Tag: perang

  • Presiden Jokowi Desak Palestina dan Israel Hentikan Perang

    Presiden Jokowi Desak Palestina dan Israel Hentikan Perang

    7cloud.asia – Serangan kelompok militan Palestina, Hamas, ke wilayah Israel telah memakan korban lebih dari 1000 jiwa. Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyerukan penghentian perang dan kekerasan tersebut.

    “Indonesia mendesak agar perang dan tindakan kekerasan segera dihentikan untuk menghindari semakin bertambahnya korban manusia dan hancurnya harta benda, karena eskalasi konflik dapat menimbulkan dampak kemanusiaan yang lebih besar,” jelas Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (10/10/2023).

    Selain itu, Jokowi juga mendorong agar kedua negara tersebut dapat menyelesaikan akar konflik sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati bersama.

    “Akar konflik tersebut yaitu pendudukan wilayah Palestina oleh Israel, harus segera diselesaikan sesuai dengan parameter yang sudah disepakati PBB,” katanya.

    Jokowi selanjutnya memerintahkan jajaran terkait untuk bertindak cepat melindungi WNI yang berada di wilayah konflik.

    “Saya minta Menteri Luar Negeri dan jajaran kementerian terkait segera mengambil tindakan cepat untuk melindungi WNI yang berada di wilayah konflik,” katanya.

    Sebelumnya PBB dan sejumlah negara di dunia bereaksi terhadap gelombang serangan kelompok militan Palestina, Hamas, ke wilayah Israel.

    PBB dan sejumlah negara  menyerukan konflik antara Israel dan kelompok militan Hamas segera diakhiri. Sebab korban tewas di kedua belah pihak mencapai lebih dari 1.000 orang.

    Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak upaya diplomatik di Timur Tengah untuk mencegah konflik yang lebih luas.

    Program Pangan Dunia (WFP) PBB pada Minggu (8/10/2023) mengatakan, mereka “sangat prihatin” mengenai dampak perang antara Israel dan Hamas terhadap warga sipil yang berjuang untuk mendapatkan pasokan makanan penting.

    Sejak Sabtu (07/10/2023) waktu setempat, saling serang terjadi antara kelompok Hamas dan Israel.  

    Kelompok Hamas yang merupakan salah satu faksi di Palestina itu pun memberikan tanggapan terhadap serangan balasan yang dilakukan Israel dengan menargetkan Jalur Gaza.

    Menurut pihak berwenang Palestina, serangan udara dan operasi militer lainnya oleh Israel telah menewaskan 413 orang.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

     

  • Korban Tewas Akibat Perang Israel dan Hamas Palestina Dekati 4000 Orang

    Korban Tewas Akibat Perang Israel dan Hamas Palestina Dekati 4000 Orang

    7cloud.asia – Jumlah korban tewas perang Hamas, Palestina dan Israel mendekati angka 4.000 orang di kedua belah pihak pada Minggu (15/10/2023).

    Kementerian Kesehatan Gaza pada Minggu melaporkan, serangan Israel di Jalur Gaza, Palestina telah menewaskan sedikitnya 2.450 orang.

    Baca: Wartawan peliput perang Israel-Palestina turut jadi korban

    Israel memborbardir Gaza, Palestina menyusul serangan mendadak kelompok Hamas ke Israel selatan dimulai pada Sabtu (7/10/2023).

    Kementerian yang dikuasai Hamas itu menambahkan, sebanyak 9.200 orang lainnya juga terluka ketika Israel melanjutkan kampanye udara terhadap target-target di wilayah Jalur Gaza.

    Baca: Konten soal Palestina di medsos dibatasi

    Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Israel pada Minggu, menyebut lebih dari 1.400 orang telah tewas di Israel sejak Hamas menyerang.

    “Lebih dari 1.400 orang tewas (dan) lebih dari 120 orang Israel diculik oleh Hamas sejak serangan 7 Oktober,” kata Tal Heinrich, Juru bicara kantor PM Israel kepada para wartawan, dikutip dari AFP.

    Baca: 

    Dengan demikian, hingga Minggu (15/10/2023) jumlah korban tewas dalam perang Hamas-Israel di kedua belah pihak sudah mencapai 3.850 orang.

    Sejumlah negara termasuk Sekjen PBB telah menyerukan agar perang antara Hamas dan Israel dihentikan, karen penduduk Palestina yang tidak bersalah yang akan menjadi korban. 

    Baca: Akar perang Israel – Palestina sudah berlangsung ratusan tahun

    Namun, seruan ini tidak digubris baik oleh Israel maupun Hamas. Hingga Minggu malam serangan masih dilancarkan oleh kedua belah pihak.

    Sumber: Kompas.com

  • Baik Israel dan Gaza Palestina, Kesulitan Memakamkan Korban Perang

    Baik Israel dan Gaza Palestina, Kesulitan Memakamkan Korban Perang

    7cloud.asia –  Mematuhi aturan untuk memakamkan orang yang meninggal secara layak, sementara ribuan orang tewas dalam zona perang  Israel – Palestina seperti di Gaza, terbukti sulit.

    Ada begitu banyak jenazah yang harus dimakamkan dalam perang Israel-Palestina baik di Gaza maupun Israel.

