Tag: perang ketupat

  • Tradisi Perang Ketupat, Wujud Rasa Syukur Warga Bali atas Kesuburan Tanah

    Tradisi Perang Ketupat, Wujud Rasa Syukur Warga Bali atas Kesuburan Tanah

    7cloud.asia – Ribuan warga meramaikan  Tradisi Aci Tabuh Rah Pengangon atau Tradisi Perang Ketupat di Desa Kapal, Badung, Bali, Jumat (29/9/2023).

    Tradisi perang ketupat di desa Kapal, Badung Bali ini sudah dimulai sejak tahun 1939 dan telah ditetapkan UNESCO  sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2019.

    Tradisi perang ketupat di Bali ini digelar setiap setahun sekali tepatnya pada hari suci purnama kapat untuk memohon kesejahteraan serta wujud syukur atas kesuburan pada lahan pertanian. 

    Dilansir punapiBali.com, prosesi Perang Ketupat diawali dengan upacara persembahyangan oleh warga secara bersamaan di pura setempat.

    Baca: Mengenal tradisi Seba dari masyarakat Badui

    Pada saat berlangsungnya upacara Perang Ketupat, pemangku adat mengikuti sambil membaca mantra-mantra dan memercikkan air suci ke seluruh warga setempat.

    Kemudian ia akan memohon kepada Sang Hyang Widhi agar perang tersebut bisa sukses dan memberikan kesejahteraan serta keselamatan bagi warga desa.

    Setelah melakukan persembahyangan di pura setempat, peserta akan menyiapkan amunisi. Di sinilah sisi unik dari Perang Ketupat.

    Sebagaimana namanya, Perang Ketupat ini memiliki amunisi berupa ketupat yang dihasilkan dari sumbangan warga desa Kapal. Ketupat tersebut jumlahnya ribuan dan selanjutnya digunakan untuk memukul atau mengenai lawan.

    Baca: Tradisi mudik ternyata sudah ada sejak jaman Majapahit

    Peserta tradisi Perang Ketupat dibagi menjadi dua kelompok yang satu sama lain saling berhadapan.

    Perang pun dimulai dengan diberi aba-aba terlebih dahulu. Tradisi tersebut menjadi sangat menarik karena sorak-sorai dari warga setempat yang berpartisipasi dalam acara tersebut. 

     

    Tradisi perang ketupat ini menarik wisatawan yang datang, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

    Sebagaimana layaknya sebuah perang, warga akan saling berhadap-hadapan dan melempar ketupat ke arah lawan. Pesertanya adalah warga masyarakat di desa tersebut.

    Baca: UNESCO tetapkan sumbu filosofi Yogya menjaid warisan dunia

    Perang Ketupat merupakan sebuah acara adat, dimana semua peserta melakukan perang dengan saling melempar ketupat.

    Di Indonesia sendiri, tradisi perang ketupat juga ditemukan di Bangka Belitung dan Bali. Untuk Perang Ketupat di Bali disebut dengan Aci Rah Pengangon.

    Perang Ketupat di desa Kapal merupakan tradisi leluhur yang masih dilestarikan hingga saat ini. Perayaannya dilakukan satu tahun sekali.

    Tradisi Perang Ketupat sudah ada sejak tahun 1930an-an. Pada awal kemunculannya, tradisi tersebut melibatkan dua orang laki-laki yang bertelanjang dada. Masing-masing dari mereka bersenjatakan ketupat serta kue bantal.

    Baca: Tradisi ngarak Maulid di Tangerang

    Begitu Perang Ketupat dinyatakan mulai, kedua peserta akan saling menyerang dengan melemparkan ketupat ataupun kue bantal.

    Tidak ada aturan khusus dalam perang ketupat, setiap pemain bebas melempar ke arah manapun di kubu lawan.

    Warga Desa Kapal, Badung, Bali percaya bahwa dengan digelarnya Perang Ketupat, mereka akan memperoleh kesejahteraan.

    Bahkan, menurut ungkapan sesepuh di desa tersebut, perang ketupat dianggap sebagai simbol dari kemakmuran warga.

    Baca: Makna sebar apem ya qowiyyu di Klaten

    Perang Ketupat ini juga merupakan salah satu ritual yang diyakini sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas semua berkah yang selama ini telah diberikan.

    Kegiatan melempar ketupat ke arah lawan tersebut merupakan bentuk ekspresi, yang maksudnya adalah nasi dan ketupat tersebut dipersembahkan kepada alam semesta.

    Setelah selesai prosesi, ketupat-ketupat tersebut akan dinikmati oleh semua masyarakat.