Tag: perusahaan

  • 13 Perusahaan Penyumbang Terbesar Deforestasi Global

    13 Perusahaan Penyumbang Terbesar Deforestasi Global

    7cloud.asia – Analisis terbaru yang dilakukan oleh Zoological Society of London yang dirilis pada 2023 lalu menemukan bahwa lebih dari separuh dari 100 perusahaan kayu dan pulp tropis terbesar tidak secara terbuka berkomitmen untuk melindungi keanekaragaman hayati.

    Analisi itu juga menemukan, hanya 44 perusahaan yang belum secara terbuka berkomitmen terhadap nol deforestasi.

    Pada tahun 2021, hutan masih menutupi 31 persen luas daratan dunia, namun kepunahannya terjadi pada tingkat yang mengkhawatirkan akibat deforestasi.

    Sejak tahun 1990, dunia telah kehilangan 1,3 juta kilometer persegi hutan akibat deforestasi untuk penggunaan lahan dan pertanian komersial. Luas hutan primer di seluruh dunia telah berkurang lebih dari 80 juta hektar.

    Sejumlah perusahaan masih menjadi penyebab deforestasi dan mereka harus ditandai dan dimintai pertanggungjawaban atas tindakan mereka, yang mengancam setiap penghuni planet Bumi.

    Baca: Hutan hujan tropis dunia dalam ancaman deforestasi

    Seperti diketahui manusia, hewan, dan tumbuhan turut merasakan dampak deforestasi yang dilakukan secara ugal-ugalan.

    Ada banyak perusahaan yang bertanggung jawab atas deforestasi global, namun tapi berikut adalah 13 perusahaan besar yang bertanggung jawab atas deforestasi.

    Cargill, perusahaan yang berbasis di AS ini memiliki sejarah panjang dalam melakukan perusakan dan merupakan salah satu perusahaan terbesar yang berkontribusi terhadap deforestasi, menurut laporan LSM Mighty Earth.

    Dilansir earth.org, laporan tersebut merinci bagaimana Cargill memperoleh keuntungan dari perusakan lingkungan dan eksploitasi manusia.

    Di Brasil, Argentina, Paraguay, dan Bolivia, Cargill terlibat dalam penghancuran ekosistem Amazon, Grand Chaco, dan Cerrado untuk produksi kedelai dan daging sapi.

    Baca: Fakta deforestasi yang perlu kita tahu

    Di Pantai Gading dan Ghana, Cargill membeli koka yang ditanam secara ilegal di kawasan lindung dan taman nasional. Di Indonesia dan Malaysia, Cargill membeli minyak sawit dari perusahaan yang menebangi hutan hujan tropis secara ilegal.

    Laporan tersebut juga menyebut bahwa Cargill menggunakan metode akuntansi yang tidak akurat untuk meremehkan betapa berbahayanya praktik mereka.

    Perusahaan atau korporat yang dipasok Cargill termasuk McDonald’s, Burger King, Walmart, Walmart, Unilever, dan banyak lagi.

    Yang menarik nama produsen furnitur asal Swedia, IKEA masuk dalam daftar perusahaan penyumbang deforestasi dunia.

    Meski mengklaim tidak menerima kayu yang ditebang secara ilegal dalam produknya, sebuah laporan menuduh IKEA mengambil produk manufaktur meskipun pemasoknya telah menggunakan kayu yang ditebang secara ilegal di Ukraina.

    Dan berikut 13 perusahaan penyumbang terbesar deforestasi di dunia, seperti dilansir earth.org:
    1. Cargill, Amerika Serikat
    2. BlackRock, Amerika Serikat
    3. Wilmar International Ltd., Singapura
    4. Walmart, Amerika Serikat
    5. JBS, Brasil
    6. IKEA, Swedia
    7. PT Korindo Group, Korea Selatan dan Indonesia
    8. Yakult Honsha Co. Ltd, Jepang
    9. Starbucks, Amerika Serikat
    10. McDonald’s, Amerika Serikat
    11. Yum! Brands, Amerika Serikat
    12. Procter & Gamble (P&G), Amerika Serikat
    13. Ahold Delhaize, Amerika Serikat

     

  • Manfaat dan Risiko di Balik Mandatori Mulia Aksi CSR Perusahaan

    Manfaat dan Risiko di Balik Mandatori Mulia Aksi CSR Perusahaan

    7cloud.asia – Bagi korporat, melakukan aksi Corporate Social Responsibility  atau CSR—tanggung jawab sosial perusahaan—tidak hanya bertujuan memenuhi kewajiban semata.

    Inisiasi CSR ini diharapkan dapat menarik lebih banyak pelanggan seperti yang dilakukan oleh Amazon hingga Zoom yang gencar memamerkan aksi sumbangsih positifnya kepada masyarakat.