    Ini dimulai dengan serangan Hamas, Palestina terhadap puluhan komunitas di Israel selatan yang menewaskan lebih dari 1.400 warga Israel. 

    Kini, setelah lebih dari dua minggu serangan udara besar-besaran Israel yang menarget Hamas, para pejabat kesehatan Palestina mengatakan sudah lebih dari 6.400 orang tewas di Jalur Gaza, termasuk ribuan perempuan dan anak-anak.

    Baca: Bantuan untuk Palestina dinilai masih kurang

    Mengenai serangan Hamas, Direktur Institut Forensik Nasional Israel, Chen Kugel, mengatakan, hampir 1.000 jasad masih dalam lemari penyimpanan dingin di satu pangkalan militer.

    Dari jumlah itu, hampir 300 masih belum diidentifikasi. Banyak mayat yang terbakar sehingga hanya dapat diidentifikasi dengan DNA.

    “Kami dapati orang yang tubuhnya hanya tersisa satu kilogram karena terbakar total. Dan sebagian di antaranya hanya berupa potongan,” lanjutnya.

    Tugas identifikasi yang sulit ini sangat mendesak karena tradisi Yahudi mewajibkan penguburan segera.

    Bahkan sebelum pemakaman, doa Yahudi untuk orang mati, “Kaddish,” dibacakan di atas jasad yang dikumpulkan Zaka, organisasi keagamaan Israel yang mengambil jenazah untuk pemakaman Yahudi.

    Baca: OKI diminta segera bertindak 

    Bagi prajurit yang gugur, ada satuan tentara Israel yang bertugas menangani jasadnya dan menyiapkan penguburan sesuai prinsip penghormatan terhadap orang yang mati.

    Ariav Schlesinger, seorang tentara cadangan Pasukan Pertahanan Israel mengatakan, harus ada orang yang turun ke kuburan dan memastikan bahwa jasad tentara itu benar-benar telentang lurus, tidak dalam posisi yang tidak sopan, dan seluruhnya tertutup.

    “Kecuali jika benar-benar perlu untuk melihat sesuatu pada mayat itu, maka bagian spesifik itu akan dibuka.” ujarnya

    Sementara itu di Gaza, orang-orang Palestina berusaha mengikuti hukum Islam walaupun mereka kesulitan memakamkan ribuan orang yang tewas. Dr. Yasser Abu Jamei adalah kepala Program Kesehatan Jiwa Gaza.

    “Mereka mengatakan sekitar 1.500 mayat masih terjebak di bawah reruntuhan, termasuk sekitar 800 anak-anak. Sayangnya, peralatan yang ada tak cukup untuk menangani demikian banyak rumah yang hancur.”

    Baca: Korban perang Israel-Palestina terus bertambah

    Kekurangan bahan bakar kini mengimbas mereka. Sebagian dari mayat-mayat itu sudah berada di sana lebih dari satu minggu. Mereka dianggap mati.

    “Mayat-mayat itu tidak bisa dibiarkan di sana, mereka harus dikuburkan dengan cara yang bermartabat,” jelasnya.

    Jamei menambahkan, menurut Islam, mayat harus dimandikan, lalu dibungkus dengan kain kafan.

    Orang-orang yang membawa jenazah ke kuburan, dan para pelayat, harus memanjatkan doa bagi jasad itu sebelum dimakamkan.

    Namun, akibat serangan udara Israel, banyak mayat yang tidak utuh. Jamei mengatakan, seringkali muncul situasi di mana satu lubang kuburan harus diisi beberapa jenazah.

    Sekali lagi, Dr. Yasser Abu Jamei mengatakan, “Dalam situasi itu, jasad-jasad dimasukkan dalam satu lubang dan dikuburkan bersama-sama.”

    Baca: Konten soal Palestina di medsos dibatasi

    Pada hari keempat atau kelima ada puluhan jasad di Rumah Sakit Shifa, dan tidak ada sarana yang layak untuk mengadakan pemakaman bagi semua orang,” jelasnya.

    Dalam Yahudi dan Islam, ada masa berkabung di mana teman dan kerabat datang untuk menyampaikan belasungkawa dan mengenang orang yang telah meninggal. Sementara pertempuran berlanjut, banyak dari kedua pihak terus berduka

    Sumber: VOA Indonesia.

  • Advokasi Buah Semangka bagi Perjuangan Rakyat Palestina

    Advokasi Buah Semangka bagi Perjuangan Rakyat Palestina

    7cloud.asia – Media sosial memainkan peran penting dalam situasi perang, termasuk dalam Perang Palestina baik sebagai alat propaganda maupun sebagai alat advokasi pembebasan pihak yang ditindas.

    Di Indonesia, media sosial belakangan ini dipenuhi advokasi-advokasi yang bertujuan meningkatkan kesadaran akan krisis kemanusiaan di Palestina dan mengutuk agresi pemerintah Israel.

    Pascaserangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, yang kemudian dibalas Israel dengan apa yang komunitas internasional banyak sebut sebagai “genosida terhadap warga sipil Palestina”, terjadi peningkatan aktivitas media sosial yang signifikan secara global terkait konflik di Gaza.

