiko penuaan dini, daripada sekadar memenuhi tuntutan eksternal.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Elga Ahmad Prayoga, La Rochelle Université