Tag: perdamaian

  • Hari Pemuda Internasional 2025: Peran Anak Muda Sebagai Agen Perubahan

    Hari Pemuda Internasional 2025: Peran Anak Muda Sebagai Agen Perubahan

    7cloud.asia – Di beberapa zona konflik paling menantang di dunia, kaum muda sedang mendefinisikan ulang seperti apa pembangunan perdamaian.

    Yosuke Nagai, Direktur Eksekutif Accept International, memimpin upaya rehabilitasi bagi Pemuda yang Terkait dengan Kelompok Bersenjata Non-Negara (YANSAG) di Somalia, Yaman, Indonesia, dan Kolombia.

    Sebagai pendiri Gugus Tugas Global untuk Pemuda Pejuang, ia mendukung transformasi mereka yang sering dianggap sebagai ancaman menjadi agen perdamaian.

    “Kaum muda ini sering kali diabaikan atau hanya dianggap sebagai ancaman, terutama di zona konflik di mana kesepakatan damai tampaknya mustahil dicapai. Melalui program kami, kami membantu mereka terhubung kembali dengan komunitas mereka dan menjadi agen aktif dalam mempromosikan perdamaian berkelanjutan di tingkat lokal,” jelasnya.

    Pesan Yosuke kepada kaum muda dalam mendorong perubahan “Jika kaum muda ini dapat menjadi agen perdamaian yang unik, mereka yang terlibat dalam kekerasan akan berkurang sementara mereka yang membangun masyarakat akan meningkat.”

    Dari aksi akar rumput hingga advokasi kebijakan, para pemimpin muda juga berupaya memastikan suara mereka membentuk keputusan yang memengaruhi mereka.

    Baca: Merayakan aktivisme anak muda untuk lingkungan yang berkelanjutan

    Jonathan Oriki Some, pemimpin Young Africans for Sustainable Africa dan bertugas di Dewan Penasihat Pemuda UN-Habitat, terus memperjuangkan partisipasi pemuda dalam pengambilan keputusan.

    Dengan lebih dari 60 persen populasi Afrika berusia di bawah 25 tahun, ia berpendapat: “Kita menjalani konsekuensi dari kebijakan yang dibuat tanpa melibatkan kita. Kita harus menjadi rekan pencipta solusi dan masa depan yang kita inginkan.”

    Jonathan menekankan bahwa inklusi pemuda yang bermakna mentransformasi tata kelola itu sendiri: “Ketika pemuda dilibatkan, keputusan menjadi lebih jujur, inovasi berkembang pesat, dan masyarakat menjadi lebih responsif dan adil.

    ”Melibatkan pemuda bukan sekadar strategi, melainkan sebuah kebutuhan untuk mencapai perubahan berkelanjutan yang digerakkan oleh masyarakat.” ujarnya.

    Para pemimpin muda dunia telah menunjukkan bagaimana memulai secara lokal sambil berpikir sistematis menciptakan perubahan yang langgeng.

    Dampak mereka menjangkau berbagai benua dan konteks, disatukan oleh pendekatan yang sama: menolak menunggu izin untuk menciptakan masa depan yang mereka bayangkan.

    Baca: Membangun kesadaran kaum muda untuk bergerak melawan krisis iklim

    Upaya mereka terwujud di jalanan Mathare yang lebih bersih hingga ruang kelas baru Burundi, dari Indigenous One Stop Ekuador yang menjembatani pelestarian budaya dengan urbanisasi berkelanjutan, hingga mantan pejuang yang menjadi pembawa damai dan pemuda Afrika di ruang pengambilan keputusan.

    Para pemimpin muda ini mewujudkan esensi lokalisasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, menjadikannya dalam konteks komunitas tertentu.

    Di tangan para pemuda ini, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan menjadi nyata tidak hanya di ruang konferensi, tetapi juga di tangan pemuda yang mengubahnya dari dokumen kebijakan menjadi praktik sehari-hari.

    Tahun ini, Hari Pemuda Internasional 2025 merayakan aktivisme mereka melalui tema “Aksi Pemuda Lokal untuk SDGs dan Selanjutnya” – sebuah proses di mana kaum muda mengambil komitmen global dan mewujudkannya di komunitas mereka.

    Diperingati setiap tahun pada tanggal 12 Agustus, Hari Pemuda Internasional mengakui bagaimana kaum muda seperti Safrina dan Bamuhaye membuktikan, melokalisasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) bukan hanya tentang menerjemahkan tujuan-tujuan abstrak.

    Upaya ini juga tentang memecahkan masalah yang mereka hadapi sehari-hari: dari aksi lingkungan hingga akses pendidikan, dari pembangunan perdamaian hingga partisipasi demokratis.