    Tagar #freepalestine telah digunakan lebih dari 5,2 juta kali di Instagram, sementara tagar #gazaunderattack telah diunggah sebanyak hampir 1,7 juta kali.

    Kini bentuk lain kampanye pro-Palestina di media sosial adalah dengan membagikan berbagai ilustrasi buah semangka, mulai dari foto, karya seni, hingga emoji.

    Baca: Akar konflik perang Israel-Palestina

    Mengapa buah semangka dan apa maknanya dalam perjuangan kemerdekaan Palestina?

    Warna buah semangka, yang terdiri dari merah (daging buah), hitam (biji), serta putih dan hijau (kulit), disebut merepresentasikan warna bendera dan identitas nasional Palestina.

    Membagikan foto atau ilustrasi buah semangka dan disertai tagar #freepalestine atau #asliceofhope mencerminkan dukungan terhadap Palestina.

    Buah semangka sebenarnya telah lama menjadi simbol perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel.

    Kampanye semangka (watermelon resistance) muncul pertama kali setelah Perang Enam Hari pada 1967, ketika Israel menguasai Tepi Barat, Jalur Gaza, dan merebut Yerusalem Timur.

    Baca: Majelis Umum PBB setujui resolusi gencatan senjata di Gaza

    Saat itu, pemerintah Israel menyatakan pengibaran bendera Palestina di tempat umum sebagai tindakan kriminal.

    Untuk mengelak dari larangan menggunakan bendera, orang Palestina dan pendukungnya mulai mengadopsi semangat semangka dan membawa bendera bergambar semangka pada setiap aksinya.

    Jika dikaji lagi sejarahnya, semangat perlawanan melalui semangka juga terkait erat dengan aspek kedaulatan makanan.

    Pada masa Intifada pertama (1987-1993), pemerintah Israel melarang petani Palestina menanam beberapa jenis bibit tanaman pangan, termasuk varietas asli Palestina dari buah semangka.

    Sebagai gantinya, pemerintah Israel menanam bibit varietas hibrida dan hampir menyebabkan kepunahan varietas semangka lokal Palestina yang dikenal bernama Jadu’i.

    Baca: Baik Palestina dan Israel kesulitan kuburkan korban perang

    Jadi secara singkat, buah semangka juga merepresentasikan semangat rakyat Palestina dalam mempertahankan hak atas tanah mereka.

    Tahun 2021 lalu, pemerintah Israel mengancam akan mengusir penduduk Palestina di Syeikh Jarrah karena ingin membangun fasilitas umum bagi kaum Yahudi Israel.

    Kampanye semangka kemudian langsung merebak, baik di media sosial maupun selama aksi protes massa di jalanan.

    Hari ini, kampanye semangka kembali digunakan, lebih sebagai cara pengguna media sosial menghindari sensor dan pembatasan konten.

    Pemerintah Israel memang telah lama menjalankan upaya sistemik secara global untuk membungkam dan menghilangkan jejak digital Palestina.

    Di bawah propaganda Israel, platform digital menerapkan lebih dari 4.800 tindakan pembatasan terhadap konten mengenai Palestina, termasuk penutupan akun dan shadowbanning (pembatasan distribusi konten) tanpa pemberitahuan dan persetujuan pemilik akun.

    Baca: Bantuan untuk Palestina dinilai masih kurang

    Meta, misalnya, mengakui bahwa mereka telah menghapus 795.000 konten dalam tiga hari pertama perang di Gaza.

    Baru-baru ini, pengelola akun Instagram @eye.on.palestine harus bernegosiasi dengan Meta agar akunnya yang sempat ditutup secara sepihak dapat diaktifkan kembali.

    Untuk mengelabui algoritme yang dipakai oleh platform media sosial, pengguna harus menggunakan Algospeak saat membicarakan Palestina dan Israel.

    Algospeak adalah cara menciptakan kata-kata baru atau menggunakan kode untuk mengganti kata asli dalam sebuah percakapan atau postingan media sosial, agar tidak dikenali oleh algoritme.

    Contohnya, kata P4le5+ina, i5r4el, dan G4z@ adalah Algospeak untuk Palestina, Israel, dan Gaza.

    Praktik pembatasan secara diam-diam oleh platform media sosial ini telah menjadi ancaman bagi ekspresi pembelaan terhadap Palestina.

    Baca: OKI diminta segera bertindak untuk bantu Palestina

    Banyak pengguna jadi enggan mengambil risiko dan memilih berhati-hati dalam menunjukkan dukungan.

    Namun, harapan untuk selamat dari pembatasan sepihak platform media sosial muncul ketika kampanye semangka bergaung kembali di Instagram akhir-akhir ini.

    Buah semangka–setidaknya hingga saat ini–tidak termasuk dalam daftar kriteria sensor Instagram. Jadi, akun pengunggah gambar semangka dapat terbebas dari risiko pembatasan.

    Semangat perlawanan Palestina dalam ilustrasi buah semangka pun lebih mudah diterima karena pesannya yang cenderung damai, ramah, dan universal.

