Tag: penurunan muka tanah

  • Cara Pemerintah Kota Tokyo Atasi Penurunan Muka Tanah Jadi Acuan Dunia

    Cara Pemerintah Kota Tokyo Atasi Penurunan Muka Tanah Jadi Acuan Dunia

    7cloud.asia – Tokyo merupakan salah satu kota besar di dunia yang terancam tenggelam akibat penurunan muka tanah. Namun otoritas setempat mengambil langkah cepat untuk mengatasinya.

    Ketika menyadari wilayahnya mengalami penurunan muka tanah,  pemerintah Kota Tokyo segera menelaah beragam solusi dan memutuskan untuk menyelesaikan akar masalah.

    Pemerintah Kota Tokyo lalu mengetatkan aturan pemompaan air tanah yang menyebabkan laju penurunan muka tanah menurun secara signifikan pada 1970-an.

    Dilansir BBC, Mereka juga membangun sistem pengelolaan air, sebuah cara yang paling efisien menghentikan laju penurunan permukaan tanah, menurut banyak peneliti.

    Kajian Universitas Tekonologi Nanyang (NTU) menunjukkan, permukaan tanah Tokyo kini jauh lebih stabil dibanding beberapa dekade lalu.

    Meski, di beberapa titik, ada area yang tenggelam dengan rata-rata dari 0,01 cm hingga 2,4 centimeter per tahun sejak 2014 sampai 2020. Titik-titik yang tenggelam adalah lahan reklamasi.

    Baca: Penurunan muka tanah dan perubahan iklim perburuk banjir rob di Jakarta

    Bagaimana cara kerja sistem pengelolaan air di Tokyo? Mayoritas pasokan air berasal dari hutan dan sungai yang diolah melalui dua bendungan besar di sekitar Kota Tokyo.

    Air dimurnikan di 10 tempat penyulingan dan dikirim ke pusat penyediaan air. Selanjutna, pusat penyedia air mengatur volume dan tekanan air.

    Kemudian, air didistribusikan ke rumah-rumah dan gedung-gedung melalui pipa tahan gempa.

    Terlepas dari efektifnya sistem pengelolaan air Tokyo, ada keraguan sistem ini dapat diterapkan di kota-kota pesisir negara lain. Pasalnya, butuh biaya tinggi untuk pembangunan dan perawatan sistem tersebut, menurut Prof Miguel Esteban dari Universitas Waseda di Tokyo,

    Meski demikian, dia menambahkan, sejumlah kota di Asia merujuk pendekatan Tokyo sebagai model yang bisa diadopsi.

    Ibu kota Taiwan, Taipei, misalnya berhasil mengurangi ekstraksi air tanah pada 1970-an yang menyebabkan berkurangnya laju penurunan muka tanah.

    Baca: Perubahan iklim akibatkan permukaan laut naik 1,2 centimeter per tahun

    Banyak kota lainnya, seperti Houston (AS), Bangkok (Thailand), dan London (Inggris) juga secara ketat mengatur pemompaan air tanah untuk memastikan ekstraksi tidak berlebihan.

    Sejumlah kota lain mengupayakan beragam metode untuk menyelesaikan masalah ini. Shanghai (China), misalnya, berhasil menginjeksi air dari Sungai Yantze yang telah dimurnikan.

    Air sungai tersebut disuntikkan ke dalam tanah melalui sumur-sumur yang digunakan untuk mengambil air tanah sebelumnya.

    Kota lainnya, seperti Chongqing di China dan San Salvador di El Salvador mengimplementasikan kebijakan “kota spons” atau sponge cities.

    Alih-alih menggunakan material beton yang tidak bisa menyerap air, di sepanjang ruas jalan dan area terbuka, mereka menggantinya dengan tanah, rumput atau pepohonan.

    Pembangunan taman, lahan basah, dan area terbuka hijau pun diprioritaskan. Begitu pula dengan danau dan kolam-kolam yang dapat digunakan untuk menampung air hujan.