    Baca: Peran pemuda adat sebagai benteng wilayah adat

  • Jusuf Kalla Jadi Salah Satu Pembicara di Pertemuan International Meeting for Peace di Roma

    Jusuf Kalla Jadi Salah Satu Pembicara di Pertemuan International Meeting for Peace di Roma

    7cloud.asia – Mantan Wakil Presiden Indonesia, Muhammad Jusuf Kalla, bertolak ke Roma, Italia, Sabtu (25/10/2025) untuk menghadiri Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Dunia (International Meeting for Peace) yang dihadiri sejumlah tokoh perdamaian dan kemanusiaan dari berbagai dunia.

    Dalam pernyataannya, tim publikasi Jusuf Kalla mengatakan forum tahunan bertema ‘Daring Peace’ ini mempertemukan para pemimpin dunia, tokoh lintas agama, akademisi, dan pegiat kemanusiaan dari berbagai negara.

    Pertemuan ini guna memperkuat semangat dialog lintas iman dan mencari solusi atas beragam konflik global yang masih berlangsung.

    Forum perdamaian tersebut akan diselenggarakan pada Minggu hingga Selasa (26-28/10/2025).

    Pada hari pertama, sejumlah tokoh kenamaan dunia akan menjadi pembicara utama, di antaranya Presiden Italia Sergio Mattarella, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Ratu Belgia Mathilde, hingga Sekretaris Negara Vatikan Pietro Parolin.

    Baca: Megawati diundang jadi pembicara di World Leaders Summit di Roma

    Jusuf Kalla yang juga Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Palang Merah Indonesia (PMI), akan menjadi salah satu pembicara dalam Forum 1 yang akan berlangsung pada Senin (27/10/2025).

    Dalam forum tersebut, Jusuf Kalla akan menyampaikan pandangan tentang pentingnya membangun perdamaian tanpa kekerasan melalui dialog, solidaritas, dan peran tempat ibadah sebagai pusat penyebaran nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.

    Masih di hari yang sama, akan digelar Forum 14 bertema “Remembering Pope Francis” yang dilanjutkan dengan Upacara Perdamaian di Koloseum Roma yang dimulai dengan doa lintas agama.

    Acara itu akan dihadiri langsung oleh Sri Paus Leo XIV, bersama para pemimpin agama dunia, sebagai simbol komitmen bersama terhadap perdamaian dan persaudaraan umat manusia.

    Turut hadir pula Menteri Agama Republik Indonesia yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar.

    Baca: Bung Karno, sosok pejuang yang selalu memikirkan nasib rakyat kecil

    Penutup rangkaian acara akan berlangsung pada Selasa, (28/10) 2025 pagi, dengan Forum 22 bertema “Economy and Solidarity”.

    Wakil Ketua Umum DMI, Arsjad Rasjid, akan menyampaikan gagasan tentang pentingnya ekonomi berlandaskan solidaritas dan nilai kemanusiaan untuk mendorong kesejahteraan bersama.

    Pernyataan resmi tim Jusuf Kalla menambahkan bahwa kehadiran tokoh-tokoh Indonesia pada forum internasional tersebut menjadi bukti nyata peran aktif Indonesia dalam memperjuangkan perdamaian dunia dan dialog lintas agama.

    “Melalui Dewan Masjid Indonesia (DMI), Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjadikan masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat peradaban, solidaritas, dan penyebaran nilai-nilai kemanusiaan,” kata pernyataan tersebut.

  • Ketika Sepeda Menjadi Jalan Arezoo Menyebarkan Pesan Persahabatan

    Ketika Sepeda Menjadi Jalan Arezoo Menyebarkan Pesan Persahabatan

    7cloud.asia – Bagi sebagian orang, sepeda mungkin hanya alat transportasi. Namun bagi Arezoo Eskandari, kendaraan dua roda ini menjadi jalan panjang untuk membawa pesan tentang perdamaian, persahabatan, dan hubungan antarmanusia.

    Perempuan asal Kota Esfahan, Iran itu mengayuh sepeda melintasi berbagai negara di Asia selama tujuh bulan. Ribuan kilometer ia tempuh seorang diri, menghadapi berbagai medan, budaya, hingga tantangan sebagai seorang perempuan yang melakukan perjalanan panjang tanpa pendamping.

    Arezoo tiba di Jakarta pada Sabtu (6/6/2026). Kedatangannya bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan bagian dari misi pribadi untuk menunjukkan bahwa perbedaan negara, bahasa, dan budaya bukan penghalang untuk saling mengenal.