    Kampanye semangka menguatkan argumen bahwa konflik di Palestina semestinya dilihat melampaui isu agama dan identitas bangsa.

    Kampanye ini juga berhasil menarik perhatian lebih banyak pengguna. Jika detik ini kamu mengetik tagar #freepalestine di laman pencarian Instagram, puluhan hingga ratusan konten teratas di hasil pencarianmu mungkin menunjukkan gambar sepotong semangka.

    Baca: Belasan jurnalis turut menjadi korban perang Palestina dan Israel

    Akan tetapi, sebagaimana aktivisme lainnya yang menggunakan media sosial sebagai kendaraan, kampanye semangka memiliki risiko berakhir menjadi slacktivism, alias usaha minimal untuk terlibat dalam sebuah aktivisme online.

    Tanpa langkah strategis lainnya, kampanye semangka berpotensi menjadi gerakan advokasi temporer yang hanya akan trending sesaat.

    Agar gaung kampanye ini berumur panjang, upaya membanjiri platform media sosial dengan gambar buah semangka perlu diimbangi dengan membagikan informasi edukatif dan akurat mengenai Palestina.

    Sejauh ini, konten audio-visual terkait Palestina di media sosial telah membantu membentuk narasi global tentang situasi di negara itu.

    Di TikTok, terdapat gelombang dukungan yang besar untuk Palestina. Axios.com, platform berita digital untuk audiens globalmencatat, pada periode 16-23 Oktober 2023, jumlah view konten TikTok yang mendukung Palestina dan Israel relatif seimbang.

    Tagar #standwithpalestine tercantum dalam 123.000 postingan dan ditonton sebanyak 11 juta kali. Sementara itu, tagar #standwithisrael digunakan dalam 8.000 konten, dengan jumlah view sebanyak 12 juta.

    Baca: Konten soal Palestina dibatasi

    Namun, seminggu setelahnya (23-30 Oktober 2023), jumlah view konten yang menggunakan tagar #standwithpalestine adalah sebanyak 285 juta, hampir empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan postingan bertagar #standwithisrael.

    Perubahan arah dukungan ini dapat terjadi salah satunya karena dokumentasi audio-visual yang dibagikan oleh orang-orang yang tinggal di Palestina. Konten Instagram yang diunggah dua WNI di Gaza, @abumuslim_gaza dan @bangonim, misalnya, memberikan informasi otentik tentang kehidupan masyarakat Palestina.

    Melalui postingan mereka, pengguna Instagram dapat langsung melihat dampak buruk dari tindakan Israel, tanpa dikaburkan oleh pemberitaan media–terutama media Barat–yang bisa sangat bias.

    Pendukung kampanye semangka dapat mengiringi konten-konten seperti ini dengan menyebarkan narasi tandingan atas konten pro-Israel atau menyanggah misinformasi tentang Palestina.

    Dengan demikian, semangat perlawanan dalam sepotong semangka dapat mendorong keterlibatan dan dukungan global yang lebih bermakna terhadap kondisi di Palestina.

    Artikel ini ditulis Pratiwi Utami, PhD in Film, Media, Communications, and Journalism, Monash University dan telah terbit di The Conversation

     

  • Israel Bersikeras Akan Kelola Gaza Pasca Perang, Palestina Menolak

    Israel Bersikeras Akan Kelola Gaza Pasca Perang, Palestina Menolak

    7cloud.asia – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan militer Israel akan mengelola Jalur Gaza setelah perang berakhir nanti.

    Isarel akan menyiapkan kamp pengungsi bagi warga Palestina yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka di Gaza karena perang Israel-Hamas.

    Gagasan Israel soal pengelolaan Gaza pasca perang ini ditolak mentah-mentah oleh Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh.

    “Pembicaraan tentang apa yang akan terjadi setelah perang berakhir baru akan dilakukan setelah Hamas dapat dihancurkan. Gaza akan didemiliterisasi sehingga tidak akan ada lagi ancaman dari Jalur Gaza terhadap Israel. Untuk memastikan hal itu, maka selama diperlukan Pasukan Pertahanan Israel akan tetap mengontrol keamanan di Jalur Gaza.”

    Demikian petikan pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidato yang disiarkan secara nasional dari Tel Aviv, Sabtu (11/11/2023).

    Baca: Israel terapkan jeda kemanusiaan 4 jam sehari di Gaza

    Netanyahu kembali menegaskan hal ini saat diwawancarai CNN di program “State of the Union” hari Minggu (12/11/2023).

    Ia jelas menolak proposal Amerika agar pengelolaan Gaza pasca perang nanti dikembalikan kepada rakyat Palestina, sebagaimana disampaikan Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken dalam konferensi pers di Tokyo pada 8 November lalu.

    “Jelas bahwa Israel tidak dapat menduduki Gaza. Kenyataannya, mungkin perlu ada masa transisi di akhir konflik, tetapi sangat penting bagi rakyat Palestina untuk memimpin pusat pemerintahan di Gaza dan Tepi Barat, dan sekali lagi, kami tidak melihat adanya pendudukan kembali (oleh Israel.red).” ujarnya saat itu

    Dan apa yang saya dengar dari para pemimpin Israel, lanjutnya, adalah bahwa mereka tidak berniat untuk menduduki kembali Gaza dan mengambil alih kendali atas Gaza.