    Dalam laporan CSR tersebut, perusahaan memaparkan dengan detail apa yang telah mereka lakukan bagi pekerja, konsumen, komunitas, dan lingkungan.

    Semua inisiasi tersebut dilakukan tidak hanya sekadar untuk menghasilkan keuntungan jangka pendek semata. Penelitian menunjukkan, CSR dilakukan lantaran perusahaan mengharapkan ada peningkatan penjualan di masa depan.

    Sebagai profesor bidang pemasaran, penulis menemukan pertanyaan menarik: Ketika perusahaan berhasil dengan pengungkapan CSR mereka, apakah mereka menarik pelanggan baru—atau penjualan tambahan mereka hanya berasal dari pelanggan lama saja?

    Dalam sebuah studi terbaru yang melibatkan ratusan perusahaan di China, penulis bersama seorang kolega mencoba menjawab pertanyaan ini.

     

     

    Baca: Manfaat bekerja pada kelompok Lansia

    Kami menemukan bahwa pengungkapan CSR mengurangi ketergantungan bisnis pada pelanggan lama sebesar 2,1persen

    Tentunya, fakta dari temuan ini jadi angin segar bagi para entitas bisnis. Artinya, ada penjualan tambahan dari pelanggan baru yang terpikat dengan ekspansi CSR perusahaan yang dilakukan. Namun, hasil penelitian ini tidak semuanya positif.

     

    Dalam teori dasar bisnis, untuk bisa menjual lebih banyak produk, perusahaan perlu meningkatkan pasokan. Maka, pertanyaan lanjutan yang muncul adalah: Apakah pengungkapan CSR membuat perusahaan mencari pemasok baru?

    Faktanya, kami menemukan hal sebaliknya. Perusahaan yang mengungkapkan CSR justru kerap membuat pemasok baru enggan meningkatkan kerja sama.

    Hal ini terjadi karena pemasok harus menanggung potensi sejumlah biaya bahkan hingga berujung ijon ketika perusahaan memprioritaskan tanggung jawab sosial.

    Ikatan kerja sama dan kepercayaan bisnis antara perusahaan kepada pemasok memang ada biayanya. Ketika pemasok tahu sebuah perusahaan sangat bergantung pada mereka, mereka cenderung meminta pembayaran tunai dibandingkan kredit karena merasa di atas angin.

     

    Baca: Langkah sederhana membuat Lansia merasa lebih berharga

    Ini bisa merugikan perusahaan, karena ruang bujet kas untuk kebutuhan investasi bisnis menyempit.

    Jadi, meskipun laporan CSR membuat pelanggan terkesan, laporan ini bisa jadi meresahkan pemasok—dan itu harga yang harus dibayar.

    Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa melakukan CSR dapat meningkatkan penjualan. Tetapi belum jelas apakah penjualan tambahan ini berasal dari pelanggan lama atau pelanggan baru.

    Temuan kami membantu memperjelas hal ini, yang bermanfaat bagi bisnis dalam pengambilan keputusan.

    Temuan ini juga menarik bagi para pembuat kebijakan, regulator, dan advokat perusahaan yang sedang mempertimbangkan untuk mewajibkan laporan CSR.

    Saat ini, Amerika Serikat (AS) tidak mengharuskan perusahaan untuk menerbitkan laporan CSR, tetapi beberapa negara sudah melakukannya.

    Baca: Ajinomoto ciptakan Lingkungan Kerja yang berkelanjutan lagi ramah lingkungan

    Salah satunya adalah China yang mewajibkan semua perusahaan publik untuk mengirimkan laporan CSR tahunan sejak 2009 (begitu juga Indonesia).

    Kebijakan ini menciptakan kondisi untuk eksperimen alami yang hampir sempurna yang kami lakukan.

    Menariknya, komisi sekuritas dan bursa AS (SEC) dilaporkan mempertimbangkan pelaporan tentang tanggung jawab sosial perusahaan menjadi sebuah mandatori. Tanpa adanya persyaratan, banyak perusahaan di AS yang tetap secara sukarela melaporkan CSR mereka.

    Dengan kata lain, kebutuhan akan bukti empiris tentang biaya dan manfaat dari pengungkapan CSR semakin besar.

    Topik penelitian selanjutnya
    Semakin seringnya peristiwa cuaca ekstrem dan fatalitas serta cedera terkait cuaca membuat saya tertarik untuk meneliti tanggung jawab lingkungan. Saat ini saya sedang mengerjakan dua proyek penelitian.

    Pertama, saya menggunakan pengungkapan publik perusahaan untuk mengukur risiko lingkungan dan langkah-langkah mitigasi yang diambilnya.

    Kedua, saya meneliti bagaimana insentif CEO memengaruhi pengungkapan lingkungan, kegiatan, dan pengeluaran perusahaan—atau ketidakhadirannya.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris, Penulis: Vivek Astvansh (Associate Professor of Quantitative Marketing and Analytics, McGill University)