    Baca: Manfaat bangunan hijau untuk lingkungan dan kota

    Kawasan perumahan di Berlin didesain dengan area terbuka hijau yang dapat menyimpan dan menyerap kelebihan air.

    Metode ini dipercaya bisa “lebih berhasil dan tahan lama, serta biayanya hanya satu per sepuluh dari membangun bendungan-bendungan besar”, kata Prof Manoochehr Shirzaei dari Universitas Virginia Tech di Amerika Serikat.

    Meski, sejumlah pendapat mengkritik bahwa solusi ini tak akan berpengaruh banyak untuk mengurangi laju penurunan muka tanah apabila tidak diterapkan dalam lingkup yang besar.

    Dan, apa pun metodenya, perlu juga komitmen politik jangka panjang dari para pemimpin, ujar Prof Shirzaei.

    “Penurunan muka tanah akan terus muncul secara bertahap dalam jangka waktu yang lama, sehingga untuk menyelesaikannya, kita harus mengambil langkah yang sulit dan menerapkannya selama beberapa dekade,” katanya.

    Termasuk, katanya, pembatasan pompa air tanah yang mungkin tidak populer di kalangan masyarakat yang sudah sepenuhnya bergantung pada air sumur.

    Baca: Perubahan iklim bebani penduduk miskin di pesisir Jakarta

  • Pemanfaatan Air Tanah Secara Berlebihan Percepat Penurunan Muka Tanah di Jakarta

    Pemanfaatan Air Tanah Secara Berlebihan Percepat Penurunan Muka Tanah di Jakarta

    7cloud.asia – Tim peneliti Universitas Teknologi Nanyang (NTU) di Singapura. mengkaji penurunan muka tanah di 48 kota pesisir di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika.

    “Penurunan muka tanah adalah masalah yang umum ditemukan di banyak kota. Salah satu penyebab utamanya adalah ekstraksi air tanah,” jelas peneliti utama studi NTU, Profesor Cheryl Tay.

    Air tanah bisa ditemukan di dalam lapisan Bumi, di sela-sela tanah, pasir, dan bebatuan. Lebih dari separuh rumah tangga di dunia menggunakan air tanah untuk kebutuhan domestik, seperti minum dan irigasi.

    Namun dengan tingginya tingkat urbanisasi, ketersediaan air tanah semakin tipis. Ini mendorong banyak rumah dan industri mengebor sumur sendiri untuk memompa air tanah sebanyak mungkin—seperti di Jakarta.

    Padahal, mengambil air tanah secara berlebihan dapat menyebabkan tanah menjadi padat dan amblas. Lama-kelamaan, bangunan dan infrastruktur yang ada di atasnya akan ikut turun atau ‘tenggelam’.

    “Kota-kota yang mengalami penurunan muka tanah banyak ditemukan di Asia atau Asia Tenggara,” kata Tay.

    Baca: Penurunan muka tanah dan perubahan iklim perburuk banjir rob di Jakarta

    “Karena kebutuhan air cukup tinggi, seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk yang tinggal di kota tersebut dan pertumbuhan lainnya.

    “Pertumbuhan populasi mengakibatkan tingginya kebutuhan air tanah dan ini akan menimbulkan dampak lainnya… Banjir akan lebih sering terjadi, lebih parah, dan lebih lama di masa depan,” Tay menambahkan.

    Intrusi air laut yang “dapat merusak tanah pertanian dan kualitas air minum”, adalah kemungkinan dampak lain.

    Beberapa jenis tanah lebih sensitif terhadap penurunan muka tanah. Tanah yang terbentuk dari endapan sedimen air sungai dan banyak ditemukan di wilayah pesisir, cenderung lebih rentan amblas.

    Kondisi seperti ini ditemukan antara lain di pesisir Jakarta, Bangkok, Ho Chi Minh, dan Shanghai.

    Kini, hampir separuh Kota Jakarta berada di bawah permukaan laut. Jakarta dibangun di atas rawa-rawa, yang dilewati 13 aliran sungai yang bermuara ke laut. Ini membuat Jakarta sangat rentan terhadap penurunan muka tanah.