    “Jadi pertanyaannya adalah, apakah ada periode transisi yang mungkin diperlukan, dan mekanisme apa yang dapat dilakukan untuk memastikan adanya keamanan? Yang pasti kami (Amerika.red) sangat tegas, tidak akan ada pendudukan kembali (oleh Israel.red). Hal ini sama tegasnya seperti sikap kami bahwa tidak akan ada pemindahan penduduk Palestina,” tandas Blinken.

    Baca: Gaza telah jadi kuburan, PBB serukan gencatan senjata

    Lebih jauh Blinken ketika itu juga menegaskan bahwa ini harus mencakup pemerintahan yang dipimpin oleh Palestina, dan bahwa Gaza bersatu dengan Tepi Barat di bawah kepemimpinan Otoritas Palestina.

    Hampir 40 hari sejak berkecamuknya perang Israel-Hamas, lebih dari 11.000 warga Palestina di Gaza tewas.

    Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola Hamas, mengatakan dua per tiga dari jumlah itu adalah perempuan dan anak-anak.

    Sementara di pihak Israel, sedikitnya 1.200 orang tewas ketika Hamas melancarkan serangan awal 7 Oktober lalu.

    Masih terus berlanjutnya serangan Israel ke Gaza, yang kini bahkan mulai memasuki wilayah pemukiman padat penduduk, memaksa ribuan warga di bagian utara kota itu melarikan diri ke bagian selatan untuk menyelamatkan diri. Sejumlah tenda pengungsian pun bermunculan di antara jalur itu.

    Deretan tenda berwarna putih itu paling banyak terdapat di kota Khan Younis, di mana setiap pagi warga antri untuk mendapatkan makanan ala kadarnya, seperti roti dan satu kaleng biji-bijian atau ikan tuna.

    Baca: Setiap 10 menit satu anak meninggal di Gaza

    PM Palestina Tolak Pendirian Kamp Pengungsi Baru, Serukan Pemulangan Warga

    Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh, dalam rapat kabinet hari Senin (13/11/2023) di Tepi Barat, menolak pendirian kamp pengungsi bagi warga Palestina yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

    Ia menyerukan pemulangan mereka yang terpaksa mengungsi ke rumah mereka.

    “Kami menolak pendirian kamp-kamp sementara bagi para pengungsi, seperti yang diminta oleh tentara Israel pada organisasi-organisasi internasional.

    “Kami ingin rakyat kami kembali ke rumah mereka, di mana mereka dipindahkan secara paksa. Dalam sejarah Palestina, tidak ada yang namanya ‘sementara’, karena pengalaman telah mengajarkan kita bahwa yang sementara itu bersifat permanen,” tegasnya.

    Mimpi Buruk “Nakba”. Keberadaan warga Palestina yang dengan tergesa-gesa mendirikan tenda-tenda PBB di Khan Younis itu, membuka kenangan menyakitkan tentang eksodus massal, yang oleh warga Palestina disebut sebagai Nakba, atau “malapetaka”.

    Pada bulan-bulan sebelum dan selama perang 1948, sekitar 700.000 warga Palestina melarikan diri atau diusir dari wilayah yang sekarang dikenal sebagai Israel.

    Banyak dari mereka yang berharap untuk kembali ke rumah mereka ketika perang berakhir, tetapi semua harapan itu sirna.

    Baca: Majelis Umum PBB sepakati resolusi gencatan senjata di Gaza

    Tujuh puluh lima tahun kemudian, tenda-tenda sementara di Tepi Barat, Gaza, dan negara-negara Arab yang berdekatan telah menjadi rumah-rumah batako yang permanen.

    Pakar studi Arab di Universitas Columbia, Rashid Khalidi, kepada Associated Press mengatakan “langsung teringat tahun 1948 ketika warga Palestina di Gaza diperintahkan untuk mengungsi, langsung teringat akan hal itu ketika Anda melihat gambar-gambar (tenda) itu. Para penulis Palestina telah mengukir hal ini ke dalam kesadaran orang Arab.”

    UNRWA: Pendirian Kamp Pengungsi Tidak Bersifat Permanen

    Badan PBB untuk urusan pengungsi Palestina UNRWA mengatakan kamp-kamp pengungsi itu tidak bersifat permanen.

    UNRWA menambahkan, mereka mendistribusikan tenda dan selimut kepada puluhan keluarga pengungsi di Khan Younis itu karena mereka tidak dapat ditampung di fasilitas PBB lainnya.

    “Hal ini untuk melindungi mereka dari hujan dan memberikan martabat dan privasi,” demikian petikan pernyataan UNRWA.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Perang Dua Bulan Lebih, Hampir 100 Wartawan Palestina Tewas di Jalur Gaza

    Perang Dua Bulan Lebih, Hampir 100 Wartawan Palestina Tewas di Jalur Gaza

    7cloud.asia – Sebanyak 97 wartawan Palestina terbunuh akibat serangan tentara Israel selama perang di Jalur Gaza yang telah berlangsung sejak 7 Oktober 2023.

