Tag: perairan

  • Perairan Pertanian Tercemar Limbah Pabrik Coklat, DLHK Tangerang Turun Tangan

    Perairan Pertanian Tercemar Limbah Pabrik Coklat, DLHK Tangerang Turun Tangan

    7cloud.asia – Perairan pertanian di Desa Talagasari, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten tercemar limbah pabrik coklat. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Tangerang akan segera melakukan pemeriksaan.

    Kepala Bidang Bina Hukum dan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) DLHK Kabupaten Tangerang, Ari Marogo menjelaskan pemeriksaan ini untuk memastikan laporan warga mengenai pencemaran.

    “Dari laporan yang diterima kami, adanya dugaan pencemaran olah pabrik coklat itu nanti akan segera kami tindaklanjuti (pemeriksaan),” katanya dikutip Antaranews.

    Lebih jauh Ari menjelaskan pihaknya melakukan pemeriksaan dengan cara mengecek setiap kegiatan produksi.

    baca: Pencemaran Udara Kategori Bahaya, Pemprov Sumsel Lakukan Penyemprotan Ekoenzim

    Pemeriksaan dilakukan sejak proses awal produksi hingga menjadi limbah serta pemeriksaan di seluruh area pabrik itu.

    “Nanti kita akan turunkan tim untuk cek pabrik coklat itu, dan sudah kita jadwalkan untuk ke lapangan,” ungkapnya.

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, sejumlah petani di Desa Talagasari, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten mengeluhkan pencemaran dari limbah pabrik coklat milik PT Federal Food Internusa.

    baca: Limbah Pabrik Coklat Mencemari Aliran Irigasi Pertanian, Petani Mengeluh

    Salah seorang petani sayur, M. Rohman (50), menjelaskan pencemaran limbah coklat ini sebenarnya sudah lama terjadi.

    “Soal pencemaran air limbah coklat ini memang sudah lama terjadi. Dan ini sudah kita keluhkan ke perusahaan, tapi tidak ada tanggapan. Selama ini saya terpaksa juga memanfaatkan air limbah ini karena di musim kemarau sudah tidak ada sumber air lagi yang bisa dimanfaatkan,” jelas Rohman.

    Menurutnya, lima tahun lalu dirinya pun sudah merasakan dampak dari pencemaran limbah pabrik tersebut.

    “Karena sejak saya garap lahan sayur ini pun sudah ada pencemaran. Apa lagi sekarang kan musim kemarau, dampak limbah itu semakin parah saja,” ucapnya.

    Pencemaran limbah ini tak hanya berdampak langsung pada lahan pertanian. Tetapi juga mengakibatkan pencemaran air galian warga yang berada di dekat aliran sungai setempat.

    baca: dari tragedi teluk minamata lahirlah hari lingkungan hidup sedunia
    “Memang air limbah ini kalau ke tumbuhan tidak mematikan. Tapi, kalau hasil panen atau kualitas sayur maupun padi itu jelek. Seperti saya tanam timun itu hasilnya tidak normal, biasanya panen satu kuintal sekarang hanya 50 kilogram saja. Terus, selain ke tumbuhan air galian untuk air bersih juga jadinya terdampak jadi bau,” paparnya.

    Sementara itu, di lokasi pabrik pengelolaan coklat terlihat aliran irigasi di sekitarnya dipenuhi busa dengan berwarna hitam pekat. Bahkan dari limbah tersebut berbau tak sedap hingga mengganggu pernafasan.

    Kemudian, saat mencoba mengelilingi sekitar bangunan pabrik, terlihat juga adanya kandungan seperti minyak yang mengakibatkan rumput dan tumbuhan di sekitar irigasi mati.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kajian SMERU: Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Sering Abaikan Warga Sekitar

    Kajian SMERU: Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Sering Abaikan Warga Sekitar

    7cloud.asia – Kajian yang dilakukan oleh The SMERU Research Institute (SMERU) menemukan bahwa pengelolaan kawasan konservasi perairan perlu dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir.

    Dalam keterangan dirilis Sabtu, Peneliti SMERU Annabel Noor Asyah menjelaskan pihaknya menemukan tingkat ketimpangan lebih tinggi di desa dekat kawasan konservasi jika dibandingkan di luar wilayah.

    Temuan ini setelah SMERU melakukan kajian terkait pengelolaan kawasan konservasi perairan dengan melihat kondisi serta tantangan kesejahteraan masyarakat pesisir.

    “Hal ini karena pengelola kawasan konservasi umumnya memiliki latar belakang pengelolaan kelautan. Oleh karena itu mereka perlu dibekali pengetahuan mengenai aspek kesejahteraan masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi,” kata Annabel dalam Forum Kajian Pembangunan 2024 yang diadakan SMERU pada Kamis (20/6/2024).

    Baca: Menata daerah pesisir yang adaptif terhadap perubahan iklim

    Kajian SMERU ini juga menemukan bahwa tantangan yang dihadapi masyarakat pesisir di kawasan konservasi perairan tidak selalu sama.

    Terkait hal itu Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang Imam Fauzi dalam forum tersebut mengatakan bahwa masyarakat di tiap-tiap kawasan konservasi memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

    “Jadi, upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan perairan juga perlu memperhatikan faktor budaya lokalnya,” ujar Imam.

    Dia menambahkan, jika masalah ini tidak dipahami dengan benar maka program atau proyek peningkatan kesejahteraan masyarakat bisa tidak berjalan dengan optimal

    Dalam kesempatan yang sama, Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir Ahli Utama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Andi Rusandi memaparkan sejumlah tantangan dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan.

    Baca: Daerah pesisir paling terdampak perubahan iklim

    Salah satunya adalah peningkatan kebutuhan produksi protein karena ledakan penduduk, pemenuhan kebutuhan pasar ekspor dan domestik, dan meningkatnya jumlah sampah yang mencemari laut.

    Untuk itu, lanjutnya, pemerintah merespons dengan kebijakan pengembangan budi daya laut, pesisir, dan air tawar.

    Sedangkan untuk sampah laut adalah penanganan sampah laut dengan nilai ekonomi sampah laut.

    Mengurangi kegiatan penangkapan ikan di laut akan menjaga populasi ikan dan hasil budi daya targetnya untuk peningkatan produksi perikanan pasar ekspor dan dalam negeri.

    “Sementara untuk mengurangi sampah laut hingga 70 persen pada 2030, KKP membuat program-program, salah satunya Bulan Cinta Laut,” kata Andi.