    Baca: Praktik penyalahgunaan air tanah oleh pengelola rumah susun di Jakarta

    Kombinasi penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan air laut secara global mempercepat “kenaikan air laut yang terlokalisasi di wilayah-wilayah pesisir”, kata Tay.

    “Ada dua komponen: tanah yang turun dan air yang naik.”

    Banjir di Jakarta menyebabkan tenggelamnya kawasan perumahan dan perkantoran.
    Siklus banjir Jakarta yang biasanya lima tahun sekali bisa menjadi lebih sering.

    Hal ini karena “curah hujan ekstrem yang meningkat di Indonesia bersamaan dengan meningkatnya suhu permukaan dan konsentrasi gas rumah kaca”, mengutip pernyataan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam sesi webinar pada Hari Meteorologi Dunia.

    Dalam satu dekade terakhir, banjir di Jakarta telah memakan puluhan korban jiwa dan setidaknya 280.000 orang mengungsi sementara hingga air surut.

    Baca: Mayoritas air tanah di Jakarta sudah tercemar

    Ketika sebagian permukaan tanah Jakarta empat meter lebih rendah dibandingkan tahun 1970, pemerintah Indonesia memutuskan membangun ibu kota baru, Nusantara, di Kalimantan. 

    Jarak Ibu Kota Nusantara ini lebih dari 1.200 kilometer dari Jakarta. Letaknya jauh dari pesisir.

    Sumber air ibu kota baru ini akan berasal dari bendungan dan waduk yang dirancang untuk menampung air sungai atau hujan. Air akan dimurnikan dan didistribusikan untuk memasok kebutuhan rumah tangga dan perkantoran.

    Ini berarti, tak ada kebutuhan untuk membuat sumur pompa air tanah di Nusantara.

    Meski demikian, pembangunan ibu kota baru ini memantik kontroversi dan laju pembangunannya melambat. Beberapa mengkritik bengkaknya biaya yang dibutuhkan—lebih dari Rp500 miliar.

    Belum lagi dampak lingkungan serta hilangnya keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.

    Baca: Cara pemerintah kota Tokyo tangani penurunan muka tanah

  • Penurunan Muka Tanah dan Perubahan Iklim Perburuk Banjir di Jakarta

    7cloud.asia – Penurunan muka tanah yang terus berlangsung di Jakarta menjadi faktor  yang secara signifikan memperbesar ancaman banjir di Ibu Kota, baik banjir rob dari laut maupun banjir perkotaan akibat hujan dan luapan sungai.

    Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Dr. Yus Budiyono, mengatakan bahwa penurunan tanah berkontribusi meningkatkan risiko banjir di Jakarta hingga lebih dari 40 persen.

    Angka ini melampaui pengaruh faktor lain, di antaranya perubahan iklim maupun kenaikan permukaan air laut.

    “Kalau kami membandingkan beberapa entitas yang mempengaruhi risiko banjir di Jakarta, dari empat entitas yang kami perhatikan yang penurunan muka tanah (land subsidence) itu pengaruhnya paling besar, yakni di atas 40 persen,” ujarnya dikutip Kompas.com.

    Berdasarkan kajian BRIN, kondisi penurunan muka tanah di wilayah pesisir utara Jakarta menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Yus menjelaskan, secara rata-rata, amblesan tanah di Jakarta bagian utara terjadi dengan kecepatan sekitar 3,5 sentimeter per tahun.

    Namun, angka rata-rata tersebut menutupi fakta bahwa di sejumlah lokasi tertentu, penurunan tanah berlangsung jauh lebih ekstrem.

    “Tapi mungkin kalau nilai yang paling sering muncul itu kira-kira ya 15 cm per tahun, sedangkan di tempat yang paling parah itu penurunannya sampai 28 cm per tahun,” tutur Yus.