    “Jumlah wartawan yang mati syahid meningkat menjadi 97 korban sejak dimulainya agresi brutal (Israel) di Gaza,” kata kantor media pemerintah Gaza pada Selasa (19/12/2023).

    Jurnalis terakhir yang tewas dalam serangan udara Israel di Kota Rafah, selatan Gaza pada Senin malam (18/12), adalah Adel Zorob.

    Otoritas Gaza menuduh tentara Israel sengaja membunuh wartawan-wartawan Palestina dengan tujuan “untuk menghapus kebenaran.”

    Baca: Warga Palestina dikubur hidup-hidup oleh tentara Israel

    “Dengan membunuh wartawan, pasukan pendudukan Israel berusaha mengaburkan narasi warga Palestina dan berusaha mengaburkan kebenaran, namun mereka gagal total dalam menghancurkan tekad warga Palestina,” tambah kantor Palestina itu.

    Israel telah membombardir Jalur Gaza dari udara dan darat, melakukan pengepungan, dan melancarkan serangan darat sebagai balasan atas serangan lintas batas yang dilancarkan kelompok pejuang Hamas Palestina, pada 7 Oktober.

    Sedikitnya 19.453 warga Palestina, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah terbunuh dan 52.286 orang terluka akibat serangan Israel, menurut data otoritas kesehatan Gaza.

    Sementara itu, korban tewas di pihak Israel akibat serangan Hamas mencapai 1.200 orang, sementara lebih dari 130 sandera masih ditahan oleh Hamas di Gaza.

    Sumber: Anadolu

  • Krisis Pangan Akibat Perang, Warga Palestina Sudah Berpuasa 5 Bulan Lamanya

    Krisis Pangan Akibat Perang, Warga Palestina Sudah Berpuasa 5 Bulan Lamanya

    7cloud.asia – Di tengah gempuran dari tentara Israel, warga Palestina di Jalur Gaza terpaksa menjalankan ibadah bulan suci Ramadan dengan suasana mencekam. Krisis pangan membuat mereka berpuasa 5 bulan.

    Melansir Al Jazeera, pasukan Israel melancarkan serangan ke Kota Rafah, Gaza Selatan dan kamp pengungsi Nuseirat.

    Serangan ini dilakukan saat warga Gaza bersiap menjalankan puasa pertama di bulan suci Ramadan.

    Lebih dari 1,2 juta orang mengungsi di Rafah. Banyak di antara mereka tinggal di bawah tenda berbahan plastik dan menghadapi krisis pangan.

    Baca: Pasukan Israel tembaki warga Palestina saat menunggu bantuan

    Kesedihan warga Palestina menyambut Ramadan kali ini tampak jelas di wajah mereka. Seperti yang diungkapkan salah seorang warga Palestina, Diab Al Zaza.

    “Ramadan tahun ini akan menyedihkan karena perang,” katanya. Kondisi ini membuat sulit siapa saja yang hidup di sekitar zona pertempuran.

    “Saya telah melalui banyak kesulitan. Namun sepanjang hidup saya, saya belum pernah menjalani hari-hari yang lebih sulit daripada ini karena kelaparan, kehausan, kehilangan dan perpisahan,” kata Zaza dikutip Middle East Eye.

    Kini Zaza harus menjalani Ramadhan tanpa istri dan anak. mereka menolak mengungsi ke selatan saat agresi militer Israel.

    Zaza membandingkan kondisi Gaza saat ini dengan peristiwa pemindahan dan pengusiran massal hingga penganiayaan pada 1948 atau dikenal Nakba. Menurutnya kondisi warga kini lebih buruk daripada saat Nakba.

    Amerika dan beberapa negara Arab susun pendirian negara Palestina

    “Saat Nakba, jumlah orang lebih sedikit dan negara ini terbuka, tapi sekarang kami dikepung dari semua sisi.” Ungkapnya.

    Zaza juga menerangkan Ramadan tahun ini tak akan memasang dekorasi apa pun sebagai bentuk solidaritas terhadap korban tewas gegara serangan Israel.

    Hal senada juga diungkapkan warga Palestina lainnya, Maha. Dia tak mempersiapkan apa pun untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

    “Kami tak melakukan persiapan apa pun untuk menyambut Ramadan, karena kami telah berpuasa selama lima bulan,” kata Maha.

    Sebelumnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan tingkat kelaparan di Gaza mencapai 100 persen.

    Baca: Mungkinkah mewujudkan Palestina yang merdeka dan berdaulat?

    Kelaparan juga membayangi Khalil Atallah dan keluarganya. Ia beberapa kali mengungsi karena agresi Israel. “(Kini kami hidup) dalam perang kelaparan,” kata Atallah.

    Atallah hanya ingin gencatan senjata segera tercapai dan agresi bisa berakhir.

    “Saya telah kehilangan lebih dari 50 anggota keluarga dalam pemboman. Ramadan kali ini akan berbeda dari bulan-bulan lainnya karena penindasan,” ujar dia.

    Lembaga PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan krisis kelaparan luar biasa terjadi di Gaza di awal Ramadhan. UNRWA menuntut Israel untuk segera menyetujui genjatan senjata.

