7cloud.asia – Sejak pertengahan bulan lalu, pemprov DKI Jakarta melakukan penyemprotan jalan protokol untuk mengatasi polusi udara.
Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Joko Agus Setyono mengatakan, penyemprotan jalan protokol ini akan tetap terus dilanjutkan meski dinilai tak efektif serta membahayakan kesehatan.
“Masih (penyemprotan jalan, red), ini kan musim kemarau. Musim kemarau ini debu-debu berterbangan makannya harus disisir,” ujar Joko di Jakarta pada Jumat (8/9/2023) malam.
Penyemprotan jalan ini melibatkan mobil dinas damkar dan kendaraan water cannon.
Baca: Gedung tinggi di Jakarta wajib pasang water mist paling lambat 11 September
Selain itu, Joko menjelaskan pihaknya mengimbau kepada pemilik gedung bertingkat untuk segera memasang water mist sebagai upaya mengurangi polusi udara.
Namun upaya penyemprotan air ke jalan ini mendapat banyak kritikan karena dianggap tidak efektif dalam mengatasi polusi udara. Seperti yang dikatakan anggota DPRD DKI Fraksi PDIP, Gilbert Simanjuntak beberapa waktu lalu.
Menurutnya penyemprotan air ke jalan tersebut tidak berdampak signifikan dalam mengatasi polusi. Menurutnya, sudah banyak pendapat dan data yang disampaikan bahwa penyemprotan jalan yang tidak berdampak pada polusi ini.
“Saya tidak melihat ada kebijakan/solusi jangka pendek yang berdampak signifikan saat ini dan jangka panjang,” jelas Gilbert.
Baca: Berbagai opsi jangka pendek atasi polusi udara di Jakarta
Upaya penyemprotan air ini juga mendapat sorotan dari epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI), Pandu Riono.
Menurutnya penyemprotan tersebut justru dapat membahayakan kesehatan.
“Karena disemprot air malah memperburuk partikel udara (PM 2,5). Kalau disemprot dengan air bertekanan tinggi bisa terjadi aerolisasi, jadi partikular itu menguap dan bisa lebih dahsyat efeknya kalau dihirup masyarakat,” jelas Pandu.
Pandu menjelaskan polusi udara mengandung partikel kecil yang disebut PM 2,5 atau yang lebih kecil lagi berukuran 10 mikron (PM10), serta polusi dari hasil pembakaran energi sulfur oksigen (SO2).
Baca: Hujan buatan tak optimal atasi polusi udara di Jakarta, ini sebabnya
Pandu mengingatkan, pengaruh polusi udara terhadap kesehatan tak bisa dianggap remeh.
Sebab, cemaran udara tidak hanya bersarang di paru-paru, tapi juga memicu efek alergi, mudah sakit, mengganggu sistem kerja jantung dan susunan organ lain, karena menyebar ke semua sistem tubuh.
“Tekanan tinggi air bisa memecah partikel polusi jadi lebih halus dan masuk ke dalam pernapasan lebih mudah lagi tanpa kita sadari. Aerolisasi itu seperti menyemprot ketiak kita dengan antibau badan, itu aerolisasi
tingkat tinggi,” papar Pandu.
Reporter: Nurakhmayani