    Baca: Mengenal Sosok Ulama Hamka Lewat Film

    Perjalanan panjang itu dimulai ketika ia terbang dari Iran menuju negara awal rutenya. Dari sana, petualangan dengan sepeda dimulai.

    “China menjadi bagian tersulit karena itu negara pertama dalam perjalanan ini. Saya baru memulai dan harus beradaptasi dengan banyak hal. Selain itu, tidak banyak warga lokal yang bisa berbahasa Inggris sehingga komunikasi menjadi tantangan tersendiri,” jelas Arezoo saat berbincang dengan media di Jakarta, Senin (8/6/2026).

    Keputusan Arezoo untuk meninggalkan rutinitas bukan hal mudah. Sebelum memulai perjalanan, psikolog ini bekerja di perusahaan swasta.

    Namun demi mengejar impiannya menjelajah dunia dengan sepeda, ia memilih keluar dari pekerjaannya bahkan rela menjual mobilnya sebagai modal dalam perjalanannnya.

    Baca: Ketidakharmonisan Keluarga Picu Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan

    Pilihan tersebut sempat membuat banyak orang bertanya. Termasuk keluarganya yang perlu bertahun-tahun untuk meyakinkan mereka. Apalagi ia menjalankan perjalanan ribuan kilometer itu seorang diri sebagai perempuan berusia 35 tahun.

    Namun Arezoo percaya, banyak ketakutan manusia sebenarnya muncul dari batasan yang diciptakan oleh pikiran sendiri.

    “Banyak ketakutan sebenarnya berasal dari persepsi dan batasan yang kita buat sendiri,” katanya.

    Di sepanjang perjalanan, Arezoo harus berhadapan dengan berbagai situasi yang tidak selalu mudah. Salah satunya adalah menentukan tempat beristirahat. Sebagai perempuan yang bepergian sendiri, ia harus lebih berhati-hati memilih lokasi aman untuk mendirikan tenda.

    Baca: Kwik Kian Gie, Ekonom Kritis yang Tak Mudah Terbeli

    Keterbatasan biaya membuatnya lebih sering bermalam di alam terbuka dibandingkan hotel. Ia juga memasak sendiri untuk menghemat pengeluaran.

    Sepeda yang menjadi teman perjalanannya pun tidak dalam kondisi ringan. Berbagai perlengkapan berkemah, alat memasak, dan kebutuhan harian membuat beban yang dibawa mencapai sekitar 60 kilogram.

    Setiap hari, Arezoo rata-rata mengayuh sejauh 50 hingga 70 kilometer. Jarak yang bagi kendaraan bermotor hanya membutuhkan waktu singkat, bagi Arezoo menjadi perjalanan panjang yang harus dilalui dengan kesabaran.

    “Mobil bisa menempuh 100 kilometer dalam waktu sekitar satu jam. Saya hanya bisa menempuh sekitar 15 kilometer per jam karena menggunakan sepeda dan membawa beban yang berat,” ungkapnya.

    Baca: Presiden Iran, Ebrahim Raisi Meninggal

    Tantangan lain muncul ketika sepeda mengalami masalah, seperti ban bocor. Di negara yang baru dikunjungi, ia harus mencari bengkel atau bantuan dari orang-orang yang sebelumnya tidak ia kenal.

    Namun di balik semua tantangan itu, ada satu hal yang paling ia rindukan selama tujuh bulan jauh dari rumah.

    “Keluarga, terutama pelukan ibu,” kata Arezoo. Kerinduan itu terasa semakin berat ketika komunikasi dengan keluarga sempat terputus akibat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

    Saat itu, Arezoo mengaku sempat berada dalam situasi emosional karena harus menghadapi keadaan tersebut sendirian.

    “Itu salah satu momen yang sulit karena saya harus menjalani semuanya sendirian. Sekarang saya bersyukur komunikasi sudah kembali lancar,” katanya.

    Baca: Mengenal Mia Khalifa, Model Majalah Playboy yang Bela Palestina

    Meski perjalanan ini penuh tantangan, Arezoo menganggap setiap kilometer yang ditempuh membawa pelajaran berharga. Baginya, perjalanan bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi juga proses mengenal diri sendiri.

    “Perjalanan ini membuat saya menjadi pribadi yang lebih sabar dan lebih menghargai waktu yang sedang saya jalani,” ujarnya.

    Melalui kayuhan panjangnya, Arezoo ingin menyampaikan pesan sederhana, terutama kepada perempuan dan anak-anak perempuan agar tidak ragu mengejar impian. “Jangan takut untuk bermimpi dan mengejar impian kalian,” pesan Arezoo.