    Pasukan Israel dilaporkan menghalangi ratusan warga Palestina memasuki masjid Al-Aqsa di malam Ramadhan, dikutip dari Aljazeera.

    Sejak Israel melancarkan agresi ke Palestina pada 7 Oktober tahun lalu, lebih dari 31.000 warga Palestina telah terbunuh dan lebih dari 72.000 mengalami luka-luka.

    Mereka juga membatasi bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza sehingga membuat kondisi wilayah itu kian kritis.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

  • PBB Tuding Israel Sengaja Membiarkan Warga Palestina Kelaparan sebagai Metode Perang Baru

    PBB Tuding Israel Sengaja Membiarkan Warga Palestina Kelaparan sebagai Metode Perang Baru

    7cloud.asia – Israel bisa menggunakan kelaparan sebagai “metode perang” di Jalur Gazadengan menghambat masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah kantong Palestina itu, kata Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Turk pada Selasa.

    Bencana kelaparan bisa terjadi di Gaza utara pada pertengahan Maret hingga Mei akibat konflik yang tengah berlangsung dan terbatasnya bantuan kemanusiaan.

    Demikian laporan PBB dalam inisiatif Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) yang diterbitkan pada Senin (18/3/2024).

    “Pengepungan Gaza oleh Israel selama 16 tahun terakhir telah berdampak pada hak asasi manusia warga sipil, membuat ekonomi setempat hancur, dan menciptakan ketergantungan pada bantuan,” kata Turk dalam pernyataannya.

    Baca: Palestina desak PBB agar bisa gencatan senjata

    Dampak dari pembatasan Israel terhadap bantuan yang masuk ke Gaza, ditambah serangan yang terus mereka lancarkan, mungkin seperti menggunakan kelaparan sebagai metode peperangan.

    “Ini merupakan sebuah kejahatan perang,” ujar dia menambahkan.

    Turk menyerukan agar bencana kelaparan di wilayah Gaza yang sudah berlangsung berminggu-minggu uitu dicegah.

    Kelaparan merupakan dampak dari pembatasan Israel terhadap masuknya bantuan kemanusiaan dan barang komersial, perpindahan mayoritas penduduk, dan kehancuran infrastruktur sipil yang penting, tulis pernyataan itu.

    Pada Oktober 2023, kelompok perlawanan Palestina Hamas melancarkan serangan roket besar-besaran ke Israel dari Gaza dan menerobos perbatasan.

    Baca: Israel tembaki warga Palestina yang antre bantuan

    Serangan itu menewaskan 1.200 orang dan Hamas menyandera 240 orang lainnya.

    Israel lalu membalas dengan serangan habis-habisan, memblokade penuh Gaza, melancarkan serangan darat di dalam wilayah kantong Palestina itu untuk “menumpas pejuang Hamas dan membebaskan sandera”.

    Sedikitnya 31.800 orang telah tewas di Jalur Gaza, menurut otoritas setempat.

    Pada 24 November, Qatar memediasi perundingan antara Israel dan Hamas untuk pertukaran tahanan dengan sandera dan gencatan senjata, yang memungkinkan bantuan kemanusiaan memasuki Gaza.

    Gencatan itu diperpanjang beberapa kali dan berakhir pada 1 Desember 2023, dan sejak itu perang kembali terjadi.

    Lebih dari 100 orang diyakini masih disandera oleh Hamas di Gaza.

    Sumber: Sputnik

  • Putin Sebut Kondisi di Jalur Gaza Bukan Perang tetapi Seperti Pemusnahan Massal

    Putin Sebut Kondisi di Jalur Gaza Bukan Perang tetapi Seperti Pemusnahan Massal

    7cloud.asia – Presiden Rusia Vladimir Putin menganggap kondisi di Jalur Gaza saat ini tidak terlihat seperti perang, tetapi lebih seperti pemusnahan massal penduduk sipil di wilayah itu.

    “Apa yang terjadi di Gaza sekarang, dalam menanggapi serangan teroris di Israel, tidak terlihat seperti perang. Yang terlihat adalah seperti penghancuran penduduk sipil habis-habisan,” kata Putin, Rabu (5/6). 

    Ia mengeluarkan pernyataan itu saat pertemuan dengan para perwakilan kantor berita asing di sela-sela Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg.

    Washington memonopoli isu penyelesaian krisis Palestina yang menyebabkan situasi saat ini di wilayah kantong tersebut, kata Putin.

    Baca: Israel serang sekolah di Gaza, 39 orang tewas

    “Kami yakin bahwa (situasi) ini akibat kebijakan AS yang memonopoli penyelesaian isu Israel-Palestina dan mengesampingkan semua instrumen internasional yang dibentuk secara khusus untuk mengatasi masalah kompleks ini secara kolektif…” ujarnya. 

    “… Mungkin seseorang di pemerintahan AS percaya bahwa semakin sedikit argumen, maka akan lebih mudah untuk mendapatkan solusi. Tapi mereka jelas-jelas salah,” kata Putin, menambahkan.

    Moskow mengandalkan kontribusi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam mengatasi krisis tersebut, mengingat pengaruh politik baik sang presiden di kawasan dan di dunia Islam.