    Menurut dia, titik penurunan paling parah teridentifikasi di kawasan Pantai Mutiara, Jakarta Utara, dan Cengkareng Barat, Jakarta Barat.

    “Titik yang paling parah itu di Pantai Mutiara dan kemudian juga Cengkareng Barat. Kalau sejak mulainya kapan, saya perlu melihat catatan dulu. Tapi tidak sejak 1970,” ujar dia.

    Dia menambahakn, secara historis, laju penurunan muka tanah cenderung bersifat linear yakni tidak dapat dipulihkan. Hal ini juga terjadi di kota-kota besar lain seperti Tokyo (Jepang), Bangkok (Thailand), dan lain-lain,

    BRIN mencatat bahwa dampak penurunan muka tanah tidak hanya terbatas pada banjir rob. Amblesan tanah juga memperparah banjir akibat hujan langsung maupun banjir kiriman dari hulu.

    Ia mencontohkan sejumlah peristiwa banjir besar yang dipicu hujan lokal ekstrem, seperti yang terjadi pada 1 Januari 2020 dan tiga banjir besar sepanjang tahun 2025

    “Yang pertama, Maret. Yang kedua, Juli. Yang ketiga, Oktober 2025 Itu dominasi dari hujan lokal itu besar,” lanjut dia.

    Banjir kiriman dari Bogor yang kerap diantisipasi melalui sistem siaga pemerintah daerah juga tetap menjadi ancaman.

    Langkah mitigasi
    BRIN menekankan bahwa langkah paling krusial untuk menekan laju penurunan muka tanah dan dampak yang ditimbulkan adalah penyediaan air bersih agar pengambilan air tanah dapat dihentikan.

    “Pemerintah harus menyediakan kebutuhan air untuk seluruh warga, bukan hanya di Jakarta, tapi di seluruh pantura. Sehingga nanti air itu tidak lagi diambil dari tanah,” kata Yus.

    Tanpa penghentian penurunan tanah, ia menilai infrastruktur sebesar apa pun akan sia-sia.

    Selain penurunan muka tanah, perubahan iklim juga menjadi faktor penting dalam pembentukan risiko banjir Jakarta.

    Namun, Yus menekankan bahwa persoalan utama perubahan iklim bukan terletak pada rata-rata curah hujan tahunan. Masalah sesungguhnya, kata Yus, adalah meningkatnya kejadian cuaca ekstrem.

    Dia menegaskan bahwa kejadian-kejadian luar biasa, yakni banjir 1 Januari 2020 dan tiga peristiwa besar pada 2025 merupakan bukti nyata.

    Pandangan BRIN tersebut sejalan dengan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mencatat adanya peningkatan frekuensi banjir di Jakarta, terutama dalam tiga dekade terakhir.

    “Meningkatnya risiko kejadian curah hujan ekstrem sebesar 2-3 persen menyebabkan banjir yang berulang seperti banjir yang terjadi berulang kali pada tahun 2014, 2015, 2020; dibandingkan dengan kondisi iklim 100 tahun yang lalu,” ujar Ardhasena.

    Bahkan, peluang terjadinya banjir besar meningkat signifikan. “Risiko banjir seperti kejadian 2015 pada era iklim modern saat ini, peluang terjadinya (risiko) meningkat 2-3 kali lipat dibanding peluang nya pada era iklim masa lampau,” kata dia.

    Faktor Fisik Daratan dan Banjir Gabungan
    BMKG menilai bahwa kerentanan utama Jakarta Utara bukan semata faktor cuaca, melainkan perubahan fisik daratan akibat fenomena penurunan muka tanah (land subsidence)

    Ia menggambarkan wilayah pesisir Jakarta sebagai “efek mangkuk raksasa yang bersifat permanen,” sehingga tanpa hujan ekstrem pun air laut selalu berusaha masuk ke daratan.

    Kondisi ini diperburuk oleh fenomena seruakan dingin (cold surge), hujan dini hari yang bertepatan dengan pasang maksimum, hingga akhirnya memicu banjir gabungan atau compound flooding.