    Baca: Uni Eropa desak Israel hentikan serangan ke Rafah

    Rusia akan melakukan apa pun untuk membantu Erdogan, kata Putin.

    Putin juga menyatakan bahwa Rusia menentang segala bentuk terorisme.

    “Tentu saja, kami menentang segala bentuk terorisme, termasuk serangan terhadap warga sipil di mana pun dan di negara mana pun,” katanya.

    Lebih lanjut, Putin menegaskan bahwa kebijakan Rusia terkait Jalur Gaza tidak bergantung pada situasi politik dan tidak bergeser sejak masa Soviet, mengingat bahwa Uni Soviet mengakui negara Palestina sejak 1988.

    Sumber: Sputnik

  • Presiden Joe Biden Berjanji Segera Akhiri Perang di Gaza di Tengah Menguatnya Desakan untuk Tidak Mempersenjatai Israel

    Presiden Joe Biden Berjanji Segera Akhiri Perang di Gaza di Tengah Menguatnya Desakan untuk Tidak Mempersenjatai Israel

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat Joe Biden berjanji akan mengakhiri perang di Jalur Gaza dan membawa pulang para sandera.

    “Saya akan terus berupaya membawa pulang para sandera, mengakhiri perang di Gaza, dan membawa perdamaian serta keamanan di Timur Tengah,” ucap Biden di malam pertama Konvensi Nasional Demokratik di Chicago, Illinois, Senin (19/8/2024) waktu setempat.

    “Kami bekerja tanpa henti…untuk mencegah perang meluas, untuk menyatukan kembali para sandera dengan keluarganya,” kata Joe Biden.

    Biden juga menyatakan akan meningkatkan bantuan kesehatan dan makanan kemanusiaan ke Gaza.

    “Untuk mengakhiri penderitaan rakyat sipil Palestina dan pada akhirnya mewujudkan gencatan senjata dan mengakhiri perang ini,” tambah Biden akan segera mengakhiri kepemimpinannya

    Baca: Iran syaratkan gencatan senjata di Gaza, agar tak balas serangan Israel 

    Saat dimulainya konvensi pada Senin pagi, ribuan pengunjuk rasa pro-Palestina berkumpul di Chicago.

    Para pengunjukrasa itu meminta pemerintahan Biden segera mengakhiri dukungan perang Israel di Gaza, dimana lebih dari 40.100 warga Palestina terbunuh.

    Saat para delegasi tiba di pusat konvensi, para pengunjuk rasa berjalan melewati pusat kota sambil menyerukan kata-kata “bebaskan, bebaskan Palestina,” beberapa jam sebelum Biden berpidato.

    “Para pengunjuk rasa di jalan, mereka benar. Banyak orang tak bersalah kehilangan nyawa, di kedua pihak,” kata Biden.

    Biden juga mengatakan telah menulis perjanjian perdamaian untuk Gaza, seraya menambahkan “Saya mengajukan proposal yang membawa kita lebih dekat untuk melakukan hal tersebut dibandingkan yang telah kita lakukan sejak 7 Oktober.”

    Baca: Hamas syaratkan perundingan gencatan senjata di Gaza dilandasi hasil perundingan sebelumnya

    Hentikan Pemberian Senjata ke Israel
    Dalam konvensi yang sedang berlangsung, beberapa peserta membentangkan spanduk bertuliskan “Hentikan Mempersenjatai Israel.”

    Ketika peserta lainnya melihat spanduk tersebut mereka mulai menyerukan “Kami Cinta Joe.”

    Sementara itu di media sosial terlihat seorang pria berusaha merobek spanduk tersebut.

    Pekan lalu, usai perundingan gencatan senjata di Doha, AS, Mesir dan Qatar mengatakan bahwa mereka telah menyampaikan kepada Israel dan Hamas apa yang disebut sebagai “proposal penghubung” untuk lebih mempersempit “kesenjangan yang tersisa hingga memungkinkan terlaksananya kesepakatan tersebut dengan cepat.”

    Di sisi lain, kelompok Hamas mengatakan pada Minggu (18/8/2024) bahwa proposal baru tersebut hanya memenuhi “persyaratan Netanyahu dan sejalan dengan Israel dan sekutunya.

    Baca: Ambigu sikap Israel, sepakat berunding tapi tetap lancarkan serangan

    Hamas terutama menyorot penolakan Netanyahu terhadap gencatan senjata permanen, penarikan sepenuhnya pasukan dari Jalur Gaza,

    Hamas juga menyoroti keinginan Israel untuk melanjutkan pendudukan di persimpangan Netzarim (yang memisahkan utara dan selatan Jalur Gaza), penyeberangan Rafah, dan Koridor Philadelphi (di selatan).”

    Hamas menekankan komitmennya terhadap apa yang disepakati pada 2 Juli.

    Biden mengatakan pada Mei bahwa Israel mengajukan kesepakatan tiga fase yang akan mengakhiri permusuhan di Gaza dan menjamin pembebasan sandera yang ditahan di wilayah pesisir tersebut.

    Rencana tersebut mencakup gencatan senjata, pertukaran sandera-tahanan, dan rekonstruksi Gaza.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu